s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
LAILATUL-QADR
Firman
Allah SWT didalam Al-Qur’an Surat Al-Qadr,
Ayat 1~5
Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an ini)
didalam Malam Kekuasaan (Lailatul Qadr), dan tahukah kamu
apakah
Malam Kekuasaan itu? Malam Kekuasaan itu lebih baik daripada
seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat bersama
Jibril atas izin Tuhan mereka, untuk mengatur semua urusan.
Damai dan Sejahtera memenuhi malam itu hingga waktu terbitnya
fajar.
Menurut Surat Al-Qadr ini, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an
di Malam Kekuasaan. Bagaimanapun, kita ketahui bahwa Al-Qur’an
diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW selama kurun waktu 22
hingga 23 tahun, bagian demi bagian. Jelaslah timbul pertanyaan,
apakah yang dimaksudkan Allah SWT dengan memberitahukan bahwa
Al-Qur’an telah diturunkan pada suatu malam yang disebut
dengan Lailatul-Qadr (Malam Kekuasaan)?
Sesungguhnya, maksud dari ayat ini adalah bahwa Al-Qur’an
dipindahkan dari tempat penyimpanan yang paling aman yang
berada dalam penjagaan langsung dari Allah SWT, yang disebut
Lauhul-Mahfudz, ke alam raya ini di Malam Kekuasaan. Berarti
pula bahwa, turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW
di goa Hira’ adalah pada waktu Lailatul-Qadr. Menarik
sekali untuk mencermati bahwa Surat Al-Qadr ini terletak
setelah Surat Al-Alaq. Hal ini mempertegas bahwa benar wahyu
yang pertama kali turun terjadi pada waktu Lailatul-Qadr.
Apakah arti kata ‘Qadr’? Secara bahasa Qadr mempunyai
arti sesuatu yang bernilai tinggi, amat sangat berharga,
juga berarti kekuasaan, kewenangan. Lalu, mengapa malam itu
disebut Malam Kekuasaan? Karena turunnya Al-Qur’an
yang suci di malam ini telah mengubahnya menjadi malam yang
tak terhingga nilainya, malam yang dipenuhi dengan Kekuasaan-Nya.
Lebih jauh lagi bisa dikatakan bahwa, seseorang yang tidak
berarti berubah menjadi sangat berarti dan penuh kesadaran
kepada Tuhan dengan beribadah di malam Qadr ini.
Arti Qadr yang ke-dua adalah takdir. Walaupun Allah SWT telah
membuat ketetapan awal atas segala sesuatu jauh sebelum kita
dilahirkan, namun keputusan-keputusan di tahun ini diserahkan
kepada para malaikat untuk dilaksanakan di malam ini. Menurut
para ulama, ayat-ayat yang mengawali Surat Ad-Dukhan pun
merujuk pada malam ini juga, dan memperkuat dukungan atas
pernyataan di atas.
Allah SWT berfirman didalam Surat Ad-Dukhan Ayat 1~ 4
Ha Miim, Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan,
Sesungguhnya, Kami menurunkannya pada malam yang pernuh berkah,
dan sesungguhnya
Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu diputuskan
setiap urusan yang penuh hikmah (yang berkaitan dengan kehidupan;
kematian, kelahiran, dsb)
Sedikit sekali ulama yang mengaitkan ayat-ayat Surat Ad-Dukhan
di atas dengan bulan Sya’ban. Mereka ini mengatakan
bahwa keputusan-keputusan perihal kehidupan ditetapkan oleh
Allah SWT pada bulan Sya’ban kemudian diberikan kepada
para malaikat untuk dilaksanakan pada waktu Lailatul-Qadr.
Hanya Allah SWT sajalah Yang Maha Mengetahui.
Selanjutnya, Allah SWT berfirman bahwa Lailatul-Qadr lebih
baik dibandingkan dengan seribu bulan. Apakah pengertiannya?
Adalah pada waktu itu, orang Arab menganggap angka seribu
adalah bilangan yang sangat besar. Maka, maksud Allah SWT
adalah, beribadah pada malam ini jauh lebih baik nilainya
dibandingkan dengan sejumlah besar malam-malam yang lain.
Seribu bulan sama dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan.
Orang Arab merasa bahwa dengan umur mencapai delapan-puluhan
tahun, seseorang menjadi semakin shaleh dan ta’at dengan
beribadah selama hidupnya. Namun, dengan khusyu’ beibadah
di malam Qadr ini masih jauh lebih baik nilainya dibandingkan
dengan beribadah kepada Allah SWT terus-menerus berserah-diri
selama lebih dari delapan puluh tahun.
Lebih lanjut, Ibnu Abi Hatim Meriwayatkan dari Mujahid bahwa
Rasulullah SAW memberikan perumpamaan kepada para sahabat
beliau dengan seorang pemuka Bani Israil yang terus-menerus
beribadah selama delapan-puluh tahun tanpa terputus. Demikian
juga, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid bahwa Nabi Muhammad
SAW bersabda bahwa, dahulu seorang pemuka Bani Israil terbiasa
beribadah sepanjang malam, dan berperang di jalan Allah SWT
di siang harinya. Orang ini melakukan selama delapan-puluh
tahun tanpa henti. Allah SWT menyatakan kepada para pengikut
Nabi SAW bahwa beribadah didalam Malam Kekuasaan adalah lebih
utama daripada ibadahnya orang Yahudi selama delapan-puluh
tahun tanpa henti tersebut. Maka, Lailatul-Qadr adalah ciri-ciri
tersendiri dari Umat Nabi Muhammad SAW, dan merupakan hadiah
khusus dari Allah SWT bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya.
Hal ini menunjukkan betapa besar cinta Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW dan para pengikut beliau. Walaupun para pengikut
nabi-nabi terdahulu telah menjalankan kewajiban berpuasa
yang telah diwajibkan kepada mereka, namun hanyalah Umat
Nabi Muhammad SAW saja yang dianugerahi pengecualian istimewa
dengan mendapatkan satu malam didalam satu bulan puasa yang
suci, yaitu Lailatul-Qadr; Malam Kekuasaan.
Selama berlangsungnya malam ini, Jibril dan para malaikat
yang ditempatkan di “Sidratul-Muntaha”, turun
ke bumi dan mengajukan satu permohonan khusus kepada Allah
SWT untuk orang-orang yang mereka (para malaikat) saksikan
tengah khusyu’ mengingat Allah SWT dengan duduk maupun
berdiri. Malam Kekuasaan ini adalah malam yang penuh kedamaian
dan kesejahteraan, dan keadaan ini berlangsung hingga terbit
fajar. Beberapa orang bisa saja mendapat pengalaman luar
biasa di malam itu. Mereka yang tidak melihat hadirnya peristiwa
luar-biasa itupun mendapatkan keuntungan dari malam yang
penuh berkah ini.
Kapankah malam ini berlangsung? Allah SWT berfirman didalam
Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah Ayat 185
Bulan Ramadhan, dimana dibulan itu diturunkan Al-Qur’an....
Dan juga didalam Surat Al-Qadr Ayat 1 Allah berfirman,
Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an ini)
didalam Malam Kekuasaan.
Jadi, Malam Kekuasaan itu terjadi pada suatu malam diantara
hari-hari bulan suci Ramadhan. Banyak sekali sabda Nabi Muhammad
SAW yang mengemukakan perihal Lailatul-Qadr. Sebagaimana
disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari, Aisyah RA meriwayatkan
bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Carilah malam
itu diantara sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”
Disebutkan juga didalam kitab Shahih Muslim, diriwayatkan
oleh Ibnu Umar RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Carilah
malam itu didalam malam-malam berbilangan ganjil dari sepuluh
hari terakhir bulan Ramadhan.” Banyak orang yang meyakini
bahwa itu terjadi di malam ke-27 bulan Ramadhan. Dengan tidak
ditetapkan waktunya secara tepat, maka kita justru bisa mendapatkan
tambahan ganjaran dari Allah SWT karena mencarinya dan dengan
sendirinya larut dalam suasana mengingat Allah SWT. Sebenarnya
ini adalah kasih-sayang Allah SWT kepada kita.
Adakalanya kita bertanya-tanya, mengapa Allah SWT menurunkan
Al-Qur’an diwaktu malam dan bukannya di siang hari.
Hanyalah Allah yang mengetahui secara pasti. Kita bisa saja
mengatakan bahwa malam adalah waktu yang tenang, damai, dan
lebih mudah untuk berkonsentrasi, sehingga kita lebih khusyu’ dalam
memusatkan hati dan fikiran kita. Allah SWT berfiman didalam
Surat Al-Muzammil Ayat 6,
Sesungguhnya (beribadah) diwaktu malam itu berkesan lebih
khusyu’ dan kata-kata terucap dengan lebih lurus.
Dengan kata lain, kalimat tertangkap lebih jelas dan mengena,
dan kesan ibadahnya lebih lama bertahan.
Kitapun mengetahui bahwa, menurut perguruan-perguruan filsafat,
malam hari berarti kegelapan, kehampaan, kekosongan dan ketiadaan.
Ketika fajar menyingsing, cahaya yang hadir membuat semuanya
nampak amat jelas. Ketika Al-Qur’an diturunkan, kala
itu kehidupan kemanusiaan berada dalam kegelapan total. Al-Qur’an
mengubah dari kegelapan kedalam cahaya. Petunjuk yang begitu
jelas dari Al-Qur’an membedakan secara tegas yang benar
dengan yang salah, mana yang haq mana yang bathil. Disebutkan
pula didalam Surat Al-Baqarah Ayat 185, Allah SWT berfirman.
... diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia, dan keterangan yang memperjelas, dan sebagai furqan
(pembeda
antara yang benar dengan yang salah) ...
Ingatlah bahwa petunjuk ini tidak hanya untuk orang Arab,
bukan pula hanya untuk orang-orang mukmin, tetapi lebih ditujukan
kepada seluruh manusia. Hal ini sesuai dengan yang diterangkan
Allah SWT didalam Al-Qur’an, bahwa Allah SWT menurunkan
Al-Qur’an kepada hamba-Nya yang ta’at dan dicintai-Nya.
Al-Qur’an adalah petunjuk yang terang dan mengeluarkan
manusia dari kegelapan dan dibawa kedalam cahaya. Betapa
Allah SWT sungguh amat besar Kasih dan Sayang-Nya kepada
manusia.
Perhatikanlah sekali lagi bahwa perbuatan baik yang paling
disukai Allah SWT untuk dilakukan terhadap manusia adalah,
memberikan petunjuk-Nya. Karena jelas sekali tanpa petunjuk
(dari Allah SWT) ini, kemanusiaan dari sosok manusia itu
akan sirna untuk selama-lamanya ditelan kegelapan abadi.
Terakhir, perhatikanlah hadits berikut sebagai penutup kajian
ini. Aisyah RA bertanya kepada Nabi Muhammad SAW,”Lalu,
apakah yang sebaiknya aku lakukan jika aku menemui Lailatul-Qadr
ini? Nabi SAW bersabda, “Panjatkanlah doa ini:
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau
suka mengampuni, maka ampunilah juga kami.”
Saya berdo’a semoga Allah SWT menerima usaha yang saya
lakukan ini dengan merendahkan diri kepada-Nya, dan semoga
Allah SWT memberikan ampunan-Nya kepada diri saya, juga kepada
para pembaca, penyimak tulisan saya yang ringkas ini. Amiin.
|