“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
SUKU YAHUDI TERDAHULU DI SEKITAR MADINAH
Banyak rabi (pendeta) Yahudi yang dengan jelas mengenal
tanda-tanda phisik dan tanda lainnya mengenai kedatangan
Nabi Muhammad SAW karena telah diuraikan didalam perjanjian
lama (Taurat) dengan jelas. Sebagian dari suku Yahudi telah
berimigrasi dari Syria ke Madinah untuk menantikan Nabi Muhammad
SAW dan dengan bangga akan menjadi para pengikutnya. Ketika
Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, bangsa Yahudi mengenali
beliau tetapi menolak untuk menerima beliau sebagai Nabi,
karena beliau kebetulan seorang keturunan Ismail AS dan bukan
Ishak AS.
Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau mendirikan
suatu perkampungan kecil Islam disana. Ia mengadakan perjanjian
atau persetujuan dengan suku-suku Yahudi yang berkuasa
terdekat. Beberapa pasal dari perjanjian ini adalah
sebagai berikut:
1. Yahudi tidak akan berperang melawan kaum Muslim.
2. Yahudi tidak akan membantu kelompok manapun yang menyerang
kaum Muslim.
3. Bila ada kelompok yang meyerang Yahudi, kaum Muslim
akan membantu Yahudi.
Suku-suku Yahudi ini telah mendirikan komunitas mereka
sekitar dua setengah kilometer dari Madinah dekat dengan
masyarakat
Quba. Mereka kuat dan kaya serta memiliki banyak perkebunan.
Mereka telah membangun banyak benteng untuk pelindungan.
Reruntuhan kuil dan perbentengan mereka dapat dilihat sampai
sekarangpun.
Petunjuk Mengunjungi Reruntuhan Mereka
Dari Masjid Nabawi menuju kearah Selatan melalui jalan
Qurban yang juga dikenal sebagai jalan Amir Abdul Muhsin.
Melewati
lampu persimpangan jalan yang pertama dekat Masjid Jum'at.
Juga melewati lampu persimpangan jalan yang kedua, yang
mana merupakan jalan Hijrah menuju kearah Masjid Quba.
Terus jalan
melalui jalan Qurban sampai anda sampai pada lampu persimpangan
jalan yang ketiga. Ini merupakan persimpangan jalan lingkar
tengah dengan jalan Qurban. Jika anda belok ke kanan pada
persimpangan ini, anda akan melihat reruntuhan Bani Nadir.
Selanjutnya, jika anda melanjutkan perjalanan melalui jalan
Qurban hingga anda menemui jalan lingkar Madinah yang kedua
anda akan melewati sebuah gunung hitam yang terletak diluar
jalan lingkar yang kedua ini. Gunung ini disebut gunung
Bani Quraizhah. Sebuah suku Yahudi yang disebut Bani Quraizhah
menempati area antara Rumah Sakit Madinah dan gunung Gunung
Bani Quraizhah. Ringkasan sejarah dari suku-suku Yahudi
ini
juga akan diuraikan di dalam buku ini.
Bani Nadir
Pemimpin Bani Nadir adalah Kaab bin Ashraf. Ia dan sukunya
selalu sibuk menghasut dan membantu musuh Islam. Ia
secara terbuka bertindak melawan perjanjian antara bangsa
Yahudi
dan kaum Muslim. Sebagai contoh, Kaab bin Ashraf pergi
ke Makkah dengan sebuah tim delegasi yang terdiri dari
empat
puluh orang setelah Peperangan Uhud. Ia menghasut para
pemimpin Quraizhah melawan kaum Muslim. Para penyembah
berhala bertanya
kepadanya, “Apakah agama kaum Muslim lebih baik daripada
milik kami?” Walaupun Kaab bin Ashraf adalah dari masyarakat
yang terpelajar. Ia berkata kepada penyembah berhala, “Agamamu
lebih baik dibandingkan kaum Muslim”. An Nisa
51.
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi
bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt
dan thaghut, dan
mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah),
bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang
beriman.
Itulah mengapa Allah SWT berfirman didalam Al
Qur'an bahwa Yahudi menjual bahkan agama mereka untuk
keuntungan duniawi
yang kecil.
Penyembah berhala dan delegasi Kaab bin Ashraf menempelkan
dada mereka ke dinding Ka'bah dan bersumpah bahwa mereka
akan terus memerangi kaum Muslim meskipun hanya satu orang
saja dari mereka yang tinggal.
Konspirasi (Persekongkolan) ini disampaikan kepada Nabi
SAW oleh Jibril AS. Karenanya Nabi SAW memerintahkan salah
seorang
dari Sahabatnya untuk membunuh Kaab bin Ashraf. Muhammad
Bin Muslima AS telah memenuhi tugas ini. Contoh kedua berikut
bahkan lebih mengerikan. Sekali waktu Nabi SAW mengunjungi
Bani Nadir. Mereka telah memutuskan bahwa ini adalah suatu
kesempatan untuk membunuh beliau. Mereka meminta Nabi SAW
untuk duduk dibawah bayangan sebuah dinding. Telah direncanakan
untuk menjatuhkan sebuah batu besar dari puncak dinding
untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Allah SWT memberitahukan
Nabi
SAW tentang rencana mereka. Segera Nabi SAW meninggalkan
mereka sehingga beliau selamat dari rencana pembunuhan
tersebut.
Nabi
SAW memberitahukan Bani Nadir bahwa Bani Nadir telah melanggar
perjanjian antara mereka. Nabi
SAW mengatakan
kepada mereka, “Aku memberimu sepuluh hari untuk meninggalkan
tempat ini. Pergilah kemanapun kamu suka.” Kepala dari
orang munafik, Abdullah bin Matuhi, berkata kepada mereka, “Jangan
tinggalkan tempat ini. Aku akan membantu kamu dengan dua
ribu orang pengikutku.” Sebagai hasilnya
Bani Nadir menahan diri mereka untuk tinggal
di dalam
benteng dan
menantang Nabi SAW.
Nabi SAW dan para Sahabatnya segera mengepung benteng Bani
Nadir tersebut. Kaum munafik tidak datang untuk membantu
Bani Nadir. Allah SWT telah memberi contoh mereka didalam
Al Hasyr 16.
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah)
seperti (bujukan) syaitan ketika dia berkata
kepada
manusia: "Kafirlah
kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya
aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut
kepada Allah Tuhan semesta alam".
Beberapa orang Sahabat mengasapi mereka untuk mengganggu
Bani Nadir. Akhirnya Bani Nadir putus asa dan menyetujui
untuk meninggalkan tempat tersebut. Nabi SAW mengijinkan
mereka untuk mebawa sebanyak mungkin barang kepunyaan mereka.
Beberapa diantara mereka pergi ke Syria dan yang lainnya
berdiam di Khaibar. Mereka membawa bahkan jendela dan daun
pintu rumah mereka karena ketamakan duniawi mereka. Ada
pelajaran didalamnya bagi orang-orang yang berwawasan.
Al Hasyr 2.
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli
Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat
pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa
mereka akan
keluar
dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng
mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah;
maka
Allah mendatangkan
kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak
mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke
dalam hati mereka;
mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan
tangan mereka sendiri
dan tangan orang-orang yang beriman. Maka
ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang
yang mempunyai
pandangan.
Kita perlu mengambil point-point berikut sebagai bahan
renungan.
Ketika Bani Nadir melanggar perjanjian berulang kali Nabi
SAW tidak memerintahkan untuk membunuh mereka. Beliau hanya
meminta mereka untuk meninggalkan kota ini supaya tidak
melihat kejahatan mereka lagi.
Nabi SAW memberi mereka sepuluh hari untuk mempersiapkan
kepindahan mereka ini.
Nabi SAW mengijinkan mereka untuk membawa sebanyak mungkin
barang mereka.
Mereka hanya diasapi untuk mengganggu mereka dan untuk
memaksa mereka keluar dari benteng itu. Bagaimanapun, benteng
tidaklah
dibakar sebagaimana negara-negara modern melakukannya.
Ini menunjukkan bagaimana kaum Muslim menghormati hak azasi
manusia bahkan musuh paling jahat sekalipun. Ini secara
mutlak bertolak belakang dengan hak azasi manusia yang
dipahami
oleh negara-negara modern.
Bani Quraizhah
Bani Quraizhah adalah suku Yahudi yang kaya dan kuat kuat
lainnya yang menetap dekat Madinah dan dengan penuh keinginan
menantikan Nabi Muhammad SAW. Mereka mengenal saatnya,
tempat dan ciri-ciri Nabi dari Taurat. Mereka biasa membual
kepada
orang lain bahwa mereka akan menjadi yang pertama untuk
mengikuti Nabi ini dan dengan dukungan beliau mereka akan
mampu memukul
jatuh semua musuh mereka. Ketika Nabi Muhammad SAW datang
dengan petunjuk, mereka dengan santai menolaknya dan menentang
Nabi SAW mati-matian. Al Baqarah 89.
Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang
membenarkan apa yang ada pada mereka,
padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi)
untuk mendapat kemenangan
atas orang-orang kafir, maka setelah
datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka
lalu ingkar kepadanya.
Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang
yang ingkar itu.
Nabi Muhammad SAW telah mengadakan suatu perjanjian dengan
Bani Quraizhah seperti disebutkan sebelumnya. Pemimpin
Bani Nadir, Hai bin Akhtab, pergi ke pemimpin Bani Quraizhah,
Kaab bin Asad dan mencoba untuk mencari dukungannya dalam
Peperangan Ahzab. Setelah beberapa penolakan Bani Quraizhah
akhirnya bergabung dalam Ahzab. Ini melanggar perjanjian
mereka yang sangat dikhawatirkan dan disesalkan Nabi SAW
karena Bani Quraizhah bisa saja menyerang anak-anak dan
kaum
wanita di Madinah selagi kaum laki-laki sedang didalam
medan perang Ahzab. Al Qur'an menyebutkan ini bahwa musuh
datang
dari atas kamu dan dari bawah kamu. Di atas berarti Bani
Quraizhah dan di bawah berarti kelompok lain yang berkumpul
didalam medan perang itu. Al Ahzab 10.
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari
bawahmu,
Dengan bantuan Allah SWT kaum Muslim menang dalam Peperangan
Ahzab dan mereka kembali ke Madinah. Penaklukan ini terjadi
pada bulan Zul Qada tahun kelima Hijrah.
Seperti
disebutkan didalam Bukhari dan diriwayatkan oleh Aisyah
RA,
Nabi SAW
baru saja tiba rumah
dan mandi. Jibril
AS datang kepada Nabi SAW dan
berkata, “Kamu
sudah menanggalkan senjatamu
sementara kita para malaikat masih
dalam seragam perang. Maka kamu
harus ikut dengan kami untuk
menyerang dan menghukum
Bani Quraizhah.”
Lokasi pertemuan Nabi SAW dan Jibril AS ini ditandai dengan
jendela pada dinding timur Masjid dengan ayat berikut tertulis
diatasnya. Al Ahzab 56.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi. Hai orang-orang
yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.
Perlu dicatat bahwa dengan adanya berbagai perluasan Masjid
Nabi, karenanya jendela yang ada di dinding timur Masjid
ini telah dipindahkan sedikit kearah timur.
Nabi SAW mengumumkan kepada para pengikutnya untuk sampai
di wilayah Bani Quraizhah sebelum Shalat Ashar. Para pengikut
yang kelelahan dan letih dengan bersemangat mematuhi Nabi
SAW. Bani Quraizhah melindungi diri didalam benteng yang
mereka hormati. Menurut Ibnu Hasham, pengepungan ini bertahan
sampai dua puluh lima hari. Sepanjang pengepungan, pemimpin
Bani Quraizhah, Kaab bin Asad, mengajukan tiga proposal
berikut kepada kaumnya:
Kalian
semua harus menerima Islam dan mengikuti Muhammad
SAW. Aku
yakin didalam
lubuk hati
kalian yang paling
dalam mengetahui bahwa
dia berada dalam jalan
yang benar.
Tidak
ada yang baru. Ini tertulis
dengan jelas didalam
kitabmu. Jika kalian
mengikuti
usulan ini,
kalian tidak hanya
akan melindungi keluarga
dan kekayaan kalian tetapi
juga
akan selamat dihari Pengadilan
nanti.
Sebagai alternatif, kamu
membunuh anak-anak
dan isterimu dengan
tangan milikmu sendiri
dan kemudian berperang
melawan kaum Muslim sekuat
tenaga
sampai akhir
hayatmu. Yang
ketiga, menyerang
kaum Muslim
pada hari Sabtu. Kaum
Muslim mengetahui
bahwa terlarang bagi
kita untuk berperang pada
setiap hari Sabtu.
Karenanya kamu
menangkap mereka selagi
tidak mengetahui dan
tidak mempersiapkan
diri. Kaum
Yahudi berkata
kepada
pemimpin mereka, “Kita
tidak akan menerima proposal
yang pertama bagaimanapun
keadaannya karena kita
tidak ingin mengikuti
kitab manapun selain
dari Taurat. Yang kedua
mengapa
kita membunuh anak-anak
dan isteri
kita
yang tidak
bersalah? Proposal
ketiga adalah
bertentangan
dengan Taurat dan agama
kita. Karenanya tak satupun
dari
proposal tersebut
bisa kami
terima.”
Sementara itu Allah SWT
juga menanamkan rasa
takut kedalam
hati mereka.
Semua Yahudi keluar
dari benteng
dibawah
pengaruh rasa takutan
ini dan membiarkan nasib
mereka
didalam
tangan
Nabi SAW. Al Ahzab 26 – 27.
Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah)
yang membantu golongan-golongan
yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan
rasa takut dalam hati mereka.
Sebahagian mereka kamu
bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan
kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah
dan harta benda mereka,
dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah
Allah Maha Kuasa terhadap segala
sesuatu.
Perlu dicatat bahwa didalam ayat di atas Allah SWT tidak
hanya mengingatkan kaum Muslim tentang Bantuan, Kemudahan
dan BarakatNya, tetapi juga mengabarkan berita gembira
tentang penaklukan dimasa depan.
Nabi SAW memberi hak Saad bin Maaz RA untuk memutuskan
nasib Bani Quraizhah. Kaum Yahudi selalu sangat cerdik.
Mereka
meminta Nabi SAW untuk menggantikan Saad bin Maaz RA dengan
Abu Lubabah RA. Mereka lebih mengharapkan simpati dari
Abu Lubabah RA karena ia memiliki beberapa barang didalam
area
itu. Nabi SAW menyetujuinya.
Kaum
Yahudi mulai bertangisan ketika mereka bertemu
Abu Lubabah RA.
Mereka menanyainya, “Bagaimana nasib kami jika
kami keluar dari benteng ini?” Abu Lubabah RA menaruh
jarinya pada kerongkongannya menunjukkan bahwa mereka akan
dibunuh.” Abu Lubabah RA tiba-tiba menyadari bahwa
itu merupakan rahasia Nabi SAW, yang mana ia telah membocorkannya.
Ia kembali ke Masjid Nabi dan mengikat dirinya sendiri diatas
sebatang pohon karena malu telah membocorkan rahasia. Nabi
SAW mengajarkan dan berkata, “Jika
ia datang kepadaku
secara langsung,
aku pasti berdoa
untuknya.
Sekarang
ia harus menunggu
hingga Allah SWT
menerima
tobatnya.”
Abu Lubabah RA terikat
sendirian disana
selama tujuh hari
hingga Allah SWT
menerima tobatnya.
Ada pilar
didalam Masjid
Nabi dilokasi ini
dan
biasanya dikenal
sebagai pilar Abu
Lubaba atau pilar
tobat. Al Qur'an
menerangkan situasi
ini didalam Al Anfal
27 – 28.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati
Allah dan Rasul (Muhammad)
dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya
di sisi Allah-lah pahala
yang besar.
Akhirnya
Saad bin Maaz RA memberi putusannya
tentang Bani Quraizhah.
Ia berkata, “Kaum
laki-laki harus
dibunuh dan anak-anak
serta
kaum wanita
harus
dipenjarakan.”
Bani Quraizhah menghargai ini karena mereka telah melanggar
janji dan mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan
kaum Muslim dengan membantu musuh baik secara diam-diam
maupun secara terbuka. Mereka juga menyediakan banyak senjata
dan
perlengkapan perang kepada musuh Islam. Sekarang kaum Muslim
memperoleh harta rampasan dari suku Yahudi yang kaya ini
seperti disebutkan didalam surat Al Ahzab ayat 26 - 27
diatas.
Nabi
SAW membagi-bagikannya kepada yang ikut dalam peperangan
tersebut.
|