s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
SEMBILAN MUKJIZAT
NABI MUSA AS
Umat di masa Nabi Musa AS mudah terpengaruh hal-hal yang
berhubungan dengan ilmu gaib atau sihir. Oleh karenanya Allah
SWT menganugerahkan sembilan mukjizat kepada Musa AS untuk
meyakinkan orang-orang di masa itu atas keberadaan dan kekuatan
Musa AS. Dari sembilan mukjizat yang diberikan Allah SWT
itu hanya dua yang terkenal sementara tujuh mukjizat yang
lain seringkali terlupakan.
Sebelum kita membahas peristiwa-peristiwa menarik ini, seyogyanya
kita uraikan terlebih dahulu perbedaan antara mukjizat dengan
sihir.
Sebuah mukjizat adalah suatu aksi atau perbuatan luarbiasa
dan lain daripada yang lain dan tidak dapat dilakukan oleh
orang biasa. Terjadinya mukjizat hanya diberikan oleh Allah
SWT melalui para Nabi-Nya yang terpilih. Tanda-tanda suatu
mukjizat yang lain adalah:
• Pelaku mukjizat selalu berakhlak mulia dan tidak mepertontonkan
mukjizatnya kepada umat hanya untuk sekedar main-main.
• Masing-masing Nabi hanya dapat menunjukkan mukjizat-mukjizat
yang ditentukan Allah SWT bagi dirinya. Wewenang atas mukjizat
semata-mata ada pada Allah SWT.
• Mukjizat dengan jelas menunjukkan bahwa terjadinya karena
ada kekuatan yang lebih tinggi yang membuat hal itu bisa
terjadi.
• Pribadi-pribadi pilihan yang menjadi perantara untuk melakukan
mukjizat tidak pernah menganggap bahwa yang dilakukannya
itu karena kekuatan luar biasa yang dimilikinya. Mereka percaya
bahwa Allah SWT yang telah mengijinkan terjadinya mukjizat
itu demi memperlihatkan Keberadaan-Nya dan Kekuatan-Nya,
dan untuk menumbuhkan Iman kepada-Nya.
• Bukan berupa tipu daya kebendaan yang nampak seolah-olah
istimewa bagi yang melihatnya.
• Berlangsungnya mukjizat terlihat jelas oleh semua yang menyaksikannya,
tidak seperti pertunjukkan sulap atau sihir yang hanya nampak
sungguhan bagi penontonnya saja namun tidak demikian bagi
pemainnya.
• Para Nabi yang diberi mukjizat tidak pamer ataupun menyombongkan
kemampuan anugerah Allah SWT itu.
• Para Nabi tidak mengharapkan perhargaan, imbalan uang, maupun
ketenaran pribadi atas mukjizatnya.
Disisi lain, sihir adalah pekerjaan tipuan-mata yang dipertunjukkan
oleh orang-orang yang berkepribadian lemah atau bahkan tak
berkepribadian sama sekali. Hidup mereka (tukang-tukang sihir
itu) penuh dengan dosa.
Sebaliknya dengan para Nabi yang memperoleh mukjizat, bahkan
penentang-penentangnya pun meyakini bahwa para Nabi itu adalah
orang-orang yang baik pribadinya.
Karena sihir hanyalah tipu daya kebendaan semata, maka dapat
dengan mudah dikacaukan. Tidaklah demikian halnya dengan
mukjizat, karena adalah murni perbuatan Allah SWT semata.
Sebagai contoh, didalam Surat Al-Anfal Ayat 17, Allah SWT
berfirman kepada Rasulullah SAW,
..., sesungguhnya, bukanlah kamu yang melempar ketika kamu
melempar, adalah Allah yang melempar mereka. ...
Segenggam debu bercampur kerikil yang dilemparkan oleh Rasulullah
SAW ke arah pasukan musuh di Perang Badar berubah menjadi
badai debu atas campur tangan Allah SWT sehingga membuyarkan
barisan pasukan musuh. Akibatnya, pasukan kaum kafir menderita
kekalahan telak dari pasukan Muslim yang berjumlah lebih
kecil dibandingkan mereka.
Sihir biasanya dikerjakan untuk keperluan mencari uang ataupun
mendongkrak popularitas.
Sihir juga bisa dilakukan untuk menimbulkan perselisihan
antara seseorang dengan yang lain, bahkan untuk merusak hubungan
suami-istri.
Begitulah sihir, disatu sisi nampaknya bisa menghibur, namun
bila disalahgunakan bisa berakibat sangat menghancurkan.
Kini, marilah kita kembali membahas Mukjizat Nabi Musa AS.
Kapan saja Nabi Musa AS mengeluarkan tangan beliau dari balik
jubah, telapak tangan beliau nampak putih bercahaya, ini
bukan karena suatu penyakit.
Fir’aun, penguasa pada waktu itu, mengumpulkan para
penyihir handal dan merancang adu kepiawaian dengan Musa
AS. Para penyihir bertanya kepada Musa AS, “Kamikah
yang akan memulai menunjukkan kebolehan kami, ataukah kamu
mau lebih dahulu?” Musa menjawab, “Silahkan kalian
memulai.” Maka mulailah para penyihir itu melemparkan
tali-tali mereka ke tanah, dimata para penonton nampak bahwa
itu adalah ular-ular yang berkeliaran. Kemudian, Nabi Musa
AS melemparkan tongkat beliau ke tanah. Tidak hanya sekedar
berubah menjadi seekor ular, tetapi bahkan ular ini terus
bergerak menelan ular jadi-jadian buah tipu-daya para penyihir
itu. Maka Fir’aun pun menderita kekalahan yang menyakitkan.
Terinspirasi oleh dua mukjizat di atas, banyak orang-orang
yang tidak beriman sepanjang hidupnya berubah menerima Islam.
Maka Fir’aun berkata kepada kaum Muslim ini, (sebagaimana
diwahyukan Allah SWT kepada Rasulullah SAW didalam Al-Qur’an
Surat Al-A’raaf Ayat 124-125)
Akan kupotong tangan dan kaki kalian pada sisi yang berlainan
sebagai hukuman. Dan aku salib kalian bersama-sama. Maka
merekapun (Ahli-ahli sihir) menjawab, “(Tidak menjadi
masalah bagi kami) Sesungguhnya bagaimanapun juga kami akan
menemui Rabb (Tuhan) kami.”
Mereka yang baru saja menjadi muslim inipun memanjatkan sebuah
doa yang indah.(Surat Al-A’raaf Ayat 126)
... Wahai Tuhan kami, tambahkanlah kesabaran dalam diri kami,
dan wafatkanlah kami sebagai Muslim (orang yang berserah-diri
(kepada Allah)).
Nabi Musa AS berdakwah menyeru orang-orang kafir selama duapuluh
tahun di Mesir. Namun orang-orang kafir berulang-kali melanggar
janji-janji mereka, dan terus mengganggu dan menganiaya orang-orang
yang telah beriman. Sesungguhnya, Allah SWT telah menurunkan
banyak tanda-tanda yang terang sebagai hidayah/petunjuk bagi
Fir’aun dan rakyatnya. Berikut adalah uraian ringkas
perihal tanda-tanda itu:
Rakyat Fir’aun telah mengalami kekurangan pangan (paceklik)
dan bahkan kekurangan buah-buahan selama beberapa tahun.
Fir’aun dan para pengikutnya pun berjanji kepada Musa
AS, bahwa jika Tuhannya Musa menghilangkan kesulitan ini
maka mereka akan mengikuti Jalan Allah SWT. Dan Musa AS pun
memanjatkan doa, maka paceklik pun berlalu.Tetapi orang-orang
kafir itu ingkar janji dengan mengatakan, “Paceklik
itu pasti berlalu setelah sekian lama berlangsung.”
Allah SWT pun menurunkan hujan badai yang berakibat banjir
sebagai hukuman atas kedurhakaan mereka. Maka mereka berjanji
akan menerima Islam jika banjir berhenti. Musa AS kembali
memohon kepada Allah SWT agar menghentikan hujan. Banyaknya
air hujan yang membasahi bumi menyuburkan tanah sehingga
hasil pertanianpun jadi sangat melimpah. Pemandangan indah
berlimpahnya hasil pertanian membuat orang-orang kafir merasa
aman dan mapan, dan tidak lagi mempedulikan janji yang telah
mereka ucapkan kepada Nabi Musa AS.
Akibatnya, Allah SWT mengirimkan hama belalang yang dengan
ganasnya memakan semua tanaman pertanian yang tengah
tumbuh
subur. Alhasil, ladang pertanian yang telah membesar-hatikan
orang-orang kafir itupun sirna dalam sekejap mata. Lagi-lagi
mereka minta tolong kepada Musa AS untuk berdoa kepada Allah
SWT agar mereka terbebas dari kemalangan ini. Mereka berjanji
lagi, “Kali ini, kami pasti menepati janji.” Musa
AS kembali lagi memohon kepada Allah SWT. Hama belalang pun
tidak lagi dikirimkan Allah SWT. Ladang pertanian mereka
pulih kembali. Begitu masa panen tiba, mereka menuai hasilnya
dan menyimpannya di rumah-rumah mereka. Dan sekali lagi,
mereka pun melupakan janji mereka.
Selanjutnya, Allah SWT menurunkan hama pengerat (kutu dsb)
untuk memakan hasil panen yang mereka simpan di rumah. Lagi-lagi,
orang-orang kafir ini bergegas kepada Nabi Musa AS dengan
permintaan dan janji yang sama. Dengan penuh kesabaran, Nabi
Musa pun memenuhi permintaan mereka dan sekali lagi memohon
pertolongan Allah SWT. Sekali lagi siksaan dihentikan, sekali
lagi pula orang-orang kafir ini mengulangi perbuatan mereka.
Merasa cukup pangan, bisa makan enak dan menikmati hidup,
mereka tidak lagi membutuhkan Allah SWT sama sekali.
Allah menghukum mereka dengan mengirimkan beribu-ribu katak
ke lahan mereka. Katak pun menyebar kemana-mana, di rumah-rumah
mereka, di teko pemasak air, di dalam tempat penyimpanan
makanan, juga didalam air minum mereka. Orang-orang kafir
ini menangis sejadi-jadinya penuh keputus-asaan, lalu meminta
Musa kembali berdoa, dan berjanji lagi untuk berserah-diri
(ber-Islam) segera setelah mereka terbebaskan dari masalah.
Musa AS yang baik hati pun kembali lagi memohon pertolongan
Allah, dan Allah pun mengabulkan, katak-katak itupun disingkirkan
dari mereka. Lagi-lagi pula, orang-orang kafir ini tidak
hanya mengingkari janji mereka, bahkan menjadi-jadi kesombongan
mereka dengan berkata, “Musa benar-benar seorang penyihir
yang sangat piawai.”
Allah SWT mengirimkan lagi satu hukuman yang lain, kali ini
dalam bentuk darah. Ketika orang-orang kafir mengambil air
minum dari sumur, air yang diambil berubah menjadi darah.
Makanan yang mereka makan pun berisi darah. Jika mereka mencoba
memasak makanan, juga berubah menjadi darah. Atas mukjizat
Allah SWT, orang-orang mukmin terhindar dari keadaan ini.
Kejadian ini hanya berlangsung di rumah-rumah orang-orang
kafir. Kemudian, jika orang-orang kafir meminta air kepada
orang-orang mukmin, air itupun berubah menjadi darah begitu
akan dimanfaatkan oleh orang-orang kafir.
Lagi-lagi para pengikut Fir’aun ini bergegas kepada
Nabi Musa AS dengan janji-janji yang selanjutnya mereka ingkari
lagi ketika hukuman telah diangkat dari mereka. Oleh karena
perilaku mereka yang demikian itulah Allah SWT berfirman, “Mereka
itu amat sombong dan adalah pelaku dosa-pelaku dosa kambuhan
(keras kepala dalam keburukannya).”
Setelah itu, orang-orang kafir itu dihukum dengan wabah penyakit
sejenis cacar. Sekitar tujuh puluh ribuan orang tewas akibat
penyakit ini. Mereka pun datang lagi kepada Musa AS agar
mendoakan mereka. Dengan janji, bahwa pasti kali ini mereka
akan mengikuti petunjuk Allah SWT setelah mereka terbebaskan
dari penderitaan ini.
Namun, kemudian mereka bukannya sekedar ingkar janji, bahkan
mereka melemparkan tuduhan bahwa keberadaan Musa di tengah-tengah
merekalah yang mengakibatkan terjadinya kemalangan demi kemalangan
itu. Maka, orang-orang kafir mengusir Nabi Musa AS dan para
mukminin dari rumah mereka, selanjutnya kaum kafir itupun
mengikuti kemana mereka pergi untuk kemudian membunuh mereka.
Akhir pelarian kaum Muslim pengikut Musa AS, sampailah mereka
di tepi laut. Allah SWT membelahkan air laut untuk mereka,
sehingga mereka bisa selamat sampai ke seberang. Adapun Fir’aun
dan para pengikutnya; yang mengejar Musa AS dan orang-orang
mukmin dengan penuh amarah; ditenggelamkan oleh Allah SWT
di dalam laut.
Ulama telah menyimpulkan bahwa masa paceklik dan kekurangan
buah-buahan itu berlangsung selama tujuh tahun. Adapun hukuman
yang lain, masing-masing berlangsung selama seminggu. Diantara
satu hukuman dengan yang lain mereka mempunyai waktu pembebasan
selama tiga minggu. Namun tak satupun dari peringatan-peringatan
itu menjadi penolong bagi mereka untuk keluar dari kegelapan
kekufuran.
Hal diatas diceritakan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW
melalui firman-Nya yang terdapat didalam Al-Qur’an
Surat Al-A’raaf Ayat 130~133,
Dan Sesungguhnya Kami telah menghukum para pengikut Fir’aun
dengan paceklik dan kekurangan pangan sebagai peringatan
(agar mereka mengambil pelajaran). Namun ketika kebaikan
(kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini
hasil kerja keras kami.” Namun ketika kemalangan mendera
mereka, mereka lemparkan sebab kemalangan itu kepada Musa
dan para pengikutnya. Ketahuilah! bahwa sesungguhnya kemalangan
itu dari Allah (karena kekufuran mereka), namun kebanyakan
mereka tidak mengetahui. Mereka berkata, “Bagaimanapun
yang kamu datangkan tanda-tanda untuk menyihir kami, sekali-kali
kami tidak akan beriman kepadamu”. Maka Kami turunkan
kepada mereka; hujan badai, belalang, kutu, katak, dan darah
(secara berturut-turut) sebagai tanda bukti yang terang,
namun tetap saja mereka berlaku sombong, dan mereka adalah
kaum mujrimun (jahat perangainya, penyembah berhala, pelaku
dosa).
Sejauh pembahasan kita, sampai disini kita dapat menarik
beberapa kesimpulan:
Orang sangat mudah melupakan Allah SWT ketika mereka dalam
kemakmuran, meskipun seharusnya kenikmatan yang diperoleh
hendaknya menjadikannya lebih bersyukur. Sayangnya, kebanyakan
kita berbuat sebaliknya. Misalnya, Walaupun kita telah berkecukupan
sarana dan prasarana yang bagus-bagus, sangat sedikit dari
kita yang menghadiri shalat berjama’ah ke masjid secara
teratur.
Allah SWT tetap berkehendak untuk memberikan petunjuknya
walaupun kepada para pelaku dosa kambuhan.
Allah SWT memberikan pengampunan lagi dan lagi (hingga waktu
yang ditetapkan-Nya)
Nabi-nabi memiliki sifat kesabaran dan ketulusan yang tiada
tara, sehingga oleh karena itu mereka menjadi orang-orang
pilihan Allah SWT.
Barangsiapa mendapatkan petunjuk hendaklah sadar-diri bahwa
ia sangat beruntung, dan karenanya haruslah ia bersyukur
kepada Allah SWT.
Bahwasanya kita memiliki mukjizat yang tetap hidup di tengah-tengah
kita, yakni Kitabullah Al-Qur’an. Maka hendaklah kita
mengikuti petunjuk-petunjuk yang terkandung didalam Al-Qur’an
agar kita dapat menikmati keberhasilan dalam hidup kita sekarang
dan hidup kita di masa yang kemudian.
Saya berdoa, Semoga Allah SWT selalu melimpahkan barakah-Nya
kepada kita. Amiin.
|