netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


s

“Speeches For An Inquiring Mind”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


MARYAM

Menjelang, sewaktu, dan seusai perayaan hari Natal oleh umat Nasrani, kita mendengar seringnya disebut-sebut nama Maria, begitulah mereka memangil Maryam. Kita bisa melihat banyak pajangan gambar atau patung Maria di halaman-halaman gereja dan tempat-tempat perbelanjaan, dan terdengar pula nyanyian-nyanyian religius yang mengalun merdu. Terjadi kerancuan pada diri kaum Muslim dan anak-anak mereka ketika berada di suasana demikian.

Siapakah sebenarnya Maria atau Maryam itu? Marilah kita kenali ia dengan melihat kilas balik masa kecilnya, pertumbuhannya, masa mudanya, dan masa dewasanya, sebagaimana yang dituturkan didalam cahaya pedoman kita Al-Qur’an. Bagaimana terjadinya kehamilan pada Maryam dan bagaimana ia melahirkan anak satu-satunya, Isa AS, terdapat ayat-ayat Allah SWT bagi segenap manusia. Kisah kelahiran Maryam dapat disimak dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 35, 36

(Ingatlah) ketika istri ‘Imran berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku nazarkan kepada-Mu anak yang didalam kandunganku ini sebagai hamba-Mu yang melayani-Mu, maka kabulkanlah permohonanku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Maka ketika ia melahirkan anak perempuan, iapun berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan.” – Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya – “Dan tiadalah sama anak lelaki dengan anak perempuan. Sesungguhnya telah kunamakan ia Maryam, dan sesungguhnya aku mohon perlindungan-Mu atas dirinya dan anak-anak keturunannya dari (tipu daya) syeitan yang terkutuk.”

Begitulah, betapa sang ibu terkesima ketika mengetahui ia melahirkan anak perempuan, sementara telah ada pendapat umum yang mengatakan bahwa hanya anak lelaki yang dapat melayani Allah SWT didalam tempat ibadah. Walaupun demikian ia telah memberi nama Maryam untuk bayi perempuannya itu dan mendoakan bayinya kepada Allah SWT, memohon perlindungan dan pemeliharaan Allah SWT terhadap anak perempuannya itu beserta keturunannya kelak, dijauhkan-Nya dari bujuk-rayu syeitan yang terkutuk. Allah SWT juga berfirman di ayat itu, “Sesungguhnya anak perempuan ini tidak sama dengan anak lelaki.” Dengan kata lain, bahwa bayi perempuan yang baru dilahirkan oleh istri ‘Imran ini kelak akan menjadi perempuan istimewa dan amat sangat berbeda dengan anak lelaki umumnya. Di sisi lain, ayat ini jelas menunjukkan bahwa didalam Islam hak seorang ibu untuk memberi nama anak setara dengan hak seorang ayah. Jadi, tidak ada hak luar biasa untuk lelaki memilihkan nama anaknya. Karena sebenarnya hak lelaki dan perempuan menurut Islam adalah sama, yang berbeda adalah peran/tugas masing-masing, yang mana telah ditetapkan oleh Allah SWT yang telah menciptakan mereka, dan tentu saja Maha Mengetahui apa yang terbaik.

Selanjutnya, Allah SWT menjelaskan pertumbuhan bayi perempuan yang spesial ini didalam Surat Ali “imran Ayat 37.

Maka Allah mengabulkan permohonannya dengan sebaik-baiknya, dan membesarkannya dengan bimbingan yang sebaik-baiknya dengan menempatkannya dalam pemeliharaan Zakaria. Setiap kali Zakaria menjenguk Maryam di mihrabnya, ia (Zakaria) mendapati berbagai macam makanan disisinya. Iapun bertanya, “Wahai Maryam dari manakah kamu peroleh makanan ini?” Ia (Maryam) menjawab, “Ini dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberikan rizki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Pengalaman ini sangat mengilhami Nabi Zakaria AS. Maka iapun berfikir bahwa yang terpenting untuk dirinya adalah memohon kepada Allah SWT agar menganugerahinya seorang anak, mengingat hingga di usia senjanya ia belum memiliki keturunan. Ia menyadari bahwa jika Allah SWT dapat menyediakan beraneka ragam makanan sebagai rizki untuk anak perempuan ini, Dia-pun pasti bisa menganugerahkan seorang anak untuknya meskipun ia telah lanjut usia. Do’a Nabi Zakaria AS ini diabadikan Allah SWT didalam Surat Ali’Imran Ayat 38,

Maka Zakaria berdo’a memohon kepada Tuhannya, seraya berkata, “Wahai Tuhanku, anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.”

Allah SWT mengabulkan do’a Nabi Zakaria AS, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya Surat Ali’Imran Ayat 39.

Malaikat memanggil Zakaria sementara ia sedang berdiri mengerjakan shalat di mihrabnya (katanya), “Sesungguhnya Allah telah menggembirakanmu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang datang untuk membenarkan kalimat dari Allah, ia menjadi panutan, memelihara diri, dan seorang Nabi yang tergolong keturunan orang-orang yang shalih.”

Kita ketahui bahwa do’a seseorang sangat berpeluang untuk dikabulkan Allah SWT manakala ia mengerjakan shalat di Masjid. Allah SWT juga mempermaklumkan kepada manusia dari generasi kapanpun, bahwa Dia dengan mudah mengabulkan do’a Zakaria AS agar diberi keturunan dalam usia yang sudah sangat lanjut, begitu pula, Dia memberikan keturunan kepada Maryam walau tak satupun lelaki pernah menyentuh dirinya.
Zakaria AS sendiri terheran-heran dan berkata kepada Allah SWT sebagaimana terdapat dalam Ayat 40~41 Surat Ali’Imran.

Ia pun berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa memperoleh anak sedangkan aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul.” Allah berfirman “Demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Ia berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku pertanda.” Allah berfirman, “Tandanya, kamu tidak akan bisa berbicara dengan sesama manusia selama tiga hari kecuali dengan memakai isyarat. Dan banyak-banyaklah mengingat Tuhan-mu. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu petang dan pagi hari.”

Sekarang marilah kita ulas bagaimanakah pandangan umat Muslim atas Maryam selaku perempuan dewasa. Allah SWT berfirman didalam Surat Ali ‘Imran Ayat 42, 43,

Dan ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikanmu, melebihkan dirimu atas kaum perempuan di seluruh alam. Wahai Maryam, patuhlah kepada Tuhanmu, sujudlah dan ruku’lah kamu bersama-sama orang-orang yang ruku’.

Kita dapatkan satu catatan lagi, bahwa Allah SWT menambahkan ganjaran kepada seseorang bilamana yang bersangkutan semakin bertambah kepasrahannya kepada Allah SWT dengan cara memperbanyak melakukan ibadah shalat (kita kenal sebagai shalat sunnah). Perintah Allah SWT agar Maryam melakukan ruku’ bersama-sama mereka yang ruku’ menunjukkan bahwa Allah lebih suka bila shalat dikerjakan secara berjama’ah. Selanjutnya, Malaikat (Jibril) berkata kepada Maryam sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT didalam Surat Ali ‘Imran Ayat 45, 46.

(Ingatlah) Ketika Malaikat berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan Kalimat-Nya, namanya ialah Al-Masih, ‘Isa bin Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk dalam golongan orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Dan ia berbicara kepada manusia ketika masih dalam buaian dan ketika dewasa ia termasuk dalam golongan orang-orang shalih.

Maryam terheran-heran dengan berita itu sebagaimana digambarkan dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 47,

Ia berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, sedangkan aku belum pernah disentuh seorang lelakipun?” Allah berfirman (melalui Malaikat Jibril), “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendak-Nya!”

Apabila Dia berkehendak atas sesuatu, maka sesungguhnya Dia cukup berkata, “Jadilah!” maka terjadilah kehendak-Nya.
Jadi, kelahiran ‘Isa Al-Masih terjadi dengan kalimat Allah SWT, dan Yahya AS telah membenarkan hal ini. Selebihnya, telah jelas diungkapkan bahwa kelahiran ‘Isa AS telah berlangsung sewaktu Maryam; sang ibunda; belum pernah disentuh oleh lelaki seorangpun.

Al-Qur’an menjelaskan secara terperinci bagaimana Maryam mengalami mukjizat kehamilan dan bagaimana pula ia membawa diri selama masa kehamilannya. Perhatikanlah Surat Maryam Ayat 16~26.

Dan kisahkanlah didalam Kitab (Al-Qur’an) tentang Maryam, ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Ia telah memilih untuk membuat hijab antara ia dan mereka. Dan Kami telah mengutus Ruh Kami (yaitu Malaikat Jibril) yang menampakkan diri dihadapannya sebagai seorang lelaki sempurna. Maryam pun berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha Pengasih dari dirimu, jika kamu seorang yang takut kepada-Nya. Malaikat berkata: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan Tuhan-mu, untuk memberimu seorang putra yang suci.” Maryam berkata: “Bagaimana aku akan berputra sedangkan tak seorangpun pernah menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina?” Malaikat menjawab: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman; “Hal itu mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya sebagai tanda bagi manusia dan sebagai kasih-sayang (rahmat) Kami. Dan hal itu adalah perkara yang sudah ditetapkan.” Maka Maryam pun hamil, lalu ia memisahkan diri ke tempat yang jauh. Rasa sakit hendak melahirkan membawanya pada pelepah pohon kurma, ia berkata: “Oh, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tak berarti dan dilupakan.” Kemudian Jibril menyerunya dari tempat yang rendah:, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu. Dan goyang-goyangkanlah pelepah pohon kurma itu ke arahmu niscaya akan gugur buah-buah kurma yang telah masak itu kepadamu. Maka makanlah dan minumlah, dan senangkanlah hatimu. Jika kamu melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar kepada Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka aku takkan berbicara kepada seseorangpun pada hari ini.”

Kita perhatikan bahwa Maryam telah diperintahkan untuk mencoba menggoyang pelepah pohon kurma agar ia mendapatkan buah kurma masak. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus melakukan usaha terbaik untuk memperoleh sumber penghidupan. Berusaha sedemikian ini bukanlah berarti bertentangan dengan keimanan seseorang kepada Allah SWT.
Setelah sekitar empatpuluh hari menyendiri, Maryam kembali kepada keluarga dan kerabatnya bersama putranya dalam gendongannya. Percakapan antara Maryam dengan orang-orang yang dijumpainya diabadikan Allah SWT didalam Al-Qur’an Surat Maryam Ayat 27~32.

Kemudian ia membawa putranya kepada kaumnya, dengan menggendongnya. Mereka berkata: "Wahai Maryam kamu telah kembali dengan sesuatu yang menghebohkan. Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu sama sekali bukanlah seorang yang pernah berlaku buruk, dan ibumupun bukanlah seorang pelacur.” Maryam menunjuk kearah putranya. Merekapun berkata, “Bagaimana bisa kami bercakap-cakap dengan seorang anak kecil yang masih dalam gendongan?” Maka berkatalah ‘Isa: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang Nabi. Dan dijadikan-Nya aku diberkahi dimanapun aku berada, dan Dia perintahkan aku untuk (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama hidupku, dan berbakti kepada ibuku, dan tidaklah Dia menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

Dalam pernyataan ini, kita petik pengetahuan bahwa kalimat yang pertama kali diucapkan oleh ‘Isa AS adalah pernyataan bahwa dirinya adalah sorang hamba Allah SWT yang patuh, dan tidak menyekutukan Allah SWT sampai kapanpun. Kedua, Shalat dan Zakat adalah kewajiban setiap ummat, maka semua orang harus menunaikan kewajiban ini selama hidup mereka di dunia ini.

Sampai disini, kita telah melihat kilas balik kehidupan Maryam sejak ia masih bayi, dimasa pertumbuhannya, sehingga menjadi perempuan dewasa, dan menjadi seorang ibu yang lain daripada lazimnya para ibu yang lain. Terdapat banyak tanda-tanda Kebesaran Allah SWT dan petunjuk bagi mereka yang suka menyenangkan Allah SWT. Dengan demikian nampaklah sudah betapa berbeda penggambaran Maryam didalam Al-Qur’an dengan yang dipahami kaum Nasrani.

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari segala bentuk kemusyrikan, dan menjadikan kita hamba-hambanya yang bertaqwa kepada-Nya. Amiin.