s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
MEMBELANJAKAN HARTA DI JALAN ALLAH
SWT
Membelanjakan harta di jalan Allah SWT (kita kenal istilah,
fisabilillah) adalah satu dari ciri-ciri utama orang-orang
mukmin sejati. Dalam hal ini, Allah SWT tidak sekedar memerintahkan
melainkan juga memberi motivasi begitu indah, agar kita tergerak
untuk melaksanakannya. Sebagai contoh motivasi yang diberikan,
salah satunya terdapat didalam Surat Al-Baqarah Ayat 265.
Perumpamaan mereka yang membelanjakan hartanya demi mendapat
ridha Allah dan meneguhkan (keimanan) jiwanya adalah bagaikan
sebidang kebun ditempat yang tinggi. Ketika ditimpa hujan
lebat maka hasil buahnya duakali lipat banyaknya. Jika hujan
lebat tidak turun maka hujan gerimispun telah mencukupi.
Dan Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
Berbicara soal membelanjakan harta fisabilillah tampaknya
mudah. Namun demikian, diperlukan kemauan yang cukup kuat
untuk melakukannya. Maka dari itu, membelanjakan/menafkahkan
(ber-infaq) harta di jalan-Nya dapat memperkuat jiwa dan
akhlaq orang yang melakukannya. Lebih jauh lagi, sekecil
apapun infaq yang disisihkan dengan penuh ikhlas sudahlah
mencukupi untuk meraih ganjaran/balasan yang besar dari Allah
SWT.
Dorongan atau motivasi yang diberikan dengan cara lain oleh
Allah SWT kepada kita, terdapat didalam Surat Al-Hadid Ayat
7,
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan infaqkanlah
sebagian harta yang Allah telah menjadikanmu menguasainya.
Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan berinfaq,
bagi mereka itu ada ganjaran yang besar.
Pada ayat ini Allah SWT menjelaskan kepada kita bahwa apapun
yang kita miliki, sebelumnya telah pernah dimiliki oleh orang
lain. Begitu pula nantinya apa yang kita miliki akan berpindah
kedalam kepemilikan orang lain. Begitulah, kita adalah pengelola
sementara atas harta itu, dengan kata lain peran kita hanyalah
sebagai pemegang amanat. Maka dari itu, kita tidak perlu
ragu-ragu dalam membelanjakan sebagian harta yang mana sifat
kepemilikan kita atasnya hanyalah sementara. Selanjutnya,
dengan ayat ini menjadi jelaslah bagi kita bahwa hanya mereka
yang beriman dan menafkahkan hartanya di Jalan Allah SWT
sajalah yang kelak akan memperoleh ganjaran yang besar dari
Allah SWT. Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman, yang
membelanjakan hartanya untuk keperluan sosial, kelak di Hari
Pembalasan tidak ada balasan baginya atas kebajikan yang
telah ia lakukan itu, walaupun di dunia ini beberapa bentuk
penghargaan bisa saja diperolehnya.
Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Hadid Ayat 10,
Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada
jalan Allah? Padahal Allah-lah yang mempusakai (memiliki)
langit dan bumi.
Pada ayat ini juga terkandung petunjuk dan dorongan untuk
membelanjakan sebagian harta di jalan Allah SWT. Dorongan
itu berupa ajakan untuk merenungi, adakah diantara kita yang
memiliki sebagian dari langit? Tentu tidak! Sesungguhnya
hanya kepunyaan Allah SWT sajalah seluruh langit itu. Demikian
pula dengan apa saja yang di bumi ini semuanya milik Allah
SWT, walaupun seringkali kita terbiasa salah-ucap mengatakan, “ mobil
saya, rumah saya, ataupun, ini balai pengobatan saya.” Maka
dengan firman-Nya yang merangkai kata langit dan bumi, Allah
SWT menerangkan kepada kita bahwa, sebagaimana halnya apapun
yang di langit adalah milik-Nya demikian pulalah dengan apa-apa
yang ada di bumi juga milik Allah SWT. Maka tak perlu kita
ada keengganan untuk menafkahkan di jalan Allah SWT, harta
yang sejatinya adalah milik Allah SWT. Maka dari itu Allah
SWT pun mengundang kita didalam Surat Al-Hadid Ayat 11,
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman
yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman
itu untuknya, dan ia akan memperoleh pahala yang banyak.
Apakah yang dimaksud dengan pahala/ganjaran yang besar atau
pahala yang banyak? Ini dapat secara baik kita pahami dengan
menilik Ayat ke-36 dari Surat An-Naba berikut ini.
Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.
Ganjaran Surga jauh melampaui balasan yang patut kita terima
atas perbuatan baik yang telah kita lakukan. Jadi, sebagai
tambahan dari balasan itu, Allah SWT juga memberikan hadiah
yang cukup banyak. Besarnya hadiah ini tergantung kepada
keikhlasan dan niatan perbuatan kebajikannya. Itulah yang
disebut oleh Allah SWT sebagai pahala yang banyak atau pahala
yang besar di berbagai ayat didalam Al-Qur’an. Demikianlah
kita akan memperoleh balasan dari Allah SWT, atas harta yang
kita pergunakan fisabilillah sesuai dengan niat dan kadar
keikhlasan kita pada saat melakukannya.
Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika
seseorang memiliki satu lembah emas, ia takkan pernah merasa
puas. Ia akan menginginkan satu lagi lembah penuh emas untuk
dimilikinya. Padahal sesungguhnya hanya debu-kuburlah yang
bisa memenuhi/memuaskan mulut seseorang.” (Bukhari)
Ubai bin Ka’ab mengatakan bahwa hadits ini begitu sering
dibaca-ulang, sampai-sampai kami menyangka itu adalah ayat-ayat
Al-Qur’an sehingga Allah SWT mewahyukan Surat At-Takatsur
Ayat 1~8.
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu
masuk kedalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui
(akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu
akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan
pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat
Neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya
dengan ‘ainul yaqin (yakin sebab melihat sendiri),
kemudian kamupun pasti akan ditanyai pada hari itu tentang
kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Muhammad
SAW menyampaikan sabda beliau kepada para sahabat, “Dapatkah
kamu membaca seribu (1000) ayat Al-Qur’an setiap hari?.” Para
sahabat pun berkata, “Siapakah dari kita yang sanggup
melakukannya!?.” Rasulullah pun bersabda, “Adakah
kamu tak dapat membaca Surat At-Takatsur.” (Al Hakim
dan Al Baihaqi)
Dengan demikian berarti bahwa kandungan pesan didalam Surat
At-Takatsur itu setara dengan seribu ayat. Adalah kenyataan
bahwa kelemahan manusia itu adalah menumpuk-numpuk dan terus
menambah harta dalam genggamannya hingga maut menjemput.
Sungguhpun demikian, ada kewajiban orang beriman untuk membayar
zakat (maal) sebesar 2.5 % (dua setengah persen) dari hartanya.
Perlu diingat juga bahwa Allah SWT sering kali menyebutkan
perintah Zakat langsung mengikuti perintah Shalat didalam
Al-Qur’an. Dengan kata lain, Tidak diterima Allah SWT
shalat seseorang sehingga ia bayarkan kewajiban zakatnya.
Khalifah Abu Bakar RA adalah sahabat yang terbaik pemahamannya
dalam hal zakat. Beliau menugaskan pasukan untuk memerangi
mereka-mereka yang menolak membayar zakat walaupun mereka
itu masih mengerjakan shalat dan menunaikan puasa.
Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Muzammil Ayat 20:
Dan dirikanlah shalat dan bayarlah zakat, dan pinjamkanlah
kepada Allah pinjaman yang baik.
Pada ayat ini, Selain memerintahkan kita untuk membayar zakat,
Allah SWT juga menganjurkan kita untuk dengan ikhlas menambah
lagi belanja kita di Jalan Allah SWT. Ciri-ciri orang yang
sungguh-sungguh mukmin banyak disebutkan di berbagai ayat
didalam Al-Qur’an. Misalnya, didalam Surat Adz-Dzariat
Ayat 17~19 Allah SWT berfirman,
Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam; Dan di akhir malam
mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta
mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan
yang tidak mendapat bagian (tidak meminta).
Begitupun didalam Surat Al-Ma’arij Ayat 24, 25; Allah
SWT berfirman:
Dan orang-orang yang didalam hartanya tersedia bagian tertentu,
bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai
apa-apa (yang tidak mau meminta)
"
Bagian tertentu" yang dimaksud didalam ayat ini adalah
bagian yang telah ditetapkan untuk sepanjang masa oleh Allah
SWT dalam bentuk zakat yakni sebesar 2,5 % (dua setengah
persen) dari harta kekayaannya. Tersebut pula didalam firman
Allah SWT Surat Al-Insaan Ayat 8 & 9,
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang
miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami
memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan
Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula
(ucapan) terima kasih.
Terkadang kita heran, mengapa Allah SWT menakdirkan Nabi
Muhammad SAW terlahir dalam keadaan yatim. Tentunya hanya
Allah SWT sajalah yang mengetahui secara sempurna tentang
hal ini. Mungkin saja, salah satu alasan adalah Allah SWT
berkehendak menanamkan di masa kecil Rasulullah SAW bagaimana
rasanya hidup sebagai anak yatim, karena ini merupakan latihan
penting bagi beliau yang dikemudian harinya diangkat oleh
Allah SWT sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (sebagai rahmat
bagi alam semesta).
Bimbingan dan Petunjuk Allah SWT berpengaruh amat seketika
terhadap para sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai contoh,
perhatikanlah firman Allah didalam Ayat ke 92 dari Surat
Ali ‘Imran berikut ini.
Tidaklah sekali-kali kamu sampai pada kebajikan (yang sempurna),
sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.
Begitu mendengar turunnya ayat ini, Abu Thalhah RA bergegas
mendatangi Rasulullah SAW untuk menyerahkan kebunnya yang
terbaik, disumbangkan untuk kepentingan Sabilillah. Begitu
pula dengan Zaid bin Haritsah RA, ia segera menyerahkan kuda
terbaik yang dimilikinya.
Saya berdo’a semoga Allah SWT memberikan kemampuan
kepada kita untuk membayar Zakat dan mengeluarkan sedekah
secara tulus-ikhlas dan teratur dari waktu ke waktu. Amiin.
|