netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“Lessons for Every Sensible Person”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno


PERSEKONGKOLAN

Orang kafir membuat beberapa skenario untuk memindahkan jenazah Nabi Muhammad SAW dan dua orang sahabatnya yang dimakamkan di Madinah. Syekh Abdul Haq (wafat tahun 1052 H) telah menerangkan tiga skenario utama seperti dilaporkan oleh Ulama-ulama terdahulu. Ketiga skenario ini gagal dan sepertinya merupakan mukjizat tambahan Nabi Muhammad SAW.

Skenario Pertama

Telah dilaporkan oleh Ibn Najjar didalam bukunya, ‘Sejarah Baghdad’. Antara 386 – 411 H, Fatimi dan Madinah diatur dibawah peraturan penguasa Mesir. Penguasa Mesir mencoba memindahkan jenazah Nabi Muhammad SAW dan dua orang sahabatnya dari Madinah ke Mesir untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari Madinah ke Mesir. Ia membangun suatu bagunan yang sangat mahal di Mesir untuk tempat beristirahatnya jenazah ini. Ia mengirim Abu Al Fatuh ke Madinah untuk menyelesaikan rencana kotor ini. Ketika Abu Al Fatuh tiba di Madinah, penduduk Madinah mengetahui skenario ini. Qari Zalbani membacakan ayat Al Qur’an berikut di sana. Al Taubah 12 - 13.

Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Penduduk Madinah sangat marah dan akan membunuh Abu Al Fatuh dan pengawalnya. Abu Al Fatuh ketakutan. Ia berkata, “Aku tidak akan pernah meneruskan rencana ini sekalipun penguasa Mesir membunuh saya.” Sementara itu, badai besar menyapu Madinah sore itu. Banyak rumah yang rusak. Beberapa binatang dan beberapa orang meninggal oleh badai ini.

Abu Al Fatuh menemukan suatu alasan baik untuk melarikan diri dari Madinah. Allah SWT menyelamatkan Nabi SAW dan sahabatnya dari penjahat ini.
Penguasa berusaha untuk kedua kalinya dan gagal lagi. Kedua usaha ini dilakukan antara 386 – 411 H.

Skenario Kedua

Orang Kristen membuat skenario ini pada tahun 557 H seperti dilaporkan oleh Samhoudi. Sultan Nuruddin Zanki adalah penguasa Syria pada waktu itu. Penasehatnya adalah Jamal-Ud-Din Asfahani. Pada suatu malam Sultan melihat Nabi Muhammad SAW didalam mimpinya tiga kali. Nabi SAW menunjuk dua orang laki-laki yang berdiri disana dan meminta Sultan untuk membantu beliau dari kejahatan kedua orang laki-laki itu.
Sultan memahami bahwa sesuatu yang tidak biasa telah terjadi di Madinah. Ia dengan seketika memulai perjalanannya ke Madinah yang ditemani oleh penasehatnya.

Dia juga mengumpulkan hadiah berharga untuk penduduk Madinah. Ia sampai di Madinah dalam enam belas hari. Telah diumumkan bahwa setiap penduduk secara pribadi harus datang untuk menerima hadiah dari Sultan. Ia tidak melihat dua orang berikut pada saat pembagian hadiah. Sultan menanyakan, “Apakah ada yang belum kebagian?” Ia diberitahu, “Masih ada dua orang yang tidak muncul karena mereka sangat saleh, kaya dan dermawan kepada orang lain. Mereka menolak untuk menerima apapun dari orang lain.” Sultan meminta dengan tegas untuk membawa mereka. Begitu mereka tiba di depan Sultan, ia mengenali mereka karena mereka persis sama dengan orang yang terlihat dalam mimpinya.

Ia menanyai mereka, “Dari mana kamu datang?” Mereka berkata, “Kami orang Moroco, kami datang untuk melaksanakan Haji dan ingin tinggal disini sebagai tetangga Nabi SAW”. Sultan bertanya, “Dimana kamu tinggal?” Ada sebuah rumah dekat dengan jendela dinding selatan Masjid Nabi. Sultan pergi ke sana dan memindahkan selembar permadani yang digelar di atas lantai. Ia melihat sebuah terowongan mengarah kearah Ruang Suci dimana Nabi SAW dimakamkan.

Sultan minta dua orang itu untuk berbicara sebenarnya. Mereka berkata, “Kami orang Kristen dan dikirim ke sini untuk memindahkan jenazah Nabi SAW. Kami menggali terowongan ini tiap malam dan membawa kantong berisi tanah galian ke Baqii sepanjang malam. Ketika kami mencapai dekat makam Nabi, kilat dan petir menyambar kesini. Gempabumi yang besar juga terasa. Sekarang kamu sudah datang dan kamu sudah menangkap basah kami.”

Sultan menangis sesaat dan bersyukur kepada Allah SWT karena memilih dia untuk meyelesaikan ini. Sultan memerintahkan untuk memancung kepala kedua orang penjahat itu.
Sultan juga memerintahkan untuk menggali sebuah parit yang dalam disekeliling Ruang Suci itu. Ia mengisi parit ini dengan timah hitam yang dicairkan. Dengan demikian tidak akan ada orang yang pernah mampu mencapai makam melalui terorowongan bawah tanah.

Sultan juga membuat sebuah panggung diluar Ruang Suci itu untuk penjaga berjaga siang malam disana. Banyak pengunjung Madinah mengira tempat itu sebagai Ashab-Us-Suffah.
Panggung ini untuk penjaga berjaga terletak di luar Masjid Nabi, sedangkan lokasi untuk Ashab-Us-Suffah terletak di dalam Masjid.

Lokasi Ashab-Us-Suffah yang benar adalah sebagai berikut:
Jika anda berjalan kearah utara (menjauhi Qiblat) dari pilar Aisyah, pilar yang kelima adalah lokasi Ashab-Us-Suffah.

Skenario Ketiga

Tabri seorang sejarawan yang terkenal, telah menyebutkan didalam bukunya Riyad Nadrah sebagai berikut:
Beberapa orang datang ke Madinah dari kota Halb di Syria. Mereka membawa banyak kekayaan dan hadiah berharga untuk Gubernur Madinah pada waktu itu. Mereka ingin masuk Ruang Suci untuk memindahkan jenazah Abu Bakar RA dan Umar RA.

Gubernur Madinah menyetujui keinginan mereka karena tertarik pada uang dan pemikiran religiusnya. Ia memerintahkan kepala penjaga Masjid Nabi, “Buka pintu Masjid untuk kedua orang ini bila dan ketika mereka datang sepanjang malam. Lagipula, biarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan.” Penjaga berkata, “Seseorang mengetuk Bab Salam setelah Shalat Isha. Aku membuka pintu dan menemukan sekitar empat puluh orang dengan peralatan menggali dan memotong di tangan mereka. Maka Aku membiarkan mereka didalam seperti yang diperintahkan Gubernur kepada saya. Aku ketakutan dan duduk di sebuah sudut Masjid. Orang-orang ini buru-buru ke arah Ruang Suci itu. Mereka belum sampai dekat mimbar Masjid, sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Tanah di bawah kaki mereka merekah dan menelan mereka semua dengan perkakas mereka.” Penjaga menambahkan, “Gubernur dengan harap cemas menantikan mereka. Setelah lama menunggu ia memanggil Aku dan bertanya tentang orang-orang ini. Aku menceritakan kepadanya apa yang Aku lihat. Ia tidak percaya dan menyebut Aku orang gila. Aku mengajaknya untuk melihat lokasi ini dengan mata kepalanya. Gubernur melihat rekahan di tanah dan berkata kepada saya, ‘Biarkan ini sebagaimana adanya. Jangan menyebutkannya kesiapapun. Aku akan memenggal kepalamu jika kamu membicarakan tentang itu’”.

Catat bahwa musuh Allah SWT membuat rencana dan Allah SWT juga membuat rencana. Bagaimanapun Allah adalah Perencana Yang Terbaik. Al Anfal 30

Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Tentu saja Allah SWT memenuhi janjiNya kepada Nabi Muhammad SAW seperti disebutkan didalam Surah Al Maidah 67.

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.


Seperti disebutkan di awal, semua rencana orang-orang (kafir) digagalkan dan tambahan mukjizat Nabi SAW dipertunjukkan pada ketiga persekongkolan tersebut.