((RESPECT OF PARENTS)
Author by Imtiaz
Ahmad M. Sc., M. Phil. (Londo)
Translated
by Titie Wibipriatno and Edited by Ismail Umar
Semua
agama dan kebudayaan setuju dalam hal keharusan memperlakukan
Ibu-Bapak
dengan
hormat. Tetapi pendekatan Qur’an adalah unik. Ketika Allah
SWT mengingatkan
manusia
untuk mematuhiNya dan memujaNya, biasanya diikuti dengan
petunjuk untuk
menatuhi
dan menghormati Ibu-Bapak. Sebagai contoh dalam Luqman #
14
Bersyukurlah
kepadaKu dan kepada dua orang Ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu.
Kita
tidak boleh lupa bahwa mematuhi hak-hak Allah SWT adalah
wajib, hak-hak
manusia
juga harus diperhatikan. Tetapi dari semua manusia, hak-hak
Ibu-Bapak adalah
yang
terpenting. Al-Ahqaf # 15-18
Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua
orang Ibu bapaknya,
Ibunya
mengandungnya dengan susah pBapak, dan melahirkannya dengan
susah pBapak
. Mengandungnya
sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila
dia
telah dewasa dan
umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya
Tuhanku,
tunjukilah
aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku
dan kepada
Ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh
yang Engkau
ridhai;
berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya
aku
bertaubat
kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang berserah
diri".
Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal
yang baik yang
telah
mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka,
bersama
penghuni-penghuni
surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada
mereka. Dan orang
yang berkata kepada dua orang Ibu bapaknya: "Cis
bagi kamu
keduanya,
apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan
dibangkitkan,
padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu
kedua Ibu
bapaknya itu memohon
pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka
kamu,
berimanlah! Sesungguhnya
janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini
tidak lain
hanyalah dongengan
orang-orang dahulu belaka". Mereka itulah orang-orang
yang
telah
pasti ketetapan atas mereka bersama umat-umat yang telah
berlalu sebelum
mereka
dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang merugi.
Allah
SWT telah memerintahkan dan menekankan manusia untuk memperlakukan
kedua
Ibu-Bapaknya
dengan hormat dan mulia. Dari kedua Ibu-Bapak, Ibu mendapat
hak lebih
besar
daripada Bapak karena alasan yang tersebut pada ayat di
atas. Nabi Muhammad
SAW bersabda:
“Layani
Ibumu, kemudian Ibumu, kemudian Ibumu, kemudian Bapakmu,
kemudian
saudara-saudara
terdekatmu kemudian saudara-saudara jauhmu.”
Sesungguhnya,
Allah SWT telah memberikan kedudukan yang terhormat dan
termulia
untuk
semua Ibu berdasarkan beberapa alasan:
1. Ibu
mengalami penderitaan yang berat ketika sedang hamil dan
melahirkan anaknya.
2. Ibu
memberikan makanan kepada anaknya baik ketika di dalam kandungan
maupun
setelah
lahir.
3. Biasanya
Ibulah yang mendidik anak dan melayani kebutuhan anaknya
baik siang
maupun
malam.
4. Ibu mengajar
dan mendidik anaknya. Para psikologis
menyebutkan bahwa pelajaran
dan pendidikan
di masa balita adalah faktor yang sangat menentukan di dalam
membentuk
kepribadian seorang anak. Terbukti bahwa orang-orang besar
dilahirkan
oleh
Ibu-Ibu yang besar juga.
Di atas
segalanya, menghormati seorang Ibu adalah wajib karena Allah
SWT telah
memerintahkan
kita untuk melakukannya. Sayang sekali banyak para Ibu yang
menyalahgunakan
penghargaan yang diberikan Allah SWT ini. Banyak Ibu yang
memaksakan
kehendaknya terhadap anak-anaknya dan mereka memilih untuk
menuruti
kemauan
Ibu mereka. Ini menyebabkan peran Bapak menjadi tidak efektif.
Sedemikian
parahnya
sampai sang Ibu bersekongkol dengan anak-anaknya melawan
Bapak dalam
urusan keluarga,
dan struktur keluarga menjadi lemah, bahkan sampai hancur.
Para Ibu
ini melupakan
perintah Allah SWT di dalam Qur’an yang sama. An-Nisa #
34
Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah
melebihkan
sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena
mereka telah
menafkahkan
sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh,
ialah yang
ta'at
kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak
ada, oleh karena Allah
telah
memelihara. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya
, maka nasehatilah
mereka
dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian
jika
mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk
menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Allah
SWT telah menurunkan firmanNya di dalam Qur’an mengenai
kehidupan keluarga
lebih
banyak daripada aspek-aspek lain karena kestabilan keluarga
adalah hal paling
penting
di mata Allah SWT. Tindak-tanduk yang tidak Islami dari
para Ibu ini dan
tindakannya
menyakiti suami-suaminya adalah sangat merusak. Ini mengurangi
pahala
bagi
Ibu-Ibu ini dari Allah SWT untuk pelayanan lainnya yang
dilakukannya untuk
keluarganya.
Bebarapa Ibu baru menyadari kesalahannya ini di hari tuanya
ketika
mereka
terjebak di dalam masalah keluarga yang diciptakannya sendiri.
Sudah terlambat
untuk
memperbaiki kesalahannya karena kerusakan terlanjur terjadi.
Anak-anak yang
teramat
dicintainya adalah yang paling dirugikan.
Sesungguhnya
perbuatan apapun yang menghianati pengajaran Qur’an dan
hadith selalu
menjadi
bumerang bagi para pelakunya. Fatir # 43
Rencana
yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya
sendiri.
Saya
yakin banyak yang akan setuju pada analisa di atas tetapi
dibutuhkan keberanian
yang
besar dan kepatuhan kepada Allah SWT untuk menghindari kerusakan
yang
diciptakan
sendiri ini terhadap keluarga dan masyarakat Muslim.
Perintah
yang sangat rinci mengenai tugas kita terhadap Ibu-Bapak
juga diturunkan di
dalam
Al Isra # 23-25
Dan Tuhanmu
telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan
hendaklah
kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah
seorang
di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
dalam
pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan "ah"
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada
mereka
perkataan
yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil". Tuhanmu
lebih
mengetahui
apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik,
maka
sesungguhnya
Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.
Sekali
lagi di dalam ayat-ayat ini Allah SWT memerintahkan penghormatan
kepada Ibu-
Bapak
disamping perintahNya untuk memujaNya semata. Oleh karena
itu menghormati
Ibu-Bapak adalah
kewajiban setiap orang. Ada beberapa
tradisi yang bisa mendidik kita
lebih
lanjut dalam hal ini.
Suatu
waktu seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Pekerjaan
apakah yang
dilakukan
orang yang sangat dicintai Allah SWT?” Nabi menjawab, “Shalat
tepat pada
waktunya,”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Nabi SAW menjawab,
“Memperlakukan
Ibu-Bapakmu dengan baik.” (Bukhari)
Abdullah
bin Omer RA meriwayatkan bahwa seseorang meminta ijin Nabi
Muhammad
SAW untuk
mengikuti jihad. Nabi Muhammad SAW bertanya, “Apakah Ibu-Bapakmu
masih
hidup?”. Ia menjawab, “Ya, masih.” Muhammad SAW bersabda,
“Melayani
kedua
Ibu-Bapakmu adalah jigah bagimu.” (Bukhari)
Qur’an
memerintahkan dan menekankan manusia dengan sangat menunjukkan
hormat
semaksimum
mungkin kepada Ibu-Bapak. Ini juga berarti menghormati sanak
saudara
dan juga
sahabat-sahabat Ibu-Bapak kita.
Abdullah
bin Omer RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Kalau
engkau
menunjukkan hormat kepada teman-teman Bapakmu, sama juga
dengan engkau
menunjukkan
hormat kepada Bapakmu.” (Bukhari)
Pada
ayat-ayat Al-Isra di atas, Allah SWT telah mengingatkan
kita tentang ketidak
berdayaan
serta ketergantungan total kita terhadap Ibu-Bapak dimasa
kecil kita. Ibu-
Bapak
kita memenuhi semua keinginan kita dengan sukacita dan penuh
hasih sayang.
Adalah
menjadi kewajiban kita untuk memperlakukan Ibu-Bapak kita
setara dengan itu.
Walaupun
Ibu-Bapak harus dihormati sepanjang waktu, perhatian khusus,
timbang rasa
dan kasih
harus lebih diberikan kepada Ibu-Bapak dimasa usia tua mereka.
Perintah
yang rinci dan penting telah difirmankan oleh Allah SWT:
1. Jangan
mengucapkan sepatah katapun yang menunjukkan ketidak hormatan
terhadap
mereka.
2. Jangan
membentak mereka.
3. Berbicaralah
dengan Ibu-Bapak dengan hormat dan santun.
4. Bersikaplah
merendah dan lembut kepada mereka. Kerendahan hati ini akan
menunjukkan
cintakasih kepada mereka. Kerendahan hati ini harus keluar
dari lubuk
hati,
dan bukan basa basi saja.
5. Tidaklah
mungkin seseorang bisa menunjukkan segala bentuk kesenangan
kepada
Ibu-Bapaknya,
karena anda hanya bisa melakukannya sepanjang kemampuan
anda.
Oleh
karena itu, penting bagi kita untuk memanjatkan doa berikut:
“Ya Allah
SWT, kasihanilah kedua Ibu-Bapakku sebagaimana mereka mengasihani
kami
sedari
kecil.”
Kita
harus selalu memanjatkan doa ini walaupun sesudah kedua
Ibu-Bapak kita
meninggal.
Kita jangan lupa bahwa Allah SWT telah mengajarkan doa yang
indah ini
bagi
kita buat Ibu-Bapak kita tercinta.
Pada
ayat diatas, Al-Isra #25, Allah SWT menghibur kita bahwa
Ia tidak akan
menghukum
kita bila sesuatu yang kasar telah kita ucapkan kepada Ibu-Bapak
kita karena
kecerobohan
atau kesulitan yang berat, asal kita menyesalinya. Allah
SWT mengetahui
apa yang
terpendam di dalam hati kita.
Umur
tua adalah tahap yang sangat sulit dalam hidup ini. Yasin
# 68:
Dan barangsiapa
yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia
kepada
kejadian
. Maka apakah mereka tidak memikirkan?
Usman
RA Meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Bila seorang
beriman
berumur 40 tahun, Allah SWT membuat kewajibannya lebih mudah.
Bila ia
mencapai
umur 60, Allah SWT mencurahkan lebih banyak perhatian kepadanya.
Bila ia
mencapai
70 tahun, semua yang berada di surga mencitainya. Bila ia
mencapai 80 tahun,
Allah
SWT menonjolkan kebaikan-2nya dan menghapuskan kesalahan-2nya.
Bila ia
mencapai
90 tahun, Allah SWT memaafkan semua dosa-2nya terdahulu
dan memberinya
hak bersyafaat
bagi kerabatnya di hari pengadilan. Dicatat di surga bahwa
ia adalah
seperti
seorang tawanan Allah SWT yang ditempatkan di bumi.” (Ibn-e-Kathir
dan
Musnad
Ahmad)
Tentunya
ini berlaku bagi orang beriman yang menggunakan hidupnya
dengan mematuhi
perintah
Allah SWT.
Qurtubi
menyebutkan kejadian menarik yang diriwayatkan oleh Jabber
bin Abdullah RA.
Seseorang
menghampiri Nabi Muhammad SAW dan mengeluh bahwa Bapaknya
telah
mengambil
alih seluruh hartanya. Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya,
“Jemputlah
Bapakmu kesini.” Sementara itu Malaikat Jibril AS menghampiri
Nabi
Muhammad
SAW dan berkata “Bila Bapaknya telah datang, tanyakan kepadanya
tentang
kata-kata
yang diucapkan dalam hatinya bahkan telinganya sendiripun
tidak dapat
mendengarnya.”
Ketika laki-laki muda itu membawa Bapakya, Nabi Muhammad
SAW
bertanya,
‘Kenapa anakmu mengeluh bahwa kamu telah menguasai seluruh
hartanya?”
Sang
Bapak meminta Nabi SAW “Tanyakanlah kepada anakku untuk
apakah aku
menggunakan
uangnya selain untuk membiayai kebutuhan bibinya dan diriku?”
Nabi
SAW bersabda, “Cukup, semua sudah jelas bagiku.”
Nabi
SAW bertanya kepada sang Bapak, “Kata-kata apakah yang selalu
kau ucapkan di
dalam
hati yang bahkan telingapun tak dapat mendengarnya?”
Sang
Bapak heran mendengar ini dan menjawab “Sesungguhnya ini
adalah mukjizat
bahwa
engkau mengetahui hal ini. Memang saya selalu mengucapkan
satu puisi di dalam
hati,
sehingga bahkan telingakupun tidak dapat mendengarnya.”
Nabi SAW kemudian
memerintahkannya
untuk membacakan puisi itu. Bapak ini kemudian membacakan
sebuah
puisi dalam bahasa Arab yang indah. Terjemahan puisi itu
adalah sbb.:
Aku memberimu
makan dimasa kecilmu dan mendukungmu bahkan ketika kau telah
mencapai
usia remaja. Seluruh biaya hidupmu ditanggung oleh punggungku.
Aku sering
terbangun semalaman dan sangat gelisah bila kau sedang sakit.
Seolah-olah
sakitmu
adalah sakitku, dan aku menangis sepanjang malam.
Ketakutan
atas kematianmu selalu menghantuiku walaupun aku tahu bahwa
maut hanya
akan
terjadi pada saat yang ditentukan dan tidak bisa dihindari
sama sekali.
Ketika
kau mencapai usia dewasa, sesuatu yang kudambakan, biasanya
kau berlaku
keras
dan mengucapkan kata kasar kepadaku. Engkau bersikap kepadaku
seolah-olah
kau telah
berbaik hati padaku.
Sayang
sekali, seandainya kau tidak mau memberikan hakku sebagai
Bapakmu,
sedikitnya
kau bisa memperlakukanku sebagai tetanggamu.
Aku mengharap
engkau paling sedikit bisa menunaikan tugasmu kepadaku bagaikan
tetanggamu,
dan tidak bertindak kikir dalam membelanjakan uangku untuk
keperluanku.
Setelah
mendengarkan puisi yang menggetarkan ini Nabi Muhamamd SAW
meremas
leher
laki-laki muda itu dan bersabda
“Pergi!
Dan seluruh hartamu untuk Bapakmu!”
Pada
hadith lainnya, Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi
Muhammad SAW
menaiki tangga pertama
dari mimbarnya dan bersabda “Ia menganiayai
dirinya
seluruhnya.”
Kemudian
ia menaiki tangga kedua mimbarnya dan mengulang kalimat
itu lagi.
Kemudian ia naik
ke tangga ketiga dan mengulang kalimat ini untuk ketiga
kalinya. Para
sahabat
bertanya “Ya Rasul, siapakah yang menganiaya dirinya?” Muhammad
SAW
menjawab,
“Orang yang bertemu Ramadhan tetapi tidak mendapatkan dosanya
diampuni
Allah
SWT. Orang yang tidak mengirim salam kepadaku ketika mendengar
namaku
disebut.
Orang yang masih bisa melihat Ibu-Bapaknya diusia tua tetapi
tidak bisa masuk
surga.”
(Muslim)
Dengan
kata lain ketiga hal ini sudah pasti akan membawanya ke
surga bila ia mematuhi
perintah
Allah SWT.
Semoga
Allah SWT menumbuhkan hormat kita yang tulus bagi Ibu-Bapak
kita di dalam
hati
kita dan menunjukkan kasih sayangNya kepada mereka seperti
Ibu-Bapak kita
menunjukkan
kasihsayangnya kepada kita ketika kita masih kecil. (Amin)