s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
BERPRASANGKA, MEMATA-MATAI, BERGUNJING
Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Hujurat Ayat 12,
Wahai orang-orang beriman, jauhkanlah dirimu dari banyak
berprasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah perbuatan
dosa. Dan jangan pula saling memata-matai maupun menggunjing
satu sama lain. Adakah salah seorang diantaramu gemar memakan
daging mayat saudaramu sendiri? Pastilah kamu merasa jijik!
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima
taubat lagi Maha Penyayang.
Didalam ayat ini Allah SWT mengajarkan kepada kita tentang
hak untuk saling dihormati dan etika sosial (tatakrama bermasyarakat).
Kita diperintahkan-Nya untuk tidak mengacaukan suasana dalam
bentuk berprasangka, memata-matai, maupun bergunjing perihal
orang lain di keseharian hidup kita.
Marilah kita telaah satu-persatu perilaku yang dilarang Allah
SWT ini, mulai dari berprasangka. Ada dua macam prasangka,
prasangka baik (Khusnudh-Dhan) dan prasangka buruk (Su’udh-Dhan).
Imam Abu Bakr Jashash didalam buku beliau Al-Ahkamul-Qur’an
membagi prasangka kedalam empat kategori.
Empat kategori itu didasarkan pada sifat prasangka itu, yakni:
Haram (dilarang), Wajib (harus dilakukan), Mustahab (dapat
dimengerti) dan Mubah (dapat diterima)
Sebagai contoh prasangka yang dilarang adalah seseorang yang
selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Tuhan pasti
akan menyiksanya dan dirinya telah berputus-asa atas pengampunan
dan kasih-sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
“
Hendaklah kamu senantiasa berbaik sangka kepada (senantiasa
mengharapkan kebaikan dari) Allah sehingga maut merengutmu” (Muslim)
Dan didalam Hadits Qudsi Allah berfirman,
“
Aku perlakukan hamba-Ku sebagaimana sangkaannya terhadap-Ku.” (Bukhari – Muslim)
Adapun Contoh prasangka yang wajib adalah, semisal anda tidak
mengetahui arah Kiblat dan tak seorangpun orang dapat menunjukkannya,
maka anda dapat mengambil ketetapan terbaik yang bisa anda
lakukan.
Contoh prasangka yang bersifat mustahab adalah selalu berperasaan
nyaman terhadap setiap insan Muslim. Namun demikian dapat
dimengerti berlaku waspada dalam pergaulan sehari-hari tanpa
harus menduga-duga orang lain sebagai pencuri atau pengkhianat
tanpa alasan yang cukup.
Adapun prasangka yang bersifat Mubah adalah, jika seseorang
tidak yakin dengan jumlah raka’at shalat yang telah
dilakukannya, adakah tiga atau empat, maka bisa menggunakan
keyakinan berapa yang paling kuat dalam ingatan. Selain dari
itu semua prasangka tergolong dalam kebathilan atau haram
menurut ajaran Islam.
Marilah selanjutnya kita telaah perihal memata-matai. Mencari-cari
dan mengungkapkan rahasia orang lain adalah perbuatan terlarang.
Maka, mencuri-dengar (menguping) pembicaraan orang secara
sembunyi-sembunyi, atau dengan cara berpura-pura tidur, termasuk
dalam perbuatan memata-matai orang lain.
Namun, jika itu dilakukan karena adanya kemungkinan dari
kelompok lain yang membahayakan diri anda atau membahayakan
kaum Muslim yang lain, maka hal ini diperbolehkan.
Kini giliran membahas perihal bergunjing atau ghibah, Rasulullah
SAW bersabda bahwa, yang dimaksud dengan ghibah adalah membicarakan
perihal orang lain yang mana bila orang yang dibicarakan
itu mendengar pembicaraan perihal dirinya itu maka ia menjadi
sakit-hati atau kecewa.
Oleh karena itu, membicarakan ihwal seseorang tanpa kehadirannya
adalah perbuatan terlarang walaupun pembicaraan itu benar
adanya (sesuai dengan kenyataan). Bilamana yang dibicarakan
itu kebohongan belaka maka itu adalah dosa yang lebih besar
lagi yang disebut Buhthan (tuduhan bohong).
Sangatlah penting untuk diingat bahwa mencari-cari kesalahan
orang lain ataupun melontarkan sindiran pedas, untuk mencemarkan
nama seseorang didalam Al-Qur’an disebut Lumz. Perhatikanlah
firman Allah didalam Surat Al-Hujurat Ayat 11,
... Janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain ...
Disini mengandung pesan bahwa, ketika kamu mencari-cari cela/keburukan
orang lain, mereka pun akan berbalik mencari-cari cela/ keburukanmu.
Keindahan kalimat Al-Qur’an disini adalah bahwa, mencari-cari
keburukan orang lain sama saja dengan menemukan keburukan
diri sendiri. Sebagaimana juga Allah SWT berfirman, didalam
Surat An-Nisaa’ Ayat 29
Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri
Yang dimaksud disini, jika kamu membunuh orang lain, kelompok
merekapun akan berusaha membunuhmu.
Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat Al-Humazah
Ayat 1,
Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela
Bahadar Shah Zafar dalam bahasa Urdu bertutur, “Sewaktu
aku tidak mengenal diriku sendiri, aku selalu mencari kesalahan/kejelekan
orang lain. Ketika aku memusatkan perhatian pada kesalahan/kejelekanku,
tak bisa kudapatkan seorangpun yang lebih buruk daripada
diriku.
Didalam Surat Al-Hujurat Ayat 12, Allah SWT memperjelas bahwa
mencemarkan nama seorang Muslim lain yang tidak sedang berada
di tempat itu, sama saja dengan memakan daging mayat saudaranya,
yang mana hal ini jelas dibenci oleh setiap diri. Dikatakan
demikian karena, itu merupakan dosa yang paling menjijikkan.
Perlu diingat bahwa jika orang yang direndahkan itu hadir
ditempat ia diolok-olok, ia bisa memperoleh peluang membela
diri walaupun pada suasana semacam ini setiap orang tidak
memiliki keberanian untuk membela diri. Meskipun demikian,
jika ia digunjingkan sewaktu tidak berada di tempat itu maka
luka hatinya tentu mendalam dan selalu membekas. Penggambaran
bergunjing yang sedemikian itu dimaksudkan oleh Allah SWT
agar kita mengembangkan diri sebagai pembenci kejahatan terselubung
ini.
Bergunjing tidak hanya dilakukan terbatas dengan lidah saja.
Bisa juga dilakukan dengan mata, tangan, dan gerak-gerik
yang lain.Misalnya saja, menirukan berjalannya orang pincang
untuk meledeknya.
Rasulullah SAW bersabda,
“
Menggunjing adalah dosa yang lebih buruk dari berzina” (?At-
Tabrani)
Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah SAW, diriwayatkan
oleh Abu Said dan Jabir didalam At-Tabrani, “Allah
boleh jadi mengampuni seseorang yang telah berzina yang kemudian
menyesali perbuatannya dan memohon ampunan-Nya. Namun Allah
SWT tidak akan memaafkan seseorang yang menggunjingkan orang
lain, sebelum penderita gunjingan itu memaafkannya.”
Suatu kali Rasulullah SAW menunjuk kearah dua buah kuburan
dan memberitahu para sahabat bahwa kedua orang ahli kubur
itu sedang mendapat siksa didalam kuburnya. Satu dari mereka
terbiasa menggunjingkan orang lain semasa hidupnya, satunya
lagi karena ketika buang air kecil tidak berhati-hati sehingga
tetesan air seninya terpercik ke pakaian dan badannya. (Bukhari
dan Muslim)
Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW pernah menasehati
istri beliau Aisyah RA, “Berhati-hatilah kamu dengan
apa yang dinamakan dosa-dosa kecil. Semua itu dapat menyebabkan
siksaan yang sangat pedih didalam kubur.”
Sewaktu dalam peristiwa Mi’raaj, Nabi Muhammad SAW
melihat banyak orang dengan kuku-kukunya terbuat dari tembaga
merah, mereka sedang mencakari wajah dan dada mereka sendiri
hingga robek-robek. Rasulullah SAW pun bertanya kepada Jibril
perihal mereka. Malaikat Jibril menjawab, “Mereka sedang
disiksa karena kegemaran mereka ‘makan daging bangkai
saudaranya’ semasa hidup mereka, yakni mereka dahulu
berkebiasaan menggunjing dan mencemarkan nama orang lain.”
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda
bahwa, membunuh sesama Muslim secara tidak adil (dengan alasan
tak masuk akal), memakan harta orang lain secara bathil,
ataupun mencemarkan nama saudaranya sesama Muslim adalah
perbuatan haram. (Muslim)
Masih dari Abu Hurairah RA, diriwayatkannya pula bahwa, Rasulullah
SAW bersabda, “Seseorang yang tidak meninggalkan berbicara
dusta/bohong, maka tidak dipedulikan oleh Allah SWT apa-apa
yang ditinggalkannya selama ia berpuasa (makan, minum dll).
Dan ibadah puasanya tidak akan memperoleh ganjaran.
Imam Al-Ghazali didalam kitab beliau Ihya’ullumuddin
menuliskan bahwa seseorang telah biasa menggunjingkan Hassan
Basri, maka Hassan Basri mengirimi orang itu sekantung kurma
sebagai hadiah atas usaha orang tersebut menggunjingkan dirinya.
Hassan Basri juga mengirim pesan berikut, “Dengan bergunjing
berarti anda telah memindahkan nilai amal kebajikan anda
kepadaku. Aku sadari bahwa kurma ini bukanlah hadiah sepadan
untuk kebaikan anda kepadaku. Aku berharap anda bersedia
menerima hadiah yang aku sampaikan dengan kerendah-hatian
ini.
Perlu diingat, bahwa tidak juga diperbolehkan menggunjing
terhadap anak-anak, orang sakit jiwa, ataupun orang kafir
yang tinggal di negeri Muslim.
Adapun hal-hal berikut ini tidak termasuk dalam perkara menggunjing:
1. Menyampaikan keberatan kepada orang yang berwenang atas
kekasaran petugas, agar badan resmi terkait dapat medisiplinkan
petugasnya yang berlaku kasar.
2. Menyampaikan keberatan kepada seorang ayah perihal anaknya,
atau kepada suami perihal istrinya, agar yang bersangkutan
dapat memperbaiki perilaku anak atau istrinya.
3. Menguraikan secara rinci suatu keadaan untuk memperoleh
Fatwa.
4. Memberikan penjelasan atas sesuatu hal demi menyelamatkan
umat Muslim dari ancaman tindakan kekerasan berlatar-belakang
sentimen agama.
5. Memberikan uraian secara penuh dan terperinci sehubungan
dengan konsultasi yang bersifat profesional.
6. Menyebut-sebut dosa besar seseorang yang telah melakukan
dosa itu secara terang-terangan dan berani, malahan dilakukannya
dosa itu dengan rasa bangga.
Perlu digaris bawahi, bahwa kasus-kasus tersebut diatas hanya
layak disebutkan untuk keperluan khusus dan bukan untuk merendahkan
martabat atau merusak nama orang lain dengan sengaja tanpa
mempedulikan rasa keadilan.
Perlu diingat juga bahwa mendengarkan pergunjingan atas diri
seseorang adalah sama halnya dengan menggunjing itu sendiri.
Sebaiknya, jauhilah orang-orang semacam itu.
Menggunjing adalah perbuatan melanggar hak-hak Allah SWT
dan sekaligus juga melanggar hak-hak umat. Oleh karena itu,
perlu bagi pelakunya untuk pertama-tama, meminta maaf kepada
orang yang digunjing, sebab Allah SWT tidak akan memaafkan
sebelum korbannya memberi maaf. Jika korban pergunjingan
itu telah wafat atau tidak diketahui lagi tinggalnya maka
haruslah membayar tebusan. Annas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah
SAW bersabda, “Tebusan untuk bergunjing adalah berdoa
memohon ampunan Allah SWT dengan berkata, “Ya Allah,
ampunilah diriku dan juga dirinya.”
Saya berdoa semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari berprasangka,
memata-matai, dan bergunjing. Amiin.
|