“HISTORICAL
EVENTS OF MAKKAH”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja
KEMENANGAN BESAR
(TAHUN KE-6 HIJRIYAH)
Dalam
tahun ke-6 Hijriyah tercapailah kesepakatan untuk membuat
perjanjian antara para pemimpin kaum kafir Makkah
dengan Nabi Muhammad (SAW) di sebuah wilayah bernama Hudaibiyah
yang terletak diluar kota Makkah. Tempat ini sekarang
benama Syamisah. Banyak butir-butir kesepakatan dalam
perjanjian ini yang sepintas tampak merugikan Muslim dan
membingungkan bagi sebagian sahabat Rasulullah. Namun, hal
ini kemudian berubah membuahkan kemenangan luar biasa bagi
Ummat Islam dan sekaligus membuktikan bahwa Rasulullah (SAW)
sangat bijak dalam pemikiran dan berwawasan jauh ke depan.
Perjanjian
ini juga memberikan bukti bahwa:
1.
Musuh-musuh Allah (SWT) merencanakan tipu daya dan Allah
(SWT) pun merencanakan.
Dan sesungguhnya Allah
(SWT) adalah
yang Terbaik dalam merencanakan. Surah Al-Anfal, Ayat-30.
Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu
daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
2. Nabi Muhammad (SAW) tak pernah mengatakan sesuatu
hal yang religius melainkan itu telah diwahyukan Allah
(SWT) kepada beliau. Surah An-Najm, Ayat 3-4
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an)
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada
lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).
3. Allah (SWT) telah memuliakan para sahabat Rasulullah (SAW) karena Dia
telah mengetahui ketulusan mereka dan apa yang menjadi isi hati mereka.
Allah (SWT)
telah memasukkan ketenangan dan kesabaran kedalam hati mereka dikala menghadapi
saat-saat kritis dan membingungkan dan menjadikan mereka condong untuk
berlaku santun dan bersahaja di saat-saat sedemikian genting. Allah (SWT)
memberikan
penghargaan tinggi terhadap kualitas mereka dan telah mengabarkan balasan
atas mereka untuk generasi-generasi setelahnya. Surah Al-Fath, Ayat-26:
dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.
Oleh
sebab itu, sangat mengherankan bagi saya bahwasanya sebagian
orang berani mengatakan hal-hal yang tak sepatutnya mereka
tujukan kepada beberapa
sahabat
Rasulullah (SAW) sedangkan Allah (SWT) jelas-jelas menyatakan pujian-Nya
terhadap mereka didalam Al-Qur'an.
Sekarang,
marilah kita telusuri rangkaian peristiwa yang berlangsung
kala itu. Para penyembah
berhala di Makkah telah mengusir Rasulullah
(SAW) dan
para sahabat
dan pengikut beliau dari kampung halaman mereka sendiri di Makkah
hanya karena sebuah alasan yakni, karena mereka menyembah Tuhan
Yang Esa.
Kaum kafir itu
juga menyulut tiga peperangan besar melawan orang-orang mukmin
(Badar, Uhud dan Ahzab) dengan tujuan mengenyahkan ummat
Islam dari permukaan
bumi. Sementara
itu, Rasulullah (SAW) memperoleh mimpi bahwa beliau dan para sahabat
sedang berada di Makkah dalam rangka ibadah Umrah. Namun demikian
tidak cukup
jelas kapan terjadinya peristiwa (didalam mimpi) itu. Rasulullah
(SAW) pun menceritakan
perihal mimpi beliau ini kepada para sahabat di Madinah. Karena
mimpi Rasulullah (SAW) selalu benar, maka beliau memaklumatkan
persiapan
perjalanan ibadah
Umrah. Bahkan penduduk desa-desa disekitar Madinah pun diajak serta.
Sebagian
besar orang-orang dusun itu tidak bersedia, malahan meniupkan
kabar bahwa
Rasulullah (SAW) bermaksud membawa mereka kedalam peperangan
melawan kaum Quraisy
Makkah yang begitu perkasa, karena beliau bermaksud menjerumuskan
mereka dalam kehancuran.
Alqur’an Surah Al-Fath ayat-12:
Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak
sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya
dan setan telah menjadikan
kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah
menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang
binasa.
Rasulullah
(SAW) berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk ibadah
Umrah bersama 1400 sahabat. Mereka telah berpakaian Ihram dan
membawa binatang
ternak untuk
korban. Manakala rombongan telah mencapai pinggiran kota Makkah,
mereka dapati kaum kafir dengan persenjataan lengkap menghentikan
perjalanan mereka
dan
melarang mereka memasuki Makkah. Khalid bin Walid;
yang pada waktu itu
belum beriman; dengan pasukannya telah siap menyerang rombongan
Muslimin dan mereka juga telah menduduki tempat-tempat yang
terdapat mata air. SATU MUKJIZAT
Nabi
Muhammad (SAW) menghindar dari Khalid bin Walid menuju
tempat yang tidak terdapat air.
Beliau
menemukan sebuah sumur yang masih ada bekas jejak air di
dasarnya.
Beliau masukkan sedikit air ke mulut beliau lalu disemburkannya
kedalam sumur, lalu beliau minta salah seorang sahabat
untuk membidikkan anak panah beliau (SAW) ke dasar sumur.
Para
sahabat pun kemudian menyaksikan air memancar dari dasar
sumur itu sampai setinggi bibir sumur. Maka rombongan Muslimin
pun mengisi penuh tempat-tempat air mereka dan mendirikan
shalat Dzuhur. Khalid bin Walid berkata
kepada pasukannya, “Kita telah menyia-siakan kesempatan
emas.
Seharusnya
tadi kita serang mereka selagi mereka sibuk shalat. Kita
akan serang mereka di waktu mereka mengerjakan
shalat
berikutnya.” Pada waktu itu Allah (SWT) pun mewahyukan
petunjuk-Nya kepada Muslimin perihal tata-cara mendirikan
shalat sewaktu dalam keadaan bahaya semisal perang.
Shalat
semacam ini disebut Shalatul-Khauf. UTSMAN (RA) YANG DIHORMATI
Utsman
(RA) adalah sosok yang dihormati oleh kalangan
mukminin maupun oleh orang-orang kafir. Rasulullah (SAW)
mengutusnya sebagai duta Mukminin ke Makkah, dalam rangka
memberikan penjelasan kepada para pemimpin kafir Quraisy
bahwasanya kedatangan rombongan Mukminin adalah untuk melaksanakan
ibadah Umrah, bukannya untuk berperang melawan mereka. Orang-orang
Quraisy telah mengambil keputusan bahwa mereka melarang orang-orang
Muslim memasuki kota Makkah.
Namun
mereka mengijinkan Utsman (RA) mengerjakan Umrah. Utsman
(RA) pun berkata," Aku
tak kan berumrah kecuali Rasulullah (SAW) mengerjakannya." Kaum
Quraisy menempatkan limapuluh orang pasukan mereka pada
jarak yang begitu dekat dengan rombongan Muslim agar bila
ada kesempatan
mereka bisa dengan mendadak menyerang Nabi (SAW). Namun,
Muhammad bin Muslima (RA), pengawal Beliau (SAW), berhasil
menangkap limapuluh orang itu dan menghadapkan mereka kepada
Nabi (SAW). Begitu kejadian ini diketahui oleh orang-orang
Quraisy, maka mereka pun menahan Utsman (RA) dan
sepuluh orang Mukmin lain yang telah berhasil memasuki
Makkah sebagai sandera. Situasi menegangkan pun tak terelakkan.
Masing-masing pihak bisa saja dengan mudah membunuh sandera/tawanan
yang ada di tangan mereka masing-masing.
Tertiuplah
kabar-burung bahwasanya Utsman (RA) dan 10 Muslim yang
ditahan
telah dibunuh oleh kaum kafir. BAI’AT
UR RIDWAN (SUMPAH SETIA)
Mendengar
berita ini Rasulullah (SAW) segera mengumpulkan seluruh
Mukminin dibawah sebuah pohon dan mengambil sumpah
mereka untuk bersedia berjihad memerangi orang-orang kafir.
Maka segera saja setiap muslim satu-persatu berbai’at
(bersumpah) dengan cara meletakkan tangannya ke atas tangan
Rasulullah (SAW). Terakhir, beliau (SAW) meletakkan satu
tangan beliau sendiri ke atas tangan beliau yang lain sambil
mengatakan bahwa yang satu adalah tangan Utsman (RA), dengan
demikan beliau telah mewakili Utsman (RA) berbai’at.
Ini
adalah salah satu cara penghormatan unik terhadap Utsman
(RA), dimana Rasulullah (SAW) mengibaratkan tangan beliau
sebagai tangan Utsman (RA). Sementara itu, Utsman (RA)
telah kembali ke tengah-tengah rombongan mukminin, maka
iapun bisa
berbai’at untuk dirinya sendiri. Allah (SWT) sangat
menyukai sumpah yang telah diucapkan oleh para sahabat ini.
Mari kita sima Surah Al-Fath Ayat-18.
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang
mu’min
ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka
Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan
ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka
dengan kemenangan yang dekat (waktunya).
Mereka
yang ikut serta dalam peristiwa Bai’at ur ridwan
ini telah diberi penghormatan besar oleh Allah (SWT)
dan Rasul-Nya (SAW). Diriwayatkan oleh Jabir (RA) bahwasanya
Rasulullah (SAW) bersabda,
"Kalian
adalah adalah manusia-manusia terbaik yang hidup di muka
bumi." (Sahihain)
Ummu
Basyar (RA) meriwayatkan Rasulullah (SAW) bersabda, "Mereka
yang telah berikrar dibawah pohon ini tidak akan masuk Neraka." (Muslim)
Dengan
demikian mereka memperoleh nikmat Surga atas ikrar yang telah mereka
ucapkan, sebagaimana Allah juga telah menjanjikan Surga bagi
setiap mukmin
yang ikut serta dalam perang Badar.
PERTOLONGAN
ALLAH (SWT)
Allah
(SWT) menumbuhkan rasa takut dalam hati kaum kafir Quraisy.
Mereka mengirimkan tiga orang pemimpinnya, Suhail
bin Amr, Hawaitab and Makraz
untuk berunding dengan Rasulullah (SAW). Ketiga pimpinan
ini menyampaikan kepada Nabi (SAW), "Utsman (RA) dan
sepuluh orang Muslim yang lain tidak kami bunuh. Kami akan
kembalikan mereka kepadamu jika limupuluh anggota kami pun
kamu kembalikan kepada kami." Demikianlah, Allah (SWT)
telah menyelamatkan mereka dari saling melukai. Surah Al-Fath
Ayat-24:
Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan)
kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka
ditengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka,
dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Perwakilan
pemuka Quraisy yang menemui Rasulullah (SAW) juga dapat
menyaksikan beberapa keistimewaan yang menggambarkan
betapa para mukminin sangat mencintai, menghormati, dan
setia kepada junjungan mereka Rasulullah (SAW). Setelah
kembali
ke Makkah, maka para pimpinan Quraisy ini menyarankan kepada
warga mereka bahwasanya hal terbaik bagi mereka agar tidak
hilang-muka adalah dengan mengadakan pejanjian gencatan
senjata dengan pihak Muhammad (SAW).
”Jika Muslimin memasuki
kota Makkah dengan kekuatan penuh maka seluruh masyarakat
Arab yang lain pastilah akan menertawakan kita.” Demikian
kata pemimpin Quraisy menegaskan. Lanjutnya, “Sebaiknya
kita minta mereka untuk kembali ke Madinah tanpa mengerjakan
Umrah untuk sekarang ini. Namun kita ijinkan mereka untuk
melaksanakan Umrah tahun depan dan mereka boleh tinggal di
Makkah selama tiga hari.” Usulan ini diterima oleh
orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengutus Suhaid bin
Umar untuk kembali menemui Muhammad (SAW) guna membuat
perjanjian tertulis dengan syarat-syarat sebagaiman mereka
utarakan
diatas. Suhail mengajukan persyaratan isi perjanjian sebagai
berikut; USULAN ISI PERJANJIAN HUDAIBIYAH
1.
Muhammad (SAW) dan para pengikutnya tidak akan masuk kota
Makkah pada tahun ini. Mereka diijinkan berkunjung ke
Makkah pada tahun depan selama tiga hari.
2.
Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang satu sama
lain selama sepuluh
tahun.
3.
Suku-suku yang lain bebas memilih untuk bergabung dengan
Muslimin ataupun dengan kaum Quraisy sebagai kawan
mereka.
4.
Jika seorang dari Quraisy membelot kepada pihak Muslim,
maka Muhammad (SAW) akan mengembalikan orang
tersebut kepada
kaum Quraisy. Namun, jika seseorang membelot dari Muhammad
(SAW) dan meminta perlindungan kepada kaum Quraisy,
maka orang tersebut tidak akan dikembalikan kepada Muhammad
(SAW). SAAT-SAAT YANG MENYENTUH HATI
Rasulullah (SAW) dan Suhail bin Amr sepakat atas usulan
persyaratan diatas setelah melalui pembicaraan yang berlangsung
dalam suasana panas diantara kedua pihak. Raulullah pun memanggil
Ali (RA) dan mulailah beliau mendiktekan kalimat-kalimat
perjanjian untuk ditulis.
Rasulullah
(SAW) berkata kepada Ali (RA), "Tulislah,
Bismillahirrahmanirrahim" Suhail
menolak dan berkata, "Kami tidak mengenal Ar-Rahman
dan Ar-Rahim. Awali saja dengan tulisan Bismikallah,
yang maksudnya Wahai Allah kami awali ini dengan nama-Mu." Rasulullah
(SAW) meminta Ali (RA) menuliskan seperti yang dikatakan
Suhail. Kemudian Rasulullah (SAW)
memerintahkan Ali menulis, "Ini adalah perjanjian
antara Muhammad Rasulullah dengan kaum Quraisy." Suhail
menyela, "Jika
kami menerimamu sebagai Utusan Allah, tentu kami tidak
akan menghalangimu melakukan Umrah dan tidak pula kami
beberapa
kali memerangimu. Tuliskan saja Muhammad bin Abdullah." Mendengar
itu, Nabi (SAW) berkata kepada to Ali (RA), "Tuliskan
apa yang dikatakan Suhail dan hapuslah kata Rasulullah.
Ali (RA) tidak mau menghapusnya. Usaid bin Hudhair
(RA) dan Saad bin Ibada (RA) juga menahan tangan Ali
(RA) seraya berkata, " Jangan kamu hapus. Jika orang
Quraisy tidak setuju maka biarlah kita putuskan urusan
diantara
kita ini dengan pedang saja."
Rasulullah
(SAW) adalah seorang yang buta aksara dan tak pernah sekalipun
melakukan
tulis-menulis dengan tangan
beliau sendiri. Namun saat itu Allah (SWT) menganugerahi
kemampuan
kepada beliau (SAW), diambilnya kertas dari tangan
Ali (RA) dan beliau gantikan sendiri kata-kata yang telah
ditulis Ali (RA) dengan ‘Muhammad bin Abdullah’ sebagaimana
dikehendaki Suhail. Mukminin pun kecewa dengan hal
ini, namun mereka pun pasrah pada pilihan Rasulullah
di saat-saat
kritis
itu.
Selanjutnya
Rasulullah (SAW) minta kepada Suhail agar beliau (SAW)
diperbolehkan mengelilingi Ka’bah
pada tahun ini. Suhail menolak mentah-mentah permintaan
itu seraya
mengatakan bahwa orang-orang Arab akan menertawakan
kaum Quraisy lantaran
nampak bahwa mereka lebih lemah daripada Muhammad
(SAW).
Para
Muslimin, khususnya Umar (RA), memprotes keras butir ke-empat
perjanjian ini, namun Rasulullah (SAW)
bahkan
tidak keberatan dengan hal itu. UJIAN BAGI PARA SAHABAT
Manakala
kaum Quraisy menolak kata Bismillah dan Rasulullah, nampak
para sahabat mulai bersilat-lidah diantara mereka sendiri
lantaran terdapat perbedaan pandangan
diantara mereka. Namun mereka ketegangan itupun surut dan
dapat menerima pilihan yang telah diambil oleh Rasulullah
(SAW). Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepenuhnya menyerahkan
keputusan pada Rasulullah (SAW). Sewaktu Rasulullah (SAW)
meminta mereka berikrar untuk berperang, mereka pun melaksanakannya
dengan sepenuh hati. Ketika Rasulullah (SAW) menetapkan pilihan
diatas untuk menghindari pertempuran, sekali lagi para sahabat
menyerahkan sepenuhnya pada pilihan dan keinginan Rasulullah
(SAW). Allah (SWT) menyukai kepatuhan mereka kepada Rasul-Nya
sebagaimana tersebut dalam firman-Nya, surah Al-Fath Ayat-26.
Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka
kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan
ketenangan
kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan
Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka
berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan
adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
UJIAN SEKETIKA ATAS PERJANJIAN
Abu
Jundal (RA), anak Suhail bin Amr, telah memeluk
Islam
di Makkah. Suhail, sang ayah, memenjarakannya di Makkah
dan menyiksanya setiap hari. Entah bagaimana, Abu Jundal
(RA) bisa melarikan diri dari Makkah dan tiba ditempat dimana
perjanjian sedang dilakukan. Dengan kerendahan hati ia memohon
perlindungan kepada Rasulullah (SAW). Suhail pun menolak,
katanya, "Ini bertentangan dengan isi perjanjian. Jika
tak engkau kembalikan ia kepadaku, maka aku takkan menandatangani
perjanjian ini." Berkali-kali Rasulullah (SAW) meminta
agar Suhail merelakan Abu Jundal (RA) untuk tetap bersama
ummat Muslim. Suhail menolak dan menampar wajah Abu Jundal.
Ia tarik sang anak pada bajunya dan dikumpulkan ia bersama
para penyembah berhala. Rasulullah berkata kepada Abu Jundal, "Bersabarlah,
Allah akan menyegerakan kemudahan bagimu dan ummat Muslim
yang lemah lainnya yang berada di Makkah. Kami telah mengadakan
perjanjian dengan kaum Quraisy. Kami tak hendak merusak janji."
Akhirnya
perjanjian ditandatangani kedua belah pihak. Rasulullah
(SAW) menyembelih ternaknya dan menanggalkan pakaian Ihram.
Para sahabat pun melakukan hal yang sama dan selanjutnya
memulai perjalanan kembali ke Madinah setelah sembilan
belas
hari berada di Hudaibiyah. SATU LAGI MUKJIZAT
Ketika
rombongan Muslimin sampai di Isfan dalam perjalanan pulang
ke Madinah, persediaan makanan mereka telah sangat
menipis. Rasulullah (SAW) menghamparkan alas berukuran besar
keatas tanah dan meminta para sahabat meletakkan keatas alas
itu sekecil apapun makanan yang masih mereka miliki. Manakala
semua yang tersisa telah terkumpul, Rasulullah (SAW) berdoa
memohon pertolongan Alah (SWT) kemudian mengundang semua
orang untuk makan makanan yang tersedia diatas alas.
Seribu
empat ratus sahabat pun makan sampai kenyang dan juga telah
mengisi penuh tempat makanan mereka untuk bekal di perjalanan
selanjutnya. Ternyata masih banyak kelebihan makanan yang
tertinggal pada alas itu. Rasulullah (SAW) sangat gembira
mendapati keberkahan yang diberikan Allah (SWT) ini. BUAH DARI PERJANJIAN
Perjanjian
Hudaibiyah telah membuahkan konsekuensi dalam banyak hal
yang berjangkauan jauh ke depan.
1.
Dengan tercapainya kesepakatan damai ini, Ummat Muslim
dapat memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah lebih luas
dan mencapai wilayah yang jauh. Rasulullah (SAW) mengirim
surat kepada Raja Najashi di Habasyah, Raja Maqoqas
di Mesir, Kisra’ di Persia, Kaisar di Romawi, Penguasa
Bahrain, Penguasa Yamamah, Penguasa Damaskus dan Penguasa
Amman.
2.
Kaum Quraisy yang sejauh ini bersusah-payah bekerja untuk
menghancurkan Ummat Islam, dengan menyetujui perjanjian
ini
berarti bahwa, didalam hati, mereka telah mengakui keperkasaan
Ummat Muslim.
3.
Semua bangsa Arab memiliki keleluasaan untuk mengirimkan
utusan mereka kepada Ummat Muslim. Hal
ini berarti pula
sebuah kekalahan bagi kaum Quraisy, sebab selama ini
mereka selalu
menghalangi penyebaran Islam kepada suku-suku dari
bangsa Arab.
4.
Selama berlangsungnya negosiasi isi perjanjian, banyak
pemimpin Quraisy yang berpengaruh bertemu dengan
Rasulullah
(SAW). Peristiwa ini telah menanamkan nilai-nilai
Islami ke dalam hati mereka, sehingga banyak diantara mereka
yang di kemudian hari pun memeluk Islam. Termasuk
juga
Suhail
bin Amr.
5.
Kaum Quraisy yang sejauh ini berketetapan untuk tidak akan
pernah membiarkan Ummat Muslim masuk ke
kota Makkah
kapanpun juga, dengan adanya perjanjian ini berarti
telah mencabut sendiri larangan mereka. Dengan
demikian mereka
telah menderita kekalahan dari dalam kelompok mereka
sendiri.
6.
Perjanjian ini telah meratakan jalan untuk penaklukan Makkah.
Kemudian terjadilah penaklukan
itu sekitar
dua puluh satu bulan terhitung sejak disepakatinya
perjanjian.
Allah
(SWT) mewahyukan kemenangan ini didalam Surah
Al-Fath, Ayat-1:
Sesengguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan
yang nyata.
Banyak
rombongan perwakilan dari berbagai daerah berkunjung ke
Madinah, dan banyak orang yang
selanjutnya memeluk
Islam. Sebagai gambaran nyata, dua puluh satu
bulan setelah penandatanganan
perjanjian (pada waktu penaklukan Makkah) pasukan
muslim berjumlah sepuluh ribu orang, jauh lebih
besar dibanding
sejumlah seribu empat ratus orang pada waktu
perjanjian Hudaibiyah.
7.
Surah Al-Fath pun diturunkan. Kandungan surah ini tidak
hanya terbatas pada
prediksi
atas berbagai
penaklukan
dan
besarnya harta –benda hasil penaklukan
itu, lebih dari itu semua adalah pernyataan
bahwasanya Islam akan mengungguli
agama-agama yang lain. Perhatikan Surah Al-Fath,
Ayat-28 :
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa
petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya
terhadap
semua agama.
Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
8.
Yang sangat penting adalah menggaris-bawahi pernyataan
Allah (SWT) didalam Surah Al-Fath,
Ayat-29, bahwasanya:
Muhammad adalah Utusan (Rasul) Allah. Oleh
karena itu penghapusan sebutan ‘Rasulullah’ tidaklah
menjadi soal. Ayat-29 dari Surah Al-Fath
ini akan selalu berkumandang hingga datang
hari kiamat kelak, dan sudah cukup sebagai
bukti bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah.
9.
Ibadah Umrah yang terlewatkan ditahun
itu terlaksana pada tahun berikutnya. Ini
membuktikan
bahwa mimpi
Nabi (SAW)
adalah mimpi yang benar, didalam mimpi
itu tidak tidak terdapat gambaran kapan
akan
berlangsung.
Surah Al-Fath,
Ayat-27.
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada
Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya
dengan sebenarnya
(yaitu) bahwa sesungguhnya
kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram,
insya Allah dalam keadaan aman, dengan
mencukur rambut
kepala
dan mengguntingnya,
sedang kamu tidak merasa takut. Maka
Allah mengetahui apa yang tiada kamu
ketahui dan
Dia memberikan
sebelum itu
kemenangan yang dekat..
Perhatikan
bahwa dalam ayat ini Allah (SWT) juga menggunakan kata
insya Allah; walaupun
Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu; ini adalah pengajaran
Allah (SWT) kepada kita agar menggunakan
kata tersebut
dalam
semua pernyataan
yang kita ucapkan. Pengajaran serupa
juga terdapat dalam Surah Al-Kahfi,
Surah Al-Qalam
dan Surah
Ash-Shaffat.
10. Proses tercapainya kesepakatan damai
memperkuat tingkat keimanan para sahabat.
Dalam hal ini
iman dalam pengertian
kepatuhan kepada Allah (SWT) and Rasul-Nya
(SAW). Para sahabat telah menunjukkan
kepatuhan yang
dimaksud, tanpa menimbang
suka atau tidak suka. Perhatikanlah Surah.
Al- Fath , Ayat-4:
Dia-lah yang telah menurunkan
ketenangan ke dalam hati orang-orang
mu’min
supaya keimanan mereka bertambah
disamping keimanan
mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan
Allah-lah tentara langit dan bumi
dan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.
Begitulah, Allah (SWT) mencintai para
sahabat Rasulullah (SAW).
|