s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
KEBANGKITAN (Hidup Sesudah Mati)
Sungguh sangatlah berat bagi orang yang tidak beriman (kafir)
untuk dapat menerima bahwa Allah SWT bisa menghidupkannya
kembali setelah kematiannya di Hari Pembalasan kelak. Sebagaimana
difirmankan Allah SWT didalam Surat Al-Waqiah Ayat 47,
48:
Dan mereka selalu berkata: “Apakah setelah kami
mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, kemudian kami
dihidupkan
kembali? Dan begitu pula dengan nenek-moyang kami (juga dibangkitkan)?!”
Jadi, orang-orang kafir tidak hanya heran tetapi juga menganggap
tidaklah mungkin terjadi bahwa manusia dibangkitkan seperti
semula setelah ia berubah menjadi debu dan tulang. Bahkan
lebih sulit lagi bagi akal mereka bahwa nenek-moyang mereka
yang telah meninggal dunia jauh bertahun-tahun lalu pun akan
dibangkitkan juga.
Allah SWT menerangkan dengan sangat indah didalam Surat Al-Qiyamah
Ayat 3 dan 4:
Apakah manusia berfikir bahwa Kami (Allah SWT) tidak sanggup
merangkai kembali tulang-belulangnya.Bukan demikian, Kami
benar-benar kuasa untuk menyusun kembali jari-jemarinya dengan
sempurna.
Kita sama-sama maklum bahwa sidik-jari dari setiap jari-jemari
masing-masing orang berbeda satu sama lain. Maka dari itu
cap sidik-jari dimanfaatkan untuk mengidentifikasi/ menandai
perbedaan setiap orang di seluruh dunia.
Rajah sidik-jari tidak pernah bersesuaian antara seseorang
dengan yang lain. Maka lebih jauh dapat kita simpulkan bahwa
Allah SWT tidak saja telah menciptakan manusia, tetapi bahkan
telah memberikan sentuhan detail hingga yang terhalus dari
ciptaannya itu dengan membuat berbeda sidik-jari untuk setiap
orang. Jika Allah SWT dapat melakukan hal yang sehalus ini,
mana mungkin Dia tidak sanggup membangkitkan kembali seseorang
yang telah mati menjadi tulang-belulang dan debu. Hal yang
sama difirmankan oleh Allah SWT didalam Surat Al-Qiyamah
Ayat 36~40:
Adakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja
(tanpa pertanggung-jawaban)? Bukankah sebelumnya ia hanyalah
setetes cairan (mani/sperma) yang dipancarkan (kedalam rahim)?
Kemudian ia menjadi gumpalan darah, selanjutnya Allah (SWT)
menciptakan dan menyempurnakan bentuknya. Lalu Allah menjadikan
darinya sepasang lelaki dan perempuan. Bukankah (Allah yang
berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
Di ayat ini Allah SWT memberikan pernyataan bahwa Dia telah
menciptakan manusia mulai dari cairan sehingga menjadi lelaki
dan perempuan, yang berbeda satu sama lain secara fisik,
psikologis, maupun emosinya. Meskipun beraneka ragam perbedaan
diantara mereka, tetapi saling melengkapi satu sama lain
dan hidup bersatu, tidaklah lengkap yang satu tanpa yang
lain. Maka, jika Allah dapat menciptakan pribadi-pribadi
yang sangat berbeda namun mutlak saling memerlukan satu sama
lain, mengapa tidak bisa menghidupkan kembali yang sudah
mati?
Allah SWT menjabarkan secara lebih sederhana didalam Surat
An-Naziat ayat 27, 28:
Manakah yang lebih sukar, penciptaan kamu ataukah langit
yang dibangun-Nya? Dialah yang meninggikan dan menyempurnakannya.
Allah SWT menjelaskan kepada kita bahwa sangatlah sulit membangun
langit yang tanpa tiang penyangga. Kalau kita mencoba mencari
adanya kesalahan pada penciptaan langit pastilah kita gagal
sama sekali dan mata kita pun akan kelelahan mencari-cari
kesalahan. Jika Allah SWT mampu menciptakan langit yang tersusun
begitu rupa, yang dapat kita lihat setiap hari, mana mungkin
sulit bagi Allah untuk membangkitkan seseorang dari kematian.
Firman Allah SWT dalam Surat Ar-Rum ayat 50;
Perhatikanlah akibat (hasil) dari kasih-sayang Allah, bagaimana
Dia telah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya
bahwa (Allah) yang telah menghidupkan bumi sesudah matinya
pastilah kuasa juga membangkitkan orang mati. Dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu.
Diterangkan juga dengan sangat gamblang dalam Surat Fushshilat
Ayat 39,
Dan diantara tanda-tanda Kebesaran-Nya, bahwa kamu melihat
tanah yang tandus, maka bila Kami (Allah) turunkan air diatasnya,
ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dia yang menghidupkan
tanah yang tandus, pastilah sanggup menghidupkan yang mati.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ini merupakan kejadian luar biasa yang terjadi sehari-hari
dan sekaligus bukti yang dapat dilihat oleh orang-orang tua
maupun muda, kaya ataupun miskin, terpelajar ataupun tidak.
Hujan turun sebagai rahmat Allah SWT dan tanah yang tandus
mulai sedikit terangkat dan mengembang sedemikian rupa sehingga
memberi jalan bagi tetumbuhan yang lunak dan masih muda (tunas)
untuk masuk mengakar kedalam tanah dari permukaan tanah yang
semula tandus dan keras itu. Ini adalah keajaiban yang berlangsung
di depan mata kita, bahkan di halaman belakang rumah kita
sendiri.
Namun karena kebanyakan orang menganggap itu sebagai
hal yang sangat lumrah terjadi, mereka lupa siapa sebenarnya
yang telah menghidupkan tanah yang sebelumnya kering dan
tandus itu. Kita pun melupakan siapa yang memecahkan setiap
celah dibawah lapisan tanah yang keras itu sehingga tetumbuhan
yang lunak dapat menyembul ke lapisan permukaan yang keras.
Dengan begitu maka tumbuhan yang baru berupa tunas yang lunak
itu bisa mendapatkan jalan keluar melalui tanah yang telah
dihidupkan ini.
Siapapun yang mau mengamati ayat-ayat Allah SWT tersebut
dengan akal pikiran yang terbuka, tidaklah ia akan memiliki
keraguan lagi bahwa Allah SWT sangat mampu untuk membangkitkan
kita di Hari Pembalasan setelah kita berubah menjadi debu
dan tulang-belulang.
Dua macam penggambaran yang sangat menarik diberikan Allah
SWT sebagai petunjuk untuk kita di dalam Surat Al-Baqarah.
Pertama, mari kita telaah Ayat 259:
Atau tidakkah kamu perhatikan seseorang yang melalui
sebuah negeri yang telah runtuh (didingnya) menimbun atapnya.
Dia
berkata, “Bagaimana Allah akan menghidupkan kembali
negeri ini setelah matinya?” Maka Allah mewafatkannya
selama 100 tahun kemudian menghidupkannya kembali. Allah
bertanya: "Berapa lamakah kamu tinggal disini?" Orang
itu menjawab: “Mungkin saya tinggal selama satu atau
setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya
kamu telah tinggal disini selama seratus tahun, lihatlah
makanan dan minumanmu yang belum berubah, dan lihatlah keledaimu
yang telah menjadi tulang-belulang. Kami (Allah) telah menjadikanmu
sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang
itu, bagaimana Kami menyatukannya kembali dan membalutnya
dengan daging.” Setelah semua ini ditunjukkan dengan
jelas kepadanya, ia pun berkata: “(sekarang) aku mengetahui
bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Maka, kepenasaran seseorang telah diubah-Nya menjadi petunjuk
bagi semua generasi yang datang kemudian. Penting juga untuk
dicatat bahwa Allah SWT pertama-tama menyusun kembali semua
tulang-belulang keledai itu kemudian menyelimutinya dengan
daging. Baru belakangan ini para peneliti menemukan bahwa
selama dalam masa pembentukan berbagai jenis makhluk hidup,
tulang lebih dahulu terbentuk baru kemudian terbentuk daging
diatasnya. Allah SWT telah menguraikan fakta ini beberapa
abad silam. Orang-orang yang tidak terbuka akalnya bahkan
mengabaikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang demikian
ini.
Sama halnya dengan Nabi Ibrahim AS yang pernah merasa penasaran
ingin melihat bagaimana Allah SWT membangkitkan yang mati.
Hal ini karena keinginannya untuk lebih memperkuat keimanan
dalam hal pembangkitan kembali. Diterangkan dalam Surat Al-Baqarah
ayat 260:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Tuhanku!
Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang
telah mati” Allah berfirman :”Apakah kamu belum
meyakininya? Ibrahim menjawab,”Ya, aku meyakininya,
akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah
berfirman,” Ambillah empat ekor burung, kemudian cincanglah
semuanya dan letakkan di atas setiap bukit satu bagian dari
bagian-bagian itu, lalu panggillah mereka, niscaya mereka
datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Demikianlah, keyakinan yang kuat terhadap pembangkitan kembali
adalah bagian dari Iman atau keyakinan yang bersifat agamis/religius.
Kelemahan dalam meyakini hal ini menunjukkan seberapa lemah
Iman kita. Semoga Allah SWT semakin mengokohkan iman kita
dari hari ke hari. Amiin.
|