“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
MASJID QUBA DAN MASJID DIRAR
Nabi Muhammad SAW dan Sahabatnya Abu Bakar RA telah Hijrah
dari Makkah ke Madinah. Mereka pertama tiba di Quba, yaitu
beberapa kilometer di selatan Madinah. Nabi SAW menetap disana
beberapa hari dan membangun sebuah Masjid yang dikenal sebagai
Masjid Quba. Allah mencintai tindakan Nabi SAW ini karena
secara total didasarkan pada keta'atan kepada Allah SWT dan
untuk mencari Ridha Allah SWT At Taubah 108.
Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid
Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang
di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan
diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau juga membangun Masjid
Nabawi atas dasar keta'atan kepada Allah. Karenanya ayat
diatas berlaku untuk Masjid Nabawi juga.
Penduduk
daerah Quba adalah suku Bani Amr bin Auf. Nabi SAW bertanya
kepada masyarakat suku Bani Amr, “Aktivitas
khusus apa yang kalian lakukan yang mana Allah SWT mencintai
dan sebagai konsekwensi menyebut kalian sebagai orang-orang
yang sangat bersih dan suci?” Mereka berkata, “Wahai
Nabi tersayang, tidak ada yang khusus dari kami kecuali setelah
himbauan untuk bersuci, kami tidak hanya menggunakan batu
untuk membersihkan diri akan tetapi kami juga mandi dengan
air sebersih mungkin.” Nabi SAW mengatakan, “Pantas
saja, kalian menerima penghormatan ini dari Allah SWT
karena aktivitas kalian ini. Jadikanlah itu sebagai kebiasaan
tetap.”
Menurut sebuah Hadits didalam Tirmidzi, melakukan shalat
di dalam Masjid Quba sama dengan melakukan Umrah yaitu balasannya
setara dengan itu.
Seperti disebutkan didalam Bukhari, Nabi SAW biasa mengunjungi
Masjid Quba berjalan kaki atau jika tidak sekali seminggu.
Abdullah bin Umar biasa mengikuti sunnah ini.
Orang
munafik selalu sibuk menentang aktivitas orang-orang beriman.
Qurtabi telah memberi keterangan yang rinci
tentang seorang Pendeta Kristen yang dikenal sebagai
Abu Amer.
Ia menemui Nabi SAW di Madinah dan tidak puas dengan
prinsip Islam. Sebagai konsekwensinya, ia menantang
Nabi SAW dan
berkata, “Siapapun yang berdusta diantara kita akan
mati jauh sekali dari kawan-kawan dan familinya.” Ia
juga bersumpah untuk membantu setiap musuh Islam.
Ia bergabung dengan musuh Islam pada semua peperangan
sampai pada Peperangan
Hunain. Akhirnya ia kecewa dan melarikan diri ke
Syria,
yang menjadi pusat kegiatan Kristen pada waktu
itu. Ia mati di
Syria yang jauh sekali dari kawan-kawan dan familinya.
Abu
Amer membuat persekongkolan melawan kaum Muslim selama
ia berada di Syria. Ia meminta raja Kerajaan
Romawi untuk
menyerbu Madinah. Ia juga menulis sebuah surat
kepada orang munafik Madinah untuk membangun
Masjid sebagai
gerbang
untuk melawan kaum Muslim. Ia berkata, “Gunakan Masjid ini
untuk persatuan. Kamu harus memberi bantuan kepada kaisar
Roma ketika menyerang Madinah.” Karenanya sembilan
orang munafik membangun sebuah Masjid dekat sekali dengan
Masjid Quba. Mereka mengklaim bahwa itu untuk memudahkan
orang tua dan orang sakit shalat dan juga untuk mengurangi
kepadatan di Masjid Quba. Mereka juga meminta Nabi SAW untuk
melakukan shalat di dalam Masjid ini untuk mendapatkan kepercayaan.
Nabi SAW mengatakan, “Aku sekarang sangat sibuk melakukan
persiapan untuk Peperangan Tabuk. Sekembaliku akan kupenuhi
harapanmu.” At Taubah 107.
Dan (di antara orang-orang munafik itu)
ada orang-orang yang mendirikan Masjid untuk
menimbulkan kemudharatan
(pada orang-orang
mu'min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah
antara orang-orang mu'min serta menunggu kedatangan
orang-orang
yang telah memerangi
Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya
bersumpah: "Kami
tidak menghendaki selain kebaikan." Dan
Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka
itu adalah
pendusta (dalam
sumpahnya).
Ketika
Nabi SAW yang kembali dari Peperangan Tabuk, Allah memberi
tahu Nabi SAW tentang rencana
kotor
dari orang
munafik. Karenanya Nabi SAW mengirim beberapa
orang Sahabat untuk
menghancurkan dan membakar Masjid itu yang
disebut Masjid Dirar. Peristiwa ini diuraikan didalam
At Taubah 108 – 110.
Janganlah kamu bersembahyang dalam Masjid itu selama-lamanya.
Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas
dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik,
ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang
yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan
dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Bangunan-bangunan
yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan
dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Contoh Masjid Dirar seperti membangun gedung di atas muara
sungai. Potongan bangunan ini terlihat kokoh walaupun arus
air telah membuatnya mengapung. Sepertinya akan roboh segera.
Akhirnya adalah kehancuran dan kerugian total.
Lagipula, catatan bahwa kecemburuan seperti api tanpa nyala
api. Kecemburuan, kemunafikan dan keraguan seperti orang-orang
sakit itu akan selalu bertambah akibat kekecewaan mereka
dalam mencapai maksud jahat mereka. Ini merupakan hukuman
seketika dari Allah SWT. Kecemburuan mereka tidak akan berhenti
hingga mereka mati. Ini menunjukkan bagaimana tidak beruntungnya
mereka.
Kita dapat menarik kesimpulan dari buku ini sebagai berikut.
1. Masjid Dirar dibangun untuk memecah belah kesatuan Masyarakat
Muslim, untuk tempat perlindungan dan membantu musuh Islam,
dan untuk tempat pertemuan sebagai gerbang untuk melawan
kaum Muslim.
2. Oleh karena itu bila seseorang membangun Masjid dengan
salah satu tujuan seperti tersebut diatas, akan menjadi orang
yang sangat berdosa.
3. Kita harus selalu berbuat berdasarkan keta'atan dan keikhlasan.
4. Kita harus mengutamakan kebersihan diri dan kebersihan
dari Masjid dan lingkungannya.
5. Kebersihan juga berarti untuk memelihara kita bebas dari
dosa dan perilaku yang jelek.
|