“Lessons
for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno
MEMULIAKAN MASJID (RESPECT FOR MASAJID)
Nabi
SAW bersabda, “Semua orang dilahirkan dalam keadaan
fitrah atau dengan iman yang benar. Adalah orang tuanya dan
lingkungannyalah yang mengalihkan dia dari keimanan yang
benar dan membuat dia menjadi Yahudi atau Kristen atau lainnya”.
Karena itu ajaran agama Islam sangat berlawanan dengan kepercayaan
Kristen yang menganggap bahwa tiap-tiap manusia lahir dengan
membawa dosa sejak lahir, dan Yesus disalib untuk mencuci
bersih dosa-dosa orang Kristen.
Karena
kehadiran keimanan yang sangat benar yang terpatri dalam
sanubari manusia kepada
Allah SWT inilah sehingga mereka
menerima petunjuk yang dikirim kepada mereka melalui para
Nabi. Allah SWT membimbing siapapun yang Ia kehendaki.
Di manakah bisa ditemukan orang-orang seperti ini? Orang-orang
ini biasanya ditemukan di dalam rumah Allah SWT atau masjid
yang mendirikan shalat dan membiasakan diri mereka dengan
banyak-banyak berzikir kepada Allah SWT.
Oleh
karena itu kita harus memuliakan - menunjukkan rasa hormat
yang besar
terhadap masjid. An Nur 36 - 38
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan
untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu
pagi dan waktu
petang, laki-laki
yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan
zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan
menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi
balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan
Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Anas
RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun
yang mencintai Allah SWT, harus mencintai aku. Siapapun
yang mencintai aku harus
mencintai Sahabat-Sahabatku. Siapapun yang mencintai Sahabat-Sahabatku,
harus mencintai Al Qur’an. Siapapun mencintai Al
Qur’an, harus mencintai
masjid. Masjid adalah rumah Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan
kita untuk memuliakannya. Allah SWT telah memberkati tempat
ini dan orang-orang yang menempatinya
untuk urusan yang benar. Allah SWT melindungi masjid-masjid ini dan penghuninya.
Para penghuni ini mendirikan shalat di dalam masjid-masjid ini. Allah
SWT memenuhi kebutuhan mereka dan mengabulkan doa-doa mereka.
Allah SWT melindungi harta-harta
mereka selagi mereka berada di dalam masjid.” (Qurtubi)
Ada
banyak karakteristik masjid yang mengangkat derajatnya
di atas daripada tempat-tempat
lain. Abu Omama RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Siapapun
yang memulai dari rumahnya menuju suatu masjid dengan mengambil wudhu
akan mendapat pahala yang setara dengan pahala seseorang yang meninggalkan
rumah
nya dengan Ihram untuk Haji. Siapapun yang telah mempunyai wudhu kemudian
meninggalkan rumahnya menuju masjid untuk shalat akan mendapat pahala
setara dengan umrah.
Jika orang ini tinggal di dalam masjid setelah shalat dan menantikan
shalat yang berikutnya, namanya akan dicatat dalam Illiyiin.” (Muslim)
Burada
RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang berangkat
ke masjid dalam kegelapan, sampaikan padanya bahwa ia akan mendapat
penerangan pada Hari Akhirat”. (Muslim)
Abu
Hurrairah RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Berdo’a
di dalam satu masjid adalah lebih baik daripada berdo’a di
rumah atau di tempat lain.” Sesungguhnya, ketika seseorang
berangkat dari rumahnya menuju masjid dengan berwudhu dengan niat
hanya untuk berdo’a disana,
maka tingkatannya diangkat oleh Allah SWT lebih tinggi dan semakin
tinggi seiring dengan setiap langkahnya sampai ia tiba di masjid.
Ketika ia sedang menunggu
di dalam masjid berdo’a berjamaah, ia menerima pahala dari
Allah SWT seolah-olah ia sedang mendirikan shalat. Malaikat akan
terus berdo’a
untuk dia selama menunggu ini asalkan ia tetap menjaga wudhunya
dan tidak merugikan siapapun. Para Malaikat meminta kepada Allah, ‘Ya
Allah SWT limpahkanlah RahmatMu kepada orang ini dan ampunilah
dosanya’” (Muslim)
Diriwayatkan
oleh Hakam bin Umar RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Hiduplah
di dunia ini seolah-olah kamu adalah seorang tamu disini. Anggaplah
masjid sebagai rumahmu. Lunakkanlah hatimu dan bukalah hatimu
untuk menjawab panggilan
Allah SWT. Ingatlah akan karunia yang banyak dari Allah SWT yang
telah dianugerahkanNya padamu. Menangislah karena kesadaran atau
ketakutan terhadap Allah SWT. Jangan
turutkan bujukan duniawi untuk membangun istana yang mewah yang
mungkin tidak sempat kau huni. Hindarilah menghimpunkan kekayaan
melebihi kebutuhanmu. Jangan
mencoba untuk mengikuti hawa nafsu yang mana kamu tidak mungkin
mencapainya.” (Qurtubi)
Abu
Al Darda RA menasihati anaknya untuk menganggap masjid
sebagai rumahnya karena ia mendengar
Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang menganggap suatu
masjid sebagai rumahnya, Allah SWT menjamin kedamaian hati
baginya dan akan membuat penyeberangan di ‘Jembatan Siratalmustaqim’ mudah
baginya pada Hari Akhirat.” (Qurtubi)
Nabi
SAW bersabda, “Di
akhir zaman sebagian orang akan duduk dalam berbagai kelompok
di dalam masjid dan hanya sibuk membicaraan duniawi yang menandakan
cintanya terhadap kehidupan duniawi. Jangan duduk dengan mereka,
karena Allah
SWT tidak memerlukan orang-orang seperti itu di dalam masjid.” (Qurtubi)
Said bin Al Mussayib meriwayatkan, “Siapapun yang sedang
duduk di dalam rumah Allah SWT, ia sedang duduk bersama Allah.
Ia seharusnya hanya melibatkan
dirinya dalam kebaikan dan pembicaraan yang baik.” (Qurtubi)
Para
ulama sudah menguraikan sedikitnya lima belas hal untuk
memuliakan masjid:
1. Ucapkan salam ketika masuk ke dalam masjid jika orang-orang
tidak sedang shalat atau membaca Al Qur’an atau berzikir. Jika tidak ada orang di
masjid, ucapkanlah “Salam bagi kita dan bagi orang-orang yang saleh” Tentu
saja, Malaikat akan menjawab salam ini, jika kelihatannya tidak ada siapapun
disana.
2. Dirikanlah shalat dua raka’at untuk memuliakan tempat ini (disebut
Tahiyyatul Masjid), asalkan bukan pada salah satu dari ke tiga waktu
dimana dilarang untuk shalat. Tiga waktu itu adalah ketika matahari terbit
dan terbenam,
dan ketika ia tepat berada di atas kepala di siang hari.
3. Jangan sibuk membicarakan perniagaan di dalam masjid.
4. Jangan mengeluarkan pedang/senjata.
5. Jangan membuat pengumuman tentang barang-barang hilang.
6. Jangan mengeraskan suara di dalam masjid.
7. Jangan sibuk membicarakan urusan duniawi.
8. Jangan bertengkar dengan orang lain.
9. Jangan memaksakan diri diantara dua orang yang bersebelahan
jika tidak cukup tempat.
10. Jangan berjalan di depan seseorang yang sedang mendirikan
shalat.
11. Usahakan untuk tidak meludah atau membersihkan hidung
di dalam masjid.
12. Jangan membunyikan persendian tulang.
13. Jangan bermain-main dengan bagian manapun dari tubuh.
Terutama ketika mendengarkan Khutbah Jum’at.
14. Jagalah kebersihan dan jangan membawa anak-anak yang
masih bayi atau orang gila ke dalam masjid.
15. Sibukanlah diri dengan banyak-banyak berdzikir kepada
Allah SWT. (Qurtubi)
Di
dalam ayat 37 An Nur dijelaskan tanda-tanda laki-laki
yang selalu berada di dalam masjid. Kata ‘laki-laki’ di
dalam ayat ini menunjukkan bahwa masjid itu sesungguhnya
untuk digunakan oleh laki-laki.
Shalat untuk
seorang perempuan lebih baik dilakukan di dalam rumah
nya daripada di dalam masjid.
Ummi
Salma meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Masjid
yang terbaik bagi seorang perempuan adalah di dalam rumahnya”.
(Musnad Ahmad dan Bahiqi)
Ini
berarti bahwa lebih besar pahalanya bagi seorang perempuan
untuk shalat di
dalam rumahnya. Bagaimanapun,
dia boleh
berada di dalam
masjid jika
ada suatu tempat yang terpisah untuk wanita-wanita.
Wanita-wanita perlu dianjurkan
untuk pergi ke suatu masjid jika ada beberapa kegiatan
di bidang pendidikan yang berlangsung di dalamnya.
Pendidikan adalah
sangat penting dan
sungguh disesalkan bahwa wanita-wanita mendapat
peluang yang
sangat terbatas untuk
menerimanya. Seharusnya, tentu saja, diusahakan
adanya tempat yang terpisah untuk wanita-wanita di masjid.
Di
dalam ayat 37 An Nur, tanda-tanda orang yang sering berada
di dalam masjid ini diuraikan dengan
sangat
tepat:
(a). Perniagaan dan jual beli tidak mengalihkan
perhatian mereka dari banyak-banyak berdzikir
kepada Allah
SWT.
(b). Mereka mendirikan shalat.
(c). Mereka membayar Zakat.
(d). Hati mereka bergetar bila mengingat Hari
Akhirat ketika mata dan hati akan dijungkirbalikkan
karena
kengerian terhadap
Hari
Akhirat itu. Karenanya
penghuni masjid ini tidak pernah menyombongkan
segala bentuk ibadahnya terhadap Allah SWT. Mereka
memilih
merendahkan
dirinya dalam mencari-cari
Rahman Allah
SWT.
Berikut ini adalah suatu pertanyaan yang baik,
siapakah yang berhak menjalankan urusan suatu
masjid? Jawaban
terhadap pertanyaan ini
disampaikan dalam
At Taubah 18
Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
hari
kemudian, serta tetap
mendirikan shalat,
menunaikan
zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain
kepada Allah, maka merekalah orang-orang
yang diharapkan termasuk golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk.
Karenanya tanda-tanda orang yang pantas menjalankan
urusan suatu masjid adalah sebagai berikut:
(a). Mereka beriman kepada Allah SWT.
(b). Mereka beriman kepada Hari Akhirat.
(c). Mereka mendirikan shalat.
(d). Mereka membayar Zakat.
(e). Mereka tidak takut kepada siapapun kecuali
Allah SWT.
Abu
Said Al Khudri RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “Kamu
harus bersaksi terhadap keimanan seseorang
jika ia datang ke masjid secara teratur.” (Tirmidzi,
Ibnu Majah)
Salman
Faris RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun
yang datang ke masjid, ia seperti seorang
tamu yang berniat untuk mengunjungi Allah
SWT dan Allah SWT menghormati tamu Nya.” (Mazari)
Kata “ya’muru” di
dalam ayat 18 At Taubah berarti:
(a). Untuk membangun masjid.
(b). Untuk memelihara masjid.
(c). Untuk menjalankan urusan masajid.
(d). Untuk menggunakan masjid untuk
banyak-banyak berdzikir, shalat dan pendidikan.
Dalam
pelaksanaannya, tidak dibenarkan untuk melarang seseorang
menggunakan
suatu masjid
untuk banyak-banyak
berzikir kepada
Allah SWT dan shalat.
Al Baqarah 114
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada
orang yang menghalang-halangi menyebut
nama Allah
dalam Masjid-Masjid-Nya,
dan berusaha
untuk merobohkannya? Mereka
itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya
(Masjid Allah), kecuali dengan rasa
takut (kepada
Allah). Mereka
di dunia mendapat
kehinaan dan
di akhirat
mendapat siksa yang berat.
Karenanya
melarang orang-orang untuk menggunakan suatu masjid adalah
sangat
berdosa. Menurut
suatu hadis, salah
satu tanda
telah dekatnya
Hari Akhirat
adalah bahwa masjid akan dibangun
sangat mewah, tetapi orang-orang yang hadir
pada setiap masjid
sangat
sedikit.
Ali
RA meriwayatkan ada enam perihal penting yang menunjukkan
perilaku yang
manusiawi
dan terhormat.
Sebanyak
tiga hal bisa diamati ketika
kita berada
didalam rumah, dan tiga yang
lain ketika sedang dalam perjalanan:
1. Membaca Al Qur’an.
2. Mengunjungi masjid secara teratur.
3. Mengumpulkan orang-orang yang
berjuang di jalan Allah SWT.
4. Berbagi makanan dengan orang
miskin.
5. Memperlihatkan akhlak yang
baik.
6. Memperlakukan musafir dengan
ramah sambil tetap menjaga diri
kita di dalam
aturan
Allah SWT.
Semoga
Allah menerima shalat kita dan ibadah-ibadah lain di
dalam
masjid,
dan membuat kita
menjadi orang yang selalu
mengunjungi
rumah Allah
SWT (masjid) secara teratur.
Amiin
|