“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
MELIHAT SEJENAK KEHIDUPAN KALIFAH YANG LURUS
Para pengunjung Madinah seharusnya mengambil beberapa pelajaran
dari kehidupan Kalifah yang telah ditunjuki jalan lurus (Kullafa
Ur Rasyidin) karena mereka merupakan penunjuk cahaya bagi
kita.
ABU BAKAR SIDDIK RA (11 – 13 H)
Allah SWT berfirman di dalam An Nisa 69.
Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka
itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi
ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang
yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah
teman yang sebaik-baiknya.
Menurut
para Ulama ‘siddiq’ adalah orang yang
menerima Islam segera tanpa penolakan atau keraguan. Seperti
itulah halnya Abu Bakar RA. Itulah mengapa ia disebut siddiq.
Tingkatan siddiq bahkan lebih tinggi dibanding orang yang
mati syahid sebagaimana disebutkan pada ayat di atas.
Orang-orang kafir menyiksa orang baru masuk Islam (Mualaf)
tiap hari. Sebagai contoh, orang-orang kafir biasa memanggang
Khabbab RA di atas nyala api dan meletakkan bebatuan di atas
nya sedemikian rupa sehingga ia tidak bisa menghindar. Seperti
disebutkan oleh Ibnuu Hisham, Abu Bakar RA membeli Bilal
RA, Amir bin Fohaira RA dan Khabbab bin Arath RA dan membebaskan
dari perbudakan.
Dengan cara yang sama Zinnera RA, Nahdia RA, Ummi Abais RA
adalah para budak perempuan yang memeluk Islam. Para penyembah
berhala menyiksa mereka dengan berbagai cara. Abu Bakar RA
membeli mereka semua dan membebaskan mereka dari perbudakan.
Abu
Bakar RA mempunyai pemahaman yang mendalam tentang Al Qur’an.
Ketika Nabi Muhammad SAW meninggal, banyak Sahabat termasuk
Umar RA kebingungan. Abu Bakar
RA membacakan
surat Ali Imran 144.
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika
dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barangsiapa
yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan
mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Ayat ini dapat diterima dengan jelas oleh para sahabat dan
menyadarkan mereka dari kebingungan.
Ketika Abu Bakar RA ingin memerangi mereka yang
menolak untuk membayar Zakat, banyak Sahabat yang
menolak.
Mereka berkata, “Apakah
kamu ingin membunuh mereka yang shalat, puasa dan melaksanakan
Haji?” Abu Bakar RA menjawab, “Mereka yang berkeberatan
untuk membayar Zakat telah keluar dari naungan/lingkungan
Islam.” Abu Bakar RA telah menghancurkan
kecenderungan yang tidak Islami seperti itu. Ini
merupakan suatu
peringatan bagi kita yang tidak saksama didalam
membayar Zakat baik
secara penuh atau secara parsial.
Berikut
ini disebutkan oleh Ibnu Aseer bahwa Abu Bakar RA telah
berkata, “Barang-barang baru apa saja yang telah
aku kumpulkan semenjak aku menjadi Kalifah?” Ia
diberitahu tentang tiga barang berikut.
a. Seekor unta yang digunakan untuk mengambil air.
b. Seorang budak untuk mengasuh anak-anak dan juga mengasah
pedang-pedang dari Ummat Muslim.
c. Satu potongan kain seharga kurang dari satu Saudi riyal
sekarang.
Ia berwasiat untuk menyerah terimakan barang-barang ini kepada
Kalifah yang berikutnya setelah kematiannya.
Ketika Umar RA menerima barang-barang ini,
ia tidak dapat menahan tangisan dan ia secara
terus-menerus
berkata, “Wahai
Abu Bakar RA, kamu telah membuat tugas penggantimu menjadi
sangat sulit dengan tauladan yang luar biasa darimu ini.” Ini
merupakan peringatan bagi mereka yang memegang
jabatan publik dan kemudian menghimpun kekayaan
secara tidak
sah.
Abu Bakar RA telah mengumpulkan Al Qur'an dalam
bentuk sebuah buku, karena banyak Haffiz yang
meninggal karena membela
agama (syahid) dalam berbagai peperangan.
Pintu rumah dari kebanyakan para Sahabat biasanya
mengarah ke Masjid Nabawi. Seperti disebutkan
di dalam Hadits Bukhari,
Nabi SAW telah memerintahkan bahwa semua pintu-pintu
ini harus ditutup kecuali pintu rumah Abu Bakar
RA. Ini menjadi
pertanda bahwa Abu Bakar RA akan menjadi Kalifah
pertama. Lokasi sebenarnya dari rumah Abu Bakar
RA masih dapat dilihat
di dalam Masjid Nabawi. Jika anda berjalan
menuju ke arah barat dari Mimbar, rumahnya
adalah dekat pilar/tiang yang
kelima dari Mimbar, merupakan Bab Siddique
sekarang ini.
Ketika Nabi SAW tidak bisa memimpin Shalat karena sedang
sakit, beliau menetapkan Abu Bakar RA untuk memimpin Shalat
di dalam Masjid Nabawi.
Abu Bakar RA adalah Sahabat yang paling akrab/dekat dengan
Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum turunnya wahyu pertama/Islam.
Seorang manusia yang selalu diingat diantara para Sahabat
beliau. Ia merupakan Sahabat yang pertama memeluk Islam.
Ia mendapat kehormatan untuk berada bersama Nabi SAW selama
hijrah dari Makkah ke Madinah. At Taubah 40.
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad
SAW) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya
(yaitu)
ketika
orang-orang kafir
(musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari
Mekah) sedang dia salah seorang dari dua
orang ketika
keduanya
berada dalam
gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah
kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka
Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada
(Muhammad SAW) dan membantunya dengan tentara
yang
kamu tidak melihatnya,
dan Allah menjadikan seruan orang-orang
kafir itulah yang
rendah.
Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Abu Bakar RA telah metetapkan suatu dewan penasehat untuk
pemilihan Kalifah berikutnya. Ia tidak ingin mengulangi situasi
terulang ketika Nabi SAW meninggal.
Suatu dialog menarik terjadi antara dia dan anggota dewan
penasehatnya untuk pemilihan penggantinya.
Abu Bakar RA bertanya kepada Abdur
Rahman bin Auf RA, “Apa
pendapat anda tentang Umar RA sebagai
penggantiku ? ”
Abdur Rahman bin Auf RA menjawab, “Tidak diragukan
ia merupakan orang yang terbaik tetapi ia sangat tegas dan
keras.” Abu Bakar RA menyebutkan, “Ia seperti
itu karena ia mendapatkan aku sangat lembut. Ketika nanti
ia menjadi Kalifah, ia akan secara otomatis menjadi lembut.” Kemudian
Abu Bakar RA bertanya kepada Usman RA, “Apa pendapat
anda tentang Umar RA sebagai Kalifah berikutnya?" Usman
RA menjawab, "Semua yang aku ketahui bahwa hatinya lebih
baik dibanding kepribadian luarnya.
Sesungguhnya tidak ada
orang diantara kita seperti dia.” Ia
juga berkonsultasi kepada beberapa
orang Muhajirin dan Ansar lainnya.
Seperti disebutkan oleh Ibnu Aseer,
Talha bin Abdullah RA telah mendengar
bahwa
Umar RA sedang
dengan
serius dipertimbangkan sebagai Kalifah
berikutnya. Ia pergi
ke Abu Bakar RA dan
bertanya, “Kamu mengetahui bahwa Umar RA adalah orang
sangat tegas keras. Walaupun demikian kamu tetap berniat
untuk memilih dia sebagai penggantimu. Bagaimana kamu akan
menjawab Allah SWT pada Hari Pengadilan nanti sekitar tindakanmu
ini?” Abu Bakar RA menjawab, “Aku akan berkata
kepada Allah SWT, Ya Allah, aku sudah menetapkan seorang
hamba yang paling ta’at kepadaMu
sebagai Kalifah untuk orang-orang beriman.”
Pada
saat kematian Abu Bakar RA, Ali RA memberikan kata (ceramah)
perpisahan
didepan
makam Abu
Bakar RA. Ali
telah berkata, “Wahai
Abu Bakar, Rahmat Allah dilimpahkan
kepadamu, Nabi SAW mencintaimu. Ia
mempercayaimu
untuk menyimpan
rahasianya. Kamu adalah
penasehat nya. Kamu menjadi orang
yang pertama menerima Islam dan kamu
menjadi
orang beriman
yang paling
ikhlas dan sering
Tuhan memperingatkan orang ...”
Ketika Ali RA selesai dengan ceramahnya,
orang-orang mulai bertangisan dengan
sangat sedihnya kehilangan
Abu Bakar
RA dan berkata, “Wahai menantu
Nabi SAW, kamu telah berkata dengan
benar.”
UMAR FARUQ RA (13 – 23 H)
Tersebut dalam Ibnu Hisham bahwa
seorang pelayan perempuan suku/kabilah
Umar,
Bani Adi memeluk
Islam. Umar RA,
sewaktu masih kafir, biasa memukulnya
setiap hari sampai Umar
RA kelelahan. Umar RA berkata kepada
nya, “Aku berhenti
memukulmu bukan karena bermurah hati kepadamu. Aku berhenti
melakukannya karena aku lelah sekarang ini.” Dia
dipukul seperti ini setiap hari sampai
Abu Bakar RA membeli dan membebaskannya.
Al
Jauzi telah menulis dalam bukunya, Sejarah Umar bin Khatab,
bahwa suatu
hari Umar
RA bersembunyi di belakang
tutup Ka’bah.
Nabi SAW sedang melakukan shalat di sana dan membaca Surah
Al Haqqah. Umar RA terlena dengan keindahan Al Qur’an
dan ia berkata kepada dirinya sendiri, “Nabi Muhammad
SAW haruslah seorang penyair besar.” Nabi
kemudian membaca Al Haqqah 41.
dan Al Qur'an itu bukanlah perkataan
seorang penyair. Sedikit sekali kamu
beriman kepadanya.
Kemudian Umar RA berkata kepada
dirinya sendiri. Itu haruslah
perkataan tukang
tenung. Nabi
SAW membaca Al Haqqah 42 – 52.
Dan bukan pula perkataan tukang tenung.
Sedikit sekali kamu mengambil
pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan
dari Tuhan semesta alam. Seandainya
dia (Muhammad) mengada-adakan
sebagian perkataan atas (nama)
Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia
pada tangan kanannya. Kemudian
benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka
sekali-kali tidak
ada seorangpun dari kamu yang
dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan
urat nadi itu. Dan sesungguhnya
Al Qur'an itu
benar-benar suatu pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya kami
benar-benar mengetahui bahwa
di antara kamu ada orang yang mendustakan (nya).
Dan sesungguhnya Al
Qur'an itu benar-benar menjadi
penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat).
Dan sesungguhnya Al Qur'an itu
benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah
dengan (menyebut)
nama Tuhan-mu Yang Maha Besar.
Umar
RA berkata, “Bacaan Al Qur’an ini mempengaruhi
hatiku dan membuat aku percaya bahwa Islam adalah agama yang
benar.” Bagaimanapun, ia tidak bisa meinggalkan agama
nenek moyangnya dan karenanya melanjutkan menentang Islam
dengan kasar. Suatu hari ia keluar dari rumahnya dengan pedang
terhunus untuk membunuh Nabi SAW.
Seorang
teman berkata kepadanya, “Apakah
kamu mengetahui bahwa saudara ipar dan adikmu sudah memeluk
Islam?” Ini membuat Umar RA naik darah. Ia mendatangi
dengan cepat rumah adiknya. Ia memukul iparnya dan kemudian
saudarinya. Wajah adiknya berdarah. Adiknya membaca dengan
nyaring, “Aku bersaksi tidak ada tuhan yang patus disembah
kecuali Allah SWT dan aku bersaksi Nabi Muhammad SAW itu
adalah RasulNya.” Umar RA merasa sedikit kasihan melihat
darah yang mengalir pada wajah adiknya. Ia minta supaya adiknya
menunjukkan apa yang dia baca. Adiknya minta supaya Umar
RA membersihkan dirinya dulu sebelum menyentuh Kitab Suci
(Al Qur’an). Umar membaca
Ta Ha 1 - 14.
Thaahaa.
Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu
agar kamu menjadi
susah;
tetapi sebagai
peringatan
bagi orang
yang takut (kepada Allah),
yaitu diturunkan dari
Allah yang menciptakan
bumi dan
langit yang tinggi.
(Yaitu)
Tuhan Yang
Maha Pemurah, Yang bersemayam
di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah
semua
yang
ada di langit,
semua yang di bumi, semua
yang di antara keduanya
dan semua yang di bawah
tanah.
Dan
jika kamu mengeraskan
ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui
rahasia dan yang lebih
tersembunyi. Dialah Allah,
tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah)
melainkan
Dia, Dia
mempunyai al asmaaul
husna (nama-nama yang baik).
Apakah telah
sampai kepadamu kisah
Musa? Ketika ia melihat api,
lalu berkatalah
ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya
aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit
daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat
api itu". Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia
dipanggil: "Hai
Musa. Sesungguhnya Aku
inilah Tuhanmu,
maka tanggalkanlah
kedua
terompahmu; sesungguhnya
kamu berada di lembah
yang suci,
Thuwa. Dan Aku telah
memilih kamu, maka
dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan (kepadamu).
Sesungguhnya
Aku
ini adalah Allah, tidak
ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, maka sembahlah
Aku dan
dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku.
Umar
RA berkata, “Ini merupakan kitab yang menggembirakan
dan mengagumkan. Tolong, bawa aku ke rumah Nabi Muhammad
SAW.” Ia pergi
ke sana dan dengan
bersemangat memeluk
Islam.
Disebutkan
di dalam Bukhari dan diriwayatkan
oleh
Abdullah bin
Umar RA, bahwa
penyembah berhala
mengepung rumah
Umar RA untuk membunuh
dia karena menolak
agama nenek
moyang
mereka. Seorang teman
Umar mencegah mereka.
Al Jauzi
menyebutkan di dalam
bukunya, suatu hari
Umar RA
berkata kepada Nabi
SAW, “Bukankan kita dalam Jalan yang benar, sekalipun
kita hidup atau mati?” Nabi berkata, “benar sekali”.
Umar RA berkata, “Didalam
hal ini mengapa kita
shalat dan menyebarkan
Islam
secara
diam-diam? Aku
bersumpah bahwa
Allah SWT telah mengirim
kamu sebagai seorang
Rasul.
Kita
harus shalat
dan menyebarkan
Islam secara
terbuka.”
Hamzah RA telah memeluk
Islam tiga hari sebelum
Umar RA melakukannya.
Karena itu kaum Muslim
tampil dalam dua baris,
yang satu
dipimpin oleh Hamzah RA
dan yang lainnya oleh Umar
RA. Kaum Quraizhah sangat
marah melihat Hamzah RA
dan Umar RA
memimpin
kaum Muslim. Kaum Muslim
mulai shalat secara terbuka
dan juga menyebarkan
Islam secara terbuka. Nabi
SAW memanggil Umar RA dengan
Al Faruq sejak hari
itu. Ini disebut di dalam
Bukhari dan diriwayatkan
oleh Ibnu Masud RA bahwa
kaum Muslim menjadi
kuat dan disegani setelah
Umar RA memeluk Islam.
Umar
RA mempunyai visi yang luar biasa
dan
pandangan yang
jauh kedepan. Allah
SWT menyukai
usulannya
dan mewajibkan
kepada semua generasi yang
akan
datang
(setelah itu)
untuk
mengikuti usulan
berharganya. Sebagai
contoh, seperti
disebutkan
di dalam
Bukhari dan
diriwayatkan oleh
Anas RA, suatu
hari Umar RA berkata kepada
Nabi SAW, “Ya Nabi SAW, berbagai
macam orang mengunjungi kamu. Beberapa diantaranya ada yang
baik dan yang lain tidak. Aku rasa akan sangat pantas jika
kamu meminta isteri-istrimu untuk memakai hijab.” Sebagai
konsekwensi, Allah
SWT mewahyukan
Al Ahzab 53.
Apabila kamu meminta sesuatu
(keperluan) kepada
mereka (isteri-isteri Nabi),
maka mintalah dari
belakang tabir. Cara yang demikian
itu lebih suci
bagi hatimu dan hati
mereka.
Instruksi lain kepada orang-orang
(Muslimah) beriman untuk
memakai hijab terdapat
di dalam Al Ahzab 59.
Hai
Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak
perempuanmu
dan isteri-isteri
orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".
Yang demikian
itu supaya
mereka lebih
mudah
untuk dikenal,
karena itu
mereka
tidak diganggu.
Dan
Allah
adalah Maha
Pengampun
lagi Maha
Penyayang.
Ini
disebutkan di dalam
Bukhari
dan Muslim
yang diriwayatkan
oleh Umar
Faruq RA. “Allah
SWT setuju
denganku
dalam tiga
hal
penting.
Pertama,
aku mengusulkan
kepada
Nabi SAW
bahwa
kita
perlu
melakukan
shalat
dekat makam
Ibrahim.
Allah SWT
mewahyukan
Al Baqarah
125.
Dan jadikanlah sebahagian
maqam Ibrahim tempat shalat.
Yang kedua, sebagaimana
disebut di atas mengenai
ayat tentang memakai
hijab yang telah diwahyukan
kepada Nabi SAW.
Yang ke tiga, ketika beberapa
istri Nabi SAW menjadi
iri dan sedikit cemburu
satu sama lainnya, Umar
RA tidak bisa
menerimanya karena ia sangat
mencintai Nabi SAW. Ia
memperingatkan
mereka termasuk putrinya
Hafsah RA untuk memperbaiki
kelakuan mereka jika
tidak ingin Allah SWT menggantikan
mereka dengan
yang lebih baik. Akibatnya
satu ayat telah diwahyukan
kepada Nabi SAW, Al
Tahrim 5.
Jika Nabi menceraikan kamu,
boleh
jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya
dengan
isteri-isteri yang lebih baik
daripada
kamu,
yang patuh, yang beriman, yang ta`at, yang
bertaubat,
yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa,
yang
janda dan yang
perawan.
Pemikiran dan pertimbangan
Umar RA adalah logis. Sebagai
contoh, diakhir
perang Badar tujuh puluh
orang pemimpin penyembah
berhala dipenjarakan oleh
kaum Muslim.
Sejauh ini, belum ada instruksi
dari Allah SWT tentang
tawanan perang dan
barang
rampasan. Seperti disebutkan
didalam Tirmidzi dan diriwayatkan
oleh Ali
RA, Nabi SAW telah meminta
kepada orang-orang yang
beriman untuk menentukan
pilihan mereka.
Pertama, semua tawanan
perang harus dipancung
untuk mengurangi kekuatan
musuh yang
tangguh. Atau, tawanan
perang boleh
dilepaskan jika mereka
membayar tebusan.
Nabi SAW meminta para Sahabatnya
untuk menyatakan pilihan
mereka. Umar RA
dan Saad bin Maaz RA ingin
memilih pilihan
yang pertama sementara
yang lain ingin memilih
pilihan kedua. Nabi SAW
cenderung
dengan pilihan kedua karena
beliau penuh
kasih sayang kepada umat
manusia. Karenanya pilihan
yang kedua yang diikuti.
Suatu peringatan datang
dari Allah SWT kepada para
Sahabat yang meminta
Nabi SAW untuk mengikuti
pilihan yang kedua.
Al Anfal 67 - 68.
Tidak patut, bagi seorang
Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki
harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki
(pahala) akhirat (untukmu). Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya
tidak ada ketetapan yang telah terdahulu
dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar
karena tebusan yang kamu ambil.
Kedua hal ini, barang rampasan
dan tawanan perang dijelaskan
lebih lanjut.
Sebagai pemberian khusus
Allah SWT kepada Ummat
Nabi Muhammad SAW, barang
rampasan dan tebusan halal
(diizinkan) untuk
mereka dan untuk menghibur
para Sahabat atas kekeliruan
mereka sebelumnya. Al Anfal
69.
Maka makanlah dari sebagian
rampasan perang yang telah
kamu ambil itu, sebagai
makanan yang halal lagi
baik, dan bertakwalah
kepada Allah; sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi
Maha
Penyayang.
Kekalifahan Umar RA merupakan
jaman keemasan Islam. Umar
RA telah menaklukan
kerajaan besar Persia dan
Roma. Syria, Palestina,
Mesir dan sebagian dari
Turki juga ditaklukkan.
Umar RA adalah seorang
genius. Administrasi,
pembangunan dan pelayanannya
kepada masyarakat bagus
sekali. Ia memperkenalkan
Penanggalan Islam.
Kejatuhan Jerusalem merupakan
hal yang sangat menarik.
Abu Ubaidah RA dan
Khalid bin Walid mengepung
kota besar Jerusalem.
Masyarakat kota besar menyetujui
membuat suatu perjanjian
damai dengan kaum
Muslim dengan ketentuan
bahwa Kalifah sendiri
yang menanda tangani perjanjian.
Umar RA menetapkan Ali
RA sebagai wakilnya di
Madinah dan memulai perjalanannya
ke Jerusalem dengan unta
yang ditemani
oleh pelayannya Salim.
Tidak ada satuan pengamanan
lainnya
bersama Kalifah. Umar RA
dan Salim bergiliran mengendarai
unta sementara
salah seorang dari mereka
berjalan kaki.
Kebetulan
giliran Salim
menunggang unta
ketika mereka
masuk kota
besar Jerusalem.
Salim menawarkan
gilirannya kepada
Umar RA
tetapi Umar
RA berkata, “Cukuplah bagi kita
penghargaan Islam kepada kita semua” Karena
itu mereka
masuk kota
besar dengan
Kalifah berjalan
kaki menuntun
unta. Perjanjian
damai ditanda
tangani oleh
Umar RA.
Masyarakat diberi
perlindungan atas
harta dan
jiwa mereka.
Mereka diijinkan
untuk melakukan
kepercayaan mereka
tanpa ketakutan.
Terakhir tapi tidak kalah
pentingnya, Umar RA menikah
dengan putri Ali RA,
Ummi Kalsum RA, dan dengan
cara ini merupakan
kebanggaan untuk dapat
menjalin pertalian darah
dengan Nabi Muhammad SAW.
Umar RA memperluas Masjid
Nabawi pada tahun 17 H.
Perluasan dilakukan kearah
selatan (atau kearah Kiblat)
sekitar
lima
meter. Karenanya ia biasa
memimpin shalat ditengah
antara Mihrab Nabawi
dan Mihrab Usmani.
Tanggal
26 Dzulhijjah 23 H, seorang budak, menyerang
Umar RA ketika ia sedang memimpin Shalat Subuh.
Budak ini adalah orang kafir (pemuja api).
Beberapa hari kemudian Umar RA meninggal dunia
dalam keadaan luka-luka.
Umar
RA telah menetapkan
suatu dewan
kepenasehatan
yang terdiri
dari Usman
bin Affan RA,
Ali bin Abu
Talib RA,
Zubair bin
Awwam RA,
Talha bin Ubaidullah
RA, Abdur
Rahman bin
Auf, dan Saad
bin
Abi Waqas
RA untuk memilih
Kalifah berikutnya.
Umar
RA telah meminta
putranya Abdullah
bin Umar RA,
untuk
mendapatkan
ijin dari Aisyah
RA untuk menguburkannya
dekat
Nabi SAW dan
Abu Bakar RA.
Aisyah memberikan
ijinnya.
Ketika
Umar RA dikuburkan
di sana, sejak
itu Aisyah
tetap menggunakan
kerudung (atau
Hijab) di
dalam gubuknya
sampai sebuah
dinding dibangun
diantara makam
mereka dan
gubuk kecilnya
yang masih
tersisa. Ini
dikarenakan
Umar RA bukanlah
Muhrimnya.
Disini
dapat diambil
sebuah pelajaran
penting untuk
kaum Muslim
laki-laki
dan perempuan
yang teledor
didalam menerapkan
bimbingan
mengenai Hijab. Menjelang Kematian
Hafsah RA, putri Umar RA datang kepada bapaknya yang terluka,
menangis dengan sedih dan meratap dengan keras. Umar RA
berkata kepada Hafsah RA, “Aku tidak mempunyai kendali
atas matamu. Ketahuilah jika kamu meratap dengan keras
dekat orang yang sekarat, para malaikat benci mayat-mayat
tersebut.” Dengan cara yang sama ketika Suhaib RA
melihat kondisi mengerikan dari luka Umar RA, ia mulai
meratap, “Wahai Umar yang kami sayangi, Wahai Umar
yang kami sayangi.” Umar RA berkata kepadanya, “Wahai
saudara yang aku sayangi bersabarlah. Tidakkah kamu mengetahui
bahwa jika kamu meratap dengan keras dekat seorang yang
sekarat, suatu hukuman dikenakan pada orang yang sekarat
tersebut.”
Abdullah
RA
sedang
mendengarkan
keinginkan
bapaknya
selagi
ia sedang memangku kepala Umar RA di pangkuannya. Umar
RA
berkata, “Turunkan kepalaku ke tanah.” Abdullah
RA berkata, “Bapak, apa perbedaan antara pangkuanku
dan tanah itu.” Umar RA berkata lagi, “Taruh
kepalaku di atas tanah itu. Dengan cara ini Allah SWT mungkin
lebih suka kepadaku dan melimpahkan RahmatNya padaku.”
Semoga Allah SWT menjadikan kita rendah hati dan takut kepada
Allah SWT seperti Umar RA.
USMAN BIN AFFAN RA ( 24 – 35 H)
Usman RA memeluk Islam pada hari-hari pertama Islam setelah berkonsultasi dengan
Abu Bakar RA. Usman RA menikahi Ruqayyah RA, putri dari Nabi SAW. Ketika siksaan
kaum kafir Makkah menjadi tak tertahankan, Usman RA dan Ruqayyah RA pindah
ke Abyssinia. Ini merupakan keluarga Muslim pertama yang berpindah tempat didalam
jalan Allah SWT (Hijrah). Kemudian mereka kembali ke Makkah karena mendengar
situasi di Makkah tidaklah begitu jelek dibandingkan sebelumnya. Orang-orang
kafir meningkatkan penyiksaannya. Karena itu keduanya kembali Hijrah ke Madinah.
Ruqayyah RA jatuh sakit yang sangat parah dan meninggal ketika Nabi SAW pergi
ke perang Badar. Usman RA kemudian menikahi Ummi Kultsum RA, putri kedua Nabi
SAW. Dengan demikian Usman RA diberi gelar yang unik yaitu Dhun-Nurain atau
laki-laki dengan dua cahaya.
Beberapa
kaum
Muslim
Madinah
mengalami
kesulitan
untuk
mendapatkan
air
untuk
keperluan sehari-hari. Usman RA membeli sebuah sumur, yang disebut Bir
Rumah,
dari seorang Yahudi untuk dihibahkan kepada kaum Muslim dengan cuma-cuma.
Ini
merupakan kredit nirlaba yang pertama didalam Islam. Nabi SAW memberi
Usman
RA kabar gembira dari Surga untuk tindakan mulia ini. Nabi SAW ingin
memperluas
Masjid Nabi pada tahun 7 H. Usman RA membeli lahan untuk perluasan ini.
Ia
juga dengan senang hati memberikan derma atau sedekah pada berbagai ekspedisi.
Sebagai contoh, ia memberikan sedekah sembilan ratus ekor unta, seratus
ekor
kuda dan seribu Dinar untuk perang Tabuk.
Usman RA dipilih sebagai Kalifah dengan suara bulat dari dewan kepenasehatan
yang ditugaskan oleh Umar RA.
Usman RA melakukan beberapa penaklukkan dan kedaulatan Islam berkembang
dari Afghanistan ke Moroko di Afrika. Hal ini menimbulkan sedikit kesulitan
dalam
mengendalikan wilayah yang sangat luas itu. Karena sangat luasnya kedaulatan
Islam, beberapa kelompok membaca Al Qur'an dengan cara yang berbeda.
Ini menimbulkan beberapa permasalahan antara beberapa masyarakat negeri.
Usman RA memerintahkan
untuk mendistribusikan salinan Al Qur'an yang telah dikumpulkan pada
masa kekalifahan Abu Bakar RA dan memusnahkan semua salinan yang lain.
Usman RA telah ditugaskan oleh Nabi SAW untuk menulis dan membuat dokumentasi
ayat-ayat Al Qur'an. Ia mengenal Qur'an di luar kepala dan mempunyai
pemahaman sempurna tentangnya.
Usman RA lebih lanjut memperluas Masjid Nabi pada tahun 29 H. Masjid
selesai dibangun dengan batu yang sangat dekoratif (penuh hiasan) dan
Usman RA secara
pribadi mengawasi aktivitas konstruksinya. Adalah menarik untuk dicatat
bahwa dinding selatan dari Masjid masih di tempat yang sama pada masa
Usman RA. Imam
mempimpin shalat saat ini dari tempat yang sama ketika Usman RA bertindak
sebagai Imam.
Usman RA telah memberikan kontribusi yang sangat menonjol buat Islam
dalam berbagai cara.
Sungguh sayang ia menjadi korban kelicikan Ibnu Saba, kelompok
Yahudi munafik. Beberapa Muslim yang tidak puas bekerja sama dengan
mereka.
Mereka membunuh
Usman RA ketika ia sedang membaca Al Qur'an di dalam rumahnya.
Rumah Usman RA ini berada diluar dekat Bab Baqii. Usman RA berumur
82 tahun
ketika
kesyahidannya. Ia tidak berusaha melawan karena memperkirakan akan
menyebabkan pertumpahan
darah diantara kaum Muslim. Ia lebih memilih mengorbanan hidupnya
demi Allah. Kesyahidan Usman RA telah diramalkan oleh Nabi SAW.
Pada suatu
waktu Nabi
SAW pergi ke gunung Uhud dengan para Sahabat; Abu Bakar RA, Umar
RA dan Usman RA.
Gunung tersebut mulai bergoncang. Nabi SAW mengetuk gunung tersebut
dengan kaki Beliau dan berkata, “Berhentilah bergoncang, karena disini ada seorang
Rasul, seorang siddiq dan dua orang yang mati syahid yang berdiri di atasmu.” Gunung
Uhud berhenti bergoncang dengan seketika.
Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari kejahatan orang munafik dan
memberi kita kemampuan untuk melihat perbedaan antara yang hak dan yang
bathil.
Adalah sangat penting untuk dicatat bahwa Ali RA adalah salah seorang
penasehat Usman RA yang terdekat selama krisis ini. Mereka saling mempercayai
dan percaya
penuh satu sama lainnya. Ali RA memberi usul sangat bernilai kepada Usman
RA ketika lawan telah mengepung rumah Usman RA. Ali RA memerintahkan
putra-putranya
Hassan RA dan Hussain RA bertugas menjaga keamanan di pintu masuk rumah
Usman RA. Mereka melakukan tugas ini selama satu bulan. Si tertuduh,
berusaha, melompat
dinding belakang rumah untuk melakukan kejahatan yang kejam itu. Tidak
bisa dilupakan bahwa dalam pertemuan dewan kepenasehatan yang ditugaskan
oleh Umar
RA, Usman RA telah mengusulkan bahwa Ali RA haruslah sebagai Kalifah
yang berikutnya. Dengan cara yang sama Ali RA mengusulkan bahwa Usman
RA haruslah sebagai Kalifah
berikutnya. Ini dengan jelas menunjukkan bagaimana saling hormatnya mereka
satu sama lainnya.
Terakhir tetapi tidak kalah pentingnya, kita mencatat bahwa Umar RA menikahi
Ummi Kultsum, putri Ali RA. Umar RA dengan bangga menyebutkan bahwa dengan
cara begitu ia secara langsung menjadi sanak keluarga sedarah dengan
Nabi Muhammad SAW.
Fakta ini menunjukkan bahwa tidak pernah ada perbedaan apapun diantara
Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA dan Ali RA. Yang sangat disesalkan, sebagian
orang
sudah membuat dan memperbesar beberapa perkataan dibawah pengaruh orang
munafik. Semoga Allah SWT membimbing kita ke jalan yang benar.
ALI RA (35 – 40 H)
Ali
RA
dididik
oleh
Nabi
Muhammad
SAW.
Karenanya
Ali
RA
telah
mempelajari, menghapal dan mempraktekkan semua kualitas
dari
karakter Nabi SAW
yang luar biasa. Perintah yang pertama kepada Nabi SAW
untuk
menyebar luaskan
Islam
adalah Ash Syu’ara 214.
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Karenanya
Nabi
SAW
mengundang
sanak
keluarganya
untuk
makan
malam dan memperkenalkan mereka dengan Islam. Tak seorangpun
memperhatikan
kepadanya
kecuali Ali
RA. Ali dengan terus terang mengatakan, “Walaupun mataku sayu, kakiku tipis,
serta aku adalah yang termuda dari semua hadirin disini, aku akan berdiri di
samping kamu, Ya Rasul Allah.” Para pemimpin Quraizhah
tertawa terbahak-bahak atas komentarnya ini.
Karenanya Ali RA menerima Islam ketika ia masih seorang anak. Ia tidak
pernah membiarkan dirinya menyembah kepada berhala manapun juga didalam
hidupnya.
Itulah mengapa kita menyebut namanya dengan tambahan kata Karamallahu
wajhah - Allah SWT memuliakan wajahnya.
Ali menikahi Fatima RA, putri yang paling terkasih dari Nabi SAW. Mereka
mempunyai tiga orang putra yaitu Hasan, Husain dan Mohsin (yang meninggal
pada masa kanak-kanak).
Mereka juga mempunyai dua orang putri yaitu Zainab dan Ummi Kultsum.
Walaupun Quraisy Makkah dikenal kejam pada zaman Nabi SAW tetapi mereka
mengetahui bahwa beliau adalah orang yang paling jujur dan terpercaya.
Karena itu musuh
yang paling jahat sekalipun memintanya untuk menyimpan barang-barang
berharga mereka dalam penjagaan Nabi SAW. Ali RA menjadi lebih dewasa
dan bijaksana
dibanding usianya. Nabi SAW menghargai kualitasnya. Ketika Nabi SAW hijrah
ke Madinah, beliau minta Ali RA untuk berbaring di atas tempat tidurnya
dan mengembalikan berbagai barang titipan kepada pemilik masing-masing.
Ali RA ikut ambil bagian disemua peperangan dan menunjukkan keberanian
luar biasa. Berikut adalah beberapa contoh dari keberanian Ali RA. Diawal
peperangan
Badar Walid bin Utba menantang kaum Muslim. Ali RA dapat membunuhnya
dengan mudah/cepat sekali sehingga mengangkat semangat/moril kaum Muslim.
Dengan
cara
yang
sama
didalam
peperangan
Ahzab
(parit) seorang kafir Abd Al Wudd menyeberangi
parit dengan
kudanya dan menantang
kaum
Muslim. Diantara
semua kaum Muslim, Ali RA tampil kedepan untuk
menghadapi dia. Al Wudd berkata kepada Ali
RA, “Aku benci untuk membunuh seorang anak muda seperti kamu.
Kirimkanlah seseorang yang paling terkemuka diantara kamu karena Al Wudd adalah
seorang Prajurit Arab yang terkenal.” Ali
RA bersikeras untuk menghadapi dia. Dalam hal
ini, Ali
RA lagi-lagi
dapat mengalahkan dan membunuh lawannya.
Nabi SAW sangat senang. Dalam kaitan dengan
keberaniannya yang luar biasa, Ali RA terkenal
dengan panggilan
sebagai Asadullah
atau Singa
Allah SWT.
Kaum
Muslim
tidak
bisa
menaklukkan
sebuah
benteng
Yahudi kendati usaha tersebut telah mereka
ulangi
selama perang
Khaiber. Nabi
SAW mengatakan
kepada para
Sahabatnya, “Besok aku akan memberikan bendera Islam kepada orang yang
mencintai Allah dan NabiNya SAW, untuknya cinta Allah dan NabiNya SAW.” Semua
orang bersemangat untuk menerima penghormatan
ini. Mereka merasa heran, Nabi SAW memilih
Ali RA yang
kebetulan sedang sakit
pada waktu itu
dan matanya
sudah sangat sayu. Nabi SAW menaruh air liurnya
pada tangannya dan menyentuh mata
Ali RA dengan tangannya. Ali RA kemudian sembuh
total. Ali RA mendapat kehormatan untuk menaklukkan
benteng
Qumus ini
di Khaiber.
Abu Bakar RA menetapkan Pemimpin/Amir rombongan haji pada tahun 9 H.
Sebuah wahyu telah turun kepada Nabi SAW setelah Abu Bakar RA meninggalkan
Makkah.
Nabi SAW mengirim Ali RA untuk mengumumkan perintah baru yang menyinggung
kepada hubungan antara orang beriman dengan orang kafir. Ia juga mengumumkan
bahwa
orang telanjang tidak akan diijinkan untuk melaksanakan Haji pada masa-masa
mendatang. Nabi SAW memilih Ali RA untuk pengumuman penting seperti itu.
Ali RA menjadi Kalifah pada tanggal 21 Dzulhijah tahun 35 H. Kebanyakan
kaum Mulim dan bahkan kabilah Ibnu Saba memberikan kepercayaan kepadanya.
Beberapa
tokoh Muslim terkemuka menolak karena dengan pertimbangan politik. Ali
RA dikelilingi bermacam masalah dari berbagai arah. Sebagai contoh, ia
meminta para pengikut
Ibnu Saba untuk meninggalkan Madinah pada hari ketiga ia bertugas sebagai
Kalifah. Mereka menolak dan mereka ingin menciptakan kebingungan dan
kejahatan selama
mereka tinggal di Madinah.
Ia merasakan bahwa perlu untuk memiliki suatu pemerintahan yang stabil
dan memperoleh kekuatan untuk memecahkan berbagai masalah tersebut. Para
pembangkang
percaya bahwa pembunuh Usman RA harus diadili dan dihukum sebelum tindakan
lain dari pihak Kalifah. Perbedaan antara dua faham ini semakin meluas
dengan berlalunya waktu sementara para pembunuh telah bekerja atau telah
dilepaskan.
Pemburuan tergesa-gesa terhadap si tertuduh ini tidaklah gampang. Kelompok
berbahaya lainnya tampil ke permukaan. Mereka disebut Khawariji. Mereka
mencoba untuk memerangi Ali RA tetapi menderita kekalahan. Mereka bergerilya
dibawah
tanah dan merencanakan untuk membunuh Ali RA, Muawayah RA, Amr bin As
RA ketika mereka keluar untuk Shalat Subuh.
Tiga orang Khawariji menyerang target mereka masing-masing pada tanggal
17 Ramadhan tahun 40 H. Muawayah RA mengalami luka-luka dan ia selamat.
Amr bin
As RA tidak datang untuk Shalat Subuh. Ali RA dilukai oleh Ibnu Muljam
dan luka parah. Ali RA meninggal dunia pada tanggal 20 Ramadhan tahun
40 H. Pada
saat itu, Ali RA berusia enampuluh tiga tahun dan menjabat Kalifah selama
empat tahun sembilan bulan.
Ali RA lebih dahulu harus menghadapi keadaan yang tidak diketahui dan
beberapa rintangan. Terdapat berbagai kesulitan yang sangat besar dan
rumit secara alami.
Ali RA menunjukkan karakter dan keberanian yang patut dicontoh dan ia
melakukan usaha sekuat tenaganya untuk mempersatukan kaum Muslim. Perang
saudara, pemberontakan
Khawariji dan para pengikut Ibnu Saba menghancurkan kesatuan dari kaum
Muslim.
Didalam keadaan seperti ini ketulusan, keberanian dan keputusan yang
dilakukan Ali RA sangat luar biasa. Kemampuan Ali RA untuk mengatasi
keadaan tidak menentu
ini tentu saja sangat luar biasa.
Penyair Iqbal berkata: Isu tanah tumpah darah dan agama saat ini lebih besar daripada
peperangan Khaiber. Adakah seseorang yang sangat berani seperti
Ali RA sekarang ini?
Semoga Allah SWT menyelamatkan
kaum Muslim dari unsur-unsur
anti Islam dan memelihara kaum Muslim pada JalanNya yang
lurus.
|