“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
RUANGAN
DALAM MASJID NABI
Beberapa
ahli sejarah telah menggambarkan ruangan dalam Masjid Nabi
SAW. Misalnya Syaikh Dehlawi (958 H – 1052 H) telah
menuliskan dengan detail ruangan berikut dalam bukunya “Sejarah
Madinah”. Penomoran berikut sesuai dengan nomor pada
denah Masjid yang terdapat pada akhir buku ini.
1. TIANG DUTA/UTUSAN: Nabi SAW menggunakan tempat ini untuk menemui para utusan
yang datang. Beberapa Sahabat terkemuka duduk disekitar beliau selama pertemuan
berlangsung.
2. TIANG PENGAWAL: Menjadi tempat berdiri para pengawal Nabi SAW. Matori berkata, “Pintu
rumah Aisyah RA berhadapan dengan tiang ini, dan Nabi SAW melalui pintu ini
menuju ke Masjid Nabawi.”
3. TIANG TEMPAT TIDUR: Abdullah bin Umar RA bercerita, “Nabi SAW menggunakan
tempat ini sebagai tempat tidur beliau selama I’tikaf.
4. TIANG ABU LUBABAH: Tertulis padanya. Seperti disebutkan dalam tafsir Ibnu
Katsir, Nabi SAW bermaksud untuk menghukum bani Quraizzah (sebuah suku Yahudi)
atas pengkhianatannya kepada Nabi SAW. Abu Lubabah RA ditunjuk sebagai penengah.
Dia secara tidak sengaja membocorkan rahasia Nabi SAW kepada suku Yahudi itu.
Abu Lubabah segera menyadari kesalahannya dan mengikat dirinya sendiri pada
tiang ini, hingga Allah SWT menerima taubatnya. Setelah tujuh hari, Nabi SAW
menerima wahyu mengenai diterimanya taubat Abu Lubabah dan melepaskan ikatanya
dengan tangan beliau sendiri. Al Qur’an, Surat Al Anfal, Ayat 27 – 28
diwahyukan untuk meberikan kepada kita sebuah pelajaran. Yakni mengkhianati
kepercayaan adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal bagi para Sahabat Nabi
SAW, sehingga mereka melakukan tindakan yang luar biasa untuk memperbaiki kesalahannya.
5.
TIANG AISYAH: Tabrani
menyebutkan Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Ada
tempat yang sangat penting di dalam Masjid Nabawi yang
mulia, jika seorang mengetahuinya, mereka akan mengadakan
undian untuk mendapatkan kesempatan agar bias shalat di
sana”.
Suatu
hari para Sahabat bertanya kepada Aisyah RA tentang tempat
ini. Beliau menolak untuk memberitahukan
tempat tersebut. Akhirnya para Sahabat pergi, sedangkan
Aisyah RA masih bersama dengan keponakannya Abdullah
bin Zubair RA. Belakangan para Sahabat memperhatikan bahwa
Abdullah bin Zubair RA melakukan shalat dekat dengan
tiang
Aisyah. Para Sahabat meyakini bahwa Aisyah RA memberitahukan
tempat tersebut secara rahasia kepada keponakannya.
Nabi
SAW pernah mengimami shalat dari titik ini selama beberapa
hari setelah perubahan qiblat dari Masjid Al Aqsa ke
Ka’bah
di Makkah. Belakangan, beliau selalu mengimami shalat dari
titik yang sekarang dikenal sebagai Mihrab Nabawi As Syarif.
6.
TIANG MUKHALLAQAH: Jabir RA meriwayatkan seperti disebutkan
dalam hadits
Buhari, “Nabi
SAW bersandar pada sebatang pohon kurma (yang awalnya terletak
pada tempat dimana tiang ini berada) ketika melakukan khutbah
Jumat, kaum Ansar dengan hormat menawarkan pada Nabi SAW,
kami dapat membuat sebuah mimbar untukmu, jika engkau menyetujuinya”.
Nabi
SAW menyetujuinya dan sebuah mimbar yang terdiri dari 3
anak tangga dibangun. Ketika Nabi SAW duduk
di atas mimbar
ini untuk berkhutbah, para Sahabat mendengar batang
pohon kurma itu menangis seperti anak kecil. Nabi
SAW mendekati
pohon yang sedang menangis ini dan kemudian memeluknya.
Pohon ini lalu tenang setelah sebelumnya terisak-isak
seperti onta
betina. Pohon kurma tersebut menangis karena ia tidak
digunakan lagi untuk mengingat Allah SWT.
Sejak
itu batang pohon tersebut
diberi sejenis pewangi yang disebut Khaluq. Dan
kemudian, tiang dimana pohon kurma itu dulu berada, dikenal
dengan sebutan tiang Mukhallaqah.
7. MIHRAB NABAWI: Tidak ada mihrab di dalam Masjid
Nabawi selama periode pemerintahan Nabi SAW dan empat
Khalifah
yang pertama. Pada tahun 91 H, Umar bin Abdul Aziz
pertama kali
melakukan shalat di sini di dalam sebuah bentuk mihrab.
Jika kita berdiri di dalam mihrab ini dan melakukan
shalat, tempat
sujud kita akan terletak di tempat dimana kaki Nabi
SAW berpijak. Dinding tebal mihrab ini menutupi tempat
sujud
Nabi SAW yang
sebenarnya.
8. MIHRAB USTMANI: Khalifah Utsman RA mengimami shalat
di tempat ini. Sekarang, Imam Masjid Nabawi juga
mengimami shalat
di sini. Umar bin Abdul Aziz kemudian membangun sebuah
mihrab di sini.
9.
MIHRAB HANAFI: Sebelumnya Imam shalat dari empat Mazhab
(Hanafi, Syafi’i, Maliki,
dan Hambali) mengimami shalat di Masjid Nabawi
secarah terpisah
pada waktu yang sedikit
berbeda dan tempat yang berbeda. Imam Hanafi
mengimami shalat pada tempat ini. Namun kini,
hanya satu
shalat berjamaah
yang diselanggarakan di Masjid Nabawi, yang
dipimpin oleh Imam dari Mazhab Hambali. Hal ini berlaku
sejak kekuasaan
dipegang oleh Pemerintahan Saudi.
10. MIHRAB TAHAJUD: Nabi Muhammad SAW melakukan shalat
tahajjud di tempat ini.
11.
MIMBAR: Seperti disebutkan dalam hadits Bukhari Muslin
dan diriwayatkan oleh Abu
Hurairah RA,
Nabi SAW bersabda “Antara
rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman
surga dan mimbarku akan berada di telaga Kautsar pada hari
Kiamat”. Berbagai pemerintahan muslim
mengirimkan mimbar untuk Masjid Nabawi
dari waktu ke waktu.
Mimbar yang ada
sekarang, dikirim oleh Sultan Murad ke-3
dari Dinasti Usmani pada tahun 998 H.
12. TEMPAT MUAZZIN: Tempat ini, berupa balkon segi
empat, terletak di sebelah Utara Mimbar Nabi. Tempat
ini selain
sebagai tempat adzan juga sebagai tempat shalat muadzin
dan untuk menguatkan suara takbir pada shalat lima
waktu.
13.
PANGGUNG DISEKITAR TEMPAT TAHAJJUD: (tidak ada keterangan – pent.)
14. PANGGUNG TEMPAT PETUGAS KEAMANAN: Jika kita memasuki
Masjid Nabawi dari Bab Jibril, panggung ini akan
berada di sebelah kanan. Dibangun oleh Sultan Nuruddin
Zanki.
Panggung
ini sebenarnya bukanlah tempat dari Ahlu Suffah,
seperti perkiraan banyak peziarah.
15. TEMPAT AHLU SUFFAH: Suffah berarti tempat berteduh.
Sahabat Nabi yang miskin dan tidak memiliki rumah,
bertimpat tinggal
di Suffah. Di sini mereka mendapat pendidikan tentang
Islam dan mengamalkannya. Jika kita berjalan dari
tiang Aisyah
berlawanan dengan arah qiblat, Suffah berada setelah
tiang ke-5. Namun setelah Nabi SAW memperluas Masjid
pada tahun
ketujuh Hijriah, Suffah dipindah sekitar sepuluh
meter kea rah Timur, seperti yang tergambar pada
denah Masjid
Nabawi.
16.
BAB (PINTU) BAQI’: Pintu
ini berhadapan dengan Bab Salam.
17.
BAB (PINTU) JIBRIL: Terletak di bagian Timur, disebut juga
Bab Nabi,
karena
beliau selalu masuk
melalui pintu
ini. Adapun alasan penyebutan
Bab Jibril adalah sebuah riwayat
dari Aisyah RA, “Ketika
Nabi SAW pulang dari Khandaq,
dan meletakkan senjata kemudian
mandi, Jibril AS mendatangi
Beliau seraya berkata, ‘Engkau meletakkan senjatamu?,
demi Allah kita belum (bisa) meletakkan senjata, pergilah
menuju mereka’, Nabi SAW berkata, ‘kemanakah?’,
Jibril AS menjawab, ‘ke sini’,
dia menunjuk Bani Quraizzah.
Maka Nabi SAW keluar
menuju mereka.
18.
BAB (PINTU) NISA: Pintu ini dibuka oleh Umar ibn Khattab
tahun 12 H.
Beliau mengatakan, “Alangkah baiknya kalau
pintu ini dikhususkan untuk wanita”.
19. BIR (SUMUR) HA: Jika kita memasuki Masjid dari
bagian paling kiri dari
Bab Fahd, sumur ini berlokasi sekitar15
meter ke dalam Masjid dan ditandai dengan 3 lingkaran.
Nabi
SAW terkadang mendatangi
sumur ini dan meminum airnya. Sumur dan taman yang
mengelilinginya dimiliki oleh
Abu Talhah.
Ketika dia mendengar
ayat 92 surat Ali Imran yang berbunyi:
Kamu sekali-kali tidak
sampai kepada kebajikan
(yang sempurna), sebelum
kamu menafkahkan sebagian
harta
yang kamu cintai.
Dan apa saja yang kamu
nafkahkan, maka sesungguhnya
Allah mengetahuinya.
Abu Talhah RA segera
mengimfakkan taman ini
karena mengaharapkan
Ridha Allah
SWT. Inilah
contoh
bagaimana para Sahabat
berekasi terhadap ayat-ayat
al Qur’an
dan secara spontan langsung
mengerjakan perintah
Allah dengan
sungguh-sungguh dan sepenuh
hati.
20. BAB (PINTU) SALAM:
Umar ibn Khattab RA membuka
pintu ini yang terletak
di tembok Masjid bagian
Barat, ketika
dilakukan perbaikan Masjid
tahun 12 H. Dinamakan
Bab as Salam karena
letaknya sejajar dengan
tempat penghormatan berupa
salam kepada jasad Rasulullah
SAW.
21.
RUMAH ABU BAKAR RA: Jika kita berjalan
dari
mimbar
melalui Bab
Siddiq, rumah
ini berlokasi setelah
tiang ke-5 sejajar
dengan Bab Siddiq.
Suatu hari Nabi SAW
bersabda, “Semua
pintu rumah-rumah yang terbuka langsung ke dalam Masjid harus
ditutup kecuali pintu rumah Abu Bakar”.
Hal ini menimbulkan
dugaan bahwa Abu
Bakar RA akan
menjadi
khalifah pertama. 
Keterangan:
1. Tiang Utusan
2. Tiang Pengawal
3. Tiang Tempat Tidur
4. Tiang Abu Lubabah (Tiang Taubat)
5. Tiang Aisyah
6. Tiang Mukhallaqah
7. Mihrab Nabawi
8. Mihrab Ustmani
9. Mihrab Hanafi
10. Mihrab Tahajjud
11. Mimbar
12. Tempat Muadzin
13. Panggung Disekitar Tempat Tahajjud
14. Panggung Petugas Keamanan
15. Tempat Ahlu Suffah
16.
Bab (Pintu) Baqi’
17. Bab (Pintu) Jibril
18. Bab (Pintu) Nisa
19. Bir (Sumur) Ha
20. Bab (Pintu) Salam
21. Rumah Abu Bakar RA
|