“HISTORICAL
EVENTS OF MAKKAH”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja
SEBUAH DIALOG DI SEKITAR KA’BAH
Walaupun
sangat keras siksaan dan permusuhan yang dilakukan orang-orang
kafir Makkah
terhadap orang-orang Muslim, dari
hari ke hari semakin banyak saja orang yang memeluk Islam.
Bahkan para pemimpin kaum kafir seperti halnya Umar bin
Khattab (RA) dan Hamzah (RA) pun memeluk Islam. Hal ini
mengakibatkan
rasa kecewa yang mendalam pada kaum kafir Quraisy.
Para
pemimpin mereka yang berpengaruh berkumpul di Masjidil-Haram.
Nampak
oleh mereka Nabi Muhammad (SAW) sedang duduk seorang
diri di sudut lain dari Masjid ini. Salah seorang pemimpin
kaum
kafir yang bernama ‘Atbah Bin Rabi’ah
berkata kepada kaum Quraisy, "Lihatlah! Muhammad
(SAW) sedang duduk seorang diri, saya ada usul bahwa saya
akan berbicara empat-mata dengannya dan mengajukan beberapa
tawaran kepadanya. Semoga ia dapat menerima beberapa diantaranya.
Jika ia terima maka permasalahan kita akan terselesaikan." Para
pemimpin yang lain setuju maka ia pun bangkit dan melangkah
menuju Rasulullah (SAW) kemudian duduk di hadapan beliau
(SAW). ‘Atbah berkata, "wahai keponakanku, sesungguhnya
kamu memiliki kedudukan tinggi dan dimuliakan oleh bangsa
kita.
Kini
kamu telah memelopori sebuah pergerakan baru yang memecah-belah
bangsa kita. Kamu menghujat tuhan-tuhan
kami
dan agama kami. Kamu sebut nenek-moyang kita sebagai
orang-orang kafir. Tolong, dengarkanlah perkataanku. Aku
tawarkan kepadamu
beberapa hal. Pertimbangkanlah dengan seksama, boleh
jadi kamu menyukai beberapa diantaranya."
Nabi
(SAW) berkata, "Lanjutkanlah
aku akan menyimak tawaranmu." ‘Atbah pun melanjutkan, "Wahai
keponakanku, jika kamu bermaksud mengumpulkan kekayaan
melalui agama baru yang kamu serukan, kami akan serahkan
harta yang
banyak untukmu sehingga kamu menjadi yang terkaya diantara
kita semua. Jika kamu menginginkan kedudukan yang tinggi,
kami akan jadikan kamu pemimpin kami dan kami takkan
memutuskan sesuatupun tanpa persetujuanmu. Jika kamu
hendak menjadi
raja, kami akan mengangkatmu sebagai raja. Jika kamu
berada dibawah pengaruh jin, kami akan mengupayakan kesembuhanmu,
kami akan belanjakan untuk penyembuhan ini seberapapun
besar nilainya demi pulihnya kesehatanmu."
Dengan
sabar Rasulullah (SAW) menyimak kata-kata yang disampaikan
dan kemudian beliau berkata kepada ‘Atbah, "Adakah
sudah selesai pembicaraanmu? " Iapun menjawab, "Sudah,
wahai keponakanku." Nabi (SAW) pun berkata, "Apakah
kamu berkenan mendengarkan jawabanku?" ‘Atbah
menjawab, “Ya!" Maka Rasulullah (SAW) membacakan
kepadanya 38 ayat pertama dari Surat Fushshilat sebagai
jawaban atas tawaran itu. Begitu banyak pelajaran dari
ayat-ayat
ini, saya akan menyebutkan ringkasannya saja tahap
demi tahap. ( Ibnu Ishaq )
1.
Kami mulai dengan menyebut asma Allah, Yang Maha
Pengasih, Yang Maha Penyayang.
2.
Allah (SWT) menjabarkan mentalitas kaum kafir Makkah didalam
beberapa ayat berikut.
Allah (SWT)
berfirman, "Al-Quran
diwahyukan dalam bahasamu. Terdapat petunjuk yang
jelas padanya, memberi kabar gembira bagi orang-orang
beriman dan peringatan/ancaman
bagi orang-orang kafir tentang adanya hukuman/azab
atas mereka. Namun kamu menulikan telingamu dengan
mengatakan, “Telinga
kami belum siap mendengar hal itu dan hati kami belum
siap untuk menerimanya. Terdapat hijab diantara kamu
[Muhammad
(SAW)] dengan kami. Lakukanlah apa yang ingin kamu
lakukan. Janganlah mengusik kami.” Perhatikan
Surat Fushshilat, Ayat 1-5 berikut ini;
Haa Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya,
yakni bacaan
dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,
yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan,
tetapi kebanyakan
mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak
(mau)
mendengarkan. Mereka berkata; "Hati kami berada
dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru
kami kepadanya dan di telinga
kami ada sumbatan dan antara kamu dan kami ada
dinding, maka bekerjalah kam;, sesungguhnya kami
bekerja (pula)."
3.
Rasulullah (SAW) tak mempedulikan kekasaran dan kekonyolan
mereka dan menjawab mereka dengan
perkataan
yang baik
dan cara yang rendah hati; beliau berkata, “Aku hanyalah
seorang insan sebagaimana dirimu. Namun telah diwahyukan
kepadaku bahwa hanya ada satu-satunya Tuhan yang patut/berguna
untuk disembah.” Fushshilat Ayat-6;
Katakanlah, “ Bahwasanya aku hanyalah
seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku
bahwasanya
Tuhan kamu adalah tuhan yang Maha Esa,"
4.
Didalam tiga ayat berikutnya dijabarkan perihal penciptaan
alam semesta dengan maksud untuk menunjukkan ke-Mahaesa-an
Allah (SWT).
Sebagai contoh,
Allah (SWT)
telah mengadakan makanan, mineral, buah-buahan, dan tetumbuhan
yang berbeda-beda di berbagai belahan bumi disesuaikan
dengan penghuni masing-masing
daerah.
Beberapa tempat terdapat mineral berharga, wilayah lainnya terdapat
lebih banyak buah-buahan
dan beberapa wilayah yang lain lebih banyak menghasilkan biji-bijian.
Dengan jalan demikian semua daerah akan saling berbagi, berdagang,
dan bekerjasama
satu-sama-lain sebagai sebuah keluaga besar. Penempatan berbagai
macam persediaan telah dilakukan
dengan ke-Mahabijaksana-an Tuhan yang Tunggal. Disitulah terdapat
juga tanda-tanda ke-Mahaesa-an Allah (SWT) dalam penciptaan
bumi dan berlapis-lapis
langit.
Hanyalah orang yang tidak menggunakan akalnya sajalah apabila ia
mengingkari ke-Mahaesa-an
Allah (SWT) setelah ia melalui perenungan tentang keagungan penciptaan
alam semesta oleh Allah (SWT).
5.
Bagi kaum kafir, terdapat peringatan keras jika mereka
tetap pada sikapnya yang keras-kepala
setelah menyimak tanda-tanda dari
Allah
(SWT) yangg telah
disebutkan diatas, niscaya akan dihukum sebagaimana telah terjadi
pada kaum ‘Aad dan kaum Tsamud. Fushshilat Ayat-13
Jika mereka berpaling, maka katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan
petir, seperti petir yang menimpa kaum’Aad dan kaum Tsamud."
Bazar
dan Baghwi meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah
(SAW) membacakan ayat ini, ‘Atbah menutup mulut Rasulullah
(SAW) dengan tangannya seraya memohon maaf atas nama hubungan
kekerabatan dan meminta Nabi (SAW) tidak melanjutkan
kalimat beliau yang selebihnya.
6.
Pada Hari Kiamat, pendengaranmu, penglihatanmu, bahkan
kulitmu, masing-masing akan berbicara
sebagai saksi saksi atas dirimu.
Niscaya kamu takkan dapat
menyembunyikan dosa-dosamu.
7.
Orang-orang kafir mencoba untuk melancarkan tipudaya licik
yang lain lagi. Fushshilat #26
Dan orang-orang yang kafir berkata: ”Janganlah kamu mendenga dengan sungguh-sungguh
akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya,
supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)."
Kita
dapat menyaksikan bahkan sampai hari ini apa yang disebut-sebut
sebagai peradaban dunia barat, manakala sedang
dikumandangkan
Adzan dan ketika
sedang dilaksanakan Shalat (tetap saja ada kebisingan
orang-orang berlalu-lalang-pent.), Perlu dipehatikan bahwa
disini juga
terdapat peringatan untuk orang-orang
Mukmin supaya tidak berbicara manakala sedang diperdengarkan
ayat-ayat suci
Al-Qur’an.
8.
Selanjutnya Rasulullah (SAW) menambahkan, (Fushshilat Ayat-27).
Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras
kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberikan balasan
kepada
mereka dengan seburuk-buruk
pembalasan
bagi apa yang telah mereka kerjakan.
9. Empat ayat berikutnya disebutkan tentang balasan
dan penghormatan kepada Mukmin yang melaksanakan keimanannya.
Misalnya didalam
Fushshilat Ayat-33
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada
orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal
yang
saleh dan berkata, “sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”
Allah memberikan berita gembira kepada orang-orang
beriman. Fushshilat Ayat 30-32
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian
mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;
dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah
kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu
dalam kehidupan dunia dan di akhirat; didalamnya
kamu memperoleh
apa yang kamu
inginkan
dan memperoleh (pula) didalamnya
apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu)
dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
10.
Terakhir, perhatikanlah bahwa siang dan malam, matahari
dan bulan adalah juga ayat-ayat Allah
(SWT). Janganlah
menyembah salah satu
dari benda-benda
itu, tetapi hendaklah kamu menyembah yang menciptakan
itu semua. Setelah membacakan ayat 37 dan 38,
Nabi (SAW) melakukan
gerakan
sujud (sujud
tilawah-pent.) setelah
itu beliau berkata kepada ‘Atbah, "Telah
kamu simak perkataanku. Sekarang terserah padamu
apa yang
ingin kamu lakukan."
‘Atbah
bangkit dari duduknya dan berjalan kembali menuju kelompoknya.
Begitu ia telah dekat, kelompok orang-orang kafir itupun
saling berbisik satu sama lain, “Air
muka ’Atbah (alias Abu Walied) berubah".
Ketika ‘Atbah telah
duduk diantara mereka, mereka segera bertanya, "Berita
apakah yang kamu bawa?” ‘Atbah
berkata; sebagaimana disebutkan dalam Ibnu
Katsir; "Belum
pernah kudengar kalimat-kalimat seperti itu
sebelum ini. Aku bersumpah ucapannya itu bukanlah
berasal
dari seorang
penyair.
Bukan pula
seperti kata-kata seorang
ahli nujum. Wahai kaumku, dengarlah baik-baik
ucapanku ini dan sebaiknya kalian serahkan
saja urusan ini
kepadaku."
‘Atbah
melanjutkan, “Menurut pendapatku, sebaiknya kalian
berhenti menentang ataupun menyusahkannya. Biarkanlah ia
melakukan pekerjaannya, sebab
suatu hari nanti perkataannya akan dihormati.
Lebih baik kalian duduk berdiam diri sambil sekedar mengamati
bagaimana ia mengadakan pendekatan dengan masyarakat
Arab yang lain. Jika Orang-orang Arab yang
lain mengalahkannya, maka tujuan kalian akan tercapai tanpa
harus bersusah-payah. Namun, jika ia mengalahkan mereka
dan
mulai memimpin mereka, kemenangan itu pun
berarti ‘Kerajaan’ kalian
juga. Kehormatan baginya adalah kehormatan
bagi kalian juga, sebab ia berasal dari suku Quraisy.
Maka, dengan
sendirinya
kalian adalah
sejawat dalam keberhasilannya."
Orang-orang
kafir itu segera menimpali, "Wahai
Abu Walid, jelas sekali bahwa Muhammad (SAW)
telah mengubah
pendirianmu
dengan kalimat-kalimatnya
yang menyihir."
‘Atbah berkata, "Aku tetap teguh pada pendirianku sebagaimana yang
telah aku usulkan tadi, kalian silahkan saja
melakukan apapun yang kalian rasa perlu kalian lakukan." Dialog dramatis diatas mengajarkan kepada kita bagaimana
berdakwah terhadap orang-orang yang tidak beriman;
1. Mulailah dengan nama Allah (SWT) Yang Maha Pemurah, Maha
Penyayang.
2. Berbicaralah
kepada mereka dengan rendah hati dan tutur kata lembut meskipun jika
mereka berlaku kasar
dan menertawakan
kita dan keyakinan kita.
3. Harus
kita utarakan kepada mereka beberapa ayat/tanda dari Allah (SWT); yaitu
berupa ciptaan-ciptaan-Nya;
sebagai
bukti-bukti atas Ke-Maha Agung-an dan Ke-Mahaesa-an Allah
(SWT).
4. Kita
harus mengingatkan mereka bagaimana akhir dari orang-orang yang sombong
seperti halnya yang telah terjadi
pada kaum ‘Aad
dan kaum Tsamud yang ingkar kepada Allah (SWT).
5. Kita
ingatkan mereka bahwa perbuatan dan tingkah-laku
mereka tak satupun yang dapat mereka sembunyikan dari
Allah (SWT). Sebegitu rupa sehingga telinga dan mata
mereka sendiri,
bahkan kulit mereka akan bersaksi atas segala perbuatan
mereka pada hari kiamat. Berbagai bagian dari tubuh
mereka ibarat
pasukan keamanan yang bekerja untuk Allah (SWT).
6.
Ingatkanlah mereka mengenai akibat dari kekufuran mereka baik di
dunia ini maupun di akhirat kelak.
7. Terakhir;
yang tak kalah pentingnya; Terdapat tanda-tanda Ke-Agung-an Allah (SWT)
pada adanya
matahari dan bulan,
siang dan malam, dan lain-lain hal ciptaan Allah
(SWT). Janganlah
menyembah ciptaan-ciptaan-Nya itu, namun sembahlah
yang telah menciptakan semua itu, yakni, satu-satunya
Tuhan
yang Tunggal
(Ahad), Sang Maha Pencipta (Al-Khaliq).
|