netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS



KHIDIR

((KHIDIR))

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Titie Wibipriatno and Edited by Ismail Umar

Pertemuan antara Musa AS dengan Khidir adalah salah satu peristiwa yang penting di

dalam kehidupan Musa AS. Hal ini dijelaskan dengan rinci di dalam Surat Kahfi. Latar

belakang peristiwa ini diriwayatkan dari Hadith Bukhari oleh Abi-bin-Kaab RA.

Pada suatu hari Bani Israil bertanya kepada Musa AS, “Siapakah yang paling berilmu di

dunia ini.” Beliau menjawab, “Aku adalah yang paling berilmu.” Allah SWT tidak

menyukai jawaban ini. Musa AS diharapkan menjawab bahwa Allah SWT lah yang

Maha Mengetahui. Oleh karena itu Allah SWT bermaksud untuk memberi lagi pelajaran

kepada Musa AS seperti yang telah dilakukan Allah SWT kepada manusia terpilih

lainnya. Allah SWT memberitahu Musa AS bahwa ada seorang hambaNYA yang lebih

berilmu dibandingkan daripadanya dan bahwa hamba ini berada ditempat dimana dua

lautan bertemu. Musa AS sangat penasaran untuk belajar lebih banyak dari hamba ini.

Musa AS memohon kepada Allah SWT untuk memberinya petunjuk lebih rinci mengenai

tempat ini. Allah SWT memerintahkan Musa AS untuk menaruh seekor ikan ke dalam

sebuah baskom/panci dan berjalan menuju tempat dimana dua sungai bertemu. Orang

berilmu itu akan berada ditempat dimana ikannya akan menghilang. Musa AS memulai

perjalanannya dengan pelayan yang masih kecil Yusha bin Noon sampai mereka

mencapai sebuah batu karang. Mereka berdua menyandarkan kepala dan beristirahat

sementara di sana.

Ikan itu keluar dari baskom/panci dan masuk ke dalam laut. Jejak jalan ikan ini dengan

menakjubkan telah menciptakan sebuah terowongan. Pelayannya melihat kejadian ini.

Tetapi, ia kemudian lupa menceritakan kepada Musa AS tentang kaburnya ikan tersebut,

jadi mereka terus berjalan melanjutkan perjalanannya selama satu hari satu malam lagi.

Kemudian Musa AS memerintahkan pelayannya untuk mengeluarkan ikan tersebut

karena ia sangat lapar. Keduanya merasa sangat kelelahan karena perjalanan tersebut.

Pelayan itu berkata kepada Musa AS, “Aku lupa mengatakan bahwa ikan itu telah lepas

ketika kita beristirahat di dekat batu karang tadi.” Musa AS menjawab, “Itu adalah

tempat yang kita cari.” Jadi mereka kembali menuju batu karang tersebut. Disana mereka

melihat Khidir. Musa AS menyapanya. Ia bertanya, “Apakah kamu Musa AS dari Bani

Israil?” Musa AS menjawab, “Benar, dan saya mohon engkau mau mengajarkanku

beberapa pengetahuan yang kau miliki.” Percakapan yang panjang terjadi antara Musa

AS dan Khidir. Keterangan lebih rinci dari percakapan ini terdapat dalam hadith dan juga

di dalam Al-Kahfi # 62-82

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah

ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".

Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu

tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang

melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya

ke laut dengan cara yang aneh sekali." Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari".

Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan

seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya

rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan

kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Dia

menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan

bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan

yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku

sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu

urusanpun". Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan

kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr

melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya

kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu

kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata:

"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku" Musa berkata:

"Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani

aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku". Maka berjalanlah keduanya; hingga

tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa

berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang

lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar". Khidhr berkata:

"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat

sabar bersamaku?" Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu

sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu,

sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku". Maka keduanya berjalan;

hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu

kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka,

kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh,

maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu

mengambil upah untuk itu". Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan

kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu

tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang

miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di

hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak

itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia

akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami

menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih

baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu

bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota

itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya

adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai

kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari

Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu

adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".

Mari kita mencoba menarik beberapa pelajaran dari cerita Musa AS dan Khidir ini:

1. Janganlah membual, walaupun faktanya kelihatan benar.

2. Allah SWT tidak menjadi marah kepada manusia pilihanNya bila ia berbuat salah.

Allah SWT kemudian memberinya tambahan pelajaran agar ia bisa lebih melihat

sesuatu dalam warna sesungguhnya.

3. Musa AS sangat bersemangat untuk menimba pelajaran dari Khidir walaupun Allah

SWT telah memberinya ilmu yang banyak. Jadi menimba ilmu adalah termasuk

sunnah para Nabi.

4. Menimba ilmu memerlukan kerja keras yang banyak dan kesabaran. Jenis dari

kesulitan bermacam-macam pada tiap kasus. Sebagai contoh, pelayan Musa AS lupa

melaporkan kaburnya ikan waktu berada dekat batu. Mereka telah berjalan selama

sehari semalam dan harus kembali ketempat semula, mengalami banyak sekali

kesulitan dan kelelahan.

5. Seorang murid harus menunjukkan hormatnya kepada gurunya. Musa AS adalah

seorang nabi yang besar, tetapi ia menyapa gurunya, Khidir, dengan rendah hati dan

penuh hormat.

6. Allah SWT hanya memberikan pengetahuan khusus dan terbatas kepada para

nabiNya dan orang pilihanNya. Pengetahuan Allah SWT sendiri adalah tak terbatas.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ketika Musa AS dan Khidir berada di dalam

perahu, seekor burung menghampiri. Burung itu beristirahat dipinggiran perahu dan

meminum sedikit air laut dengan paruhnya. Khidir berkata kepada Musa AS,

“Perbandingan ilmu kita berdua dibandingkan dengan ilmu Allah SWT adalah seperti

perbandingan air pada paruh burung itu dengan air di dalam laut.”

7. Nabi Musa AS mengajarkan kita tatacara bepergian. Ia menjelaskan kepada

pelayannya tentang tujuan perjalanan mereka, serta tempat akhir perjalanan sebelum

mereka memulai perjalannya. Kita harus membagi pengetahuan ini dengan pelayan

kita. Sayang sekali banyak majikan yang menganggap hal itu sebagai merendahkan

derajat mereka bila membagi pengetahuan perjalanannya dengan pelayannya.

8. Khidir berkata bahwa segala perbuatannya yang luar biasa itu adalah bukan

kemampuannya sendiri. Allah SWT telah memberinya pengetahuan khusus yang

tidak diberikan kepada Nabi Musa AS. Jadi segala bentuk pengetahuan adalah

karunia dari Allah SWT. Ia memberikan karuniaNya kepada siapapun yang

dipilihNya. Allah SWT mengetahui segala yang gaib dan kita amat terbatas dalam

pengetahuan dan pemahaman kita.

Kita bersyukur kepada Allah SWT atas kehendakNya memberi kita petunjuknya yang

rinci ini untuk kebaikan kita semua.