“HISTORICAL
EVENTS OF MAKKAH”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja
Masa Kecil Hingga Masa Kenabian
MUHAMMAD (SAW)
MASA KANAK-KANAK Menurut sebagian besar ulama, Muhammad (SAW) dilahirkan
di kota Makkah pada Senin pagi di hari ke-sembilan bulan
Rabiul Awal (kira-kira tanggal 20 atau 22 April 571 M), kira-kira
50 atau 55 hari setelah peristiwa kehancuran pasukan bergajah
yang sedang bergerak menuju Baitullah di kota Makkah. Kakek
beliaulah yang memberikan nama Muhammad (SAW). Beliau adalah
bagian dari suku Quraisy yang dihormati. Namun demikian,
keluarga beliau sangatlah miskin. Ayahanda beliau, Abdullah,
telah wafat sebelum beliau dilahirkan.
IBU-SUSU
Sesuai
dengan tradisi Arab, sekelompok perempuan dusun datang
ke kota Makkah untuk menjual jasa menyusui bayi. Kebanyakan
dari mereka mencari bayi dari keluarga kaya. Tak satupun
dari mereka peduli untuk menyusui bayi Muhammad (SAW) lantaran
ia yatim dan dari keluarga yang sangat miskin. Akhirnya,
Halimah bersedia menjadi ibu-susunya dengan harapan keluarganya
dapat membina hubungan baik dengan suku Quraisy.
Dalam
perjalannya kembali kerumah, banyak hal istimewa yang dialaminya;
1.
Keledai kurus dan lemah yang dikendarai Halimah dan bayi
Muhammad (SAW) berubah menjadi kuat dan cepat langkahnya,
sehingga meninggalkan rombongannya jauh di belakang.
2.
Halimah ketika itu sedang tidak keluar air-susunya, sehingga
anaknya sendiri pun menangis semalaman karena
tak mandapatkan
air susu. Ketika ia memberikan giliran menyusui kepada
bayi Muhammad (SAW) ia dapati air-susunya mencukupi untuk
diberikan
kepada bayi Muhammad (SAW) dan juga untuk anaknya sendiri.
Setelah itu kedua bayi itupun tertidur nyenyak.
3.
Onta betina milik Halimah pun telah beberapa hari tidak
menghasilkan
air susu. Setelah diambilnya bayi
yatim Muhammad
(SAW) sebagai bayi-susuannya, suami Halimah mendapati
bahwa onta betina mereka begitu banyak mengeluarkan
air susu.
Halimah dan suaminya pun meminum susu onta ini hingga
kenyang sehingga
mereka bisa tidur nyenyak.
4.
Lahan mereka yang biasanya tandus ditumbuhi rerumputan
menghijau sehingga ternak mereka
bisa merumput sebanyak-banyaknya.
Telah banyak keberkahannya Bayi Muhammad (SAW) bagi
keluarga ini. Setelah berumur dua tahun, sang bayi
diantarkan
kembali kepada ibundanya. Kepada Aminah, ibunda Muhammad
(SAW),
mereka meminta ijin untuk diperbolehkan mengasuh
sang bayi di pedesaan
selama dua atau tiga tahun lagi. Aminah menyetujui
permintaan mereka.
Disebutkan
dalam hadits Muslim, diriwayatkan oleh Anas (RA), suatu
hari si kecil Muhammad (SAW) sedang
bermain
bersama
anak-anak sebayanya. Malaikat Jibril (AS) datang,
membelah dada Muhammad (SAW) dan mengeluarkan hatinya.
Jibril
membuang sebuah gumpalan darah seraya berkata, "Gumpalan ini
adalah bagian dari setan yang ada pada dirimu." Selanjutnya
Jibril (AS) mencuci hati itu dengan air Zam-Zam
kemudian mengembalikannya ke dalam dada Muhammad
(SAW). Teman-teman
bermain Muhammad (SAW) mengadukan kepada Halimah
bahwa seseorang telah membunuh Muhammad (SAW).
Halimah pun bergegas menuju
tempat anak-anak itu bermain dan mendapati Muhammad
(SAW) dalam keadaan baik-baik saja, hanya saja
nampak pucat. Setelah
kejadian ini Halimah menjadi selalu khawatir atas
keselamatan anak asuhnya ini. Maka iapun mengembalikan
Muhammad (SAW)
kepada Ibundanya. ANAK YATIM YANG LEMAH
Muhammad
(SAW) tinggal bersama ibundanya hingga mencapai usia 6
tahun. Aminah tak memiliki apapun untuk menghidupi
diri dan anaknya. Iapun pulang ke kota Madinah, tempat dimana
keluarganya tinggal agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka
ala kadarnya. Di Madinah, Aminah jatuh sakit. Tak berapa
lama berselang iapun wafat dan dimakamkan di sebuah dusun
bernama Abwa.
Jadilah
Si kecil Muhammad (SAW) yatim-piatu. Ia pun sedih, menyendiri
dan tak ada gairah bermain dengan
teman-temannya. Selera makannya pun hilang dan kian hari
kian bertambah lemah. Para sanak-saudaranya mengantarkannya
kepada kakeknya, Abdul Muththalib. Sang kakek
meninggal dunia di usia 110 Tahun. Sekali lagi Muhammad
(SAW) kecil kembali tanpa daya di usianya yang ke-10. Pengasuhan
dirinya dilanjutkan oleh sang Paman Abu Thalib
di rumahnya.
Abu
Thalib dikenal sebagai orang baik dan salah seorang pemuka
suku Quraisy. Namun ia pun sangat
miskin sehingga
tak mampu
menanggung beban keluarganya yang besar. Muhammad (SAW)
terpaksa mencari pekerjaan sebagai buruh; di usianya
yang baru sepuluh
tahun; agar dapat menghidupi dirinya sendiri. Mulailah
ia menjadi penggembala ternak milik orang lain, di daerah
gurun
Makkah yang amat sangat panas. Ia makan dari tetumbuhan
liar yang terdapat di gurun dan meminum susu dari kambing
atau
domba yang di gembalakannya. Dengan bertelanjang kaki
dan mengenakan pakaian yang tak cukup untuk sekedar menutupi
tubuhnya, ia habiskan waktu seharian di gurun pasir.
Biasanya
ia kembali ke rumah sang paman di malam hari untuk sejenak
bermalam disana.
Di
gurun pasir itulah ia menghayati bentuk alamiah dari kehidupan.
Kesulitan hidup, kesendirian, dan
rasa tanggung-jawab
menjadikannya
lebih matang daripada usianya. Sang paman yang pedagang
terkesan dengan kecerdasan dan kematangan keponakannya.
Maka ketika
Muhammad (SAW) berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajaknya
dalam perjalanan dagang ke Syria. SARAN SEORANG PENDETA
Ketika
kafilah dagang mereka sampai di kota Basra di wilayah Syria
Besar, seorang pendeta terkenal di masa itu, Buhairah,
menghampiri Abu Thalib dan mengatakan, "Aku
mengenali anak muda ini, sebagai sosok yang kelak akan dinobatkan
sebagai rahmat bagi semesta alam. Hal ini tetulis jelas dalam
kitab-kitab kami." Buhairah selanjutnya menyarankan
kepada Abu Thalib, “Lindungi anak muda ini dari orang-orang
Yahudi, lebih baik bawa ia kembali ke Makkah.”Abu Thalib
menuruti saran sang pendeta tersebut.
REMAJA TELADAN
Kala itu belum ada sistem kepolisian maupun peradilan. Masing-masing
suku menyelesaikan persoalan diantara mereka menurut cara
mereka sendiri. Jika suku yang lemah diperlakukan sewenang-wenang
oleh seorang dari suku yang berkuasa, suku yang lemah hanya
bisa terdiam seribu-basa. Sebagai contoh, seorang lelaki
kaya mengambil paksa anak perempuan pengunjung Makkah yang
miskin, maka sang ayah tidak mempunyai jalan keluar untuk
mendapatkan kembali anak gadisnya.
Remaja
Muhammad (SAW) tidak senang dengan kekacauan tatanan demikian.
Dikumpulkannya
beberapa pemuda dan dibentuknya satuan sukarelawan untuk
melawan kejahatan. Mereka memberi dukungan kepada suku-suku
yang miskin dan lemah. Kelompok ini sangat berhasil dalam
mencapai berbagai tujuan/sasarannya. Hal ini bukanlah sebuah
langkah biasa. Langkah ini dengan cepat membawa perubahan
total pada tatanan peradilan di Makkah, dan penghargaan
masyarakat pun tertuju kepada remaja Muhammad (SAW). PEDAGANG YANG JUJUR
Kejujuran,
perilaku sopan-santun, kerja keras, dan kecerdasan pemuda
Muhammad (SAW) merebut hati setiap orang. Hampir seluruh
orang Quraisy adalah pedagang. Khadijah (RA) adalah seorang
janda kaya. Ia meminta Muhammad (SAW) untuk memasarkan barang-barang
dagangannya ke Syria.
Seorang
pendeta yang lain berkata kepada Muhammad (SAW) bahwa,
kelak ia akan menghapuskan penyembahan
berhala dan menyerukan agama yang benar. Muhammad (SAW)
kembali ke Makkah dengan membawa laba penjualan yang melimpah.
Khadijah
(RA) pun mengutus lagi misi perdagangan untuk kedua kalinya,
dan sekali lagi misi ini menghasilkan laba yang menggembirakan.
Maisarah, pelayan Khadijah (RA), menyertai Muhammad
(SAW) dalam dua perjalan dagang itu. Ia menuturkan secara
rinci berbagai kualitas yang dimiliki oleh Muhammad (SAW)
kepada Khadijah (RA). Muhammad (SAW) adalah juga seorang
pemuda yang menarik. Ketika itu Khadijah (RA) telah berusia
40 tahun, ia sangat tertarik dengan pribadi Muhammad (SAW)
yang baru berusia 25 tahun, dan berkeinginan menikah dengannya.
Maka, iapun menitip pesan kepada Maisarah untuk Muhammad
(SAW). Namun setelah pesan disampaikan, Maisarah kembali
kepadanya tanpa membawa jawaban.
Maka
ia meminta bantuan teman dekatnya, Nafisah untuk
menyampaikan pesan
yang sama kepada Muhammad (SAW). Nafisah pun menyampaikan
maksud
hati Khadijah dan memberikan motivasi kepada Muhammad
(SAW) agar bersedia menikahi Khadijah (RA). Akhirnya gayung
bersambut,
Muhammad menerima lamaran Khadijah dan merekapun menikah.
Setelah menikah, Muhammad (SAW) mengambil dua hal penting.
Pertama,
Muhammad (SAW) hendak menolong pamannya, Abu Thalib,
yang miskin. Maka diambilnya anak sang paman,
yakni Ali
bin Abi Thalib (RA), untuk diasuh dan dibesarkannya.
Kedua,
Khadijah (RA) menghadiahinya seorang budak yang ketika
itu masih beragama nasrani dan berasal dari
Syria, yaitu
Zaid bin Harits (RA). Muhammad (SAW) memerdekakannya.
Zaid (RA) pun sangat mengagumi kepribadian Muhammad
(SAW), maka
ia menolak kembali kepada orangtuanya dan rememilih
menghabiskan sisa umurnya menemani Muhammad (SAW). KETURUNAN DARI KHADIJAH (RA)
Keturunan pertama Muhammad (SAW) dari Khadijah (RA) adalah
seorang putra yang diberi nama Qasim; ia meninggal dunia
di usia kanak-kanak. Demikian juga dua putra beliau yang
lain pun meninggal semasa kanak-kanak. Keturunan beliau besama
Khadijah (RA) yang tumbuh dewasa adalah empat orang putri.
Mereka adalah, Ruqayyah (RA), Zainab (RA), Umi Kulsum (RA)
dan Fatimah (RA).
PRIBADI YANG TERPERCAYA (AL-AMIN)
Ketika Muhammad (SAW) berusia 35 tahun, terjadi dua bencana
di Makkah. Pertama, terjadi kebakaran pada Ka’bah.
Kedua, Banjir akibat hujan meruntuhkan sebagian dari Ka’bah.
Pembangunan kembali Ka’bah dilakukan oleh suku Quraisy.
Perselisihan tajam terjadi diantara sepuluh kelompok dalam
suku Quraisy, ini terjadi karena masing-masing kelompok
menginginkan kelompoknyalah yang mendapat kehormatan meletakkan
kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula di dinding Ka’bah.
Pertumpahan
darah nyaris terjadi sebagai pilihan penyelesaian perselisihan
ini. Namun, akhirnya mereka sampai pada kesepakatan
bulat untuk menyerahkan urusan ini kepada Muhammad (SAW),
mengingat bahwa diantara seluruh penduduk Makkah, beliau
dikenal sebagai sosok yang paling jujur dan condong pada
berlaku adil. Berbekal kecerdasan akal budi dan pandangan
yang jauh ke depan, Muhammad (SAW) dapat dengan singkat
menyajikan jalan keluar atas persoalan yang diperselisihkan.
Dimintanya
selembar kain dan dibentangkannya kain ini diatas tanah.
Kemudian, diletakkanlah Hajar Aswad di atas
kain
ini, dan masing-masing pimpinan kelompok secara bersama
memegang lembaran kain dan mengangkatnya ke dekat dinding
Ka’bah. Kemudian Muhammad (SAW) dengan tangannya
sendiri meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya
semula di dinding Ka’bah. WAHYU PERDANA
Muhammad
(SAW) memiliki kebiasaan merenung di sebuah goa yang disebut
goa Hira’. Di usianya yang ke-40, suatu
hal luarbiasa terjadi ketika beliau sedang berada di goa
ini. Malaikat Jibril (AS) hadir disini dan meminta Muhammad
(SAW) untuk membaca (dalam bahasa Arab; Iqra’! = bacalah!).
Muhammad
(SAW) pun menjawab, "Aku tak bisa membaca." Jibril
(AS) memeluknya dengan erat dan berkata sekali lagi, “Iqra!” Muhammad
(SAW) pun menjawab lagi, "Aku tak bisa membaca." Jibril
(AS) memeluknya lagi dengan sangat erat dan berkata untuk
ke-tiga kali-nya, “Iqra!” " Akhirnya, Muhammad
(SAW) sanggup mengikuti bacaan malaikat Jibril yang mengumandangkan
lima ayat pertama Surah Al-Alaq berikut ini (Al-Alaq, Ayat
1-5):
Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya. DUA PELAJARAN PENTING
Pertama,
Kalimat pertama wahyu ini; Iqra’ (yang berarti “Bacalah”);
menghadirkan arti penting dalam pendidikan dan dakwah Islam.
Sebagian ulama berpendapat bahwa menuntut ilmu Islam adalah
kewajiban setiap Muslim (fardu’ ain).
Didalam
Al-Qur’an
banyak terdapat ayat-ayat dimana Allah (SWT) memerintahkan
kita untuk mendahulukan mempelajari
fakta-fakta atau mencari ilmu pengetahuan, untuk selanjutnya
mempraktekkannya sesuai dengan pemahaman tentangnya.
Ini
berarti, bahwa pengetahuan atas prinsip-prinsip Islam
harus terlebih dahulu dikuasai oleh seseorang sebelum ia
menerapkannya. Melaksanakan Islam tanpa didasari pengetahuan
tidak sepatutnya dilakukan. Islam adalah satu-satunya
agama
yang mengedepankan pentingnya pendidikan dan pemahaman
semenjak awal kehadirannya.
Kedua,
setiap insan Muslim haruslah memulai segala sesuatu yang
dilakukannya dengan
menyebut nama Allah (SWT) [Basmallah].
Ini bermakna bahwa ia mengarahkan perhatian dan mengedepankan
penghargaan kepada Allah (SWT). Contohnya, ketika seorang
Muslim memulai makan dengan membaca basmallah, ia menyadari
bahwa bermacam-macam zat yang terkandung didalam makanannya
tercipta, terkandung gizi, terpelihara, dan tersedia
atas ke-Maha-Pemurahan Allah (SWT). Sesungguhnya perbuatan
ini
pada diri orang beriman membedakannya dari orang kafir,
dan juga menjadi indikator kemurnian dan kekuatan imannya
sebagai
Mukmin.
Allah
(SWT) telah mengajarkan dua pelajaran penting ini kepada
Rasulullah (SAW) dan para pengikutnya
sejak
tahap
paling
awal dari turunnya wahyu kepada Muhammad (SAW). SEORANG ISTRI YANG LUAR BIASA
Setelah
wahyu pertama di goa Hira’, Muhammad (SAW)
kembali ke rumah dengan membawa pengalaman yang tidak biasa
ini dan beliau sangat cemas terhadap keselamatannya. Istri
beliau, Khadijah (RA), menghibur dan menenteramkannya, juga
meyakinkannya bahwasanya Allah (SWT) tak akan memperlakukan
sesuatu yang membahayakannya mengingat bahwa beliau (SAW)
berperilaku sangat mulia. Khadijah menambahkan pula, “Engkau
memiliki hubungan baik dengan saudara-saudaramu sedarah,
engkau menolong yang lemah dan yang miskin, dan engkau sangat
ramah-tamah. Engkau menjunjung tinggi kebenaran”. Demikianlah,
Khadijah (RA) bukan hanya sosok perempuan yang tulus, cerdas,
dan seorang istri ideal, iapun seorang Muslim pertama yang
menerima dengan sepenuh hati apapun yang telah diwahyukan
kepada Muhammad (SAW).
Untuk
lebih menenteramkan hati sang suami, Khadijah (RA) mengajak
Muhammad (SAW) mengunjungi sepupunya,
Waraqah bin Naufal, yang memeluk dan mengamalkan agama
Nasrani yang benar.
Setelah menyimak penuturan Muhammad (SAW), Waraqah berkata, "Malaikat
yang telah menjumpaimu itu adalah juga yang dahulu datang
kepada Musa (AS) menyampaikan firman Allah (SWT). Semoga
saya masih hidup ketika kelak terjadi peristiwa dimana
masyarakat mengusirmu dari tanah kelahiranmu sendiri." Muhammad
(SAW) bertanya, "Akankah mereka benar-benar mengusirku?" Waraqah
berkata, "Masyarakat selalu bersikap tak bersahabat
terhadap seorang pembawa risalah seperti dirimu." Beberapa
hari setelah pertemuan itu Waraqah pun wafat.
Khadijah
(RA) menyerahkan seluruh harta dan berbagai sumber-daya
yang dimilikinya mengikuti arahan Nabi Muhammad (SAW)
demi menegakkan Islam. Ia tegar berdiri
di sisi sang suami dalam senang maupun susah. Sebagai contoh, ketika
para penyembah berhala di Makkah melancarkan boikot sosial
dan ekonomi kepada warga Bani Hasyim
dan Bani Al-Muthalib yang berlangsung selama tiga tahun. Kesulitan hidup
pun semakin tak tertahankan. Para pengikut Nabi (SAW)
terpaksa harus mengkonsumsi
dedaunan tumbuhan liar dan kulit hewan untuk bertahan hidup. Erangan
tangisan
anak-anak tak henti-hentinya karena sakit menahan lapar. Khadijah (RA)
yang sebelum masa boikot adalah warga kaya dan hidup
nyaman, bersama sang suami
pun ikut tak luput merasakan penderitaan sebagaimana yang lain selama
masa boikot itu.
Dua
orang anak perempuan Khadijah dipaksa bercerai oleh kaum
kafir, sebagai sarana menambah kepedihannya
dalam penderitaan itu. Merasa belum puas
dengan perlakuan itu, putrinya yang bernama Raqayyah, yang dinikahi
Utsman bin Affan
(RA) dijadikan sasaran berikutnya. Pasangan ini bahkan disiksa jauh
lebih parah sehingga mereka hijrah ke Habsyah.
Allah
(SWT) menyukai keteguhan iman, ketabahan, kesetiaan, dan
ketulusan
Khadijah (RA). Didalam hadits Bukhari, dirawayatkan oleh Abu Hurrairah
(RA), suatu hari
malaikat Jibril (AS) sedang duduk bersama Nabi Muhammad (SAW); Jibril
(AS) berkata kepada Nabi (SAW), "Khadijah (RA) sedang mendatangimu
dengan membawa makanan didalam sebuah kemasan. Manakala ia tiba, sampaikanlah
salam Allah
(SWT) dan salamku kepadanya. Berilah kabar gembira kepadanya tentang
sebuah rumah berhiaskan aneka batu permata disediakan untuknya di Surga
Firdaus. Suasana
disana amatlah tentram dan damai, tiada kegaduhan dari apapun juga.
Ia sedikitpun takkan mengalami kesulitan dan kepayahan di rumahnya
didalam Surga.” Betapa
ia seorang perempuan istimewa dan ditinggikan derajatnya. Jika para
Muslimah mampu menerapkan ketulusan dan kesabaran serupa terhadap para
suami mereka,
Allah (SWT) pun akan memberikan ganjaran serupa kepada mereka. WAHYU BERIKUTNYA YANG MENGGETARKAN
Wahyu ke-dua yang diturunkan adalah, tujuh ayat pertama
dari surat Al-Muddatstsir. Setiap ayatnya begitu singkat
namun sangat bertekanan dan bermakna sangat dalam.
Surah Al-Muddatstsir, Ayat 1-7:

1.
Hai orang yang berkemul (berselimut), [Wahai engkau Muhammad
(SAW). Engkau sedang beristirahat dengan nyaman,
bangkitlah untuk berjuang atau berjihadlah untuk menegakkan
kalimat
Allah (SWT)].
2.
dangunlah, lalu berilah peringatan! [Bangunlah dan peringatkanlah
manusia perihal akibat perilaku
mereka yang menentang Allah
(SWT). Didalam kalimat ini terkandung peringatan
akan datangnya Hari Kiamat.]
3.
dan Tuhanmu agungkanlah. [Tegakkanlah Keagungan Tuhanmu
di bumi ini. Berbagai bentuk
perlawanan terhadap
risalah ini hendaklah kamu tumbangkan]
4.
dan pakaianmu bersihkanlah, [Peliharalah kebersihan dirimu
baik luar
maupun dalam, juga jiwamu, yang
mana hal ini dengan
sendirinya menjadi daya-tarik terhadap orang
lain kepadamu.]
5.
dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, [Jauhkan
dirimu dari penyembahan terhadap
berhala-berhala.]
6.
dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan)
yang lebih banyak. [Janganlah
berharap
balasan yang besar atas setiap pengorbanan
yang engkau telah lakukan.
Teruslah berjuang dengan semangat untuk
melakukan pengorbanan yang lebih besar lagi.]
7.
dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. [Hadapilah
semua
tantangan
terhadap risalah
yang engkau emban dengan
penuh kesabaran untuk menggapai ridha
Allah (SWT).]
Ayat-ayat diatas menyatakan tujuan dan
sasaran risalah baru ini (Islam), jangka
pendek dan
jangka panjang. Pergerakan
ini bukan hanya bersifat religius namun
juga mencakup aspek sosial dan ekonomi.
Dengan
demikian Nabi
Muhammad (SAW) telah
diutus untuk melaksanakan perubahan/revolusi
simultan dibidang agama, sosial dan ekonomi.
|