s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
DOSA BESAR DAN DOSA KECIL
Allah
SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ 31,
Apabila kamu menjauhi dosa-dosa besar yang telah dilarang
bagimu untuk mengerjakannya, maka Kami hapuskan dosa-dosamu
yang kecil dan Kami masukkan kamu kedalam tempat yang mulia
(Surga).
Dari ayat di atas, jelas terdapat dua macam dosa, yakni dosa
besar dan dosa kecil. Jelas pula bahwa Allah SWT berjanji
bahwa jika seorang hamba menjauhkan diri dari dosa-dosa besar,
maka Allah SWT memaafkan kesalahan/dosa kecil yang pernah
dilakukannya. Haruslah kita ingat bahwa terdapat prasyarat
untuk terpenuhinya (janji Allah SWT itu) yakni, semua yang
fardlu (wajib) seperti halnya shalat, zakat, dan puasa, harus
tetap dikerjakan dengan tertib dan teratur, sambil terus
berusaha menjauhi dosa-dosa besar, sebab meninggalkan yang
fardlu itupun tergolong melakukan dosa besar. Jadi, jika
seorang hamba melaksanakan semua yang diwajibkan (fardlu)
dan meninggalkan perbuatan dosa besar maka Allah SWT akan
memaafkan dosa-dosa kecilnya.
Apakah dosa itu? Apa sajakah dosa-dosa kecil itu? Dan, apa
saja pulakah yang tergolong dosa-dosa besar?
Dosa adalah segala perbuatan yang bertentangan dengan kehendak
dan perintah Allah SWT. Sampai disini belum dibedakan besar
kecilnya dosa.
Abdullah bin Abbas berkata,
“ Setiap perbuatan menentang ajaran Islam adalah
dosa besar.”
Oleh karena itu, jika dosa-dosa kecil dilakukan berulang-ulang,
secara sembrono (serampangan), dan dikerjakan dengan terang-terangan,
maka akan terangkum menjadi suatu dosa besar. Seorang ulama
menerangkan pengaruh-pengaruh dosa kecil dan dosa besar dengan
contoh berikut ini. Ia mengibaratkan dengan perbandingan
sengatan kalajengking kecil dengan kalajengking besar. Juga
ibarat rasa panas terbakar api kecil dibanding dengan terbakar
api yang besar. Semuanya terasa sangat sakit, namun akibat
yang ditimbulkan oleh yang besar menyisakan luka yang lebih
parah. Begitu juga, kedua jenis dosa itu sama berbahayanya,
akan tetapi kerusakan yang diderita akibat dosa besar lebih
parah daripada dosa kecil.
Muhammad bin Ka’ab Kuradzi
berkata, “Ibadah yang terbaik kepada Allah SWT adalah
menjauhi segala dosa. Allah SWT tidak akan menerima shalat
ataupun ibadah yang lain dari seseorang yang tidak menjauhi
perbuatan dosa.” Demikian juga, Fudhail bin 'Iyyad
berkata, “Semakin dianggap kecil suatu dosa oleh seseorang,
semakin menjadi besar dosa itu di hadapan Allah SWT.”
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ketika seorang mukmin
berbuat suatu dosa, dosa itu menjadi sebuah noda hitam pada
hatinya. Jika ia menyesalinya (memohon ampunan) hilanglah
noda itu. Jika ia tidak menyesali perbuatan itu maka noda
itu akan membesar dan membesar sehingga menutupi seluruh
hatinya.” Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya, Surat
Al-Muthaffifin Ayat 14.
" Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang
selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka"
Bilamana hati telah sepenuhnya tertutup oleh noda, tak satupun
petunjuk dapat menembus kedalam hati dan orang sedemikian
itu tidak akan mendapat manfaat dari peringatan-peringatan
yang terdapat didalam Al-Qur’an. Hal ini ditekankan
berulang-ulang didalam Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an
adalah peringatan bagi mereka yang sadar atas adanya Tuhan
dan terbuka hatinya untuk menerima petunjuk.
Marilah kita mengartikan dosa besar sesuai dengan cahaya
petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menurut ulama',
setiap dosa yang telah ditetapkan siksanya didalam Al-Qur’an;
tentu saja Allah SWT yang menetapkan hal itu; atau dimana
terdapat ancaman api neraka, tergolong pada dosa-dosa besar.
Maka, sebagaimana telah diuraikan terdahulu dosa sekecil
apapun jika selalu dilakukan secara sembrono dan terang-terangan
akan berubah menjadi dosa besar. Seseorang menyebutkan kepada
Ibnu Abbas RA bahwa hanya ada tujuh dosa besar. Ibnu Abbaspun
mengatakan tidak hanya tujuh. Sebaiknya katakan saja tujuh
ratus. Adapun Imam Ibnu Hajar Makki RA telah menguraikan
daftar dosa besar sekaligus dengan penjelasannya yang terperinci
didalam buku beliau, Kitabuzzawajir. Terdapat 468 (empat
ratus enam puluh delapan) dosa besar, ini hanya ditinjau
dari segi ketidak-patuhan terhadap Allah SWT.
Bagaimanakah termaafkannya sebuah dosa kecil? Sebagai contoh
terhapusnya dosa-dosa kecil dijelaskan didalam sebuah Hadits
yang menggambarkan sebagai berikut: Ketika seseorang berwudlu’,
membasuh bagian-bagian kepala dan anggota badan, maka dosa-dosa
yang berhubungan dengan bagian-bagian yang dibasuhnya itu
pun hanyut oleh air wudlu bagaikan dedaunan kering di pepohonan
yang berguguran diterpa angin. Ibaratnya, ketika kita berkumur-kumur
maka terhapuslah dosa yang berasal dari lidah kita, ketika
kita membasuh kaki maka terhapus dosa yang terjadi dengan
melibatkan kaki-kaki kita. Pada waktu kita melangkahkan kaki
menuju Masjid setelah berwudlu, setiap langkah kaki menjadi
tebusan bagi dosa-dosa kecil yang telah kita perbuat. Adapun
dosa besar tidak bisa kita hapuskan hanya dengan berwudlu
ataupun mengerjakan shalat. Penghapusan dosa besar dilakukan
dengan penyesalan yang tulus dan bersungguh-sunguh. Penyesalan
atau taubat terdiri atas sedikitnya tiga unsur.
Pertama,
orang yang berdosa besar harus mengenali dosanya dan mengakui
bahwa ia telah berdosa. Ke-dua, ia harus berjanji pada diri
sendiri untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Ke-tiga,
haruslah ia merasa malu dengan perbuatannya itu dan secara
tulus-ikhlas memohon ampunan-Nya. Karena itulah jika orang
yang mengerjakan shalat dan menjalankan puasa namun masih
melibatkan diri dalam perbuatan dosa besar, niscaya
Allah
SWT tidak akan mengampuni dosa-dosanya, baik yang besar ataupun
yang kecil. Nabi Muhammad SAW menyebutkan jumlah dosa besar
itu berlainan jumlahnya tergantung pada waktu dan situasinya.
Oleh karenanya para ulama sepakat bahwa tidak ada angka pasti
perihal macam dan banyaknya dosa-dosa besar.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku beritahukan kepadamu
tiga macam dosa yang paling besar, yakni: Mengada-adakan
sekutu bagi Allah SWT, tidak patuh kepada kedua orangtuamu,
dan memberikan kesaksian palsu.” (Bukhari dan Muslim)
Masih dari Hadits Bukhari dan Muslim, seseorang bertanya
kepada Rasulullah SAW perihal dosa besar. Jawaban beliau
adalah menyekutukan Allah SWT. Kemudian dosa besar apakan
yang berikutnya. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Membunuh
anak-anak karena khawatir atas tanggung-jawab memberi makan.” Kemudian
orang itu masih bertanya dosa apalagi yang berikutnya. Nabi
Muhammad SAW menjawab, “Berzina dengan istri tetangga.” Perlu
diingat bahwa berzina saja sudah merupakan dosa besar. Disamping
itu, seorang mukmin wajib melindungi keluarga tetangganya.
Maka, berbuat zina dengan tetangga berarti melakukan kejahatan
ganda.
Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Mencaci orang-tua
sendiri adalah dosa besar.” Dengan rendah-hati sahabat
bertanya, “Mungkinkah seseorang mencaci orang-tuanya
sendiri?” Beliau menjawab, “Kamu mencaci orang
tua seseorang, kemudian ia berbalik membalas mencaci orang-tuamu.” Jadi,
mencaci orang-tua dari orang lain sama saja dengan mencaci
orang-tuamu sendiri. (Shahihin)
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Menyekutukan Allah SWT,
membunuh orang lain tanpa alasan kuat, menyalah-gunakan harta
anak yatim, melakukan riba’, melarikan diri dari pertempuran,
melemparkan tuduhan (memfitnah) kepada perempuan-perempuan
shalihah, tidak taat kepada ibu-bapak, dan tidak menghormati
Baitullah, semua itu termasuk dalam kelompok dosa besar.” (Bukhari)
Rasulullah SAW juga bersabda, “Bilamana seseorang melemparkan
tuduhan tanpa dasar hanya karena ingin melecehkan orang lain,
atau untuk berputus asa terhadap kasih-sayang Allah SWT dan
untuk melanggar hukum-hukum waris, itu semua termasuk dosa-dosa
besar.” Menurut Hadits lain, menjamak dua shalat dalam
satu waktu tanpa alasan yang sah menurut syariah juga merupakan
dosa besar. Shalat hendaklah dikerjakan pada waktu-waktu
yang telah ditetapkan.
Suatu kali Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah orang
itu!” Beliau mengulangi sampai tiga kali. Abu Dzar
RA pun dengan rendah-hati bertanya, “Siapakah dia Wahai
Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Seorang
yang sombong, yang mengenakan pakaian begitu panjang sehingga
menyentuh tanah, seorang yang membelanjakan hartanya di jalan
Allah SWT lalu diceritakan kepada orang-orang untuk ketenaran
dirinya, seorang yang telah lanjut usia namun berzina, seorang
yang menduduki jabatan penting namun ia berkhianat, seorang
yang telah diberkahi Allah SWT dengan keturunan yang banyak
namun ia berlaku sombong, ataupun seorang yang mempertunjukkan
ketaatkan kepada Imam (Pemimpin)-nya dengan tujuan untuk
memperoleh keuntungan duniawi.” (Muslim)
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang-orang ini tidak
akan masuk Surga: orang yang minum khamr (minuman beralkohol),
orang yang tidak patuh kepada orang-tuanya, orang yang memutuskan
silaturahim dengan saudara-saudaranya tanpa alasan yang benar,
orang yang membanggakan dirinya kepada orang lain, orang
yang menuruti perbuatan syeitan untuk meramalkan yang belum
terjadi dan seorang yang tidak berusaha mencegah keluarganya
dari perbuatan-perbuatan asusila (bertentangan dengan moral).” (Nasa’i
dan Musnad Ahmad)
Nabi SAW bersabda, “Seorang pengadu-domba tidak akan
masuk surga.” (Shahihain)
Saya memohon kepada Allah SWT agar mengampuni dosa-dosa kita
yang kecil dan yang besar, dan memberi kita kesanggupan untuk
mengikuti petunjuk-Nya yang terdapat didalam Al-Qur’an
dan Hadits Rasulullah SAW. Amiin
|