s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
TANDA-TANDA
TAQWA
Allah SWT berfirman dalam Surat Ali’Imran Ayat 133:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu (Allah SWT)
dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
bagi orang-orang yang taqwa (muttaqin).
Selanjutnya Allah SWT menguraikan tanda-tanda orang yang taqwa,
dalam Surat Ali’Imran Ayat 134:
(yaitu) Orang-orang yang berinfaq (karena Allah SWT), baik
diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mereka yang pemaaf terhadap
(kesalahan) manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Marilah terlebih dahulu kita coba memahami apakah itu Taqwa. Taqwa memiliki tiga
tingkatan. Ketika seseorang melepaskan diri dari kekafiran dan mengada-adakan
sekutu-sekutu bagi Allah, dia disebut orang yang taqwa. Didalam pengertian ini
semua orang beriman tergolong taqwa meskipun mereka masih terlibat beberapa dosa.
Jika seseorang menjauhi segala hal yang tidak disukai Allah SWT dan RasulNya
(SAW), ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi. Yang terakhir, orang yang
setiap saat selalu berupaya menggapai cinta Allah SWT, ia memiliki tingkat taqwa
yang lebih tinggi lagi.
Allah SWT menjelaskan dalam Surat Ali’Imran Ayat 102:
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar
taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim (beragama
Islam)
Allah SWT telah menjabarkan berbagai ciri-ciri orang yang benar-benar taqwa.
Mereka menafkahkan rizkinya di jalan Allah SWT dalam keadaan lapang maupun sempit.
Dengan kata lain, jika mereka memiliki uang seribu dollar diinfaqkannya paling
tidak satu dollar, dan jika hanya memiliki seribu sen mereka infaqkan satu sen.
Menafkahkan rizki di jalan Allah SWT adalah jalan-hidup mereka. Allah SWT (atas
kehendakNya) menjauhkan mereka dari kesulitan (bala’) kehidupan lantaran
kebajikan yang mereka perbuat ini. Lebih dari itu, seseorang yang suka menolong
orang lain tidak akan mengambil atau memakan harta orang lain, malahan ia lebih
suka berbuat kebaikan bagi sesamanya. ‘Aisyah RA sekali waktu pernah menginfaqkan
sebutir anggur karena pada waktu itu ia tidak memiliki apa-apa lagi. Beberapa
muhsinin (orang yang selalu berbuat baik) menginfaqkan sebutir bawang. Nabi Muhammad
SAW bersabda:
“
Selamatkanlah dirimu dari api nereka dengan berinfaq, meskipun hanya dengan sebutir
kurma. (Bukhari & Muslim)
Didalam “Tafsir Kabir” Imam Razi diceritakan bahwa suatu kali Nabi
Muhammad SAW mengajak umatnya untuk berinfaq. Beberapa dari mereka memberikan
emas dan perak. Seseorang datang hanya menyerahkan kulit kurma, “Saya tak
memiliki selain ini.” Seorang lain lagi mengatakan kepada Nabi Muhammad
SAW, “Saya tak punya apapun untuk diinfaqkan. Saya infaqkan harga-diri
saya. Jika ada seseorang menganiaya atau mencaci-maki saya, saya tidak akan marah.” Demikianlah,
kita dapat mengambil pelajaran bahkan orang miskin pun terbiasa memberikan apapun
yang dia miliki untuk menolong orang lain di masa hidup Rasulullah SAW.
Ayat diatas tidak menjelaskan apa yang harus diinfaqkan. Berinfaq tidak hanya
berarti sebagian dari hartanya tetapi juga waktu dan keahlian. Ada kebijaksanaan
yang besar dalam penjabaran mengenai mukmin yang shaleh yang berinfaq dikala
lapang maupun sempit. Kebanyakan orang melupakan Allah SWT ketika berada dalam
keadaan sangat lapang. Mereka juga lupa kepada Allah SWT dikala sempit karena
terlalu larut dalam kesedihan menanggung kesempitannya.
Seorang penyair berbahasa urdu berujar, “Jangan menganggap seseorang itu
terpelajar bilamana ia melupakan Allah SWT diwaktu ia kaya, tidak takut kepada
Allah SWT ketika ia sedang marah.”
Allah SWT menyatakan bahwa tanda ketaqwaan mukmin yang ke-dua ialah mereka dapat
mengendalikan amarah. Tanda ke-tiga, selain mengendalikan amarah mereka juga
memaafkan kesalahan orang lain dengan sepenuh hati. Terakhir (ke-empat), yang
tidak kalah pentingnya, mereka bersikap baik terhadap sesama manusia. Ketika
Imam Baihaqi RA menjelaskan ayat ini, ia mengisahkan sebuah peristiwa. Dikatakannya, “Suatu
ketika Ali bin Hussain RA sedang berwudhu dan pelayannya yang menuangkan air
ke tangannya menggunakan bejana. Bejana terlepas dari pegangan pelayan itu dan
jatuh mengenai Ali. Sang pelayan menangkap kekecewaan di wajah Ali. Dengan cerdiknya
sang pelayan membaca ayat diatas kata demi kata. Ketika sampai pada kalimat ‘orang
yang taqwa mengendalikan amarahnya’ Ali RA menelan amarahnya. Ketika sampai
pada ‘mereka memaafkan orang lain’ Ali RA berkata, “Aku memaafkanmu” Dan
ketika dibacakan bahwa Allah SWT mencintai mereka yang bersikap baik kepada orang
yang melakukan kesalahan, Ali memerdekakannya.
Memaafkan orang lain akan mendapatkan pahala yang besar di Hari Pembalasan. Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT akan memberikan pengumuman di Hari Pembalasan,
barang siapa yang memiliki hak atas Allah SWT agar berdiri sekarang. Pada saat
itu berdirilah orang-orang yang memaafkan orang-orang kejam yang menganiaya mereka.
Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Barang siapa berharap mendapatkan istana
yang megah di surga dan berada di tingkatan yang tinggi dari surga, hendaknya
mereka mengerjakan hal berikut ini:
•
Memaafkan orang-orang yang berbuat aniaya kepada mereka.
•
Memberi hadiah kepada orang yang tidak pernah memberi hadiah kepada mereka.
•
Jangan menghindari pertemuan dengan orang-orang yang dengan sengaja memutuskan
hubungan dengan mereka.
Dalam kesempatan ini tidaklah salah tempat untuk mengingatkan anda bahwa sesama
Muslim hendaknya saling memberi hadiah sesering mungkin sesuka mereka. Hal ini
hendaklah menjadi kebiasaan, dan janganlah membatasi di hari-hari spesial sebagaimana
yang dilakukan orang-orang yang tidak beriman pada perayaan Natal dan Pernyataan
Syukur (thanksgiving).
Allah SWT memberi petunjuk dengan sangat indah bagaimana hendaknya kita berperilaku
terhadap musuh-musuh kita yang paling jahat dalam Surat Fushshilat Ayat 34:
Tidaklah sama perbuatan baik dengan perbuatan jahat. Jika kamu membalas perbuatan
jahat dengan kebaikan, maka musuh-musuhmu yang paling keras akan menjadi teman
karib dan sejawatmu.
Suatu ketika, seseorang berbuat kasar dan mencaci-maki Imam Abu Hanifah. Beliau
tidak membalas dengan sepatah-katapun padanya. Ia pulang ke rumah dan mengumpulkan
beberapa hadiah, lalu pergi mengunjungi orang tersebut. Imam Abu Hanifah memberikan
hadiah-hadiah itu kepadanya dan berterimakasih atas perlakuan orang itu kepadanya
seraya berkata: “Kamu telah berbuat untukku hal yang sangat aku sukai,
yaitu memindahkan catatan perbuatan baikmu menjadi catatan perbuatan baikku
dengan cara berlaku kasar seperti tadi kepadaku.”
Lebih lanjut Allah SWT berfirman didalam Surat Ali’Imran Ayat 135 dan
136, menambahkan tanda-tanda ketaqwaan orang-orang beriman.
Ketika mereka (orang-orang beriman) itu terlanjur berbuat jahat atau aniaya,
mereka ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan tidak
ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Allah. Dan mereka tidak tetap berbuat
aniaya ketika mereka mengetahui.
Untuk mereka balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka, dan surga yang mengalir
sungai-sungai, sedangkan mereka kekal didalamnya. Itulah sebaik-baik pahala atas
amal-perbuatan mereka.
Perhatikanlah bahwa dalam ayat ini ampunan Allah SWT mendahului balasan masuk
surga. Maka, dari ayat ini jelaslah bahwa untuk masuk surga haruslah melalui
ampunan dan kasih-sayang Allah SWT dan bukan tergantung pada amal-perbuatan kita
saja. Perlu juga kita garis- bawahi, Allah SWT berfirman bahwa bobot surga itu
jauh lebih berharga dari gabungan bumi dan seluruh langit. Hal ini bisa memberikan
pengertian lain dari ayat ini. Jika lebar surga sama dengan lebar langit dan
bumi, bagaimanakah dengan panjangnya, sedangkan ukuran panjang selalu lebih besar
daripada lebar. Singkat kata, ayat ini memberikan pernyataan bahwa surga itu
telah dipersiapkan bagi orang-orang beriman yang telah mencapai tingkat taqwa.
Menurut beberapa ulama muslim yang termasyhur, surga itu berada diatas langit
ke-tujuh dan jiwa para syuhada telah menikmati surga sebagai hasil dari perjuangan
mereka.
Saya berdo’a kepada Allah SWT, semoga Dia menjadikan kita mukmin yang
bertaqwa dan menerapkan keimanan kita. Amiin
|