netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


s

“Speeches For An Inquiring Mind”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


MASYARAKAT MUSLIM MADINAH


Umat Islam yang bertempat tinggal di Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW dapat dikelompokkan menjadi dua kaum, yakni kaum Muhajirin (mereka yang berhijrah dari Makkah) dan kaum Anshar (penduduk asli Madinah). Ciri-ciri dari kedua kaum ini dijelaskan didalam Surat Al-Hasyr. Allah SWT berfirman perihal kaum Muhajirin didalam Surat Al-Hasyr Ayat 8

(Dan ada juga bagian dari harta ini) untuk para fakir dari golongan Muhajirin yang terusir dari kampung halaman dan harta-benda mereka, demi mencari karunia Allah serta Ridha-Nya, dan demi menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (perkataannya).

Kaum Muhajirin ini telah mengalami siksaan yang tiada henti-hentinya dari orang-orang kafir Makkah, sehingga tak tertahankan lagi untuk terus menetap di sana. Keadaan inilah yang memaksa mereka untuk berhijrah ke Madinah. Orang-orang kafir Makkah menguasai tempat tinggal dan harta benda yang mereka tinggalkan. Maka dari itu Allah SWT menyebut mereka didalam Al-Qur’an sebagai Fakir, atau dengan kata lain amat sangat miskin. Seringkali, sebagian besar dari mereka tidak memiliki apapun untuk sekedar makan sehingga biasanya mereka mengikatkan batu-batu untuk menekan perut, menahankan lapar. Banyak pula yang diantara mereka yang menggali tanah, membuat liang untuk duduk melindungi diri mereka sendiri dari terpaan udara dingin.

Ciri-ciri ke-dua dari para Muhajirin ini adalah alasan yang melatar-belakangi kepergian mereka meninggalkan kampung-halaman mereka. Mereka berhijrah bukan demi keuntungan duniawi berupa apapun. Dapat dipastikan bahwa mereka melakukannya demi mencari ridha Allah SWT dalam kehidupan di dunia ini, dan untuk mencari karunia-Nya di Hari Pembalasan kelak.

Ciri-ciri yang ke-tiga, mereka berhijrah untuk menolong Allah SWT dan Rasulullah SAW. Maksud dari menolong Allah SWT disini adalah menolong dalam hal mendakwahkan Al-Islam. Mereka telah memberikan pengorbanan yang luar biasa demi mencapai dua macam tujuan di atas.
Ciri-ciri ke-empat dari para Muhajirin ini adalah, mereka itu benar dalam kata dan perbuatan. Mereka berdiri tegak diatas ikrar yang mereka ucapkan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW (mengucapkan dua kalimat syahadat) di awal mula mereka masuk Islam. Allah SWT menegaskan didalam firman-Nya diatas, bahwa para Muhajirin itu seluruhnya adalah benar (shiddiq). Maka, mengatakan sesuatu keburukan perihal mereka adalah bertentangan dengan pernyataan Allah SWT tersebut di atas.

Pada ayat berikutnya; Surat Al-Hasyr Ayat 9; Allah SWT menjelaskan ciri-ciri kaum Anshar,

Dan mereka yang sebelum itu telah bertempat tinggal di Madinah dan telah beriman (kaum Anshar), mencintai para Muhajirin, tidak ada kecemburuan didalam dada mereka atas apa-apa yang telah mereka berikan (kepada para Muhajirin) dan mereka itu lebih mengutamakan (para Muhajirin) diatas kepentingan mereka sendiri, walaupun sebenarnya mereka juga membutuhkan apa-apa yang telah diberikan itu. Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikirannya sendiri, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Penting untuk digaris-bawahi, bahwa Imam Malik menganggap kota Madinah adalah kota yang paling diberkati oleh Allah SWT dan merupakan kota yang amat berbeda dengan kota-kota lain di dunia ini. Sebab, kota ini telah tertaklukkan oleh Iman. Adapun kota-kota lain, termasuk Makkah, tertaklukkan melalui pertempuran dalam arti yang sebenarnya. Maka, Allah SWT menyatakan bahwa ciri-ciri pertama dari kaum Anshar adalah, mereka dibesarkan di kota yang dimuliakan, karena dipersiapkan sebagai tempat bernaung bagi Rasulullah SAW dan para pengikutnya.

Cir-ciri yang ke-dua, kaum Anshar tidak memandang para Muhajirin yang tak berdaya itu sebagai aral atas diri mereka. Mereka menerima para Muhajirin dengan tangan terbuka dan mencintai mereka secara tulus. Karena cinta inilah, kaum Anshar rela berbagi rata seluruh kepemilikan mereka dengan kaum Muhajirin, bahkan sampai pada perlengkapan rumah-tangga pun mereka bagikan. Lebih dari itu, orang-orang Anshar yang beristri lebih dari satu, secara sukarela segera menceraikan satu diantaranya agar dapat dinikahi oleh para muhajirin. Dalam menjalankan hal ini, orang Anshar memperkenalkan saudaranya dari Muhajirin kepada istri-istrinya, kemudian ia menyuruh saudaranya muhajirin itu untuk memilih yang mana yang paling menarik hatinya. Kebetulan, pada waktu itu kewajiban mengenakan jilbab belum diwahyukan.

Ciri-ciri yang ke-tiga dari kaum Anshar adalah, mereka menerima dengan sepenuh-hati apapun yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada kaum Muhajirin. Sebagai contoh, ketika kaum Muslim berhasil mengambil alih kendali atas harta kekayaan dari Banu Nadhir dan Banu Qainuqa’ tanpa menempuh jalan pertempuran, harta benda itu harus dibagikan oleh Rasulullah SAW kepada lima kategori penerima Fa’i sebagaimana tersebut didalam Al-Qur’an. Maka beliau meminta Tsabit bin Qaish RA untuk mengumpulkan kaum Anshar. Beliau kemudian berkhutbah di hadapan mereka dan memuji perilaku keteladanan mereka terhadap para Muhajirin. Selanjutnya, Nabi SAW menawarkan dua pilihan berkaitan dengan pembagian kepemilikan harta kekayaan yang baru saja diperoleh itu, “Jika kubagikan perolehan ini kepada semua orang Anshar dan Muhajirin, maka para Muhajirin masih akan terus tinggal di rumah para Anshar. Pilihan lainnya, kubagikan perolehan ini hanya kepada para Muhajirin dan dengan demikian mereka bisa meninggalkan rumah para Anshar dan memulai hidup mandiri.” Pemimpin kaum Anshar, Sa’ad bin ‘Ibada dan Sa’ad bin Ma’az menanggapi, “Silahkan, bagikanlah diantara kaum Muhajirin saja, dan hendaklah merekapun tetap tinggal di rumah kami.” Allah SWT menyukai tanggapan para Anshar ini dan mewahyukan ayat yang menyatakan bahwa kaum Anshar sama sekali tidak merasa keberatan didalam hati mereka perihal pembagian harta kekayaan yang bernilai tinggi. Kaum Anshar berbuat demikian bagaikan mereka sama sekali tidak membutuhkan harta itu.

Begitulah, pembagian pun dilakukan diantara kaum Muhajirin saja oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, dua orang Anshar yang sangat membutuhkan, yakni Sahal bin Hanif RA dan Abu Dujana RA juga memperoleh bagian.
Ciri-ciri ke-empat dari kaum Anshar adalah, mereka lebih cenderung mencukupi kebutuhan kaum Muhajirin, walaupun mereka juga mempunyai kebutuhan yang sama.

Qurthubi telah menguraikan beberapa situasi yang menyangkut hubungan Muhajirin dan Anshar. Beberapa diantaranya disajikan disini karena sangat penting untuk pencerahan seluruh umat manusia.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa, suatu kali seseorang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Saya teramat sangat lapar dan sudah tak tertahankan lagi.” Maka Rasulullah bertanya kepada istri-istri beliau adakah makanan di rumah. Mereka menjawab bahwa tidak ada lagi makanan, hanya air saja yang tersedia. Maka, beliau bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang akan menjamu saudara kita ini pada malam ini?” Seorang Anshar menawarkan diri. Ia membawa saudara yang kelaparan itu ke rumahnya dan menyuruh istrinya menyajikan makanan. Tetapi istrinya menjawab, “Makanan hanya pas-pasan untuk dibagikan pada anak-anak kita saja.” Orang Anshar itupun berkata kepada istrinya,”Baringkanlah anak-anak, agar mereka tertidur. Lalu, sajikankah makanan itu dan matikanlah lentera. Aku harus berpura-pura makan bersama tamu kita ini. Ia tidak akan mengetahuinya dalam gelap.” Maka tamu itupun makan, dan keesokan harinya kedua orang itu kembali menjumpai Rasulullah SAW. Maka Nabi SAW memberi ucapan selamat kepada orang Anshar ini, beliau bersabda, “Allah SWT sangat menyukai keramah-tamahanmu tadi malam.” (Tirmidzi)

Abdullah bin Umar RA meriwayatkan, seseorang mengirimkan bingkisan daging domba kepada seorang saudaranya sesama Muslim. Orang yang dihadiahi ini menghadiahkan bingkisan itu kepada seorang Muslim yang lain, karena ia berpendapat bahwa yang diberinya itu lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri. Orang yang ke-tiga ini memberikan bingkisan itu kepada orang ke-empat yang dipandang jauh lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri. Bingkisan itu telah berpindah-pindah melalui tujuh tangan sampai kembali kepada orang yang semula menghadiahkan daging domba ini.

Hadits ini disebutkan oleh Qusyari. Riwayat serupa juga diriwayatkan oleh Anas sebagaimana diterangkan oleh Tsa’labi.
Aisyah RA meriwayatkan bahwa, seorang peminta-minta mendatangi rumahnya dan meminta sedekah. Pada waktu itu hanya ada sepotong roti di rumahnya. Aisyah RA menyuruh pembantunya untuk memberikan roti satu-satunya itu kepada sang pengemis, pembantunya pun bertanya keheranan bagaimana Aisyah RA petang nanti berbuka puasa. Namun Aisyah RA tetap mendesak agar roti itu diberikan. Saat berbuka puasa tiba, seseorang mengirimkan hadiah daging domba panggang kepada Aisyah RA, maka diundanglah pembantunya untuk ikut serta makan malam bersamanya.

Nasa’i mengisahkan bahwa sekali waktu Abdullah bin Umar RA jatuh sakit, ia ingin sekali makan beberapa butir buah anggur. Maka dibelilah buah anggur dan dibawakan kepadanya. Kebetulan sekali, datang seorang meminta-minta, Ibnu Umar RA pun memberikan anggur itu. Salah seorang yang menjenguk Ibnu Umar mengikuti kemana perginya pengemis itu, dibelinya lagi anggur itu dari si pengemis dan diberikannya lagi kepada Ibnu Umar RA. Pengemis itu hendak kembali lagi kepada Ibnu Umar RA untuk meminta-minta, tetapi orang-orang melarangnya untuk kembali lagi. Kebetulan Ibnu Umar RA mengira bahwa buah anggur yang dikirimkan kepadanya dibeli di pasar, kalau saja tidak berpikir demikian maka pastilah ia gagal menikmati buah anggur itu untuk ketiga-kalinya.

Ibnu Mubarak menulis dalam Masnadnya bahwa, suatu ketika Khalifah Umar RA mengutus pembantunya mengirim hadiah uang empat ratus dinar kepada Abu Ubaidah bin Jarah. Umar RA menugaskan pembantunya untuk mengamati bagaimana uang itu dibelanjakan. Sang pembantu melaporkan bahwa Abu Ubaidah membagi-bagikan uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan.

Khalifah Umar RA juga mengirimkan uang dengan jumlah yang sama kepada Muaz bin Jabal RA melalui pembantu beliau, dan memerintahnya agar mengamati bagaimana uang itu dibelanjakan. Pembantu itu melaporkan kepada Umar RA bahwa Muaz juga membagi-bagikan uang itu untuk mereka yang membutuhkan. Ketika tersisa dua dinar, istri Muaz berkata, “Akupun orang miskin, maka akupun juga pantas mendapat bagian.” Muaz pun memberikan sisa uang itu kepada istrinya. Khalifah Umar berkata kepada pembantunya, “Mereka semuanya bersaudara dan serupa pula sifat-sifatnya.”

Hudzaifah ‘Adawi RA meriwayatkan, “Aku berangkat untuk mencari Jasad sepupuku sewaktu perang Yarmuk. Aku memiliki air yang kupersiapkan untuk mereka yang masih terdapat tanda-tanda hidup. Kutemukan sepupuku dalam keadaan hampir mati. Aku tawarkan kepadanya air yang kubawa. Ia mendengar rintihan saudara Muslim yang lain yang berjarak dekat dengannya. Sepupuku menolak untuk minum air itu dan mendesakku agar air itu diberikan kepada sesamanya yang juga cedera. Begitu aku sampai didekat orang kedua, iapun mendengar rintihan saudara Muslim yang lain lagi. Orang kedua ini mengambil air itu untuk diberikan kepada orang yang ke-tiga. Dengan cara demikian aku telah mendatangi tujuh orang yang berlainan yang sama-sama cedera. Masing-masing dari mereka cenderung memperhatikan kebutuhan saudaranya daripada dirinya sendiri. Ketika aku sampai pada orang ke-tujuh, ia baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Bersegera aku kembali kepada sepupuku, iapun telah menjumpai maut.”

Allah SWT menggolongkan Umat Nabi Muhammad SAW dalam tiga kelompok; Muhajirin, Anshar, dan selebihnya yang bukan dari Muhajirin ataupun Anshar. Allah menggambarkan banyak sekali keutamaan Muhajirin dan Anshar didalam Al-Qur’an. Namun, Allah SWT hanya menguraikan satu keutamaan yang perlu digaris-bawahi mengenai umat yang selebihnya. Kelompok ke-tiga ini haruslah secara tulus menghargai para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu bukan saja menonjol dari segi kemurnian Iman mereka, tetapi juga melalui mereka itulah Iman ini sampai kepada kita. Dengan demikian, Kelompok ke-tiga ini hendaklah mendo’akan para sahabat Rasulullah SAW, dan jangan memendam aneka perasaan tidak nyaman dalam hal apapun didalam hati terhadap para sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Do’a yang sangat indah itu diajarkan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Hasyr Ayat 10.

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdo’a, “Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami, dan janganlah Engkau biarkan didalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman, wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Mus’ab bin Sa’id meriwayatkan bahwasanya kita hanya bisa termasuk dalam kelompok yang ke-tiga ini dengan cara mengamalkan keutamaan yang telah dinyatakan di atas.

Dari ayat di atas, Qurthubi menyimpulkan bahwa, adalah wajib bagi kita untuk memiliki rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada para sahabat Rasulullah SAW. Imam Malik berkata, “Seorang Muslim tidak akan mendapat bagian dari apapun yang diperoleh jika ia tidak memiliki timbal balik berupa rasa hormat kepada Sahabat Rasulullah SAW. Abdullah bin Abbas berkata, “Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk mendo’akan para sahabat Nabi Muhammad SAW meskipun Allah mengetahui bahwa diantara para sahabat itu berbeda pendapat satu sama lain, bahkan ada yang bertikai satu sama lain.” Jadi, kita harus tetap menanamkan perasaan baik terhadap seluruh Sahabat Rasulullah Muhammad SAW.

Aisyah RA meriwayatkan, “Aku mendengar dari Rasulullah Muhammad SAW bahwa umatnya tidak akan mengalami kehancuran jika mereka tidak mengecam umat yang terlebih dahulu ada daripada mereka.”
Abdullah bin Umar RA meriwayatkan, “Bilamana kamu bertemu dengan seseorang yang mengecam para sahabat Nabi Muhammad SAW, hendaknya katakan saja dengan ringan, “Semoga Allah SWT menimpakan kecaman-Nya kepada yang terburuk diantara kalian.” Dengan cara ini, Allah SWT sendiri yang akan memutuskan balasan yang layak bagi si pengecam itu.

‘ Awwam bin Jusyab RA berkata, “Aku dapati kaum muslimin pada masa dahulu (salafus shalih) saling mengingatkan terhadap yang lain perihal keutamaan-keutamaan para Sahabat yang sangat penting untuk dikenang agar dapat meningkatkan kecintaan kita kepada mereka. Mereka (umat muslim generasi dahulu/salafus shalih) itu menghidarkan diri dari menyebutkan perbedaan pendapat dan perselisihan diantara para Sahabat, sehingga para musuh Islam tidak menjadi terlalu berani mencela para Sahabat Rasulullah SAW.”

Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk menghargai dan menghormati keutamaan para Sahabat Rasulullah SAW, sehingga kita bisa dimasukkan Allah SWT kedalam kelompok yang ke-tiga dari Umat Muhammad Rasulullah SAW, dan memperoleh keberhasilan didalam kehidupan yang sekarang maupun di kehidupan mendatang. Amiin.