s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
NASEHAT
PERNIKAHAN
Hari
ini kita berkumpul disini dalam rangka menghadiri resepsi
pernikahan Dr. Zahoor dengan Asma Rizvi. Saya dan para tetangga
serta semua yang hadir disini, mengucapkan selamat berbahagia
kepada mempelai berdua. Kami selalu berharap bisa berada
didalam pesta dan perayaan seperti ini, dan disini kita berkumpul
dengan teman-teman, anggota keluarga, mitra kerja dari berbagai
macam agama dan kebangsaan. Tumbuh rasa penuh suka cita bisa
menjadi bagian acara yang penuh kebahagiaan ini. Bagaimanapun,
Islam telah membuat acara semacam ini menjadi lebih bermakna.
Umat Islam, mengikuti tradisi yang diwariskan Rasulullah
Muhammad SAW memberi nasihat tidak hanya kepada mempelai
yang baru menikah, tetapi juga kepada pasangan yang telah
lama menikah, dan mereka yang berharap akan menikah, tentang
peranan, hak dan kewajiban dari pasangan suami-istri. Nasihat
ini diberikan karena sebuah keluarga sangat penting dalam
pandangan Allah SWT. Sebenarnya, topik yang dibahas dengan
sangat terperinci didalam Al-Qur’an adalah kehidupan
berkeluarga. Keharmonisan keluarga membentuk lingkungan masyarakat
yang lebih baik dan sebagai akibatnya menentukan kualitas
kehidupan di masyarakat.
Pertama-tama,
puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah menciptakan lembaga pernikahan yang suci ini.
Allah SWT berfirman:“Manusia
itu diciptakan dalam keadaan lemah” (An Nisa' 28)
Jika kita disuruh untuk tetap melajang selamanya, pastilah
akan sangat berat untuk menjalaninya dengan cara apapun juga.
Allah SWT tidak hanya menciptakan lembaga suci pernikahan
melainkan juga sangat mendorong kita untuk melangsungkan
pernikahan sesegera mungkin. Sungguh hal ini adalah jalan
keluar yang sangat melegakan agar manusia bisa mengatasi
kelemahannya. Nikah membantu kita menahan diri dari godaan
badaniah. Dengan menikah, dua orang yang masih asing satu
sama lain, mengikatkan diri mereka untuk segera menumbuhkan
perhatian, kasih, kepedulian, simpati, ketulusan, dan cinta
di antara mereka berdua. Hal ini selanjutnya memperkuat rasa
saling menghargai dan saling pengertian diantara keduanya.
Allah SWT tidak hanya menciptakan lembaga suci ini, dijabarkanNya
tujuan dan sarana untuk mencapai tujuan pernikahan. Allah
SWT berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 21:
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa
cenderung dan tenteram kepada mereka, dan dijadikan-Nya rasa
kasih-sayang diantara kamu sekalian. Sungguh pada hal yang
demikian ini terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dengan demikian tujuan atau sasaran pernikahan adalah untuk
mendapatkan kedamaian, kenyamanan, dan ketenangan.
Rasa damai hanya bisa dicapai dengan jalan saling mencintai
satu sama lain bukannya cinta dari salah satunya saja.
Pada ayat diatas, dua kata dipakai secara berurutan
untuk menekankan
saling mencinta antar pasangan. Kata yang satu adalah Mawaddah
dan yang satu lagi adalah Rahmah kedua kata ini berarti
cinta. Ilmu bahasa menjelaskan bahwa Mawaddah bisa
diartikan cinta
dan gairah antara kedua pasangan ketika masih di usia muda
atau di tahap awal hubungan yang menumbuhkan rasa saling
tertarik diantara keduanya. Adapun Rahmah adalah cinta,
kasih, dan kepedulian yang mereka miliki berdua ketika
mulai menua
(bertambah usia). Namun demikian, para suami-istri bisa
menerapkan kedua bentuk cinta-kasih dalam waktu yang
bersamaan selama
berlangsungnya hubungan pernikahan mereka.
Sekarang saya akan menguraikan beberapa hak suami-istri.
Kita semua punya dua macam hak. Ada hak yang kita miliki
dalam hal bisnis dan transaksi perdagangan. Hak-hak ini
di dijabarkan dalam kontrak bisnis. Jika hak ini tidak
terpenuhi
kita harus mencari penyelesaian di lembaga pengadilan
setempat, dan dapat diperkuat dengan pemaksaan kewajiban
membayar.
Kemudian ada hak-hak antara orangtua, anak-anak, pasangan
suami-istri, dan hak saudara (pertalian darah). Hak-hak
ini hanya dapat dipenuhi jika kita menunjukkan cinta,
perhatian, kepedulian, simpati. dan ketulusan. Tidak
ada sistem peradilan
didunia ini yang bisa secara adil menetapkan kepada siapa
dan seberapa besar seseorang harus menunjukkan rasa cinta
dan kepeduliannya terhadap orang lain. Tidak ada stetoskop
atau piranti ukur yang lain untuk mengetahui besarnya
cinta-kasih. Besarnya cinta-kasih seseorang hanya
bisa diwujudkan jika
ia memiliki rasa ta’at (patuh) kepada Allah SWT
dan kesadaran untuk mempertanggung-jawabkannya di Hari
Pembalasan.
Maka dari itu adakalanya Nabi Muhammad SAW memberikan
khutbah yang sangat singkat ini (“Itaqullah=
bertaqwalah kepada Allah”).
Bertaqwa(takut)-lah
atau Ingatlah kepada Allah SWT di setiap langkah dalam
hidupmu. Kalimat ini dengan sendirinya
sudah
cukup sebagai peringatan. Sebab, ayat-ayat didalam
Al-Qur’an
adalah merupakan penjelasan bagi ayat-ayat yang lainnya.
Nabi Muhammad SAW biasa menerangkan ayat tersebut dengan
mengumandangkan ayat pertama Surat An-Nisa dalam upacara
pernikahan.
Wahai Manusia, bertaqwalah kamu semua kepada Tuhan (Rabb)mu
yang telah menciptakan kamu dari satu orang (Adam AS),
dan kemudian dari padanya Dia ciptakan istrinya dan kemudian
dari mereka berdua Dia perkembang-biakkan lelaki dan
perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kamu sekalian
kepada Allah
yang
dengan nama-Nya kamu saling meminta satu dengan yang
lain, dan peliharalah silaturahim. Sesungguhnya Allah
selalu
menjaga dan mengawasi kamu.
Mengapa kita harus bertaqwa kepada Allah SWT? Jawaban
atas pertanyaan ini adalah karena Dialah yang menciptakan
kita
dan keberadaan kita ini hanyalah karena Dia semata. Allah
SWT berfirman dalam Surat Al-Insan ayat 1:
Bukankah telah berlalu suatu masa atas setiap insan dimana
ketika itu ia belumlah menjadi sesuatu yang dapat disebut?
Begitulah, jika seseorang berusia duapuluh tahun siapakah
yang mengetahui tentang dia duapuluhlima tahun yang lalu?
Bahkan Ibu-bapaknya pun tidak akan pernah tahu. Karena
Allah SWT-lah yang menciptakannya.
Allah SWT tidak hanya menciptakan tetapi juga menjaga
dan menyediakan. Maka dari itu loyalitas kita haruslah
hanya
kepada-Nya semata.
Dia bisa saja menciptakan kita dengan bermacam-macam
cara, tetapi diciptakan-Nya kita dari satu orang
(Adam AS), untuk
menunjukkan dan mengingatkan kita bahwa sebenarnya
kita semua satu keluarga. Maka para anggota keluarga
besar
ini harus
selalu menunjukkan rasa cinta, hormat, perhatian
dan peduli satu sama lain. Berkaitan dengan hal ini,
Islam
mengajarkan
kepada kita persaudaraan universal. Tidak ada agama
selain Islam yang memerintahkan dan menandaskan agar
pemeluknya
mengamalkan persaudaraan universal sedemikian tegasnya.
Sekarang saya akan menjelaskan peran dan tanggung-jawab
suami-istri menurut cahaya hidayah Kitab Suci Al-Qur’an
dan pengajaran Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman
dalam surat An-Nisa
ayat 34:
Lelaki adalah pemimpin bagi perempuan.
Ayat ini sering disalah-artikan, karena sebenarnya
orang-orang mengabaikan ayat-ayat lain didalam Al-Qur’an
yang berhubungan dengan topik tersebut. Misalnya, ayat
ini tidak berarti bahwa lelaki harus berperan sebagai
diktator yang keras
kepala. Allah SWT memerintahkan
Pergaulilah mereka dengan baik. Maka kita harus memperlakukan perempuan-perempuan
kita dengan lembut. Allah SWT pun memerintahkan dalam surat Al-Baqarah
ayat 233:
‘
Bermusyawarahlah dengan istrimu dalam urusan rumah-tangga’. Konsultasi
atau musyawarah (syura) adalah bagian yang penting dalam Islam dan harus
digunakan juga dalam lingkup keluarga. Sebenarnya, disini sama sekali tidak
ada perbedaan
antara lelaki dan perempuan sejauh mengenai hak-hak mereka. Allah SWT berfirman
dalam Al-Baqarah ayat 228:
... Dan para perempuan mempunyai hak-hak yang seimbang dengan kewajibannya
... , ini mengandung pengertian bahwa hak perempuan atas lelaki seimbang
dengan hak
lelaki atas perempuan.
Masing-masing memiliki sebuah peran yang sangat serius sesuai dengan
keberadaannya. Hanya Lelaki yang mampu menjalankan peran lelaki dengan
sebaik-baiknya dan
perempuanlah yang mampu menjalankan peran perempuan sebaik-baiknya. Bagaimana
mungkin Allah
SWT yang menciptakan kita tidak mengetahui, sedangkan Dialah (Allah SWT)
yang menetapkan peran tersebut untuk kita?
Maka, dapat kita lihat bahwa lelaki memikul tugas dan
tanggung-jawab secara menyeluruh, tetapi dia harus
bermusyawarah dengan istrinya dan
memperlakukannya
secara lembut
sepanjang waktu. Lelaki bisa benar-benar kewalahan akibat menetapkan
putusan akhir pada suatu hal yang kemudian ternyata salah, segala sesuatunya
akan
berbalik menyerang dirinya. Jadi, lelakilah yang akan memikul tanggung-jawab
didunia
dan di kehidupan yang akan datang.
Sejauh ini saya telah banyak menyampaikan perintah Allah untuk lelaki.
Anda mungkin bertanya-tanya adakah perintah Allah untuk perempuan?
Jawabnya: “Ya, Ada!” Contohnya,
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 34:
Perempuan shalihah adalah mereka yang menerima sepenuh hati lelaki
(yang menjadi suaminya) sebagai pemimpinnya. Ia memelihara diri dan
harta suaminya
ketika
suaminya tidak ada.
Yang dimaksud dengan harta disini adalah yang dimiliki
secara fisik termasuk juga anak-anak mereka. Maka,
mengemban (mendidik) anak secara
Islam sangatlah
penting. Karenanya, mengingat bahwa kedua kewajiban tersebut adalah
tugas yang berat, Allah SWT menyatakan bahwa Dia akan menolong perempuan
secara
khusus
untuk bisa menjalankan kewajiban ini jika mereka (perempuan) berusaha
dengan tulus-ikhlas.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan ayat ini dengan sabdanya, “Istri
yang terbaik adalah yang mana bila kamu memandangnya kamu merasa
bahagia, ketika
kamu memintanya
mengerjakan sesuatu dia patuh, dan ketika kamu bepergian dia melindungi
dirinya dan hartamu.”
Kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Adakalanya naik adakalanya
turun. Jika anda berselisih paham (cekcok), Allah SWT berfirman dalam
Surat
At Thaghabun 14:
Dan jika kamu memberi maaf dan tidak memarahi, serta mangampuni mereka,
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dengan memaafkan bukan berarti anda kalah, malahan andalah pemenangnya.
Karenanya, janganlah berlaku kasar atau kejam satu sama lain sewaktu
menyelesaikan perselisihan.
Bahkan
ada perilaku yang lebih buruk lagi yaitu, membahas perbedaan
dengan saling mencela/mencaci. Sebagai contoh, Rasulullah SAW berwasiat
kepada
para sahabat “Janganlah
kamu mencaci orangtuamu.” Dengan rendah hati para sahabat bertanya, “Bagaimana
mungkin seseorang mencaci orangtuanya sendiri?” Rasulullah SAW menjawab: “Ketika
kamu mencaci orangtua seseorang, kemudian mulai dibalasnya dengan
mencaci orangtuamu.”
Untuk menghindari terjadinya pertikaian semacam itu, Al-Qur’an memandu
kita dengan cara memaafkan orang lain, lebih dari itu ditegaskan juga agar
kita tidak melupakan kebaikan dan kasih-sayang yang terjalin diantara kita.
Al-Baqarah
ayat 237:
... Dan janganlah kamu melupakan keutamaan diantara kamu …
Allah SWT menguraikan hubungan yang saling menguntungkan antar
pasangan suami-istri didalam Surat Al-Baqarah ayat 187:
Istri-istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi
mereka. Betapa indah perumpamaan yang digunakan Allah dalam menerangkan
hal
hubungan suami-istri
ini. Kini, ijinkan saya bertanya kepada anda, untuk apakah pakaian
itu?
Pakaian yang kita kenakan melindungi kita dari debu, udara panas/dingin,
sengatan sinar matahari, dan sebagainya. Sama halnya dengan anda
dengan pasangan anda
yang satu merupakan pelindung bagi yang lain, saling mengayomi/memayungi.
Pakaian menutupi cacat atau bopeng di tubuh kita. Begitupun suami-istri
telah saling mengetahui cacat/kelemahan masing-masing dan harus
saling menutupinya,
bukannya malah membicarakan kelemahan pasangannya kepada teman
dan saudara.
Pakaian dapat memperindah dan menambah daya tarik pemakainya. Serupa
halnya suami-istri saling memperindah dan memperkuat daya-tariknya
satu sama lain.
Secara fisik,
seharusnya mereka berpakaian bagus untuk pasangannya dan bukan
untuk keperluan resmi (pesta, upacara, perayaan dll.) Misalnya,
para suami
jangan asal berpakaian
sewaktu di rumah, begitupun hendaknya para istri. Lebih jauh lagi,
masing-masing harus menampakkan sifat dan perilaku yang indah demi
pasangannya. Jika,
misalnya perempuan tidak memiliki perilaku baik, berarti begitu
jugalah suaminya.
Begitupun sebaliknya.
Terakhir
yang tidak kalah pentingnya, pakaian adalah bagian yang
terdekat dengan tubuh. Begitu pula suami-istri hendaklah saling
dekat sehingga
saling mengetahui
rahasia pasangannya. Haruslah masing-masing menyimpan rapat-rapat
rahasia pasangannya dan tetap dekat satu sama lain dengan pengertian
yang tulus.
Tidak dapat dibenarkan
jika istri tetap sangat dekat dengan saudara-saudara dari pihaknya
dan suamipun demikian keadaannya. Tidak ada kata-kata atau
kalimat di buku
manapun kecuali
Al-Qur’an yang dapat menggambarkan dengan sangat indah,
penuh perasaan, dan dengan cakupan yang menyeluruh tentang
hak dan kewajiban yang saling
menguntungkan antar suami-istri sebegitu ringkasnya sebagaimana
ayat tadi:
Istri-istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi
mereka.
Saya berdo’a kepada Allah SWT semoga kita diberiNya kesanggupan
untuk memahami dan menerapkan pedoman ini dalam kehidupan kita.
Dengan setulus
hati saya mohonkan
agar pengantin baru ini mendapatkan keberuntungan yang terbaik
dan saya ucapkan selamat berbahagia, demikian juga dengan para
orangtua dan saudara-saudara
dari
kedua mempelai.Amiin
|