s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
NASIB
DAN TAKDIR
Bagi orang kebanyakan, sangatlah sulit memahami bahwa perkara
hidup dan mati berada sepenuhnya didalam genggaman Allah
SWT. Dalam hal ini, ada ketentuan waktu yang tidak dapat
diubah oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Allah
SWT telah memberikan petunjuk bagi kita perihal nasib dan
takdir didalam Surat Al-Baqarah Ayat 246, 247, dengan menggambarkan
para pemuka Bani Israel yang hidup setelah berlalunya masa
Nabi Musa AS.
Tiadakah kamu perhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah
(berlalu masa) Musa, ketika mereka berkata kepada seorang
Nabi mereka di masa itu:”Angkatlah untuk kami seorang
raja supaya kami berperang di jalan Allah (dibawah kepemimpinannya).” Nabi
mereka menjawab: ”Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan
berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: ”Mengapa
kami tidak mau berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah
diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka
tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling,
kecuali beberapa orang saja dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui
orang-orang yang dzalim. Nabi mereka berkata: ”Sesungguhnya
Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka
menjawab: “Bagaimana mungkin ia menjadi raja kami,
sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan (mengatur pemerintahan)
daripadanya. Sedangkan iapun tidak dianugerahi banyak harta
kekayaan?” Berkata Nabi Mereka (Samuel AS): ”Sesungguhnya
Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya
ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan
kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha
Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Sebelum kita lanjutkan pembahasan, marilah kita garis-bawahi
bahwa orang-orang kaya menganggap diri mereka berhak mengatur
orang-orang miskin. Mereka Lupa bahwa Allah SWT adalah Yang
Maha Mengatur, Dia (Allah) bebas memberi kepada siapa saja
yang dikehendaki-Nya. Allah SWT telah menganugerahi Thalut
(orang Israel menyebutnya Saul) ilmu pengetahuan dan keperkasaan
jasmani untuk dapat memikul tanggung-jawab kepemimpinan dipundaknya.
Artinya, ilmu pengetahuan lebih berdaya-guna daripada kekayaan
harta. Lebih jauh lagi kita bisa memetik hikmah bahwa memenuhi
syarat secara jasmaniah sekaligus ruhaniah sangat diperlukan
untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Kekayaan bukanlah ‘blanko
Surat Mandat’ yang dapat digunakan semaunya sebagai
dasar untuk mengatur orang lain.
Dengan nada putus asa, Bani Israil meminta kepada Nabi mereka
agar diberikan tanda bahwa Thalut adalah pemimpin terpilih.
Tanda ini terdapat dalam firman Allah SWT, Surat Al-Baqarah
Ayat 248:
Nabi mereka bersabda, “Tandanya ia sebagai raja
ialah kembalinya tabut (peti kayu) yang didalamnya terdapat
ketenangan
dari Tuhanmu, serta sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun;
Para malaikat yang akan membawa tabut itu. Sesungguhnya yang
demikian itu adalah tanda bagimu jika kamu orang yang beriman.
Selanjutnya, sebagian dari kelompok Bani Israil itu bersiap
siaga untuk berperang di Jalan Allah SWT (Fisabilillah),
sebagian lagi bersikap tenang, tulus menerima, dan sisanya
sekedar ikut-ikutan bergabung. Allah SWT memiliki cara sendiri
untuk memilah-milah mereka melalui ujian-Nya. Hal ini diuraikan
pada ayat selanjutnya, dimana Allah SWT berfirman (Al-Baqarah
Ayat 249-250):
Dan ketika Thalut keluar membawa pasukannya, ia berkata, “Sesungguhnya
Allah akan menguji kalian dengan cobaan sebuah sungai. Maka
siapapun yang meminum airnya bukanlah ia termasuk golonganku,
dan siapapun yang tidak mencicipinya, kecuali hanya seceduk
telapak tangannya, maka merekalah pengikutku. Tetapi merekapun
meminum air sungai itu kecuali sebagian kecil dari mereka.
Setelah ia (Thalut) dan orang-orang beriman yang bersamanya
sampai ke seberang sungai, mereka (yang meminum air sungai)
berkata, “Kita tidak lagi mempunyai tenaga untuk melawan
Jalut (Goliath) dan tentaranya hari ini.” Tetapi, mereka
yang berkeyakinan akan menemui Tuhan mereka berseru, “Betapa
telah sering terjadi bahwa satu kelompok yang kecil bisa
mengalahkan musuh yang besar atas izin Allah! Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan ketika mereka berhadapan
dengan Jalut dan pasukannya di medan pertempuran, mereka
berdo’a: “Wahai Tuhan kami, curahkanlah kesabaran
pada diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah
kami terhadap orang-orang kafir”.
Kini kita mengerti bahwa, disini Allah SWT memilah orang-orang
yang teguh keimanannya dari mereka yang Muslim sekedarnya
saja dengan cobaan berupa sebuah sungai. Beberapa orang yang
benar-benar beriman tidak hanya mengingatkan kaumnya perihal
Kekuatan Allah SWT, tetapi mereka juga merendahkan diri mereka
dihadapan Allah SWT dengan selalu berdo’a. Jadi, memamerkan
ketaqwaan dan keteguhan iman seseorang bukanlah hal yang
diperbolehkan. Sebagai hasil atas ketaatan, keteguhan, dan
kesabaran mereka itu diterangkan dalam Surat Al-Baqarah Ayat
251, dimana Allah SWT berfirman:
Dan mereka (tentara Thalut) mengalahkan pasukan Jalut
atas izin Allah. Daud (salah satu dari mukmin, dan waktu
itu belum
menjadi Nabi) menewaskan Jalut. Allah menganugerahkan kerajaan
dan hikmah kebijaksanaan kepada Daud, dan mengajarinya apa-apa
yang Dia kehendaki. Sekiranya Allah tidak menundukkan keganasan
segolongan orang dengan golongan yang lain, niscaya telah
rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan)
atas alam semesta".
Penting digaris-bawahi disini Allah menggunakan kata ‘sedikit’ sampai
tiga kali didalam firman-Nya diatas. Pertama, sangat sedikit
dari mereka yang bersedia berperang ketika kewajiban itu
diturunkan atas mereka. Kemudian, sangat sedikit diantara
mereka yang tidak minum air sungai. Dari sedikit yang tersisa
itu, beberapa diantaranya tidak bersedia bertempur melawan
Jalut ‘sang adi-daya’. Pada akhirnya, tinggal
sejumlah kecil saja, yang memiliki keyakinan seutuhnya atas
nasib dan takdir, berani menghadapi situasi (pertempuran)
yang nyata. Allah SWT memberi ganjaran kepada mereka, selain
berupa kemenangan, juga kerajaan/kekuasaan, dan mengajarkan
kepada mereka berbagai bentuk hikmah. Allah berfirman dalam
Surat Al-Baqarah Ayat 269,
Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia
kehendaki, dan barang siapa memperoleh anugerah hikmah sungguh
ia telah mendapatkan karunia yang amat banyak. Namun, tiadalah
yang mengingat yang demikian ini selain Ulul-Albab (orang-orang
yang berpengetahuan).
Marilah kita tengok Khalid bin Walid RA, seorang sahabat
Rasulullah Muhammad SAW yang telah ikut bertempur dalam banyak
peperangan. Sulit untuk mendapati bagian tubuhnya yang tidak
terdapat bekas-bekas luka. Khalid RA mendambakan dirinya
gugur sebagai syuhada’, namun pada akhirnya ia wafat
di tempat tidurnya sendiri di rumahnya. Nah, kini anda mengerti
bahwa hidup dan mati mutlak berada dalam genggaman Allah
SWT semata.
Karenanya, maka sangatlah penting bagi kita untuk memiliki
keyakinan (iman) yang utuh dalam hal nasib dan takdir, dan
atas perkenan Allah SWT sajalah kita meraih keberhasilan.
Semoga Allah SWT meneguhkan Iman kita terhadap Nasib dan
Takdir. Amiin.
|