“HISTORICAL
EVENTS OF MAKKAH”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja
PENAKLUKAN MAKKAH
(Tahun 8 Hijriyah)
Ditaklukannya
kota Makkah merupakan kemenangan yang paling bernilai penting
bagi Ummat Muslim, sebab dengan tercapainya
kemenangan ini berhala-berhala dan mereka yang menyembah
berhala telah dikeluarkan dari Baitullah (Ka’bah) dan
sekaligus telah tegaknya agama Allah. Penghargaan dan kehormatan
baru telah dianugerahkan kepada Rasulullah (SAW) beserta
para pengikut beliau.
Kekalahan
telak kaum kafir Quraisy yang kaya dan sombong memberikan
bukti bahwa Islam adalah
agama yang benar. Maka banyaklah suku-suku Arab yang lain
pun dengan sukacita dan sukarela memeluk Islam. KELICIKAN KAUM KAFIR
Selanjutnya
saya akan kemukakan secara ringkas keadaan yang mengarah
pada tercapainya kemenangan besar ini. Kaum Quraisy
Makkah telah melanggar perjanjian Hudaibiyah di bulan Dzulqaidah
tahun ke-6 Hijriyah. Kelicikan mereka adalah mengabaikan
dan meniadakan perjanjian itu. Ini karena mereka ketakutan
terhadap ummat Muslim dan berharap agar dilakukan perubahan
terhadap perjanjian itu. Maka mereka mengutus salah seorang
pemimpin mereka; Abu Sufyan; ke Madinah dengan maksud mengubah
isi perjanjian. Sesampai di Madiah yang ia kunjungi pertama
adalah anak perempuannya, Ummu Habibah (RA), yang juga istri
Nabi (SAW).
Manakala
Abu Sufyan baru saja hendak duduk diatas tilam yang tergelar
diatas lantai tanah rumah anaknya, Ummu
Habibah menggulung tilam itu seraya berkata kepada ayahnya, "Tilam
ini untuk Rasulullah (SAW). Engkau tak boleh mendudukinya
sebab engkau seorang penyembah berhala yang tak menentu." Abu
Sufyan merasa sangat kecewa dengan perlakuan putrinya itu.
Ia juga berkunjung kepada Abu Bakar (RA), Umar (RA), Ali
(RA), and Fatimah (RA) dan meminta pertolongan mereka. Mereka
semua menyambut dingin kedatangannya. Maka iapun patah-arang
dan pulang kembali ke Makkah.
Persiapan
untuk memasuki Makkah dengan kekuatan penuh pun dilakukan
oleh Rasulullah (SAW).
Beliau pun berdoa, "Wahai
Allah, aku mohon kepada-Mu janganlah ada seorangpun dari
mata-mata kaum kafir Makkah yang melihat kedatangan kami,
agar kami dapat menangkap mereka semua secara mendadak."
PERTOLONGAN ALLAH (SWT)
Beberapa
kali telah dilancarkan usaha oleh orang-orang Quraisy,
namun Allah (SWT) menggagalkan usaha itu. Pasukan Muslim
pun telah begitu dekat dengan Makkah. Kaum Quraisy telah
menjadi sangat kecut bercampur was-was disebabkan oleh kecurangan
mereka sendiri. Termasuk Abu Sufyan pemimpin mereka yang
biasanya berkeliling kota Makkah pada malam hari demi berjaga-jaga
atas bahaya yang mengancam. Suatu malam, Abbas (RA) paman
Nabi (SAW), berpapasan dengan Abu Sufyan. Abbas (RA) memberitahu
Abu Sufyan bahwa Rasulullah (SAW) dan pasukannya telah berada
di Makkah.
Abu
Sufyan berkata, "Kaum Quraisy sekarang
ini telah benar-benar berantakan akibat serbuan mendadak
ini." Abbas (RA) pun menasehatinya, "Jika seseorang
kami melihatmu, tentu ia akan membunuhmu. Aku sarankan kamu
ikut denganku dan aku yang akan meminta perlindungan atas
dirimu kepada Rasulullah (SAW)." Abu Sufyan pun meng-iya-kan
saran itu. Nabi (SAW) bertanya kepada Abu Sufyan, "Masih
sajakah kamu belum mengakui bahwa aku adalah Nabi utusan
Allah (SWT)?" Abbas (RA) pun menasehati Abu Sufyan, "Sebaiknya
engkau segera memeluk Islam sebelum seseorang membunuhmu." Maka
Abu Sufyan pun berkata, "Aku bersaksi bahwa tiada yang
patut disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah Rasulullah (SAW)." Abbas (RA) meminta agar Rasulullah
(SAW) memberi penghargaan kepada Abu Sufyan mengingat ia
adalah seorang pemimpin Quraisy yang disegani.
Maka
Nabi (SAW) pun bersabda, "Barang siapa masuk kedalam rumah
Abu Sufyan ia aman, barang siapa masuk kedalam rumahnya sendiri
ia aman, barang siapa masuk kedalam Masjidil-Haram pun juga
aman." PASUKAN MUSLIM MASUK KOTA MAKKAH
Khaled
bin Walid (RA) bersama pasukannya bergerak masuk kota Makkah
dari sisi kanan, Zubair bin Awwam (RA) dari sisi
kiri, sementara Abu Ubaidah (RA) memimpin pasukan yang berjalan
kaki. Rasulullah (SAW) bergerak menuju Baitullah dalam kawalan
kaum Anshar dan Muhajirin. Pasukan Muslim tak mendapati hambatan
apapun kecuali sekelompok kecil pemuda Quraisy tak dikenal
yang berusaha menghentikan langkah Khalid bin Walid (RA).
8 orang dari mereka tewas dalam pertempuran singkat itu,
sementara sisanya tunggang-langgang meninggalkan pertempuran.
Dua orang pejuang Muslim, entah bagaimana terpisak dari kelompok
pasukannya. Mereka berusaha menuju Ka’bah melalui jalur
yang lain, maka mereka berdua pun terbunuh oleh pasukan kafir.
Seluruh
pasukan Muslim bergabung dengan Nabi (SAW) di bukit Shafa
yang tepat berada di perbatasan Masjidil Haram. MEMASUKI MASJIDIL HARAM
Rasulullah
(SAW) masuk ke dalam Masjidil Haram, mencium Hajar Aswad
dan melanjutkan dengan berkeliling Ka’bah
dengan menunggang onta beliau. Pada waktu itu terdapat 360
berhala yang tergeletak di atas atap Rumah Allah (SWT).
Beliau
(SAW) ketika itu membawa busur panah, disentuhnya berhala-berhala
itu dengan busur panah beliau sambil mengumandangkan Ayat
ke-81 dari Surah Al-Isra’
Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil
telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah
sesuatu yang pasti lenyap.
Setiap
berhala yang tersentuh busur panah Rasulullah (SAW) jatuh
terjerembab dengan muka menghadap ke tanah. Beliau
(SAW) pun memanggil Usman bin Talhah dan memintanya menyerahkan
kunci pintu Ka’bah. DI DALAM BAITULLAH
Rasulullah
(SAW) melihat banyak gambar di dalam Ka’bah,
diantaranya ada yang menggambarkan Nabi Ibrahim (AS) dan
Nabi Ismail (AS) sedang menggenggam anak-panah undian di
tangan mereka. Seluruh gambar itu pun disingkirkan oleh Nabi
Muhammad (SAW) dari dalam Baitullah.
Rasulullah
(SAW) menutup pintu Ka’bah. Waktu itu, Bilal
(RA) dan Usamah (RA) bersama Rasulullah (SAW) berada didalam
Ka’bah. Beliau (SAW) mengerjakan shalat didalam Ka’bah,
setelah itu berkeliling ruangan Ka’bah sambil berdziikir
Allahu Akbar, Allahu Akbar.Selanjutnya beliau keluar dari
Baitullah dan menyaksikan bahwa kaum Quraisy telah resah
menantikan apa yang akan dilakukan oleh Rasulullah (SAW)
selanjutnya.
Sambil
berpegangan pada pintu Ka’bah
Rasulullah (SAW) menyampaikan khutbah kepada kaum Quraisy.
Beliau
(SAW) bersabda, "Tiada tuhan yang patut disembah
kecuali Allah (SWT). Hanya Dia. Tidak ada sekutu bagu-Nya.
Dia memenuhi janji-Nya dan memberi pertolongan kepada
hambanya yang patuh kepada-Nya, sendirian saja Dia mengalahkan
semua
musuh-musuh-Nya … Allah (SWT) telah menghancurkan
sifat sombong dan membanggakan diri dari para kakek-moyang
kalian.
Semua manusia adalah keturunan Adam (AS) dan Adam terbuat
dari tanah." Kemudian Rasulullah (SAW) membacakan
Surah Al-Hujarat, Ayat-13.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Sementara
sambil menyimak khutbah fikiran orang-orang Quraisy diliputi
kekhawatiran. Terlintas dalam benak
mereka berbagai
hal yang mungkin akan terjadi mengingat bahwa dahulu
mereka telah menyiksa Nabi (SAW) dan para pengikutnya,
pernah
berusaha membunuh mereka dan mengusir mereka dari
tanah kelahiran.
Kaum kafir itupun telah memicu tiga pertempuran besar
dengan tujuan mengenyahkan Ummat Muslim dari muka
bumi. Maka kaum
kafir Quraisy pun berfikir bahwa Rasulullah (SAW)
boleh jadi akan memerintahkan pengikutnya untuk membunuh
mereka semua
ataupun mengambil alih apapun yang mereka miliki
atau,
paling tidak, mereka semua akan dijadikan budak.
Rasulullah
(SAW) bertanya kepada orang-orang Quraisy: "Apakah
yang kalian kira akan kuperbuat terhadap kalian pada
hari ini?" Mereka berkata, "Kebaikan, sebab engkau
adalah kerabat kami yang berbudi luhur." Sampai disini,
Rasulullah (SAW) mengatakan kepada mereka," Akan kuperlakukan
kalian sebagaimana halnya Nabi Yusuf (AS) memperlakukan
saudara-saudaranya." Dan
Rasulullah (SAW) menyatakan pemberian maafnya yang
begitu besar, beliau pun membacakan kalimat maaf
Nabi Yusuf (AS)
yang terabadikan dalam Surah Yusuf Ayat-92:
Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada
cercaan terhadap kamu,
Dengan
kata lain, Nabi (SAW) mengatakan, "Kalian bebas
dari segala tuntutan. Tak seorangpun akan membahayakan kalian
pada hari ini." Betapa tak ada contoh lain
dalam sejarah kehidupan manusia, sebuah pemberian
maaf
yang begitu besar
kepada musuh yang sangat haus-darah. BISIK-BISIK ANTAR PEMUKA QURAISY
Waktu
shalat Dzuhur telah masuk. Rasulullah (SAW) menyuruh Bilal
(RA) untuk mengumandangkan Adzan. Bilal (RA) naik ke
atap Ka’bah dan mengumandangkan Adzan. Sementara Bilal
(RA) sedang adzan, tiga pemuka Quraisy yang berpengaruh saling
berbisik satu sama lain sambil duduk di pelataran Ka’bah.
Attab bin Asid berbisik kepada Harits bin
Hisyam, "Untunglah ayahku sudah meninggal
dunia dan tak sempat menyaksikan ‘monyet hitam’ ini
berteriak-teriak di atas rumah suci ini. Andai ia menyaksikan
kejadian ini tentulah ia akan sangat bersedih." Haris
menimpali, "Dengarlah, jika aku yakin bahwa ia (maksudnya
Muhammad (SAW)- pent.) benar-benar seorang Nabi, Tentu aku
menjadi pengikutnya." Orang ketiga, yakni Abu Sufyan,
berkata, "Aku takkan berkomentar apapun. Jika ku lakukan
juga, bahkan bebatuan di sekeliling kita ini akan menyampaikan
pembicaraan kita ini kepadanya."
Jibril
(AS) menyampaikan kepada Nabi (SAW) perihal bisik-bisik
mereka itu. Maka beliau
(SAW) pun berjalan menghampiri mereka
bertiga dan berkata, "Aku
mengetahui apa yang baru saja kalian perbincangkan." Dan, beliau (SAW)
kemudian mengulang isi percakapan mereka. Maka serentak Harits and Attab
berucap, "Kami
bersumpah bahwa tidak ada orang disekitar manakala kami tadi saling berbisik,
sehingga ia dapat mendengar kami dan melaporkan isi pembicaraan kami kepadamu.
Maka kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah,
dan bahwa engkau adalah Rasul (Utusan) Allah."
Nabi
Muhammad (SAW) meninggalkan Makkah setelah tinggal disana
selama 13 hari. Hal yang mengagumkan adalah,
Attab bin Asid diangkat oleh Rasulullah
(SAW)
sebagai gubernur Makkah. Beliau (SAW) juga mengembalikan kunci pintu Ka’bah
kepada Utsman bin Thalhah yang pada waktu itu masih belum beriman. Utsman
bin Thalhah sangat terkejut dan heran atas kebaikan budi Rasulullah (SAW)
kepadanya,
maka ia pun serta merta memeluk Islam. Rasulullah (SAW) mengumumkan bahwa
kunci Ka’bah akan tetap berada di tangan keluarga Utsman bin Thalhah
hingga datangnya Hari Kiamat. KEKHAWATIRAN KAUM ANSHAR
Kaum
Anshar berbincang-bincang diantara mereka. Makkah adalah
kota asal Nabi (SAW). Di kota inilah beliau (SAW) dilahirkan.
Kini Allah (SWT) telah menganugerahkan kemenangan atas kota
suci ini kepadanya. Tentu Rasulullah (SAW) akan lebih cenderung
untuk memilih tetap tinggal di tanah kelahirannya. Selama
pembicaraan ini berlangsung, Rasulullah (SAW) sedang khusyuk
berdoa di bukit Shafa. Usai memanjatkan doa, beliau memanggil
kaum Anshar dan bertanya kepada mereka, "Apakah yang
sedang kalian perbincangkan antar kalian sendiri?" Mereka
pun merasa malu. Setelah Rasulullah (SAW) mendesak untuk
diberitahu mereka pun mengungkapkan apa yang menjadi kekhawatiran
mereka kepada beliau (SAW). Maka Rasulullah (SAW) memberikan
penegasan kepada kaum Anshar, "Jangan khawatir, kini
hidup dan mati aku bersama kalian." Dan kaum Anshar
pun merasa sangat bahagia.
Demikianlah
adanya, Sepanjang hayatnya, Rasulullah (SAW) tetap bermukim
di Madinah walaupun setelah
Makkah ditaklukan.
Hal ini menunjukkan betapa berartinya kota Madinah. PENGHANCURAN BERHALA-BERHALA UTAMA
Setelah
penaklukan Makkah, Rasulullah (SAW) mengutus Khalid bin
Wallid (RA) untuk menghancurkan ‘Uzza, Amru
bin Ash (RA) diutus untuk menghancurkan Suwwa, dan Sa'ad
bin Zaid (RA) diutus untuk menghancurkan Manaat.
Dengan demikian agama Allah telah ditegakkan
di dalam dan di sekeliling kota Makkah.
BERBONDONG-BONDONG MEMELUK ISLAM
Dua ribu orang lelaki dan perempuan dari suku Quraisy memeluk
Islam dan berbaiat kepada Rasulullah (SAW) di bukit Shafa.
Banyak suku-suku bangsa Arab yang lainnya pun, yang sebelumnya
telah yakin atas kenabian Muhammad (SAW), namun selama ini
enggan menyatakan lantaran sepak-terjang kaum Quraisy, kini
pun bersama-sama dalam jumlah besar memeluk Islam. Perhatikan
Surah An-Nasr, Ayat 1-3
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan
kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun
kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.
Ketika
Rasulullah (SAW) membacakan ayat-ayat ini, para sahabat
nampak sangat berbahagia, namun Abbas (RA) mulai menangis
terisak-isak. Rasulullah (SAW) pun menanyainya gerangan
apa yang menyebabkan tangisnya. Abbas (RA) berkata, "Ini
adalah pertanda berakhirnya tugas risalah yang engkau emban
dan boleh jadi Allah (SWT) akan segera memanggilmu untuk
kembali kepada-Nya dalam waktu dekat." Rasulullah
(SAW) sependapat dengan pemikirannya.
Sebagaimana
sekarang kita ketahui, Surah An-Nasr adalah surah terakhir
yang
diwahyukan secara utuh kepada Rasulullah (SAW),
dan beliau (SAW) wafat delapan puluh hari setelah turunnya
surah ini.
|