s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
ORANG-ORANG
MUNAFIK
Pada
bagian awal Al-Qur’an, Allah SWT mengelompokkan
umat manusia kedalam tiga golongan, yakni: Mukmin, Kafir,
dan Munafik. Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang beriman
(mukmin) secara sangat ringkas. Lalu, ciri-ciri orang kafir
cukup dijelaskan dengan satu ayat. Kemudian dilanjutkan dengan
menguraikan ciri-ciri orang munafik secara panjang-lebar.
Golongan munafik dibahas dengan sangat panjang karena mereka
adalah golongan yang paling berbahaya di masyarakat. Oleh
karenanya, sangatlah perlu kita mengenali ciri-ciri dan nasib
mereka ini.
Perlu dicatat bahwa penggolongan ini didasarkan atas apa
yang menjadi keyakinan dan bagaimana mereka menjalaninya
tanpa memandang warna kulit, bentuk kesaksian/syahadat–nya,
asal-usul, bahasa, bangsa, maupun afiliasi teritorialnya.
Sekarang marilah kita mempelajari ciri-ciri orang munafik
yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah Ayat
8:
Diantara manusia terdapat mereka yang mengatakan kami beriman kepada Allah
dan hari pembalasan, (namun) mereka tidak beriman, mereka hendak menipu Allah
dan orang-orang yang benar-benar beriman. Sungguh celaka mereka, mereka tidak
menipu siapapun selain diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak mengetahui.
Perhatikanlah bahwa meskipun mereka menyatakan beriman kepada Allah SWT dan
hari pembalasan, tetapi tidak menyatakan beriman atas kenabian Muhammad SAW.
Ini adalah kasus orang-orang Yahudi di masa itu. Maka, keimanan apapun tanpa
mengimani kenabian Muhammad SAW tidak dapat diterima. Begitu sesatnya mereka,
sampai-sampai tidak dapat mengerti apa yang mereka perbuat.
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 10:
Didalam hati mereka ada penyakit dan Allah telah menambah penyakit mereka.
Dan bagi mereka siksa yang amat pedih akibat kebohongan yang mereka lakukan.
Jadi, berbohong bukanlah dosa yang sepele, karena bisa berakibat mengubah seorang
mukmin menjadi munafik. Didalam Al-Qur’an, Allah SWT menguraikan perihal
berbohong dan menyembah berhala secara beriringan:
Selamatkanlah dirimu dari kejahatan menyembah berhala dan berbohong.
Allah menjelaskan tiga tanda (indikator) yang jelas pada orang-orang munafik.
Didalam Surat Al-Baqarah Ayat-11,12 Allah SWT berfirman:
Jika dikatakan kepada mereka, “Janganlah membuat kerusakan di bumi.” Mereka
berkata, “Sesungguhnya kami melakukan perbaikan.” Sesungguhnya
merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.
Yang ke-dua, Allah SWT menerangkan didalam Surat Al-Baqarah Ayat 13:
Jika dikatakan kepada mereka “Berimanlah sebagaimana orang-orang lain
telah beriman”, mereka berkata, “Akankah kami beriman seperti orang-orang
bodoh itu beriman?” Sesungguhnya merekalah yang bodoh, tetapi mereka
tidak mengetahui.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa ukuran benarnya keimanan adalah dengan beriman
sebagaimana keimanan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Allah SWT telah sangat
memuliakan para sahabat Rasulullah SAW, oleh karena itulah Dia (AllahSWT) menjadikan
keimanan para sahabat sebagi tolok-ukur (kriteria) ketulusan/kebenaran iman
seseorang. Disamping itu Allah SWT telah memberikan penghargaan kepada para
sahabat Rasulullah didalam ayat yang sebelumnya, dimana Allah SWT menyatakan
bahwa orang-orang munafik telah mencoba menipu Allah SWT dan Orang-orang yang
beriman kepadaNya.
Tanda ke-tiga dari orang-orang munafik diuraikan oleh Allah SWT dalam Surat
Al-Baqarah Ayat 14, 15, 16 sebagai berikut:
Manakala mereka berada bersama-sama orang-orang beriman
mereka berkata ‘Kami
beriman!’ Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata:"Sesungguhnya
kami bersamamu! kami hanyalah berolok-olok (berpura-pura).”
Allah SWT membalas olok-olok mereka, dan membiarkan mereka terombang-ambing
didalam kesesatan.
Mereka adalah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Mereka tidak
akan beruntung dan tidak akan mendapat petunjuk.
Sebaliknya, marilah kita menjabarkan bagaimanakah kesudahan orang-orang beriman,
lelaki maupun perempuan, di Hari Pembalasan. Allah menerangkan hal ini dalam
Surat Al-Hadid Ayat 12:
Di Hari pembalasan, kamu akan melihat orang-orang beriman lelaki dan
perempuan dengan cahaya penuntun di depan dan di sisi kanan mereka. "Inilah kabar
gembira bagi kalian, yaitu surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, kalian
akan tinggal untuk selamanya". Sungguh, inilah keberuntungan yang sangat
besar.
Beberapa hal perlu ditegaskan disini. Kita mengetahui bahwa lelaki dan perempuan
beriman diperlakukan setara dalam hal balasan atas kebajikan yang mereka kerjakan.
Mereka mempunyai cahaya pada tangan kanan mereka karena catatan amal perbuatan
mereka diberikan di tangan kanan. Kita ketahui juga bahwa selayaknyalah terdapat
cahaya di depan mereka untuk melakukan perjalanan. Cahaya di bagian depan ini
adalah hasil dari amal kebajikan mereka. Nabi Muhammad SAW menggambarkan hal
ini didalam beberapa sabda beliau.
Anas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Berilah kabar gembira
bagi mereka yang pergi ke Masjid di kegelapan malam. Mereka akan mendapatkan
cahaya yang sempurna di hari Kiamat.” (Ibnu Majah)
Dari Abdullah bin Amr RA diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:”Barangsiapa
mengerjakan sholat dengan teratur, tertib dan penuh kehati-hatian (tuma’ninah)
akan menerima ganjaran dengan cahaya penuntun di Hari Pembalasan. Adapun yang
tidak mengerjakan sedemikian, maka tidaklah akan mendapatkan cahaya itu dan
mereka akan dikumpulkan bersama Qarun, Haman, dan Fir’aun.” (Riwayat
Ahmad)
Abu Said RA menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:”Siapa saja
yang membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum’at akan mendapatkan cahaya
pembimbing di hari Pembalasan, cahaya ini terbentang mulai dari kakinya hingga
ke surga.” (Tabrani)
Abu Hurairah RA berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:”Siapa saja
yang membaca Al-Qur’an, walaupun satu ayat saja, maka bacaannya itu akan
menjadi cahaya penuntun baginya di hari Pembalasan.” (Imam Ahmad)
Demikianlah semua perbuatan baik (amalan shalihan), mempunyai kesamaan hasil
berupa cahaya penuntun bagi mereka yang beriman. Sebaliknya mengenai orang-orang
munafik, Allah SWT menggambarkan situasi mereka didalam Surat Al-Hadid Ayat
13, 14, 15 berikut ini:
Pada hari itu (Hari Pembalasan) lelaki dan perempuan munafik akan berkata
kepada orang-orang beriman:"Tunggulah kami agar kami dapat mamanfaatkan cahayamu".
Dan akan dikatakan kepada mereka: "Kembalilah lagi kebelakang dan carilah
sendiri cahaya untukmu". Kemudian diadakan dinding yang memisahkan antara
mereka yang beriman dan orang-orang munafik. Di sisi dalam dinding inilah
terdapat kasih-sayang Allah SWT dan di sisi luarnya adalah siksa.
Orang-orang munafik itu akan berteriak memangil-mangil orang-orang beriman: "Bukankah
kami dahulu bersama kalian?" Menjawablah orang-orang beriman: "Benar
kamu bersama kami, tetapi kalian saling membujuk satu sama lain, ragu dan
kebingungan, sementara angan-angan kosongmu membuatmu terlena hingga datanglah
ketetapan
Allah SWT. Kamu telah diperdaya dari (beriman kepada) Allah SWT oleh (setan-setan)
yang sangat penipu.
Maka pada hari ini tidak ada tebusan yang dapat diterima darimu, tidak pula
dari orang-orang kafir. Tempat tinggalmu adalah api neraka, Itulah tempat yang
layak bagimu. Dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Menurut Ibnu Katsir, orang-orang beriman maupun orang-orang munafik sama-sama
akan diberi cahaya penuntun untuk menyeberangi titian. Namun cahaya orang-orang
munafik segera dipadamkan. Dengan cara inilah Allah SWT memperolok-olok mereka
sebagaimana mereka dahulu biasa memperolok-olok Allah SWT dan para pembantu(Rasul)-Nya
yang taat. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 15:
Allah memperolok-olok mereka dan semakin menambahkan kesesatan kepada mereka
sehingga terombang-ambing dengan kesesatannya.
Perhatikanlah bahwa, pada awalnya saja orang-orang munafik diberi cahaya, ini
karena mereka telah melakukan amal shaleh untuk sekedar pamer.
Maka kita dapat menyimpulkan bahwa hanya amal shaleh yang ikhlas saja yang
menghasilkan cahaya penuntun yang tetap menerangi, dan kemunafikan akan diolok-olok
di Hari Pembalasan. Ibnu Katsir telah memaparkan hadits yang sangat panjang
dimana dia menjelaskan bahwa setiap orang beriman akan memiliki cahaya sesuai
dengan amal shalehnya. Beberapa dari mereka akan memiliki cahaya seperti gunung,
sebagian seperti pohon palem, dan sebagian lagi ada yang seukuran tinggi orangnya.
Allah SWT lebih lanjut mewahyukan dalam Surat Al-Hadid Ayat 17:
Ingatlah bahwa Allah menghidupkan kembali bumi setelah matinya. Demikianlah
Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berfikir.
Disini Allah SWT mengingatkan kita bahwa sebagaimana halnya Dia bisa menghidupkan
kembali bumi yang mati, maka Dia juga bisa menghidupkan hati yang mati dari
orang-orang munafik bilamana terdapat penyesalan yang tulus-ikhlas.
Saya berdo’a kehadirat Allah SWT semoga dijadikanNya kita sebagai Muslim
yang ikhlas, dan semoga Allah SWT menyediakan cahaya penuntun yang selalu
menerangi kita di Hari Pembalasan. Amiin.
|