netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“Lessons for Every Sensible Person”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno


KEMULIAAN MADINAH

Nabi Muhammad SAW telah membuat suatu permohonan ketika hijrah dari Makkah. Beliau berkata, “Ya Allah SWT, Engkau telah membawa aku keluar dari kota yang paling Engkau cintai. Tolonglah bawa aku ke kota yang paling Engkau sukai di dunia ini.” Allah SWT telah mengabulkan do'a beliau dan Nabi SAW pindah ke Madinah Munawarah. Karenanya Madinah menjadi kota yang terbaik di dunia ini. Perlu dicatat bahwa Nabi SAW memilih kembali ke Madinah untuk menghabiskan sisa umur beliau meskipun Makkah telah ditaklukkan.

Ketika Nabi SAW telah dekat dengan Madinah sewaktu kembali dalam suatu perjalanan, beliau berusaha bergegas dan biasa membuka penutup wajah beliau dan membiarkan terpaan angin udara Madinah membelai wajah beliau. Beliau berkata bahkan debu Madinah mempunyai efek menyembuhkan. Itulah mengapa Madinah disebut juga sebagai kota Shafiah atau penyembuh penyakit.


Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk mendambakan kematian di Madinah karena beliau SAW akan menjadi pembela dan saksi pada hari pembalasan bagi yang dimakamkan di Madinah. Kalifah Umar RA biasa berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang mati karena membela agama (Syahid) dan matikanlah aku di kota Nabi Mu SAW.” Allah SWT mengabulkan kedua keinginannya.

Nabi Muhammad SAW membaca do’a ini, “Ya Allah, Ibrahim AS adalah kekasih dan menyembah Mu. Ia telah memohon untuk kemakmuran dan kedamaian bagi penduduk Makkah. Aku juga menyembah dan Nabi Mu. Aku memohon pada Mu untuk menggandakan barakahMu untuk penduduk Madinah dibandingkan dengan Makkah. Tolonglah buat timbangan dan ukuran berbagai barang dagangan kami penuh dengan barakahMu juga.”
Madinah membantu seseorang untuk mendapatkan pembersihan dari dosanya seperti pembakaran membuang ketidakmurnian perak. Seperti disebut dalam hadits sahih, jika seseorang makan tujuh biji kurma Madinah dalam sarapannya, tidak ada sihir atau racun yang akan merugikan orang ini.

Masjid Nabawi dan Masjid Quba di Madinah berdasarkan pada kesucian hakiki. Mimbar Masjid Nabawi merupakan anak tangga menuju Surga. Area antara mimbar dan makam Nabi adalah salah satu taman Surga. Gunung Uhud adalah gunung Surga dan Nabi SAW menyukai gunung ini. Nabi SAW akan menjadi perantara dan bersaksi bagi yang dimakamkan di makam Baqii Madinah.

Semua kota ditaklukkan oleh Muslim dengan pedang. Madinah menjadi satu-satunya kota yang ditaklukkan dengan pengajaran dan barakah Al Qur’an. Dajjal tidak akan mampu masuk jantungnya kota Madinah.
Nabi SAW telah menyampaikan, “Kepercayaan akan dapat kembali ke Madinah sama seperti kembalinya ular ke lubangnya.”

Nabi SAW telah menyebutkan, “Tunjukan penghormatan kepada penduduk Madinah. Aku tidak hanya berpindah ke Madinah tetapi juga makamku akan berada di Madinah dan aku akan bangkit pada hari pembalasan dari kota Madinah. Kamu seharusnya menghormati hak penduduk Madinah karena mereka adalah tetanggaku. Usahakan untuk melupakan kekurangan dan kekeliruan mereka. Jika seseorang menghormati hak dari tetangga ku, aku akan menjadi perantara dan bersaksi untuk orang itu pada hari pembalasan. Jika seseorang mengabaikan hak dari tetangga ku, ia akan meminum air cucian luka pada hari pembalasan.

Detil dari Masjid Nabi dapat dilihat pada bukuku “Peringatan bagi Orang yang Berfikir (Ulul Albab)”. Bagaimanapun beberapa komentar umum diberikan seperti berikut:

1. Tidak ada mihrab di dalam Masjid Nabawi pada waktu Nabi SAW dan keempat Kalifahnya. Umar bin Abdul Aziz membangun suatu mihrab di tahun 91 H.

2. Tidak ada menara pada Masjid Nabawi pada waktu Nabi SAW dan keempat Kalifahnya. Umar bin Abdul Aziz membangun empat menara di empat sudut Masjid ini di tahun 91 H.

3. Pada awalnya tidak ada mimbar dan Nabi SAW menyampaikan khotbah dengan bersandar ke pilar berupa pohon di dalam Masjid itu. Pada tahun 8 H, dibuat sebuah mimbar kayu terdiri dari tiga undakan/tangga.

4. Berbagai pilar atau pilar di dalam Masjid Nabi yang lama mempunyai bintik/corak yang sama ketika mereka dibangun pada zaman Nabi SAW. Banyak pilar mempunyai sejarah besar.

5. Lokasi rumah keempat Kalifah yang telah ditunjuki jalan lurus adalah sebagai berikut:

Rumah Abu Bakar RA berada dekat dengan dinding barat Masjid Nabi dan merupakan Bab Siddique sekarang ini.

Abu Bakar RA mempunyai rumah lain di bagian sisi timur Masjid yang mana sekarang merupakan jalan dari Bab Jibriil ke Baqii.

Abu Bakar RA tinggal di rumah ini selama hari-hari terakhirnya dan dia meninggal di sini juga.

Rumah Umar RA berada antara Bab Rahmah dan Bab Siddique. Selama Shalat Jum’at shaf jama’ah yang sembahyang ditambah sampai ke dalam rumah Umar RA.


Usman RA mempunyai dua rumah. Rumah yang besar di luar Bab Baqii. Usman RA syahid di bagian utara rumah ini. Dia mempunyai rumah yang lebih kecil dekat timur laut sudut rumah besarnya.


Rumah Ali RA berada di bagian utara Kamar Suci atau gubuk Aisyah RA. Ada mihrab tahajjud di bagian dinding selatan rumah Ali RA.