“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
PEPERANGAN AHZAB
Lokasi
peperangan ini hanya berjarak tiga kilometer berjalan kaki
dari pemukiman Madinah waktu itu. Musuh telah datang
sangat dekat sekali dengan perkampungan yang kecil ini dalam
rangka sepenuhnya melenyapkan kaum Muslim dari permukaan
bumi. Orang kafir Makkah, Yahudi dan beberapa suku bergabung
untuk mencapai tujuan ini. Itulah mengapa disebut dengan
Perperang Ahzab yang berarti banyak kelompok. Mereka terdiri
dari sekitar duabelas sampai lima belas ribu pasukan yang
diperlengkapi sementara kaum Muslim hanya tiga ribu dengan
perlengkapan yang minim. Ini terjadi pada tahun kelima Hijrah.
Al Qur'an menguraikan kekejaman tentang konflik ini didalam
Al Ahzab 10 – 11.
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari
bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan
hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka
terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah
diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan
goncangan yang sangat.
Contoh Tawar Menawar Di Antara Musuh
Suku Yahudi, Bani Nadir, diusir dari Madinah karena kejahatan
dan pengkhianatan mereka. Beberapa di antara mereka telah
mengatur perang Khaibar. Mereka tidak bisa menerima kesuksesan
kaum Muslim. Pemimpin Bani Nadir, Hai bin Akhtab, mengunjungi
Makkah dengan duapuluh orang perwakilan. Ia mengundang
para penyembah berhala Makkah untuk menyerang Madina.
Dua puluh orang Yahudi Madinah dan lima puluh para pemimpin
Quraisy Makkah menempelkan dada mereka pada dinding Ka'bah
di Makkah dan berjanji bahwa mereka akan terus memerangi
Muhammad SAW meskipun hanya satu orang saja dari mereka yang
tinggal.
Yahudi juga menyuap suku Arab terkuat Ghatfan untuk bergabung
dalam peperangan ini. Telah disetujui bahwa semua kurma yang
diproduksi di Khaibar selama tahun ini akan didermakan pada
suku Ghatfan. Dalam beberapa riwayat separuh dari kurma ini
akan dibayarkan kepada suku prajurit ini. Ghatfan dengan
bernafsu bergabung dalam peperangan dengan menerima tawaran
yang menggiurkan ini. Hai bin Akhtab juga mendekati Bani
Quraizhah, suku Yahudi lainnya di Madinah. Setelah beberapa
penolakkan akhirnya mereka setuju juga berperang melawan
kaum Muslim.
Strategi Peperangan Nabi Muhammad SAW
Konsultasi (Musyawarah) pada setiap kali kesempatan merupakan
praktek Islam yang penting. Nabi SAW membuat suatu dewan
kepenasehatan yang terdiri dari Salman Farsi RA, Ali RA,
Umar RA, Saad bin Muaz RA dan Abu Bakar RA. Beberapa Masjid
yang kelihatan dari lokasi peperangan Ahzab dikenal oleh
anggota dewan kepenasehatan ini. Masjid Fatah adalah lokasi
dimana Nabi SAW sering berdo'a untuk kesuksesan kaum Muslim.
Salman Farsi RA mengusulkan bahwa parit harus digali
antara musuh dan kita. Nabi SAW menyukai usulan ini.
Tiap-tiap kelompok
yang terdiri dari sepuluh orang beriman menggali parit
dengan panjang empat puluh yard dan dalam lima kaki.
Nabi SAW juga
melakukan bagiannya seperti orang beriman lainnya.
Sungguh jarang seorang Panglima mengambil bagian
dalam hal ini.
Nabi SAW memilih lokasi ini untuk menghadapi musuh
sedemikian rupa sehingga musuh tidak bisa menyerang
dari belakang karena
terhalang gunung. Parit berada di depan pasukan Muslim
dan juga berfungsi mencegah musuh maju kearah kaum
Muslim.
Seperti disebutkan didalam Tirmidzi, Abu Talha RA mengeluh
kepada Nabi SAW karena sangat kelaparan selama menggali
parit itu. Abu Talha RA bahkan menunjukkan sebuah batu
terikat
di perutnya. Nabi SAW balas menunjukkan perutnya dan
beliau mempunyai dua batu terikat disana.
Beberapa Mukjizat
Beberapa mukjizat yang luar biasa terjadi selama peperangan
ini.
Seperti disebutkan didalam Bukhari, Jaber bin Abdullah
RA melihat bahwa Nabi SAW sedang sangat menderita kelaparan
dengan beberapa batu terikat di perutnya. Ia mendatangani
rumahnya segera dan menyembelih seekor anak biri-biri
kecil
sementara isterinya membakar roti yang terbuat dari
sekitar dua setengah kilogram tepung. Ia dengan sopan
mengundang
Nabi SAW ke rumahnya untuk makan malam. Ia juga meminta
Nabi SAW untuk membawa beberapa orang Sahabatnya pada
makan malam
ini. Nabi pergi ke rumah Jaber RA dengan sekitar seribu
orang Sahabatnya. Jaber RA dan isterinya merasa cemas.
Nabi SAW
melayani makan semua Sahabat dengan tangannya. Anehnya
semua Sahabat makan sampai perut mereka penuh dan masih
ada beberapa
bagian makanan sehingga bisa dibagi-bagikan kepada
para tetangga. Diperkirakan bahwa rumah Jaber RA berada
di depan stasion
pompa bensin sekarang yang dikenal sebagai pompa bensin
Sabah Masajid.
Seperti disebutkan didalam Ibnu Hisham, saudari perempuan
Nouman bin Bashir RA membawa beberapa kurma untuk saudaranya
di lokasi peperangan. Nabi SAW meminjam kurma-kurma
ini darinya dan menyebarkannya diatas sepotong kain
yang digelar di atas
tanah. Semua kaum Muslim yang ikut dalam peperangan
ini datang kesana dan makan kurma sampai perut mereka
penuh. Semakin
mereka makan, semakin banyak jumlahnya, sehingga kain
tersebut tidak bisa lagi menampung kurma-kurma ini
sampai bertebaran
disisi kain.
Sebuah
batu tidak bisa pecah ketika Salman Farsi RA sedang menggali.
Hal ini dilaporkan
kepada Nabi
SAW.
Nabi SAW
memukul batu yang sangat keras ini dengan
peralatannya dan membaca
Al Qur'an surat Al An’am 115.
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an), sebagai
kalimat yang benar dan adil.
Ini menyebabkan percikan dan sepertiga batu
karang tersebut rompal. Nabi SAW untuk
kedua kalinya memukul
batu tersebut
dengan peralatannya sambil membaca Al An’am
115.
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an), sebagai
kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah
kalimat-kalimat-Nya.
Ini
kembali menyebabkan percikan dan sepertiga batu karang
tersebut rompal. Nabi SAW untuk
ketiga kalinya
memukul
batu tersebut sambil membaca Al An’am
115.
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an), sebagai
kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah
kalimat-kalimat-Nya
dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ini juga menyebabkan percikan dan sisa batu karang
tersebut pecah menjadi beberapa potong.
Salman
Farsi RA bertanya kepada Nabi SAW, “Nabi yang
Aku hormati, Aku lihat percikan setiap kali kamu memukul
batu karang.” Nabi SAW menjawab, “Pada percikan
pertama aku melihat benteng merah Syria. Jibril AS memberitahukanku
bahwa para pengikutmu akan menaklukkan Syria. Pada percikan
kedua aku melihat perbentengan putih Persia. Jibril AS memberitahukanku
lebih lanjut bahwa para pengikutmu akan menaklukkannya juga.
Pada percikan ketiga aku diberi kunci Yaman, dan aku diberitahukan
bahwa para pengikutmu juga akan menaklukkan dinasti ini.” Kaum
Muslim bersorak mendengar khabar
gembira ini. Orang munafik, bagaimanapun,
mengejek
dan mencemoohkan
kaum Muslim.
Bagaimanapun, tidak diragukan berita
ini telah menciptakan rasa ikhlas
dalam pikiran kaum Muslim bahkan
diwaktu kelaparan dan peperangan
sulit ini.
Perlu dicatat bahwa di dalam ayat 115, dua karakteristik
Al Qur'an diuraikan. Petunjuk di dalam Al Qur'an adalah
benar dan berdasarkan pada keadilan yang hakiki. Lagipula
tidak
ada orang yang akan pernah mampu mengubah petunjuk
yang maha mulia ini. Yang terakhir tapi tidak kalah
pentingnya, Allah
SWT mendengar dan mengetahui apa-apa yang sedang dibicarakan
orang-orang ini.
Sangat
jelas bahwa didalam keadaan sesulit apapun kita harus membaca
ayat 115 surat
Al An’am
diatas.
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an, sebagai
kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah
kalimat-kalimat-Nya
dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Mentalitas Orang Munafik
Orang munafik adalah mereka yang pada lahirnya mengikuti
ajaran Islam tetapi hakikat Islam yang benar belum masuk
kedalam hati mereka. Karenanya mereka shalat, puasa, membayar
zakat dan bahkan pergi berperang dengan kaum Muslim. Keberadaan
mereka lebih licik dan berbahaya dibandingkan dengan musuh
Islam yang paling jahat. Allah SWT telah menerangkan tentang
mereka karena karakter mereka yang tak tahu malu. Beberapa
tindak tanduk mereka selama peperangan disebutkan seperti
berikut ini.
1.
Ketika orang munafik melihat angkatan
perang orang kafir yang sangat besar
mereka berkata, “Ternyata Allah dan
Nabi Nya tidak berjanji apapun. Ini merupakan suatu penipuan
belaka.” Al Ahzab 12.
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang
yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya
tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".
2.
Mereka berkata kepada pasukan Muslim, “Balik pulang
kerumah! Sama sekali kamu tidak dapat menghadapi musuh sekuat
ini.” Al Ahzab 13.
Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka
berkata: "Hai
penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka
kembalilah kamu".
3. Sebagian mereka meminta ijin kepada Nabi SAW untuk membiarkan
mereka pulang kembali kerumah karena rumah mereka tidak ada
yang menjaga dari kejahatan musuh. Sesungguhnya, mereka ingin
melarikan diri dari medan perang dengan cara bersilat lidah
dengan Nabi SAW Al Ahzab 13.
Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi
(untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah
kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan rumah-rumah
itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah
hendak
lari.
4. Sebagian dari orang munafik tidak hanya menghindar dari
peperangan, mereka bahkan mengajak orang lain untuk bergabung
dengan mereka. Al Ahzab 18.
Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang
menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang
yang berkata kepada
saudara-saudaranya: "Marilah
kepada kami." Dan mereka tidak mendatangi peperangan
melainkan sebentar.
5. Allah SWT berfirman kepada Nabi, Al Qur'an surat Al Ahzab
ayat ke 19.
apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka
itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik
seperti
orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila
ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan
lidah yang tajam,
sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka
itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala)
amalnya. Dan yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Dengan arti lain yang mirip, tindak tanduk orang munafik
yang licik dan menjijikkan diuraikan didalam surat Al Ahzab.
Sikap Orang Beriman Yang Ikhlas
Bandingkan dengan sikap yang bertolak belakang dari orang-orang
yang beriman ketika mereka melihat angkatan perang orang
kafir yang sangat besar yang akan mereka lawan. Al Ahzab
22.
Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan
yang bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan
Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah
Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah
menambah
kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.
Ini disebabkan mereka dengan teguh percaya akan petunjuk
Allah SWT didalam Al Qur'an. Sebagai contoh Al Baqarah 214.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk
surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana
halnya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh
malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan
bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: "Bilakah
datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
Orang-orang beriman menepati perjanjian mereka
dengan Allah SWT. Beberapa diantara mereka
telah memenuhinya dan yang
lainnya dengan bersemangat menunggu giliran
tanpa mengubah niat mereka sedikitpun.
AlAhzab
23
Di antara orang-orang mu'min itu ada orang-orang
yang menepati apa yang telah mereka janjikan
kepada Allah; maka di antara
mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka
ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka
sedikitpun tidak merubah (janjinya),
Bantuan Allah SWT
Kedua pasukan saling bertempur selama sekitar
sebulan dalam cuaca yang dingin menggigit.
Akhirnya Allah SWT mengirim
angin yang sangat kuat dan dingin, yang mempengaruhi
kedua pasukan. Allah SWT berfirman didalam
Al Ahzab 9.
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan
ni`mat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu
ketika datang kepadamu
tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada
mereka angin topan dan tentara yang tidak
dapat kamu melihatnya. Dan adalah
Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.
Perpecahan yang tidak terduga terjadi antara
bangsa Yahudi dan orang kafir karena kesalah
pahaman diantara mereka. Angin
yang kuat telah mencabut tenda musuh dan
mengakibatkan kerusakan lainnya juga. Orang
kafir meninggalkan tempat tersebut dengan
penuh kemarahan dan caci maki yang menjijikkan
tanpa memperoleh
keberhasilan apapun. Pada kenyataannya ini
telah memporak porandakan pertahanan mereka
dan mereka tidak pernah berani
lagi menyerang kaum Muslim dimasa mendatang.
Seperti
disebutkan didalam Bukhari yang diriwayatkan
oleh Salman bin Saad RA, Nabi
SAW berkata, “Sekarang
mereka tidak akan pernah berani menyerang
kita. Sesungguhnya kita
akan menyerang mereka dan kekuatan kita
akan maju terus ke arah mereka.”
Seperti
disebutkan diawal, Nabi SAW mengabarkan
berita gembira tentang penaklukan dimasa
depan kekuasaan
adi daya Syria,
Persia dan Yaman oleh para pengikutnya.
Ini mengangkat moril dan semangat kaum
Muslim.
Namun demikian
orang munafik mentertawakannya.
Mereka berkata, “Bagaimana mungkin sejumlah kecil orang
beriman yang tidak berdaya ini dengan kekuatan meliter yang
sangat tidak berarti dapat menaklukkan kekuasaan adi daya
seperti itu?” Allah SWT menurunkan
sebuah ayat yang sangat tepat menjawab
pelecehan orang
munafik
ini. Ali
Imran 26.
Katakanlah: "Wahai Tuhan
Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada
orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau
cabut kerajaan dari orang yang Engkau
kehendaki. Engkau muliakan orang yang
Engkau kehendaki
dan Engkau hinakan
orang yang
Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa
atas segala sesuatu.
Sejarah menunjukkan bahwa orang beriman telah
menaklukkan kekuasaan adi daya ini pada masa
keempat Kalifah yang telah
ditunjuki jalan yang lurus.
Pertanyaan berikut diajukan berulang-ulang.
Bagaimana mungkin kaum Muslim menaklukkan
adi daya sesat pada saat itu? Jawaban
sangat jelas. Jika kaum Muslim mengikuti
Sunnah Nabi SAW dan tauladan para Sahabatnya
dengan sungguh-sungguh dan sabar,
Bantuan Allah SWT akan dilimpahkan kepada
mereka.
|