s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
UJIAN NABI IBRAHIM AS
Allah
SWT berfirman didalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah
Ayat 124,
Dan ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan kalimat-Nya,
maka ia menunaikan ujian-ujian itu. Allah berfirman, “Sesungguhnya
Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi manusia. Ibrahim
bertanya, “Dan dari keturunanku juga?” Allah
menjawab, “Janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang
yang dzalim".
Bermacam-macam pertanyaan meliputi akal kita. Mengapa Allah
SWT harus menguji setiap insan sedangkan Dia Maha Mengetahui?
Bagaimanakah bentuk ujian itu? Bagaimana hasil ujian terhadap
Nabi Ibrahim AS? Adakah ganjarannya dan dalam bentuk apakah
ganjarannya? Kita akan membahas semua pertanyaan ini satu
demi satu.
Maksud dari ujian-ujian ini bukanlah perihal lulus/tidak
lulus ataupun tuntutan prasyarat memperoleh predikat yang
lain. Maksud yang sebenarnya ditunjukkan dengan penggunaan
kata ‘Rabb’ didalam ayat diatas. Allah memilih
kata ini sebagai kata ganti untuk penyebutan atas Dzat-Nya
berikut seluruh sifat-Nya, demi menunjukkan bahwa maksud
ujian ini adalah untuk memupuk kekuatan ruhaniah dan jasmaniah
seorang hamba dan melatihnya mengahadapi tujuan-tujuan yang
semakin bertambah tinggi.
Seorang penyair Urdu bertutur, “Wahai Rajawali, janganlah
gentar dengan kencangnya terpaan angin-haluan. Karena, itulah
yang mengangkatmu semakin bertambah tinggi.” Begitulah,
kesulitan-kesulitan merupakan latihan bagi seseorang untuk
mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi kedudukannya.
Kita ketahui dari ayat diatas, Allah SWT juga mengeluarkan
pernyataan tetang hasil ujian terhadap Ibrahim AS, yaitu
bahwa ujian itu telah ditunaikan oleh Ibrahim AS. Bahkan
didalam Surat An-Najm Ayat 37 Allah SWT memberikan rujukan
secara lebih indah lagi perihal Ibrahim AS.
Dan Lembaran-lembaran (shuhuf) Ibrahim yang selalu menyem-
purnakan janji.
Demikianlah maka dapat kita simpulkan bahwa Ibrahim AS telah
berhasil menjalani ujian-ujiannya. Hasilnya, Allah berfirman
kepadanya, “Aku akan menjadikanmu pemimpin umat manusia.” Atas
amanat ini, Nabi Ibrahim AS bukan hanya bahagia, melainkan
memikirkan juga bagaimana dengan generasi penerusnya mendatang.
Perhatiannya ini mendapat jawaban dari Allah SWT bahwa sesungguhnya,
kelak akan diangkat pemimpin-pemimpin umat manusia dari generasi
penerus Ibrahim AS, tetapi bukan dari orang-orang yang jahat
dan aniaya. Jadi, dari golongan ahli kitab yang mengada-adakan
sekutu bagi Allah SWT tidak bisa menjadi pemimpin-pemimpin
dikarenakan perbuatannya itu.
Sekarang kita akan membahas beberapa ujian terhadap Nabi
Ibrahim AS. Kita mulai dari ujian ketika beliau masih bersama-sama
orangtua beliau dan masyarakatnya. Disaksikannya mereka menyembah
patung-patung hasil karya tangan mereka sendiri. Nabi Ibrahim
AS bebicara kepada berhala-berhala itu sebagaimana diterangkan
didalam Surat Ash-Shaffat Ayat 91~98
Kemudian ia secara diam-diam menghampiri berhala-berhala
mereka kemudian bertanya kepada berhala-berhala itu, “Apakah
kamu tidak makan (sajian yang diberikan kepadamu)? Mengapa
kamu tidak menjawab?” Kemudian ia menghampiri berhala-berhala
itu sambil memukulnya kuat-kuat dengan tangan kanannya. Kemudian
kaumnya bergegas mendatanginya. Ia berkata, “adakah
kalian menyembah benda yang kalian pahat sendiri? Sedangkan
Allah telah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat
itu!” Mereka menjawab,” Dirikan untuknya bangunan
(api unggun), lalu lemparkan ia kedalam kobaran api itu.” Mereka
hendak melakukan tipu daya kepadanya, Maka Kami jadikan mereka
orang-orang yang hina.
Nabi Ibrahim AS dengan tegar mengatakan,
“ Cukuplah Allah sebagai penolongku dan Allah adalah
sebaik-baik Pelindung.”
Maka, Allah SWT memerintahkan kepada api yang berkobar itu
menjadi benar-benar sejuk agar Ibrahim AS merasa nyaman.
Sekarang marilah kita telusuri perjalanan Nabi Ibrahim AS
yang harus pergi meninggalkan ayahnya dan masyarakatnya beserta
apa-apa yang mereka sembah. Ia pergi ke Syria bersama istrinya.
Peristiwa ini diabadikan oleh Allah SWT didalam Surat Ash-shaffat
Ayat 99~100
Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju
Tuhanku yang pasti akan memberi petunjuk kepadaku. Wahai
Tuhanku! anugerahilah aku (anak/keturunan) dari golongan
para shalihin.
Dari ayat di atas, para ulama berpendapat bahwa menikah dan
berusaha untuk mendapatkan keturunan yang shalih merupakan
Sunnah dari para Nabi, supaya mereka dapat mengemban tugas
yang diamanatkan Allah SWT. Salah satu contoh lain mengenai
hal ini adalah Nabi Zakaria AS yang berdo’a sebagaimana
difirmankan Allah SWT didalam Surat Ali ‘Imran Ayat
38
Kala itu Zakaria berdo’a memohon kepada Tuhannya, “Wahai
Tuhanku! Anugerahilah aku anak yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar do’a”.
Oleh karena itu, kita harus berdo’a, memohon kepada
Allah SWT, agar kita dianugerahi-Nya anak-anak yang ta’at
dan shalih.
Allah SWT telah mengabulkan do’a Nabi Ibrahim AS, ia
dianugerahi seorang putra yang di kemudian hari menunjukkan
kesabaran dan ketegaran yang luar biasa. Hajjar, istri Nabi
Ibrahim AS, melahirkan Ismail AS.
Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril untuk membawa Ibrahim
AS beserta istri dan putra mereka yang katika itu masih bayi
ke suatu tempat yang kini kita kenal sebagai kota Makkah.
Setiba mereka di Makkah, Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk
segera kembali ke Syria. Jiwa kepatuhan kepada kehendak Allah
SWT yang begitu tinggi dalam diri
Ibrahim AS membuatnya bergegas
meninggalkah Makkah menuju Syria. Istri beliau bertanya, “Kemanakah
pergimu sehingga meninggalkan kami berdua disini?” Ibrahim
AS tidak menjawab. Istri beliaupun bertanya lagi, “Mengapa
kau tinggalkan kami di tempat yang tak nampak ada kehidupan,
tiada air maupun tetumbuhan?” Masih saja Ibrahim AS
tidak menjawab pertanyaan sang istri. Akhirnya Hajar pun
bertanya, “Adakah kepergianmu ini atas Perintah Allah
SWT?” Nabi Ibrahim AS menjawab singkat, “Ya.” Hajar
pun menanggapi, “Baiklah kalau demikian, karena Dia
yang mengutusmu pastilah juga akan mengurus dan menjaga kami
disini.”
Ketika Nabi Ibrahim AS pergi mengitari bukit, beliau berhenti
sejenak dan memanjatkan do’a, “Wahai Allah, telah
aku tinggalkan keluargaku di sebuah tempat dimana tiada nampak
tanda-tanda adanya tetumbuhan apapun jua. Karena itu aku
memohon kepadaMu sediakanlah untuk mereka buah-buah kehidupan,
agar mereka dapat menegakkan shalat dan sungguh-sungguh berserah-diri
kepada-Mu.”
Perlu digaris-bawahi bahwa, seperti demikianlah cara para
Nabi membuat keseimbangan antara hak-hak Allah SWT dan hak-hak
manusia. Cara ini berlainan dengan cara para sufi yang secara
totalitas membenamkan diri hanya dalam pelaksanaan hak-hak
Allah SWT.
Ini adalah sebuah ujian yang besar bagi Nabi Ibrahim AS sekeluarga.
Hajjar RA mendapati putranya yang masih bayi menangis kehausan.
Ia pun bergegas menghampiri bukit terdekat, yang dikenal
dengan nama bukit Shafa, untuk mencari air. Namun kekecewaaan
yang didapatnya. Iapun kembali berlari menghampiri bayinya
yang masih saja menangis. Ia berlari kearah bukit yang lain
yang dikenal sebagai bukit Marwah karena ada tanda-tanda
adanya air. Namun, kembali ia kecewa, yang dilihatnya hanyalah
fatamorgana. Hingga tujuh kali Hajjar RA berlari-lari diantara
Safa dan Marwah demi untuk mendapatkan air bagi bayinya.
Setelah yang ketujuh-kalinya, ia kembali menjumpai bayinya.
Dilihatnya si bayi sedang menggosok-gosokkan kedua telapak
kakinya ke tanah dibawahnya. Betapa terperanjatnya Hajjar,
air memancar dipermukaan tanah bekas kaki bayinya. Mata air
inilah yang kemudian dinamakan ZAM-ZAM. Airnya mengalir hingga
kini mencukupi kebutuhan air untuk kehidupan.
Nabi Ibrahim AS biasa mengunjungi keluarganya dari waktu
ke waktu. Ketika Ismail beranjak remaja, Ibrahim AS berkata
kepadanya, “Wahai putraku, didalam mimpiku aku melihat
bahwa aku mengorbankan (menyembelih) kamu. Bagaimanakah pendapatmu?” Disini
kita diberi teladan bahwa seorang ayah hendaknya berkomunikasi
dengan anaknya. Nabi Ibrahim AS pun menyampaikan secara lembut
dan menunggu tanggapan dari putranya. Hal ini membuka kesempatan
untuk terjadinya dialog dimana perlu. Selain itu, dalam hal
ini juga terjadi proses penjajakkan kadar kesadaran sang
putra dalam berserah-diri kepada Allah SWT. Selanjutnya dapat
pula kita petik sebuah teladan bahwa, di usia inilah seorang
anak bisa mulai membantu orangtuanya, dan semua orangtua
sangat menunggu-nunggu anak-anaknya beranjak remaja. Allah
SWT menyuruh Nabi Ibrahim AS mengorbankan putranya di usia
prima ini.
Tak dapat disangkal lagi bahwa ini adalah satu
lagi ujian terberat bagi keluarga Nabi Ibrahim AS. Jawaban
Ismail sungguh amat memesona, “Wahai ayahku, laksakanlah
apa yang telah diperintahkan-Nya kepadamu.” Betapa
seorang remaja belia ini sangat jelas kepahamannya atas mimpi
ayahnya yang seorang Nabi, bahwa itu adalah wahyu Allah SWT,
maka berarti pula adalah perintah-Nya. Ismail yang masih
muda belia pun melanjutkan jawabannya, “Insya Allah
ayah akan mendapatiku tergolong orang-orang yang sabar.” Banyak
pelajaran yang dapat kita petik dari jawaban ini. Pertama
dan terutama, kita harus mengucapan Insya Allah dalam berkomunikasi
sebagaimana juga telah diperintahkan kepada kita didalam
Al-Qur’an Surat al-Kahfi Ayat 24 dan Surat Nun (Al-Qalam)
Ayat 18. Pelajaran ke-dua, Ismail yang muda belia itu telah
menyadari bahwa diwaktu lampau sebelum dirinya, telah banyak
orang-orang yang sangat sabar. Alih-alih membanggakan kesabarannya,
ia bersikap lebih merendah dan berkata, “ Atas perkenan
Allah SWT, engkau akan mendapati aku termasuk dalam golongan
orang-orang yang sabar.”
Kedua orang ini, Ayah dan putranya, kemudian berjalan kaki
menuju tempat yang bernama Mina. Di perjalanan syeitan mencoba
membujuk sang ayah, dengan mengatakan, “Yang kamu lihat
hanyalah mimpi. Mengapa hendak kamu sembelih putramu di usianya
yang begitu didambakan?” Maka Nabi Ibrahim AS mengusir
syeitan itu dengan cara melemparinya dengan batu-batu kerikil.
Namun Syeitan itu pantang menyerah, ia membujuk juga dengan
cara serupa kepada Ismail maupun ibunya.Dan syeitan itupun
mendapat perlakuan yang sama dari Ismail dan ibunya, mereka
telah mengalahkan tipu daya syeitan dengan kekokohan iman
mereka.
Sampailah saatnya mereka berdua pada kesiapan untuk melaksanakan
pengorbanan. Terjadi dialog singkat yang amat menyentuh kalbu
antara mereka berdua,
Ismail berkata:
•
“Wahai ayahku, ikatlah kedua tangan dan kakiku agar aku
tidak meronta.”
•
“Asahlah pisau yang akan engkau gunakan untuk menyembelihku
hingga benar-benar tajam dan hendaklah engkau keratkan dengan
cepat ke leherku agar dengan demikian jiwaku pun cepat meninggalkan
tubuhku.” Karena kematian adalah proses yang sangat rumit.
•
“Hindarkanlah pakaianmu dari percikan darahku agar tak
terkurangi balasan Allah SWT kepadaku karenanya, dan agar ibuku
tidak menjadi sedih dan pilu lantaran melihat noda darahku.”
• Sampaikanlah salamku untuk ibunda dan berikanlah pakaianku
kepadanya, untuk menenteramkan hatinya.”
Nabi Ibrahim AS menyimak pesan putranya yang amat menyentuh
hati ini namun ini tidak melenakannya dari perintah Allah
SWT. Beliau katakan kepada putranya, “Wahai putraku,
betapa kamu telah meringankanku dalam menunaikan tugas dari
Allah SWT untuk kita ini.”
Seluruh peristiwa ini diliput dalam surat Ash-shaffat Ayat
103~107
Ketika keduanya telah berserah-diri kepada Allah, dan
(Ibrahim) membaringkan putranya pada pelipisnya. Maka Kami
(Allah)
memanggilnya, “Wahai Ibrahim, engkau telah membenarkan
mimpi itu. Sesungguhnya dengan demikian Kami berikan balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini adalah
ujian yang sangat nyata. Dan Kami menggantinya dengan sembelihan
yang besar.
Seekor domba besar telah menggantikan Ismail untuk dikorbankan.
Selanjutnya Allah SWT mengabadikan Ibrahim AS dengan jalan
memerintahkan generasi-generasi selanjutnya untuk bersalam
kepadanya. Allah SWT tidak hanya menyelamatkan Ismail, lebih
dari itu dianugerahi-Nya Ibrahim AS dengan seorang putra
lagi yakni, Ishak. Mereka berdua, putra-putra Ibrahim, kemudian
juga dipilih Allah SWT menjadi Nabi yang terkenal.
Allah SWT amat menyukai kepasrahan diri para anggota keluarga
Ibrahim AS, oleh karena itu Allah SWT mengabadikannya sebagai
bagian dari kegiatan Ibadah Haji, sebagai lambang dan teladan
untuk generasi berikutnya.
Semoga Allah SWT menganugerahi kita dengan kesadaran diri,
jiwa yang berserah diri dan semangat berkorban untuk mengikuti
kehendak Allah SWT sebagaimana telah dicontohkan oleh keluarga
Nabi Ibrahim AS. Amiin.
|