s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
HARI PEMBALASAN
Ketika Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah Islam di Makkah,
terdapat tiga inti pesan-pesan yang beliau dakwahkan,
• Bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah SWT. Hanya Dia yang
patut disembah. Janganlah mengada-adakan sekutu bagi-Nya
dalam bentuk apapun. Pada waktu itu, penduduk Makkah tidak
berkeberatan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Esa, namun
mereka menghendaki adanya sekutu di sisi-Nya. Walaupun demikian,
mereka tidak sanggup melawan Nabi Muhammad SAW dengan cukup
kuat untuk memberikan keuntungan bagi pandangan mereka itu.
•
Inti dakwah yang ke-dua adalah, Nabi Muhammad SAW menyerukan “Aku
adalah Rasul (Utusan/pembawa risalah) dari Allah SWT.” Masyarakat
Makkah tidak bersedia menerima kenyataan ini, tetapi mereka
tidak memiliki alasan apapun untuk mengatakan kepada orang
lain bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mengatakan yang sebenarnya,
karena mereka telah sejak lama mengenal beliau sebagai Al-Amin
(yang terpercaya). Maka, orang-orang Makkah tidak bisa melakukan
seruan yang berlawanan dengan risalah baru ini.
•
Ke-tiga, Nabi Muhammad SAW menyerukan, “Kelak akan
tiba Hari Pembalasan dan manusia akan menerima catatan perhitungan
amal perbuatan mereka. Mereka menerima ganjaran/pahala ataukah
siksa sesuai dengan timbangan amal perbuatan mereka pada
Hari Pembalasan.” Pesan inilah yang mendasari penduduk
Makkah untuk menyanggah ‘habis-habisan’ risalah
baru ini. Sanggahan mereka kepada Rasulullah SAW itu diabadikan
oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an Surat Al-Waqiah ayat
47, 48:
Dan mereka selalu berkata: “Apakah benar!? setelah
kami mati dan menjadi debu dan tulang-belulang kemudian kami
dihidupkan kembali? Dan begitu pun dengan nenek-moyang kami
(juga dibangkitkan)?!”
Orang-orang Makkah tidak hanya melontarkan pertanyaan ketidak-percayaan
seperti itu, mereka pun menertawakan dan berolok-olok terhadap
peringatan yang disampaikan Rasulullah SAW dan bahkan mengatakan
bahwa beliau telah gila. Allah SWT menjawab pertanyaan mereka
itu dalam kelanjutan Surat Al-Waqi’ah Ayat 49~56
Katakanlah (wahai Muhammad SAW), sesungguhnya (dibangkitkan
oleh Allah) mereka itu dari umat terdahulu hingga umat yang
terkemudian. Semua akan dihimpun bersama-sama pada hari yang
telah dipermaklumkan. Kemudian, sesungguhnya bagi kamu, wahai
orang yang sesat lagi mendustakan, niscaya akan makan dari
pohon zaqqum, yang akan memenuhi perutmu. Lalu kamu meminum
air yang sangat panas. Kamu minum air itu bagaikan onta yang
sangat haus. Itulah hidangan untuk mereka di Hari Pembalasan.
Kata ‘Nuzul’ mempunyai arti hidangan selamat
datang bagi tamu yang baru tiba. Dengan demikian ‘Nuzuluhum’ berarti
hidangan ini barulah sajian awal dalam rangka menyambut kedatangan
mereka (orang-orang yang sesat lagi mendustakan). Apa-apa
yang selanjutnya akan mereka dapatkan jauh lebih tak tertahankan.
Para penduduk Makkah waktu itu pun terbiasa mengatakan sebagaimana
diabadikan Allah SWT dalam surat Al-Mulk Ayat 25,
Bilakah datangnya hari itu jika perkataanmu sungguh benar
adanya?
Allah SWT memberikan jawaban-Nya pada ayat selanjutnya, Surat Al-Mulk Ayat
26,
Katakanlah (wahai Muhammad)! Sesungguhnya pengetahuan atas hari itu ada pada
Allah semata. Dan sesungguhnya aku hanyalah sebagai pemberi peringatan yang
jelas.
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut Hari Pembalasan yang sedemikian itu oleh orang-orang
Makkah biasa dilontarkan berulang-kali sebagai olok-olok. Allah SWT juga menjawab
olok-olok mereka itu dengan firman-Nya didalam Surat An-Naba’ Ayat 4,
5.
Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Selanjutnya, sekali-kali tidak,
kelak mereka akan mengetahui.
Maksud dari ayat ini adalah, bahwa mereka akan segera mengetahui pada saat
menjelang ajal, yang disebut sebagai saat Sakaratul Maut, dan di alam (periode)
Barzah, yakni waktu antara saat kematian hingga tibanya Hari Pembalasan. Begitu
juga, nanti mereka akan mengetahui sekali lagi pada saat berhadapan dengan
Pengadilan Akhirat di Hari Pembalasan.
Adakalanya pula, Allah SWT memberikan jawaban yang sangat rinci agar kita memahami
bahwa segala sesuatunya tidak ada yang sulit bagi Allah SWT untuk melaksanakan
Hari Pembalasan. Marilah kita perhatikan firman-Nya dalam Surat An-Naba’ Ayat
6~16 berikut ini.
Bukankah telah Kami (Allah) ciptakan bumi sebagai hamparan yang terbentang
luas, Dan gunung-gunung sebagai pancang-pancang yang kokoh. Dan Kami ciptakan
kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat, dan Kami
jadikan malam sebagai selimut, dan siang hari untuk penghidupanmu. Dan bukankah
telah Kami ciptakan di atasmu tujuh langit yang kokoh, dan Kami letakkan padanya
sinar yang terang-benderang. Dan bukankah telah Kami turunkan dari awan, air
yang tercurah agar Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan.
Dan kebun-kebun yang tumbuh begitu lebat?
Dengan demikian Allah SWT menegaskan bahwa, jika Dia dapat melakukan semua
hal yang disebutkan-Nya itu, manalah mungkin Dia tidak sanggup mendatangkan
Hari Pembalasan! Sebagai contoh, Allah SWT memberi kita nikmat berupa tidur
yang dapat mengembalikan kesegaran kita secara menyeluruh. Walaupun adakalanya
seseorang mencoba untuk menghindari tidur, pastilah akan tiba saatnya ia tertidur
atas kemurahan Allah SWT. Setelah terbangun dari tidurnya yang alami itu ia
akan menjadi lebih bugar dan bertenaga. Manalah mungkin, Allah SWT yang sanggup
memberi hadiah tak ternilai yang sedemikian rupa kepada manusia, tidak sanggup
menyelenggarakan Hari Pembalasan? Tentu sangat mungkin sekali! Sebenarnya,
masing-masing hal yang disebutkan diatas perlu diberi ulasan serupa. Namun,
demi ringkasnya, kita akan melanjutkan melihat beberapa penggambaran tentang
Hari Pembalasan.
Nabi Muhammad SAW telah membawakan berita gembira kepada manusia dan peringatan
perihal adanya siksa pada Hari Pembalasan, bagi mereka yang tidak mengikuti
petunjuk Allah SWT. Umat Muslim percaya sepenuhnya akan adanya Hari Pembalasan
walaupun mereka belum pernah melihatnya. Atas kasih-sayang Allah SWT, telah
dijelaskan-Nya kepada kita berbagai penggambaran Hari Pembalasan agar kita
dapat memahami dan memperoleh petunjuk. Terlebih dahulu marilah kita melihat
penggambaran yang diberikan Allah SWT didalam Surat Ath-Thuur Ayat 17~20.
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa (muttaqin) berada didalam Surga
dan kenikmatan, mereka bersuka-ria dengan apa yang telah dianugerahkan oleh
Tuhan
mereka, dan karena Tuhan mereka telah menyelamatkan mereka dari api neraka.
(kepada mereka akan dikatakan), “Makan dan minumlah sepuas kalian, sebagai
balasan atas amal kebajikan yang telah kamu kerjakan”. Mereka akan bersandar
santai diatas tahta yang tersusun berderetan, dan Kami kawinkan mereka dengan
bidadari-bidadari cantik bermata elok berbinar.
Hal Serupa difirmankan Allah SWT didalam Surat Al-Haqqah Ayat 19~24:
Adapun orang-orang yang diberi catatan perbuatan dari sebelah kanannya,
maka mereka berkata kepada yang lain, “Ambillah, bacalah kitabku ini! Sesungguhnya
aku dahulu selalu yakin bahwa kelak aku pasti akan menemui hisab terhadap diriku.” Maka
orang itu akan berada dalam kehidupan yang penuh ridha, didalam surga yang
tinggi, (dimana) buah-buahan begitu rendah dan dekat. (kepada mereka dikatakan) “Makan
dan minumlah dengan senyaman-nyamannya disebabkan apa-apa yang telah kamu kerjakan
di hari-hari yang telah lalu.”
Begitu pula didalam Surat Yaasin Ayat 55~58, Allah SWT berfirman,
Sesungguhnya, para penghuni Surga pada hari itu akan sibuk dengan segala
hal yang nyaman dan menyenangkan. Mereka bersama pasangan-pasangan mereka bersantai
dengan nyamannya bersandar di atas dipan-dipan. Di surga mereka memperoleh
buah-buahan dan apa saja yang mereka minta. (Dan kepada mereka dikatakan) "Salam" sebagai
ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
Menurut ayat ini, ketika para penghuni Surga akan memperoleh semua ganjaran
dari Allah SWT, merekapun ditanya oleh Allah SWT, “Wahai hamba-hambaku
yang ta’at, adalagi-kah yang engkau inginkan?” Merekapun menjawab, “Duhai
Allah! Puji syukur kami bagi-Mu, kami telah memiliki segalanya.” Allah
SWT pun akan berkata kepada para penghuni Surga ini, “Akan Ku berikan
kepada kamu sesuatu yang jauh lebih berharga dari semua ganjaran yang telah
kamu terima.” Pada saat itu mereka akan tergetar gembira dan mendapatkan
kehormatan berjumpa dengan Allah SWT dan Allah SWT menyapa mereka dengan Salam.
Begitu pula, Allah SWT menguraikan beberapa penggambaran Hari Pembalasan yang
menerangkan kepada kita perihal siksa yang ditimpakan kepada para pelaku dosa-dosa.
Misalnya, Firman Allah SWT dalam Surat Al-Mulk Ayat 6~10,
Dan bagi orang-orang yang kafir (menentang) kepada Tuhan mereka, akan memperoleh
siksa Neraka Jahannam, itulah seburuk-buruk tempat kembali. Ketika mereka dilemparkan
kedalam neraka, mereka mendengar suara mengerikan gemuruh menggelegak. Seolah
neraka itu hampir pecah karena marah. Setiap kali sekelompok orang-orang kafir
dilemparkan kedalam neraka, penjaga neraka bertanya kepada mereka, “Tidak-kah
pernah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan semasa hidup kalian
di dunia? Mereka pun menjawab, “Benar, sesungguhnya telah datang kepada
kami seorang pemberi peringatan, namun kami mendustakannya dan kami katakan
kepadanya: "Allah tidak menurunkan sesuatupun, dan kamu hanyalah seseorang
yang teramat sesat". Seandainya saja kami mau mendengarkan perkataannya
dan menggunakan akal kami, tentulah kami tidak akan berada diantara para penghuni
Neraka.”
Allah SWT juga berfiman didalam Surat Al-Haqqah Ayat 25~29,
Dan bagi yang diberikan catatan dari sebelah kirinya, berkatalah ia, “Duhai,
alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak
mengetahui hisab terhadap diriku. Duhai sekiranya kematian itu adalah akhir
dari segalanya. Hartaku telah tiada menguntungkanku sedikitpun, dan begitupun
dengan kekuasaanku (yang membawaku kepada kehancuranku) telah sirna.”
Alasan diberlakukan siksa neraka juga dijelaskan Allah SWT didalam Surat Al-Mudatstsir
Ayat 40~48,
Para penghuni surga akan bertanya-tanya, perihal mereka yang telah berdosa, “Apakah
yang menyebabkanmu menghuni neraka?” Mereka yang berdosa akan menjawab, “Karena
kami bukan termasuk mereka yang shalat, dan bukan pula dari mereka yang memberi
makan orang miskin, kami dahulu terbiasa membicarakan kebathilan bersama-sama
mereka yang suka membicarakannya, dan kami mengingkari adanya Hari Pembalasan
sampai datang kepada kami kematian.” Maka pada hari itu tidak berguna
lagi bagi mereka syafa’at dari para pemberi syafa’at.
Penggambaran-penggambaran Surga dan Neraka di atas ditujukan sebagai peringatan
yang amat penting. Kunci untuk masuk Surga tidak dapat kita peroleh hanya dengan
jalan kita berbuat kebajikan. Hanya melalui Pertolongan dan Kasih Sayang Allah
SWT kita mendapatkannya.
Saya berdoa kepada Allah SWT semoga kita diwafatkan
sebagai Muslim dan dimasukkan-Nya kita kedalam golongan para Ahli Surga. Amiin.
|