netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS



SURAT PEMBUKA DAN PENUTUP AL QUR’AN

((OPENING AND CLOSING CHAPTERS OF QURAN))

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Titie Wibipriatno and Edited by Ismail Umar

Pada surat pembuka (Al Fatihah) dari Al Qur’an, pertama sekali kita mengucapkan

syukur kepada Allah SWT. Seharusnya, apapun yang akan kita lakukan harus dimulai

dengan membesarkan nama Allah SWT. Kemudian, pada surat pembuka dari Al Qur’an

ini kita memohon dua hal kepada Allah SWT. Pertama, memohon pertolonganNya dan

kedua, agar kita ditunjukiNya jalan yang lurus. Kedua aspek ini sangat utama bagi

manusia untuk meraih keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat. Bilamana seseorang

berusaha untuk mencapai kedua hal ini, setan juga melakukan usahanya yang terbaik

untuk menggoda. Setan menggoda dalam dua cara. Pertama, dengan membuat rencana

dan strategi untuk menjatuhkan hamba Allah SWT yang patuh ini. Kedua, dengan

membisikan pikiran jahat ke dalam hati manusia. Yusuf # 5

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."

Dan di dalam Sad # 82-83

Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,

kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka

Allah SWT telah membekali kita dengan alat yang amat ampuh untuk memerangi setan

dan pengikutnya dalam bentuk dua surat terakhir di dalam Al Qur’an.

Hafiz Ibnu Al Qayyim RA mengatakan bahwa kedua surat ini mengandung manfaat dan

rahmat yang luar biasa kepada manusia. Kedua surat ini mengusir pengaruh sihir serta

gangguan fisik dan mental lainnya. Sebetulnya, manusia membutuhkan perawatan dan

pengobatan dari gangguan fisik dan mental ini lebih banyak daripada kebutuhan bernafas,

makan, serta pakaian. Bila tidak dibebaskan dari kesusahan ini, kehidupan seseorang

akan sangat menderita walaupun segala kesenangan duniawi tersedia untuknya. Bahkan

Rasul sendiri pernah terkena pengaruh sihir.

Aisah RA meriwayatkan bahwa seorang munafik mengirim sihir kepada Nabi

Muhammad SAW. Akibatnya Muhammad SAW menjadi sakit. Bentuk penyakitnya ini

menyebabkan Nabi merasa seolah telah menyelesaikan suatu pekerjaan, padahal hal itu

belum dikerjakannya. Jadi hal ini menyebabkan semacam sifat pelupa. Suatu hari, Nabi

Muhammad SAW bersabda kepada Aisah RA, “Allah SWT telah memberitahuku

penyebab penyakit ini”. Beliau menambahkan, “Dua orang mendatangiku di dalam

mimpiku. Satu orang duduk di dekat kepalaku dan satu orang di dekat kakiku. Orang

yang dekat kepalaku bertanya kepada yang lainnya, ‘penyakit apakah yang mengenai

Muhammad SAW?’ Ia menjawab, ’Muhammad SW terkena pengaruh semacam sihir.’

Orang pertama bertanya, ‘Siapa yang melakukan sihir itu?’. Ia menjawab, ‘Labeed bin

Asam, seorang munafik yang juga teman orang-orang Yahudi.’ Orang pertama bertanya,

‘Bagaimana cara dia melakukan sihirnya?’. Ia menjawab, ‘Dengan menggunakan sisir

berikut gigi-giginya.’ Orang pertama bertanya, ‘Dimanakan sisir ini?’. Ia menjawab,

‘Sisir ini dibungkus suatu pembungkus dan dikubur dibawah batu dalam sebuah sumur.

Sumur ini disebut Zarwaan.’”

Nabi Muhammad SAW pergi ke sumur itu dan mengambil sisir tersebut. Muhammad

SAW menjadi sembuh kembali. (Bukhari)

Ibnu Al Kathir menjelaskan dari Imam Thalbi bahwa pada sisir itu terdapat satu benang

dengan sebelas buhul. Allah SWT telah membagi kedua surat terakhir dari Al Qur’an itu

ke dalam sebelas ayat. Nabi Muhammad SAW telah menguraikan buhul-buhul itu satu

persatu setiap selesai mengucapkan satu ayat dari kedua surat terakhir itu. Ketika semua

buhul sudah terurai, dia segera merasa terbebas dari penyakitnya.

Imam Malik menerangkan dalam bukunya Muwatta, “Aisah RA meriwayatkan bahwa

bila Nabi Muhammad SAW jatuh sakit, dia selalu membaca kedua surat terakhir dari Al

Qur’an ini dan sesudah meniup tangannya, dia mengusap badannya dengan kedua

tangannya itu. Ketika ia sedang sakit parah menjelang ajalnya, Aisah RA membaca

kedua surat ini dan meniup tangan Nabi. Kemudian Nabi mengusap hampir seluruh

badannya dengan tangannya.

Sesunggunya tidak ada sesuatu apapun yang bisa mencelakakan atau menguntungkan

seseorang tanpa kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, agar supaya kita selamat dari

semua bentuk kejahatan, kita harus berusaha untuk mendapat perlindungan menyeluruh

dari Allah SWT. Janganlah kita hanya memohon perlindunganNya saja, tetapi juga harus

membuat diri kita calon terbaik untuk memperoleh perlindunganNya dengan melakukan

amal perbuatan yang baik. Surat Al-Falaq mengajarkan kita cara untuk mendapatkan

perlindungan Allah SWT dari kejahatan duniawi. Surat An-Nas juga mengajarkan kita

cara untuk mendapat perlindungan Allah SWT dari setan yang merusak kehidupan rohani

kita.

Di dalam surat Al-Falaq kita lihat perlindungan Allah SWT secara spesifik terhadap tiga

hal:

(a) Dari kejahatan malam ketika kegelapannya turun. Hal ini karena diwaktu malam jin,

setan, binatang buas, serangga, pencuri, dan musuh-musuh mulai beraksi. Sihir juga

bekerja lebih efektif di waktu malam. Datangnya fajar menurunkan keampuhan

pengaruhnya.

(b) Dari kejahatan tukang sihir ketika mereka meniup pada buhul-buhul. Hal ini sangat

merusak karena orang yang berada di bawah pengaruh sihir biasanya tidak menyadari

adanya sihir yang dikirim kepada dirinya. Ia terus menerus mencari obat untuk

penyakit yang dideritanya.

(c) Dari kejahatan orang yang cemburu. Ada orang yang cemburu terhadap kesuksesan

orang lain. Misalnya setan yang cemburu terhadap Adam dan Hawa.

Membaca surat Al-Falaq melindungi kita terhadap kejahatan-kejahatan tersebut di atas di

dunia ini.

Uqba bin Amar RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Malam ini

diturunkan dua surat kepadaku yang tidak ada hal lain yang bisa menandinginya. Yaitu

Al-Falaq dan An-Nas.” (Muslim)

Uqba bin Amar RA meriwayatkan bahwa Muhammad SAW berkata kepadaku di dalam

suatu perjalanan, “Maukah kamu belajar dua surat yang luar biasa.” Aku menjawab “ya,

ajarkanlah padaku.” Nabi mengajarku surat Al-Falaq dan surat An-Nas. Ia mengulang

surat-surat yang sama ketika salat Magrib hari itu. Lalu ia berkata kepadaku, “Kamu

harus membaca kedua surat ini ketika hendak berangkat tidur maupun ketika baru bangun

tidur.” (Thirmidhi, Abu Dawud, Nasai,)

Ibn-e-Kathir berkata bahwa setan mengikuti setiap orang dan dia selalu mencoba untuk

membuat dosa menjadi menarik hati orang tersebut. Bila setan gagal dalam percobaan

ini, ia mencoba untuk menimbulkan riya dan kesombongan dalam berbagai bentuk ibadah

yang dilakukan seseorang. Setan juga mencoba menanamkan keragu-raguan di dalam

pengetahuan para cendekiawan. Oleh karena itu, setan melakukan segala cara untuk

merusak ruhani seseorang. Hanya Allah SWT yang bisa menyelamatkan kita dari

kejahatan setan. Membaca surat An-Nas akan memberikan perlindungan Allah SWT.

Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Suatu malam aku

sedang berjalan dengan isteriku Saffiya RA. Dua orang sahabatku berpapasan denganku

di perjalanan. Aku hentikan mereka dan kuberitahu bahwa isteriku Saffiya RA

bersamaku. Mereka berkata, ‘Ya Rasul, kami tidak mempunyai prasangka buruk apapun

di dalam hati kami’. Aku jawab mereka, ‘setan bisa saja memasukkan keraguan kedalam

hatimu.’”

Oleh karena itu kita harus selalu membuat persoalan menjadi jelas kepada orang lain agar

keraguan tidak terjadi di antara kita. Hal ini bisa mengalahkan setan.

Kedua surat terakhir ini adalah pelindung kita dari setan, dan bisa melindungi kita dari

berbagai kejahatan jasmani maupun ruhani. Pembukaan maupun penutup Al Qur’an

sungguh-sungguh sangat menakjubkan.

BEBERAPA PERINGATAN PENTING:

Kesalahan sering terjadi saat berwudhu dengan air:

1. Siku tidak basah.

2. Tumit tidak basah.

Harap diperhatikan bahwa bila wudhu tidak sempurna, salat menjadi tidak sah.

Menghindari kesalahan-kesalahan ketika melakukan salat:

1. Diantara kedua sujud, duduklah dengan sempurna.

2. Kaki jangan terangkat keatas ketika sujud, meskipun hanya sebentar. Juga hidung

harus menyentuh lantai selama sujud.

3. Laki-laki harus menjaga agar siku tidak menyentuh lantai selama sujud.

4. Jangan mendahului Imam.

5. Berdirilah tegak sebaik mungkin sehabis ruku.

6. Jangan berlari untuk ikut serta dalam salat berjamaah.

7. Tetaplah diam dan tenang dalam setiap gerakan salat (ruku, berdiri, sujud, dan

duduk).