s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
MENGUCAPKAN
SALAM
MENURUT ISLAM
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hasyr Ayat 23:
Dialah Allah, tidak ada ilaah(sesembahan) yang layak kecuali
Dia, Maha Rajadiraja, yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha
Mengaruniai rasa aman, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha
Kuasa, Maha Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari
segala yang mereka persekutukan.
Didalam ayat ini, As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah satu
dari Nama-nama Agung Allah SWT. Kini, Kita akan mencoba untuk
memahami arti, keutamaan dan penggunaan kata Salam.
Sebelum terbitnya fajar Islam, orang Arab biasa menggunakan
ungkapan-ungkapan yang lain, seperti Hayakallah
yang artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup, kemudian
Islam memperkenalkan ungkapan Assalamu ‘alaikum. Artinya,
semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan
nestapa. Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an
mengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah
SWT dan berarti Semoga Allah menjadi Pelindungmu.
Ungkapan Islami ini lebih berbobot dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan
kasih-sayang yang digunakan oleh bangsa-bangsa lain. Hal
ini dapat dijelaskan dengan alasan-alasan berikut ini.
1. Salam bukan sekedar ungkapan kasih-sayang, tetapi memberikan
juga alasan dan logika kasih-sayang yang di wujudkan dalam
bentuk doa pengharapan agar anda selamat dari segala macam
duka-derita. Tidak seperti kebiasaan orang Arab yang mendoakan
untuk tetap hidup, tetapi Salam mendoakan agar hidup dengan
penuh kebaikan.
2. Salam mengingatkan kita bahwa kita semua bergantung kepada
Allah SWT. Tak satupun makhluk yang bisa mencelakai atau
memberikan manfaat kepada siapapun juga tanpa perkenan Allah
SWT.
3. Perhatikanlah bahwa ketika seseorang mengatakan kepada
anda, “Aku berdoa semoga kamu sejahtera.” Maka
ia menyatakan dan berjanji bahwa anda aman dari tangan (perlakuan)nya,
lidah (lisan)nya, dan ia akan menghormati hak hidup, kehormatan,
dan harga-diri anda.
Ibnu Al-Arabi didalam Ahkamul Qur’an mengatakan:
Tahukah kamu arti Salam? Orang yang mengucapkan Salam
itu memberikan pernyataan bahwa ‘kamu tidak terancam
dan aman sepenuhnya dari diriku.’
Kesimpulannya, bahwa Salam berarti, (i) Mengingat (dzikr)
Allah SWT, (ii) Pengingat diri, (iii) Ungkapan kasih sayang
antar sesama Muslim, (iv) Doa yang istimewa, dan (v) Pernyataan
atau pemberitahuan bahwa ‘anda aman dari bahaya tangan
dan lidahku’
Sebuah Hadits merangkumnya dengan indah:
Muslim sejati adalah bahwa dia tidak membahayakan setiap
Muslim yang lain dengan lidahnya dan tangannya
Jika kita memahami hadits ini saja, sudahlah cukup untuk
memperbaiki semua umat Muslim. Karena itu Rasulullah Muhammad
SAW sangat menekankan penyebaran pengucapan Salam antar sesama
Muslim dan beliau menyebutnya sebagai perbuatan baik yang
paling utama diantara perbuatan-perbuatan baik yang anda
kerjakan.
Ada beberapa Sabda Rasulullah, SAW yang menjelaskan pentingnya
ucapan salam antar seluruh Muslim.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kamu
tidak dapat memasuki Surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu
belumlah lengkap sehingga kamu berkasih-sayang satu sama
lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang jika kamu
kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih-sayang
diantara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama
lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu
kenal.” (Muslim)
Abdullah bin Amr RA mengisahkan bahwa seseorang bertanya
kepada Rasulullah SAW, “Apakah amalan terbaik dalam
Islam?” Rasulullah SAW menjawab: Berilah makan orang-orang
dan tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kamu saling
mengenal ataupun tidak.” (Sahihain)
Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Orang
yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu
memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)
Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah
SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT
yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam.
Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya
ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis
tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik
dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan
salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu'jam Al Kabir oleh At
Tabrani)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang
kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir
dalam menyebarkan Salam.”
Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa
Ayat 86:
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah
dengan penghormatan yang lebih baik, atau balaslah dengan
yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap
yang kamu kerjakan.
Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas
dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik. Hal ini telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang disebutkan
oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hathim. Suatu hari ketika Rasulullah
SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, seseorang datang
dan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum.” Maka
Rasulullah SAW pun membalas dengan ucapan “Wa’alaikum
salaam wa rahmah” Orang kedua datang dengan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa
rahmatullah” Maka Rasulullah membalas dengan, “Wa’alaikum salaam
wa rahmatullah wabarakatuh” . Ketika orang ketiga datang
dan mengucapkan “Assalaamu’alikum wa rahmatullah
wabarakatuhu.” Rasulullah SAW menjawab: ”Wa’alaika”.
Orang yang ketiga pun terperanjat dan bertanya, namun tetap
dengan kerendah-hatian, “Wahai Rasulullah, ketika mereka
mengucapkan Salam yang ringkas kepadamu, Engkau membalas
dengan Salam yang lebih baik kalimatnya. Sedangkan aku memberi
Salam yang lengkap kepadamu, aku terkejut Engkau membalasku
dengan sangat singkat hanya dengan wa’alaika.” Rasulullah
SAW menjawab, “Engkau sama sekali tidak menyisakan
ruang bagiku untuk yang lebih baik. Karena itulah aku membalasmu
dengan ucapan yang sama sebagaimana yang di jabarkan Allah
didalam Al-Qur’an.”
Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, membalas
Salam dengan tiga frasa (anak kalimat) itu hukumnya Sunnah,
yaitu cara yang dilakukan Nabi
Muhammad SAW. Kebijaksanaan membatasi Salam dengan tiga frasa ini karena Salam
dimaksudkan sebagai komunikasi ringkas bukannya pembicaraan panjang.
Didalam ayat ini Allah SWT menggunakan kalimat obyektif tanpa menunjuk subyeknya.
Dengan demikian Al-Qur’an mengajarkan etika membalas penghormatan. Disini
secara tidak langsung kita diperintah untuk saling memberi salam. Tidak adanya
subyek menunjukkan bahwa hal saling memberi salam adalah kebiasaan normal dan
wajar yang selalu dilakukan oleh orang-orang beriman. Tentu saja yang mengawali
mengucapkan salamlah yang lebih dekat kepada Allah SWT sebagaimana sudah dijelaskan
diatas.
Hasan Basri menyimpulkan bahwa:
“ Mengawali mengucapkan salam sifatnya adalah sukarela, sedangkan membalasnya
adalah kewajiban”
Disebutkan didalam Muwattha' Imam Malik, diriwayatkan oleh Tufail bin Ubai
bin Ka’ab bahwa, Abdullah bin Umar RA biasa pergi ke pasar hanya untuk
memberi salam kepada orang-orang disana tanpa ada keperluan membeli atau menjual
apapun. Ia benar-benar memahami arti penting mengawali mengucapkan salam.
Pada bagian kalimat terakhir Surat An-Nisa ayat 86, Allah SWT berfirman:
... Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.
Disini, mendahului memberi salam dan membalasnya juga termasuk yang diperhitungkan.
Maka kita hendaknya menyukai mendahului memberi salam. Sama halnya kita harus
membalas salam demi menyenangkan Allah SWT dan menyuburkan kasih-sayang diantara
kita semua.
Rasulullah SAW selanjutnya memberikan arahan memberi salam bahwa:
• Orang yang berkendaraan harus memberi salam kepada pejalan-kaki.
• Orang yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk.
• Kelompok yang lebih sedikit memberi salam kepada kelompok yang lebih
banyak jumlahnya.
• Yang meninggalkan tempat memberi salam kepada yang tinggal.
• Ketika pergi meninggalkan atau pulang ke rumah, ucapkanlah salam meski
tak seorangpun ada di rumah (malaikat yang akan menjawab).
• Jika bertemu berulang-ulang maka ucapkan salam setiapkali bertemu.
Pengecualian kewajiban menjawab salam:
• Ketika sedang sholat. Membalas ucapan salam ketika sholat membatalkan
sholatnya.
•
Khatib, orang yang sedang membaca Al-Qur’an, atau seseorang yang sedang
mengumandangkan Adzan atau Iqamah, atau sedang mengajarkan kitab-kitab Islam.
• Ketika sedang buang air atau berada di kamar mandi.
Selanjutnya, Allah SWT menerangkan keutamaan salam didalam surat Al-An’aam
ayat 54:
Jika orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Al-Qur’an) datang
kepadamu, ucapkanlah “Salaamun’alaikum (selamat-sejahtera bagimu)”,
Tuhanmu telah menetapkan bagi diri-Nya kasih-sayang. (Yaitu) Bahwa barangsiapa
berbuat kejahatan karena kejahilannya (tidak tahu/bodoh) kemudian ia bertaubat
setelah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
Di ayat ini Allah SWT memerintah Nabi Muhammad SAW sehubungan
dengan orang-orang beriman yang miskin, yang hampir semuanya
menumpang tinggal di tempat para
sahabat. Walaupun orang-orang kafir yang kaya meminta agar Rasulullah SAW mengusir
para dhuafa’ itu supaya orang-orang kaya itu bisa bersama Rasulullah,
Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyambut para dhuafa’ Muslim
itu dengan ‘Assalamu ‘alaikum’ pada sa’at kedatangan
mereka. Hal ini mengandung dua arti: Pertama, menyampaikan penghormatan dari
Allah SWT kepada mereka. Ini adalah kehormatan dan penghargaan yang tinggi
bagi Muslim yang miskin dan tulus hati. Perlakuan ini menguatkan hati dan menambah
semangat mereka. Arti ke-dua, menyampaikan sambutan yang baik yang pantas mereka
terima, atas ijin Allah SWT, dengan nyaman, damai dan tenang, meskipun jika
mereka membuat beberapa kesalahan.
Semoga Allah SWT menganugerahi kita kesanggupan untuk melaksanakan pengucapan
salam dengan semangat islami yang lurus didalam hidup kita sehari-hari dan
dengan melaksanakannya menumbuhkan kasih-sayang dan persatuan diantara kita.
Amiin.
|