|
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Kisah dibalik Terbitnya Nasehat
(The History of these Speeches)
Sangatlah menyenangkan menelusuri bagaimana dan kapan nasehat-nasehat
ini hadir dalam wujud buku. Pada tahun 1971, saya bermigrasi
ke Amerika Serikat untuk mendapatkan pekerjaan. Pada waktu
itu, sangatlah sulit untuk mendapati satu atau dua buah masjid
walaupun di kota-kota besarnya. Para mahasiswa Muslim biasanya
mengerjakan shalat di ruang-ruang belajar di Universitas
dimana mereka menuntut ilmu. Adapun di masjid yang ada, pendidikan
Islam yang diberikan tidak begitu berhasil. Sangat sulit
di masa itu mendapatkan pengajar agama Islam yang berkemampuan
memadai. Mereka yang fasih berbahasa Arab, lemah kemampuannya
dalam perbendaharaan kata dan pengucapan bahasa Inggris,
ataupun sebaliknya yang mahir berbahasa Inggris tidak menguasai
bahasa Arab. Sebagian besar masjid yang ada tidak memiliki
Imam. Dalam keadaan sedemikian ini masyarakat Muslim mencoba
menawarkan pendidikan Islam dengan bantuan sukarela dari
para anggotanya.
Demikianlah cara saya menjalani 12 tahun pertama kehidupan
saya di Amerika. Tingkat pendidikan Islam saya sangat terbatas
dan keadaan saya pun tidak berbeda dengan seekor katak
yang tinggal didalam sumur. Saya bersungguh-sungguh
mencari seorang
sarjana/ulama Islam yang dapat membantu pertumbuhan keislaman
saya. Demi tercapainya tujuan ini, saya pun berpindah ke
Los Angeles California. Direktur Masjid Wilayah Orange
(Orange County) yang bernama Dr. Muzammil Siddiqui
biasa mengajarkan
tafsir ayat-ayat Al-Qur’an setiap hari Ahad. Saya pun
memetik banyak manfaat dari belajar disini. Suatu hari saya
menyampaikan kelemahan saya dibidang ilmu Fiqih (hukum Islam)
kepada Dr. Muzammil Siddiqui, “Jika anda sangat berkenan
untuk mengajarkan ilmu itu seminggu sekali, tentu akan banyak
anggota masyarakat muslim yang bisa memetik manfaat dari
pelajaran itu.” Sungguh amat beruntung beliau bersedia
mengajarkan fiqih sekali dalam seminggu. Dan ini berlangsung
selama dua tahun. Inilah yang membuahkan akal fikiran yang
luas bagi saya, dan mengentaskan saya dari pendekatan-pendekatan
tradisional yang dangkal dan kaku. Cakrawala berfikir sayapun
menjadi lebih luas, sehingga saya lebih merdeka dalam pemikiran
dan memberi saya sebuah wawasan untuk mendengarkan dan menerima
saudara-saudara Muslim yang berlatar belakang pendidikan
pikiran yang berbeda.
Pada tahap kehidupan saya yang demikian, Saya mulai mencoba
untuk menghafal beberapa bagian dari Al-Qur’an. Saya
tidak dapat mengingat suatu surat dari Al-Qur’an tanpa
memahami arti dan tafsirnya. Melalui cara pendekatan seperti
diatas, dengan pertolongan Allah SWT, saya telah dapat menghafal
beberapa bagian Al-Qur’an. Sementara itu, Hafidz Muhammad
Ismail yang bertugas sebagai Imam masjid besar ini, pulang
ke India untuk berlibur selama beberapa bulan.
Iapun menunjuk saya untuk menggantikan sementara posisinya
sebagai Imam. Hal ini menyebabkan saya berusaha sekuat
tenaga untuk memperbaiki kemampuan saya dalam membaca
Al-Qur’an
agar dapat diterima. Demikianlah cara Allah SWT memberikan
jalan untuk pertumbuhan dan perkembangan ke-Islam-an saya.
Sekian lama berselang, banyak masjid baru dibangun di
semua kota di Amerika. Shalat Jum’at juga diselenggarakan
di setiap kampus universitas. Sementara Khatib sangat terbatas
jumlahnya. Atas desakan para muda muslim yang berkuliah di
UCLA (University of California Los Angeles), saya menyampaikan
khutbah disana. Menyiapkan dan menyusun khutbah adalah tantangan
yang berat, disisi lain keberhasilan menyampaikan khutbah
merupakan hal yang sama sekali berbeda. Berbekal latar-belakang
saya sebagai seorang guru sekolah di Amerika, saya tidak
terlalu canggung untuk berkhutbah. Dan atas dukungan moral
dari para mahasiswa itu, telah banyak khutbah yang saya sampaikan
di kesempatan-kesempatan berikutnya. Dengan jalan demikian,
saya terdorong untuk menyusun khutbah dengan berbagai topik.
Memang terasa sekali bahwa ini sangat melelahkan, namun dibalik
itu terdapat kepuasan yang tiada tara. Setelah itu, sayapun
ditugasi sebagai Khatib hampir di setiap hari Jum’at
di kota ini. Saya juga berkesempatan menyampaikan khutbah
di Masjid Orange County.
Setelah bermukim selama enam tahun di Los Angeles,
Saya pindah ke Detroit, Michigan. Sampai disini saya
telah
terbiasa menjalankan
shalat berjamaah, sayangnya, tidak ada masjid di
lingkungan tempat tinggal saya. Atas berkat rahmat
Allah SWT saya
mulai mendirikan sebuah masjid di lingkungan ini
yang diberi nama
Tawheed Center of Farmington Hills (Pusat Tauhid
Farmington Hills). Pada awalnya, hampir setiap waktu
saya harus
menjadi khatib. Beberapa tahun berselang, dengan
rahmat Allah SWT
saya berkesempatan untuk mendirikan sebuah masjid
lagi yang diberi nama Masjid Tawheed of Detroit di
negara
bagian Michigan.
Sehingga hampir setiap hari Jum’at saya pun harus menyampaikan
khutbah disalah satu dari kedua masjid itu. Kadang kala,
saya juga harus bepergian ke kota tetangga, yaitu kota Windsor
yang termasuk wilayah negara Canada.
Sebagai kegiatan tambahan, saya pernah menjabat sebagai
General Manager pada organisasi pertolongan umat
Muslim yang bernama
Mercy International. Satu-satunya jalan untuk mengumpulkan
dana bagi kegiatan organisasi ini adalah dengan
mengunjungi masjid-masjid yang terdapat di berbagai
kota besar
di Amerika Serikat. Di kesempatan demikian, saya
harus menyampaikan
khutbah yang mengena (efektif) di masjid yang saya
kunjungi, dan mengetuk nurani para jama’ah masjid untuk berinfaq.
Diluar dugaan saya, bukan hanya kaum pria saja yang merelakan
uangnya untuk disumbangkan, banyak kaum perempuan yang dengan
ikhlas melepaskan perhiasan mereka untuk di sumbangkan demi
menggapai Ridha Allah SWT.
Sebagai Imam Masjid Tauhid, saya pun berkewajiban
memimpin penyelengaraan pernikahan umat Muslim
di lingkungan
ini, sesuai dengan aturan Perundang-undangan Negara
Bagian
Michigan. Sebagai konsekuensi dari tugas ini saya
pun harus menyampaikan
khutbah nikah. Lambat-laun saya bisa menyampaikan
dengan lebih mengena dalam tugas sukarela ini.
Demikianlah, nasehat-nasehat didalam buku ini sebagian
besar telah teruji dalam bentuk khutbah yang
saya bawakan di berbagai
masjid. Saya pun memetik manfaat yang tak terhingga
besarnya dengan mempersiapkan dan menyusun khutbah-khutbah
ini.
Sangat kuat perasaan saya bahwa para pembaca
pun dapat memetik hikmah
dari berbagai khutbah yang saya tulis ini. Didalam
proses penyusunannya saya sangat terbantu dengan
kitab tafsir
dari Mufti Muhammad Syafi’I (Semoga Allah meningkatkan derajat
beliau didalam Surga). Dalam kesempatan ini, saya juga menyampaikan
rasa terima kasih saya kepada semua guru dan para mahasiswa
muda itu yang telah terlibat didalam bertumbuh-kembangnya
saya didalam Islam.
Selanjutnya (setelah 26 tahun di Amerika), Allah
SWT mencurahkan rahmat-Nya yang lebih besar
lagi bagi diri
saya dan membawa
saya ke Kota Suci Madinah Al-Munawwarah. Dari
kota inilah catatan khutbah-khutbah saya disampaikan
kepada para
jama’ah
haji yang berbahasa inggris dalam bentuk buku dengan judul “Speeches
for Inquiring Mind” (Nasehat Untuk Akal yang Dahaga).
Beberapa surat dari jama’ah haji yang mengomentari
tulisan saya ini juga dimuat didalam buku ini.
Saya berdo’a semoga Allah SWT berkenan menjadikan buku
ini sebagai mata-air hidayah-Nya bagi para pembaca, dan semoga
Allah SWT menerima upaya sederhana ini sebagai amal ibadah
saya. Imtiaz Ahmad
Madinah Al Munawwarah
2 Agustus 1999
|