“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
MASJID QIBLATAIN
Masjid Qiblatain berarti Masjid dengan dua qiblat yaitu
satu ke arah Al Quds di Jerushalam dan satu lagi ke arah
Baitullah di Makkah. Beberapa pertanyaan tentu timbul dalam
pikiran. Mengapa dua Qiblat? Mengapa, bagaimana dan kapan
perubahan tersebut terjadi? Siapa yang memerintahkan perubahan?
Apa akibat dari perubahan ini?
Pada awalnya Qiblat (atau arah shalat) untuk semua Nabi adalah
Baitullah di Makkah yang dibangun pada masa Adam AS. Ali
Imran 96.
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat
beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah)
yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS mengikuti Qiblat ini. Kemudiannya
Al Quds ditetapkan sebagai Qiblat untuk sebagian dari Para
Nabi dari bangsa Israel. Para Nabi ini ketika shalat didalam
Al Quds, biasa menghadap pada arah sedemikian rupa sehingga
kedua-duanya Al Quds dan Baitullah di Makkah saling berhadapan.
Nabi Muhammad SAW biasa berdiri sedemikian rupa antara Hajar
Aswad dan Rukun Yamani sehingga kedua-duanya rumah Allah
SWT - Al Qud dan Baitullah berada di depan beliau.
Seperti disebutkan didalam Bukhari, Nabi Muhammad SAW melakukan
shalat di Madina menghadap ke arah Al Qud untuk enam belas
atau tujuh belas bulan. Beliau secara total patuh kepada
perintah Allah SWT. Bagaimanapun beliau menginginkan Qiblat
yang sama dengan Adam AS dan Ibrahim AS. Nabi Muhammad SAW
sangat berharap bahwa permohonannya akan dikabulkan. Beliau
biasa menantikan kedatangan wahyu (tentang permohonan beliau)
dan menengadah ke langit berulang-ulang seperti disebutkan
didalam Al Baqarah 144.
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit,
maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang
kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan
di
mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.
Dengan
cara ini Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Muhammad
SAW. Bahwa hanya Allah SWT yang dapat memerintahkan
perubahan Qiblat dan ini bukanlah berdasarkan keputusan
dari seorang
Nabi.
Akibat
dari perubahan Qiblat adalah dua kali lipat. Segera setelah
Yahudi mengetahui Qiblat kaum Muslim
adalah Baitullah
bukan Al Quds, mereka berkelakar dan memperolok kaum
Muslim. Mereka berkata, “Agama seperti apa yang mengubah Qiblat?” Pada
waktu yang sama Yahudi was-was terhadap perubahan
itu. Selama ini kaum Muslim sedikit banyak bisa diterima
oleh Yahudi.
Perubahan Qiblat itu menandakan kaum Muslim adalah
suatu bangsa atau kelompok lain yang terpisah. Karenanya
bangsa
Yahudi meningkatkan perlawanan terhadap kaum Muslim
dan menghormati musuh mereka.
Lagipula, Allah SWT mempunyai kebijaksanaan dan rencana
sendiri. Perubahan Qiblat adalah untuk memisahkan
orang munafik dari
kaum Muslim yang tulus ikhlas. Al Baqarah 143.
Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu
(sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya
nyata) siapa yang
mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh
(pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali
bagi orang-orang yang
telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak
akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
kepada manusia.
Menurut sebuah hadits didalam Bukhari dan Muslim,
perubahan Qiblat terjadi ketika Nabi Muhammad SAW
memimpin Shalat Asar,
dalam beberapa riwayat disebutkan Dzuhur, di dalam
Masjid Qiblatain. Nabi SAW dan para Sahabatnya
berganti arah Qiblat
selama Shalat ini.
Beberapa Sahabat menyelesaikan shalat mereka dan
kembali ke masyarakat mereka. Mereka mencatat bahwa
saudara laki-laki
mereka sedang shalat di dalam Masjid lingkungan
mereka menghadapi ke arah Al Quds. Seorang Sahabat
dengan nyaring memberi tahu
mereka bahwa mereka baru saja shalat dengan Nabi
SAW menghadap ke arah Baitullah. Mendengar ini,
saudara laki-laki mereka
memutar arah shalat mereka, tanpa meributkan atau
bertanya apapun juga. Ini menandakan bahwa kredibilitas
satu orang
sebagai saksi sudah cukup dalam beberapa hal didalam
Islam.
Berita dari perubahan Qiblat mencapai Quba hari
berikutnya. Seperti disebutkan didalam Bukhari
dan Muslim, masyarakat
Quba juga mengganti arah Qiblat mereka pada waktu
shalat ketika mendengar pemberitahuan hanya dari
satu orang saja.
Itu juga menunjukkan begitu besarnya rasa saling
menghormati, saling percaya dan mempercayai yang
disukai dan dilakukan
para Sahabat Nabi SAW.
Aku sangat senang melihat tulisan di atas sebuah
mihrab Masjid di Madina. Al Baqarah 144.
maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat
yang kamu sukai.
Hadiah ini diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi
Muhammad dan Ummah nya di dalam Masjid Qiblatain.
Sebelum perubahan Qiblat Nabi SAW biasa memimpin
shalat di dalam Masjid Nabawi dari suatu tempat
diseberang dari Bab
Jibriil yang dahulu menghadap ke arah utara. Setelah
perintah untuk perubahan Qiblat, beliau memimpin
shalat dari pilar/tiang
Aisyahh untuk beberapa hari dan kemudian seterusnya
memimpin shalat dari Mihrab Nabawi. Dengan perubahan
Qiblat, beliau
menghadapi ke arah selatan (Baitullah).
Dengan perubahan Qiblat, area diseberang Bab Jibriil
yang lama kini menjadi bagian belakang Masjid Nabawi.
Area ini
diperuntukkan untuk Ashab-Us-Suffah menginap dan
belajar mereka. Ini juga menjelaskan bahwa panggung
petugas penjaga
yang berada di Masjid Nabi bukanlah lokasi untuk
Ashab-Us-Suffah seperti yang dipahami oleh banyak
pengunjung.
|