netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja


ISRA’ DAN MI’RAAJ

Allah (SWT) berfirman dalam Surah Al-Isra Ayat-1,

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Perjalanan Nabi Muhammad (SAW) ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah perjalanan malam dari Makkah ke Jerusalem, perjalanan ini dinamakan Isra’. Bagian kedua dari perjalanan malam ini adalah dari Masjidil-aqsa naik menembus berlapis-lapis langit, inilah yang dinamakan Mi’raaj. Terlebih dahulu perlu kiranya kita kilas-balik kepada keadaan sebelum terjadinya perjalanan ini agar kita dapat memahami betapa penting nilai peristiwa Isra’ dan Mi’raaj.

Satu setengah tahun menjelang perjalanan ini, banyak peristiwa terjadi pada diri Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Pertama, Terjadi peningkatan penindasan dan penyiksaan oleh seluruh orang-orang kafir Makkah terhadap kaum Muslimin. Sementara, kala itu kaum Muslimin tidak diijinkan untuk melakukan perlawanan walaupun keadaan sudah amat sangat menyakitkan. Ini sebagaimana perintah Allah (SWT) didalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat-109,

Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.

Pada kurun waktu itu juga, Abu Thalib, paman Nabi Muhammad (SAW) wafat. Abu Thalib adalah kerabat Nabi (SAW) yang juga sosok pelindung badani Muhammad (SAW) dari orang-orang kafir. Maka sepeningal Abu Thalib orang-orang kafir semakin menjadi-jadi memusuhi Muhammad (SAW). Tak lama berselang, sang istri tercinta Nabi (SAW), Khadijah (RA), juga berpulang. Ini merupakan puncak kedukaan dan kesedihan hati Nabi Muhammad (SAW). Karena banyaknya peristiwa duka terjadi pada tahun itu, maka tahun itu disebut sebagai “Tahun kedukaan”(‘aam-al-hazah). Dibawah keadaan sedemikian ini, Nabi Muhammad (SAW) memutuskan untuk hijrah ke kota Thaif untuk mendakwahkan Islam disana. Beliau mengharapkan dukungan dari beberapa pemuka masyarakat di kota itu yang masih terhitung saudara jauh dari ibunda beliau. Namun mereka menyambut dingin kehadiran Nabi Muhammad (SAW). Para pemuka masyarakat itu membiarkan saja anak-anak mereka melempari Nabi (SAW) dengan batu hingga beliau luka berdarah-darah. Darah begitu banyak mengucur dari kepala beliau sehingga memenuhi sepatu beliau.

Beliau berlindung menyelamatkan diri didalam sebuah kebun di pinggiran kota itu. Pemilik kebun berbelas-kasihan pada beliau dan menghardik anak-anak salah asuhan itu sehingga kabur ketakutan. Di kebun inilah malaikat menampakkan diri dan menawarkan bantuan untuk Nabi Muhammad (SAW), “Sungguh penduduk kota ini telah berbuat sangat kurang-ajar. Jika engkau berkenan, kami sanggup menjungkir-balikkan kota ini hingga porak-poranda.” Rasulullah (SAW) menjawab, “Aku telah dihadirkan sebagai rahmat bagi alam semesta bukan sebagai hukuman. Semoga generasi mendatang dari kota ini akan melihat kebenaran.”

Setelah itu, beliau kembali ke Makkah, namun beliau dilarang memasuki kota Makkah karena kini beliau telah tidak dianggap sebagai warga Makkah. Setelah melalui berbagai upaya pendekatan dan perundingan, beliau diijinkan memasuki kota Makkah dengan syarat beliau tidak berdakwah kepada siapapun di kota Makkah. Rasulullah Muhammad (SAW) hanya boleh berdakwah di acara pekan raya dan perayaan-perayaan yang diselenggarakan diluar wilayah Makkah. Demikianlah gambaran masa-masa sulit, dan tingkat kesabaran dan kesetiaan Nabi Muhammad (SAW) dalam mengemban risalah. Atas tingginya kesabaran beliau itulah maka Allah (SWT) memberikan ganjaran besar berupa perjalanan Isra’ and Mi’raaj.

Kini marilah kita membahas peristiwa Isra’. Malaikat Jibril datang ke Masjidil-Haram di Makkah dan meminta Rasulullah (SAW) untuk berwudlu’ menggunakan air Zam Zam. Kemudian ia mengajak Nabi Muhammad (SAW) mengendarai “Burrak” yang berkecepatan sangat tinggi, dari Masjidil-Haram menuju Masjidil-Aqsa di Jerusalem. Sesampai di Masjidil-Aqsa Nabi (SAW) melaksanakan shalat 2 rakaat. Selanjutnya Malaikat Jibril menawarkan segelas minuman anggur dan segelas susu. Beliau (SAW) memilih meminum susu. Maka Jibril (AS) berkata, “Engkau telah memilih yang bersih dan murni. Engkau terbimbing di jalan yang benar, begitu pula dengan ummatmu. Jika saja engkau tadi memilih anggur, umatmu tentu telah tersesat.” Sebagaimana kita ketahui, minuman anggur menggiring pada perbuatan khianat oleh karena itu mendapat julukan sebagai ‘induk segala kejahatan’. Demikianlah, maka Islam berpegang teguh kepada kemurnian, kebenaran, dan kebajikan.

Setelah itu, berlangsunglah peristiwa Mi’raaj. Jibril (AS) membawa lagi Nabi Muhammad (SAW) mengendarai Burrak naik ke lapisan-lapisan langit. Nabi (SAW) berjumpa dengan beberapa Nabi pendahulu beliau. Nabi Adam (AS) beliau jumpai di langit pertama; Nabi Yahya (AS) dan Nabi Isa (AS) di langit ke-dua; Nabi Yusuf (AS) di langit ke-tiga; Nabi Idris(AS) di langit ke-empat; Nabi Harun (AS) di langit ke-lima; Nabi Musa (AS) di langit ke-enam; dan di langit ke-tujuh beliau (SAW) berjumpa dengan Nabi Ibrahim (AS). Kepada para pendahulunya itu Rasulullah Muhammad (SAW) memberi salam.

Pada satu tempat, Nabi Muhammad (SAW) bertemu malaikat Malik, sang penjaga Neraka. Beliau (SAW) meminta kepada Jibril (AS) agar diberi kesempatan melihat Neraka. Malaikat Malik pun mengangkat penutup neraka. Rasulullah (SAW) melihat kobaran apinya bergemuruh siap melebur benda apapun juga.. Diperlihatkan juga kepada Nabi Muhammad (SAW) contoh-contoh hukuman bagi mereka yang berdosa selama dalam kehidupan dunia.

Beliau (SAW) menyaksikan beberapa orang yang berbibir seperti bibir onta, kedua telapak tangan mereka menggenggam bola api. Beliau melihat mereka memasukkan bola-api itu ke mulut mereka dan selanjutnya bola-api itu keluar dari dubur mereka. Malaikat Jibril (AS) menerangkan bahwa mereka yang menerima hukuman sedemikian itu adalah orang-orang yang tidak jujur dalam mengemban amanat yang dipercayakan kepada mereka.
Rasulullah (SAW) juga menyaksikan beberapa orang berperut buncit sedangkan onta-onta gila yang kehausan berlari-larian menginjak-injak mereka., Hal ini menggambarkan hukuman para pemakan riba.

Ditampakkan juga kepada beliau (SAW) orang-orang yang memiliki makanan yang baik dan segar, sementara di dekat mereka berserakan makanan yang sudah membusuk dengan bau yang begitu menyengat. Namun mereka bukannya memakan yang masih baik dan segar yang mereka miliki, justru makanan basi dan berbau busuk itu yang mereka makan. Jibril (AS) menjelaskan kepada Nabi (SAW) bahwa mereka itulah orang yang menelantarkan pasangan sahnya.

Nabi (SAW) juga melihat beberapa perempuan yang digantung dengan pengait pada payudara mereka. Diterangkan kepada beliau (SAW) bahwa mereka itulah perempuan-perempuan pengkhianat suami.

Selama dalam perjalanan Mi’raaj ini, Rasulullah Muhammad (SAW) bahkan naik melampaui langit ke-tujuh, ke tempat yang belum pernah dikunjungi para malaikat. Di tempat yang tiada bandingnya inilah beliau melihat berbagai tanda-tanda (Kebesaran) Allah (SWT). Hal ini dijelaskan oleh Allah (SWT) didalam Surah An-Najm:, Ayat-17,18,


Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.

Ayat diatas menerangkan perihal kepribadian, kesantunan, dan pengendalian diri yang dimiliki oleh Nabi Muhammad (SAW). Beliau hanya mengarahkan pandangan pada apa yang semestinya dilihatnya, dan selama waktu yang beliau perlukan saja. Beliau tidak terpana berlama-lama dan tidak pula menyelidik, manakala beliau tengah memuaskan pandangannya dengan tanda-tanda Kekuasaan Allah (SWT).

Pada saat berjarak yang paling dekat dengan Allah (SWT) ini, beliau mendapatkan tiga hadiah.
Rasulullah (SAW) diberitahu bahwa barangsiapa mengucapkan dua kalimat syahadat secara tulus-ikhlas maka bila kelak saatnya tiba akan dimasukkan kedalam surga sebagai berkat rahmat Allah (SWT).

Rasulullah Muhammad (SAW) menerima wahyu dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah.

Beliau menerima perintah shalat; semula berjumlah limapuluh waktu dalam sehari semalam, kemudian dikurangi menjadi hanya lima waktu sebagai keringanan untuk ummat beliau. Meskipun demikian ganjaran yang akan diterima tetaplah senilai dengan shalat limapuluh waktu sehari-semalam. Begitulah, betapa sangat pemurahnya Allah (SWT) terhadap ummat Nabi Muhammad (SAW). (H.R. Muslim)

Perhatikan sabda Nabi Muhammad (SAW) berikut ini:

“Shalat adalah mi’raaj-nya orang-orang beriman.”

Demikianlah, shalat merupakan hubungan langsung dan paling dekat yang terjadi antara Allah (SWT) dengan hamba-hambanya yang patuh dan taat kepada-Nya.

Setelah mendapatkan tiga hadiah yang tiada bandingnya itu, Rasulullah Muhammad (SAW) bersama Malaikat Jibril kembali ke Masjid Al-Aqsa. Para nabi yang lain pun hadir disana. Mereka semuanya mendirikan shalat berjamaah dengan Nabi Muhammad (SAW) sebagai Imam. Hal ini menunjukkan terdapat satu kesatuan risalah yang diemban oleh para Nabi dan Rasul. Disamping itu, ditunjukkan juga keutamaan Nabi Muhammad (SAW) atas para Nabi dan Rasul yang lain dengan menjadi Iman Shalat.

Selepas shalat berjamaah, Malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad (SAW) kembali ke Makkah; semua peristiwa ini terjadi di malam yang sama.

Manakala orang-orang kafir mendengar berita perjalanan Muhammad (SAW) dari Makkah ke Jerusalem dan kemudian dilanjutkan naik menembus tujuh lapis langit yang berlangsung hanya selama sebagian dari waktu malam, merekapun serta-merta memperolok-olok hal itu. Mereka segera menuju rumah Abu Bakar (RA) dan bertanya sinis, “Sudahkah kamu dengar pengakuan kawanmu perihal perjalanan malamnya?” Abu Bakar balik bertanya, “Adakah memang ia mengatakan demikian?” Orang-orang kafir menjawab tegas, “Ya!.” Maka Abu Bakar tanpa ragu menjawab, “Kalau demikian pengakuannya, maka itu benar adanya!” Atas jawaban itulah maka sejak saat itu Nabi Muhammad (SAW) memanggil Abu Bakar dengan sebutan Ash-Shiddiq (artinya: yang membenarkan)

Ayat pertama dari Surah Al-Isra’ ini mengandung beberapa pelajaran untuk kita;

1. Allah (SWT) menggunakan kata Abd yang bermakna hamba yang sangat taat, untuk menyebut Nabi Muhammad (SAW) dan bukan dengan nama sebutan yang lainnya.

2. Hal ini menandakan bahwa meskipun Rasulullah (SAW) amat sangat dekat hubungannya dengan Allah (SWT) tetap saja bahwa kedudukan beliau adalah sebagai hamba yang paling patuh dan bukannya sekutu (yang disejajarkan dengan) Allah (SWT). Ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (SWT) seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Ahli-Kitab.

Ayat ini juga menegaskan bahwa perjalanan malam itu berlangsung secara lahir-batin dan bukan secara batiniah atau non-fisik yang lain, ini ditunjukkan dengan penggunaan kata Al Abd pada ayat ini. Hendaklah diketahui bahwa “Al-Abd” bermakna satu kesatuan tubuh dan jiwa bukan hanya salah satunya.

3. Diajarkan juga kepada kita untuk mencintai Masjid Al Aqsa yang mana Allah (SWT) telah memberkati sekelilingnya.

4. Kata Lailan adalah kata benda yang lazim digunakan untuk menunjukkan sebagian saja dari waktu malam. Ini berarti bahwa seluruh perjalanan itu telah berlangsung hanya selama sebagian dari satu malam saja.

5. Sesungguhnyalah Allah (SWT) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dia telah mendengar doa dan harapan Nabi Muhammad (SAW) dan telah menyaksikan betapa sangat sabar Nabi (SAW). Maka diganjar-Nya hal itu dengan perjalanan istimewa yang tiada duanya, yakni Isra’ dan Mi’raaj, sebagai tanda bahwa misi beliau (SAW) akan mencapai keberhasilan.

Saya berdoa kepada Allah (SWT) semoga kita diberi kemampuan unuk memahami arti penting yang hakiki dari peristiwa Isra’ dan Mi’raaj. Amiin