s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
ISRA’ DAN MI’RAAJ
Allah
SWT berfirman dalam Surat Al-Israa’ Ayat 1:
Mahasuci (Allah SWT) yang telah memperjalankan hambaNya,
pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang
telah Kami berkati sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kekuasan) Kami. Sesungguhnya
Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Perjalanan Nabi Muhammad SAW ini terdiri atas dua bagian.
Bagian pertama berupa perjalanan malam dari Makkah ke Yerusalem,
dan inilah yang disebut Isra’. Bagian ke-dua, Nabi
SAW diangkat oleh Allah SWT ke langit (sampai lapisan ke-tujuh),
inilah yang disebut Mi’raaj. Untuk memahami arti penting
Isra’ dan Mi’raaj, perlu kita lihat kembali keadaan-keadaan
yang terjadi sebelum perjalanan ini.
Banyak peristiwa terjadi dalam kurun waktu satu setengah
tahun menjelang terjadinya perjalanan ini. Pertama; dari
semua peristiwa itu; ialah meningkatnya kekerasan yang dilakukan
oleh orang-orang kafir kepada orang-orang beriman. Pada waktu
itu kaum Muslimin tidak diperkenankan untuk membalas meskipun
kekerasan itu sudah sangat berlebihan. Perintah Allah SWT
itu terdapat didalam Surat Al-Baqarah Ayat 109:
... Maafkanlah dan biarkanlah mereka, sehingga Allah menurunkan
perintah-Nya. ...
Pada kurun waktu itu juga, Paman Nabi Muhammad SAW, yakni
Abu Thalib wafat. Semasa hidupnya, Abu Thalib secara duniawi
adalah seorang pelindung yang baik bagi Nabi Muhammad SAW
dari gangguan orang-orang kafir. Sepeninggalnya, orang-orang
kafir semakin menjadi-jadi kekerasannya. Tak lama berselang
setelah peristiwa itu, Istri beliau yang tercinta Khadijah
RA pun wafat. Pada waktu itu rasa duka yang sangat mendalam
meliputi diri Rasulullah SAW. Dalam keadaan sedemikian itu,
beliau memutuskan untuk pergi ke kota Thaif, dengan tujuan
mendakwahkan Islam.
Beliau berharap akan mendapatkan dukungan
dari para pemuka masyarakat di kota ini mengingat bahwa mereka
masih saudara jauh dari ibunda Rasulullah. Namun para pemuka
masyarakat itu menyambut dingin kehadiran Rasulullah SAW
disana. Mereka membiarkan anak-anak melempari Rasulullah
dengan batu sehingga beliau terluka parah berdarah-darah.
Begitu banyaknya luka yang beliau derita sehingga terompah/sepatu
beliau penuh darah yang mengucur dari luka di kepala beliau.
Rasulullah SAW berlindung didalam sebuah kebun diluar perbatasan
kota ini. Pemilik kebun itu merasa iba kepada beliau dan
menghardik anak-anak salah asuhan itu sehingga lari ketakutan.
Di kebun inilah malaikat menampakkan diri dan berkata kepada
Rasulullah SAW: “Sungguh, penduduk kota ini benar-benar
sangat kejam. Jika engkau berkenan, kami dapat menjungkir-balikkan
kota ini dan menghancurkan semua yang ada disini.” Nabi
Muhammad SAW menjawab, “Aku telah datang sebagai rahmat
bagi seluruh alam semesta dan bukan untuk
menjatuhkan hukuman. Semoga generasi mendatang dari kota
ini akan melihat kebenaran.”
Karena begitu banyaknya peristiwa duka terjadi di tahun itu,
maka tahun itu diberi julukan ‘Tahun Kesedihan’ .
Sekembali Rasulullah SAW ke Makkah, beliau dilarang masuk
ke kota Makkah karena beliau dianggap bukan lagi warga
Makkah. Setelah melalui beberapa kali upaya dan perundingan,
beliau diperbolehkan masuk ke kota Makkah dengan syarat bahwa
beliau tidak berdakwah kepada siapapun di dalam kota Makkah.
Nabi Muhammad SAW hanya boleh berdakwah kepada orang-orang
di waktu ada pekan dagang dan perayaan-perayaan yang diselenggarakan
diluar kota Makkah. Uraian ini menggambarkan bagaimana sulitnya
waktu itu, betapa pula tingginya tingkat kesabaran dan keteguh-tegaran
Rasulullah SAW. Karena kesabaran yang sangat tinggi inilah
maka Allah SWT memberikan ganjaran yang besar kepada Nabi
Muhammad SAW, dan memperjalankan beliau dalam sebuah perjalanan
istimewa yakni, Isra’ dan Mi’raaj ini.
Sekarang marilah kita membahas peristiwa Isra’. Malaikat
Jibril AS datang ke Masjidil Haram di Kota Makkah dan meminta
Nabi SAW berwudlu’ menggunakan air zam-zam. Ia selanjutnya
membawa serta Nabi Muhammad SAW mengendarai ‘kuda’ yang
sangat cepat yang disebut ‘Burraq’ dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sesampai disini Nabi
Muhammad SAW mengerjakan Shalat dua raka’at. Setelah
itu Jibril menawarkan kepada beliau segelas susu dan segelas
anggur. Rasulullah SAW memilih meminum segelas susu. Malaikat
Jibril AS berkata, “Engkau telah memilih yang murni
dan bersih. Engkau telah dibimbing di jalan yang benar dan
begitu juga umatmu. Jika saja engkau memilih anggur, niscaya
umatmu akan tersesatkan.” Kita ketahui bahwa minuman
anggur membawa kita kepada perilaku menyimpang/korup dan
disebut sebagai induk segala kejahatan. Adapun
Islam, berpegang teguh pada kemurnian/kesucian, kebenaran,
dan kebaikan.
Selanjutnya berlangsunglah peristiwa Mi’raaj, Malaikat Jibril membawa
Nabi Muhammad SAW mengendarai Burraq naik ke berbagai tingkatan langit. Disitulah
beliau bertemu dengan para Nabi yang lain. Beliau bertemu Nabi Adam AS di langit
pertama, Nabi Yahya AS dan ‘Isa AS di langit ke-dua, Nabi Yusuf AS di
langit ke-tiga, di langit ke-empat beliau bertemu Nabi Idris AS, Nabi Harun
AS di langit ke-lima, Nabi Musa AS di langit ke-enam, dan di langit ke-tujuh
Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Rasulullah SAW mengucapkan Salam
kepada para pendahulunya yang beliau jumpai itu.
Di suatu tempat, Nabi Muhammad SAW berjumpa dengan malaikat Malik, penjaga
api neraka. Beliau minta kepada Jibril agar diperbolehkan melihat neraka. Malaikat
Malik kemudian membuka pintu neraka, dan Rasulullah SAW melihat gemuruh kobaran
api yang siap membakar apa saja. Diperlihatkan juga kepada Nabi Muhammad SAW
contoh-contoh hukuman bagi mereka yang berdosa.
Beliau melihat beberapa orang dengan bibir seperti bibir onta dan mereka menggengam
bola api di kedua tangan mereka. Beliau juga menyaksikan orang-orang itu memasukkan
bola-bola api itu ke mulut mereka dan bola api itu pun kemudian keluar melalui
anus mereka. Malaikat Jibril menjelaskan bahwa mereka itulah yang dahulu tidak
jujur dalam mengemban amanah yang menjadi tanggung-jawab mereka.
Beliau SAW menyaksikan orang-orang yang perutnya sangat besar lagi gila, onta
yang kehausan berlarian di atas mereka. Diterangkan kepada Rasulullah SAW bahwa
mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam perampasan hak milik orang lain
(memakan harta orang lain secara bathil).
Disaksikan juga oleh beliau SAW, beberapa orang yang memiliki makanan yang
segar dan juga terdapat makanan yang telah membusuk terhampar didekat mereka.
Tetapi mereka bukannya memakan makanan yang segar yang mereka miliki, malahan
memakan makanan yang telah membusuk. Beliau mendapat penjelasan bahwa mereka
itulah orang-orang yang menelantarkan pasangannya yang sah.
Beliau juga menyaksikan beberapa wanita yang digantung dengan payudara mereka.
Dijelaskan kepada Rasulullah SAW, inilah perempuan-perempuan yang mengkhianati
suaminya.
Selama dalam perjalanan Mi’raaj ini, Nabi Muhammad SAW bahkan sampai
di tempat yang lebih tinggi dari langit ke-tujuh, yang mana belum pernah ada
malaikat yang pernah sampai kesana. Di tempat inilah, di lingkungan yang unik
(tak ada duanya) ini, Nabi Muhammad SAW menyaksikan bermacam-macam tanda-tanda
(Kebesaran) Allah SWT. Allah SWT menggambarkan hal ini didalam Surat An-Najm
ayat 17, 18.
Tidaklah pandangannya (Muhammad SAW) beralih, dan tidak pula melampaui dari
yang dilihatnya. Sesungguhnya ia telah melihat tanda-tanda ke-Agung-an Tuhannya,.
Ayat ini memberikan gambaran kepribadian Nabi Muhammad SAW, yakni bersikap
tenang dan mampu mengendalikan diri. Beliau melihat apa yang seharusnya dilihatnya
dan selama waktu yang beliau perlukan untuk melihatnya. Beliau tidak melampaui
keperluannya dan tidak dengan tatapan mata yang menyelidik karena rasa penasaran
dikala beliau sedang memuaskan mata memandang tanda-tanda-Nya yang Maha Agung.
Selama Rasulullah SAW berdekatan dengan Allah SWT, beliau mendapat 3 hadiah
berikut ini,
1. Diwahyukan kepada Rasulullah SAW, bahwa barangsiapa mengucapkan Syahadat
dengan hati yang tulus, pada akhirnya kelak akan masuk surga atas Rahmat Allah
SWT.
2. Rasulullah SAW menerima Wahyu dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah.
3. Beliau SAW menerima perintah Shalat, pada mulanya diperintahkan limapuluh
waktu dalam sehari. Kemudian dikurangi hingga tingga lima waktu, sebagai keringanan
khusus untuk umatnya. Walaupun dikurangi kewajibannya, mereka akan tetap menerima
ganjaran sebagaimana mengerjakan shalat limapuluh waktu dalam sehari untuk
shalat yang dikerjakan 5 waktu itu. Betapa sangat besar kemurahan Allah SWT
kepada umat Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Shalat adalah Mi’raaj-nya orang-orang
beriman” Demikian itu karena Shalat adalah komunikasi
langsung dan yang berjarak paling dekat antara Allah SWT dengan hamba-Nya yang
patuh.
Setelah Nabi Muhammad SAW menerima hadiah-hadiah yang lain daripada yang lain
ini, beliau kembali ke Masjidil Aqsa. Para Nabi dan Rasul yang lainpun hadir
di sana. Mereka semua melaksanakan shalat berjama’ah dengan Nabi Muhammad
SAW sebagai Imam. Hal ini menunjukkan bahwa risalah yang dibawa oleh para Nabi
dan Rasul adalah satu (yakni. Tauhid), dan disini pun menunjukkan keutamaan
Nabi Muhammad SAW atas para Nabi dan Rasul yang lain (AS).
Selesai pelaksanaan shalat, Malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad SAW kembali
ke Makkah pada malam yang sama.
Begitu orang-orang kafir mendengar perihal
perjalanan Nabi Muhammad dari Makkah ke Yerusalem dan dilanjutkan hingga ke
langit ke-tujuh dan kembali ke Makkah hanya dalam waktu kurang dari satu malam,
merekapun berolok-olok tentang berita ini. Orang-orang kafir itu mendatangi
rumah Abu Bakar RA dan bertanya, “Tahukah kamu pengakuan temanmu perihal
perjalannya?” Abu Bakar balik bertanya, “Adakah dia sungguh-sunguh
mengatakan hal itu?” Orang-orang kafir itu serempak menjawab, “Ya!” Maka
Abu Bakar pun menegaskan, “Kalau demikian, sungguh benarlah pengakuannya
itu.” Setelah peristiwa percakapan ini, seterusnya Rasulullah SAW memanggil
Abu Bakar dengan Ash-Shiddiq (artinya: Yang membenarkan)
Ayat pertama Surat Al-Isra’ ini memberikan banyak pelajaran kepada kita.
Misalnya, Allah SWT menggunakan kata Al-‘Abdi ,yang berarti hambanya
yang paling taat, untuk menyebut Nabi Muhammad SAW, bukan nama beliau yang
lain. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun beliau telah sampai begitu dekat dengan
Allah SWT, tetap saja beliau adalah hambanya yang paling taat dan bukannya
sebagai mitra (pendamping) di sisi Allah SWT. Hal ini mengajarkan kepada kita
untuk tidak mengada-adakan pendamping di sisi Allah SWT seperti halnya yang
telah dilakukan oleh para Ahli Kitab.
Penggunaan kata al-‘abdi juga menunjukkan bahwa perjalanan ini adalah
perjalanan jiwa dan raga. Perlu diketahui bahwa al-‘abdi terdiri dari
tubuh dan jiwa, bukan hanya salah satunya saja.
Kita juga diajarkan untuk mencintai Masjidil Aqsa yang sekelilingnya telah
diberkati oleh Allah SWT.
Lebih jauh lagi, kata ‘lailan’ adalah kata benda yang lazim digunakan,
artinya adalah sebagian dari waktu malam. Dengan demikian jelaslah bahwa perjalanan
ini berlangsung hanya selama sebagian dari waktu malam. Sungguh, Allah SWT
Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Dia telah mendengar do’a Nabi Muhammad
SAW dan melihat kesabaran Nabi yang tiada tara. Karenanya, Dia memberi ganjaran
kepada Nabi SAW berupa perjalanan yang tiada duanya yakni, Isra’ dan
Mi’raaj sebagai isyarat bahwa pada akhirnya Rasulullah SAW pasti berhasil.
Saya berdo’a kepada Allah SWT semoga Dia menganugerahi kita kemampuan
untuk memahami arti penting yang sejati dari Isra’ dan Mi’raaj.
Amiin.
|