netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS



ETIKA BERTAMU

((VISITATION ETIQUETTIS))

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Titie Wibipriatno and Edited by Ismail Umar

Etika bertamu membentuk suatu aspek penting dalam cara hidup yang Islami dan

membuktikan bahwa Islam menekankan hak-hak azasi manusia serta keadilan sosial

dalam kehidupan sehari-hari. Mengabaikan atau menyepelekan etika ini berarti

mengganggu privacy seseorang dan bahkan bisa menakut-nakuti mereka. Islam berarti

damai dalam segala fase dan bentuk kehidupan. Oleh karena itu, sangat penting untuk

memahami petunjuk Allah SWT supaya bisa memelihara kedamaian di dalam

masyarakat. Allah SWT berfirman dalam An-Nur # 27-29

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu

sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih

baik bagimu, agar kamu ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka

janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu:

"Kembali lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha

Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang

tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah

mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.

Oleh karena itu kita tidak diijinkan memasuki satu rumah tanpa ijin dari pemiliknya.

Juga dilarang untuk mengintip ke dalam rumah tersebut ketika pintu sudah dibuka

untukmu. Perinta ini secara rinci disebutkan pada ayat-ayat di atas. Rumah dibagi

kedalam empat kategori. Karena itu larangan-larangan dan tatacara di dalam Islam

kemudian dibagi menurut kategori tersebut.

Termasuk dalam kategori pertama adalah rumahmu sendiri dimana anda tinggal sendiri.

Jelas anda tidak membutuhkan ijin siapapun untuk memasukinya. Oleh karena itu tidak

diatur secara khusus di dalam ayat-ayat di atas.

Dalam kategori kedua adalah rumah-rumah yang ada penghuninya. Anda tidak diijinkan

memasuki rumah-rumah ini tanpa mengucapkan ‘Salaam’ kepada penghuni dan

kemudian meminta ijin kepada mereka untuk masuk. Banyak terdapat kebijaksanaan

dalam peraturan ini, yang akan dijelaskan lebih lanjut di bagian belakang artikel ini.

Anda boleh memasuki sebuah rumah hanya bila mendapat ijin dari penghuni.

Dalam kategori ketiga adalah rumah-rumah yang kosong atau tidak ada tanda bahwa

penghuninya sedang berada di dalam pada saat itu. Sekali lagi, anda juga tidak diijinkan

memasuki rumah-rumah semacam itu. Tidak ada seorangpun yang diijinkan untuk

melanggar hak milik orang lain walaupun sedang kosong. Islam menuntut peraturan

yang begitu tinggi, dan karena itu, sangat menghargai orang lain berikut harta miliknya.

Kategori ke empat dari rumah-rumah adalah bangunan yang dibuat untuk kepentingan

umum. Contohnya adalah stasion kereta api, sekolah, restoran dan penginapan. Anda

diijinkan memasuki bangunan-bangunan ini tanpa ijin resmi.

Kebijaksanaan yang tersirat di dalam peraturan ini sangat menarik. Allah SWT

berfirman di dalam Qur’an: An-Nahl # 80

Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal

Allah SWT telah menetapkan rumah-rumah anda untuk ketenangan anda seutuhnya.

Ketenangan ini hanya bisa dinikmati bila penghuni rumah bisa melakukan kegiatan

pribadi dengan bebas dan leluasa secara tuntas. Campur tangan dari luar dalam bentuk

apapun akan merusak ketenangan ini. Islam melarang campur tangan terhadap kebebasan

orang lain. Hal ini bisa menjurus menjadi menyusahkan orang lain, yang hukumnya

haram.

Disamping itu, bila kita mengunjungi seseorang dengan seijinnya, kita akan diterima

dengan ramah. Dia tidak hanya akan menghargai kita, tetapi juga akan berusaha sebaikbaiknya

untuk membantu kita. Sebaliknya, bila kita memaksakan kehendak kepada tuan

rumah, kita sungguh-sungguh akan membuatnya takut terhadap campur tangan yang

tidak dikendaki tersebut. Tentu saja dia akan menggunakan segala cara untuk

mengeluarkan kita dari rumahnya secepat mungkin tanpa menawarkan bantuan apapun.

Bila kita mengucapkan salam kepada seseorang, bahkan sebelum meminta ijin untuk

memasuki rumahnya, kita menanam ikatan cinta diantara kita. Salam berarti anda bisa

merasa aman dari tangan maupun lidah saya. Salam juga merupakan doa bagi dia agar

dia selamat dari segala bencana. Salam juga merupakan suatu pernyataan dan janji saling

menghargai dan menghormati. Alangkah indahnya memulai suatu hubungan dengan cara

seperti ini. Sebaliknya, bila seseorang tidak mengucapkan salam, dan kemudian meminta

ijin memasuki rumah seseorang, ia tentu saja mengganggu dan membuat takut pemilik

rumah. Islam bermaksud membongkar akar dari bentuk terror seperti ini dengan

mengajarkan etika dan tatacara bersosial/bergaul.

Peraturan ini juga dibuat untuk mencegah kerusakan moral. Sebagai contoh, bila

seseorang memasuki rumah orang lain tanpa permisi, dia bisa saja berpapasan dengan

isteri atau anak perempuan dari pemilik rumah. Setan bisa memasukkan niat buruk ke

dalam hati sang tamu. Banyak kerusakan moral sejenis yang bisa dicegah bila kita

mengikuti petunjuk Allah SWT.

Yang terakhir tetapi tidak kalah pentingnya, adalah untuk menjaga keleluasaan pribadi

penghuni rumah. Sebagai contoh, seseorang sedang melakukan suatu kegiatan di dalam

rumahnya yang ia tidak mau diketahui orang lain. Di dalam Islam, dilarang kita

menyelidiki rahasia orang lain. Allah SWT berfirman di dalam Al-Hujurat # 12

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang

Diriwayatkan oleh Qurtabi bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jangan berkhianat.

Jangan menyelidiki rahasia orang lain, karena bila seseorang menyelidiki rahasia orang

Muslim, Allah SWT akan membuka seluruh rahasianya. Kemudian, bila Allah SWT

ingin membuka rahasia seseorang, orang itu akan dipermalukan meskipun ia berada di

dalam rumahnya sendiri.”

Oleh karena itu peraturan bertamu ini memberikan solusi yang adil dan seimbang

terhadap bermacam-macam penyakit masyarakat. Peraturan ini tidak hanya tertulis di atas

kertas saja. Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya betul-betul mempraktekkannya

sehingga menciptakan ummat yang sangat mengagumkan. Beberapa contoh bisa dilihat

di bawah ini.

Imam Malik RA menulis di dalam bukunya Mwatta, seperti diriwayatkan oleh Atta bin

Yasar bahwa seseorang mendatangi Nabi Muhammad SAW dan bertanya, “Haruskan aku

minta permisi untuk masuk ke rumah ibuku?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Ya”.

Orang itu berkata, “Ya Nabi, aku tinggal bersama ibuku di dalam rumah itu”. Kembali ia

diperintahkan agar tidak masuk ke dalam rumah itu tanpa ijin. Ia bertanya lagi, “Ya

Nabi, aku berada di dalam rumah itu terus menerus untuk melayaninya.” Nabi

Muhammad SAW menjawab, “Engkau harus meminta ijin dulu. Maukah kamu melihat

ibumu dalam keadaan berpakaian tidak layak?” Ia menjawab, “Tidak.” Nabi bersabda,

“Karena itulah ijin masuk diperlukan, untuk menghindari hal-hal seperti itu.”

Ibn-e-Kathir berkata bahwa tidak diharuskan meminta ijin masuk bila istrimu tinggal di

dalamnya sendiri. Tetapi, bagaimanapun, dianggap pantas bila anda melakukannya.

Sebagai contoh, istri Abdula bin Masood RA berkata, “Suamiku biasa mengetuk pintu

sebelum memasuki rumah supaya ia tidak melihat aku dalam keadaan yang tidak

disukainya.”

Cara yang benar untuk meminta ijin adalah pertama dengan mengucapkan ‘Salaam’ lalu

mengetuk pintu, atau menekan bel. Bila penghuni rumah menanyakan identitas anda,

segeralah berikan nama lengkap anda. Jangan hanya diam atau menjawab “saya”. Hal

ini bisa menyebabkan kegelisahan, kekuatiran, atau ketakutan di dalam hati penghuni

rumah.

Bila tidak ada jawaban dari dalam rumah setelah ‘Salam’ yang diikuti degan ketukan di

pintu, ulangi lagi usaha ini dua kali lagi. Bila tetap masih belum ada jawaban, anda tidak

boleh memasuki rumah itu.

Ada beberapa contoh lain yang harus disebutkan disini agar menjadi jelas. Bila penghuni

rumah meminta anda untuk menunda kunjungan anda ke hari lain, anda harus

menurutinya. Anda jangan keberatan dengan permintaannya ini karena mungkin dia

punya alasan yang kuat. Tidak ada alasan apapun yang mengijinkan anda memaksakan

kehendak anda terhadap orang lain.

Islam adalah agama yang adil dan seimbang. Islam juga menghargai hak-hak seorang

tamu. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Tamu-tamu kamu mempunyai hal untuk mengunjungi kamu.

Oleh karena itu menjadi kewajiban penghuni rumah untuk keluar menyambut tamunya.

Ia tidak boleh menolak tamunya tanpa alasan yang kuat.

Perlu juga disebutkan disini bahwa gedung-gedung pelayanan masyarakat juga

mempunyai beberapa persyaratan untuk memasukinya. Persyaratan-persyaratan ini juga

harus dipatuhi. Misalnya, anda tidak boleh masuk peron stasion tanpa membeli tiket

dulu. Sama hal nya jika di komplek tersebut jika mungkin ada ruangan-ruangan untuk

manager. Kita juga tidak boleh sembarangan memasuki ruangan-ruanagn tersebut tanpa

ijin.

Ulama-ulama Islam telah memngambil beberapa kesimpulan dari contoh-contoh di atas.

Beberapa contoh disebut di bawah ini:

1. Tidak pantas menelpon seseorang disaat waktu tidur seseorang kecuali dalam situasi

gawat. Juga tidak pantas menelpon seseorang disaat waktu salat wajib. Ini adalah

mengganggu kebebasan pribadi seseorang, dan sama megganggunya seperti kita

memaksa masuk ke dalam rumahnya tanpa ijin.

2. Bila anda harus sering menelpon seseorang, tanyakanlah waktu-waktu yang tepat

untuk menelponnya. Patuhilah jadwal waktunya itu.

3. Bila anda perlu berbicara lama di telepon, tanyakanlah kalau lawan bicara anda ada

waktu buat pembicaraan lama itu.

4. Kalau seseorang menelepon anda, angkatlah telepon karena orang itu mempunyai hak

untuk berbicara dengan anda.

5. Bila anda berkunjung ke rumah orang, jangan berdiri tepat di depan pintu rumahnya.

Mungkin anda mengganggu keleluasaan pribadinya disaat ia membuka pintu. Jangan

mengintip ke dalam rumahnya.

Diriwayatkan oleh Sahl bin Saad RA Bahwa bila Nabi Muhammad SAW

mengunjungi satu rumah, ia selalu berdiri di sebelah kanan atau kiri dari pintu dan

selalu meminta ijin sesudah mengucapkan ‘Salaam’. (Bukhari dan Muslim)

6. Bila dalam keadaan gawat seperti kebakaran atau kecelakaan, anda boleh masuk

tanpa ijin penghuni. Kita harus bersegera untuk membantu orang lain.

7. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bila kamu mengirim utusan untuk mengundang

seseorang, orang itu boleh masuk tanpa minta ijin. Kawalan utusanmu sudah cukup

sebagai ijin untuk memasuki rumahmu.” (Abu Dawud)

Sesungguhnya terorisme masa kini terjadi karena mengabaikan peraturan kemasyarakatan

yang telah diperintahkan oleh sang Pencipta berabad-abad lalu. Al-Mulk # 14

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui; dan Dia Maha Halus lagi Maha

Mengetahui?

Banyak orang yang hidup sengsara walaupun penuh dengan kemudahan dan harta benda

moderen. Penderitaan dan kegelisahan ini terjadi karena mengabaikan aturan-aturan dari

yang Maha Pencipta.

Islam menekankan diikutinya peraturan sosial ini baik ketika berkunjung kepada orang

Muslim maupun non Muslim. Peraturan ini bukan hanya bagi orang miskin atau orang

awam saja. Islam menekankan bahwa peraturan-peraturan ini juga diikuti oleh orangorang

kaya maupun yang berpangkat tinggi. Islam memperlakukan semua orang

sederajat. Ini adalah bukti lain bahwa Islam adalah agama yang benar dan wajar.

Ada juga etika bertamu bagi anggota keluarga dalam satu rumah. Hal ini dibicarakan

secara terperinci di dalam An-Nur # 58-59

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki, dan orangorang

yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali yaitu:

sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian mu di tengah hari dan

sesudah sembahyang Isya'. tiga 'aurat bagi kamu . Tidak ada dosa atasmu dan tidak

atas mereka selain dari itu . Mereka melayani kamu, sebahagian kamu kepada

sebahagian . Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha

Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig,

maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka

meminta izin . Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha

Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Oleh karena itu orang tua harus mendidik anak-anaknya mengenai tatacara ini.

Selanjutnya, orang yang berkunjung ke rumah orang lain juga harus mengikuti peraturan

ini.

Dengan mengikuti tatacara ini, kehidupan menjadi lebih teratur dan terhormat baik di

dalam rumah maupun di luar rumah. Masyarakat seperti ini akan menikmati suasana

yang damai, tenteram, dan terhormat.

Saya berharap bahwa bila kita mengikuti peraturan sosial ini, kita bisa membongkar akarakar

kebuasan maupun terror jaman moderen dan menjalani kehidupan saling

menghargai, menghormat dan bangga terhadap satu sama lain.