s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
WASIAT RASULULLAH MUHAMMAD SAW
(bagian-II)
Allah
SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat Al-An’am
Ayat 152-153
Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali secara
lebih baik, sampai mereka telah mencapai usia dewasa. Sempurnakanlah
takaran dan timbangan secara adil. Tiada Kami bebani manusia
kecuali sekedar kesanggupannya. Dan jika kamu mengatakan
sesuatu, katakanlah secara adil meskipun itu terhadap kaum
kerabatmu sendiri, dan tunaikanlah janjimu kepada Allah.
Demikianlah perintah Allah kepadamu supaya kamu menjadi ingat.
Dan sesungguhnya (yang Allah perintahkan) ini adalah jalan-Ku
yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan
yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu
dari jalan-Nya. Demikianlah perintah Allah kepadamu agar
kamu bertaqwa.
Pertama, kita dilarang mempergunakan secara sembarangan harta
anak yatim yang berada dalam pengawasan kita. Dan kitapun
diperintahkan untuk mengembalikan harta anak yatim yang dititipkan
kepada kita sesegera mungkin manakala ia telah cukup dewasa.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hendaklah kita menunggu
lebih lama lagi, sampai anak-anak yatim itu memiliki kemampuan
untuk menyelenggarakan urusan mereka sendiri. Meskipun demikian,
Kita harus sudah menyerahkan kembali harta mereka sebelum
mereka mencapai usia 15 tahun, kecuali anak yatim itu secara
mental terbelakang. Sebagian ulama berpendapat, sebaiknya
harta anak yatim dialihkan kepada lembaga peradilan yang
berwenang menunjuk seseorang yang bersifat amanah untuk mengawasi
penggunaan harta anak yang sedemikian.
Allah SWT berfirman didalam Surat An-Nisaa’ Ayat 6,
Ujilah anak yatim itu sehingga cukup umurnya (baligh)untuk
nikah. Jika kamu anggap mereka telah berakal (pandai memelihara
harta), berikanlah harta itu kepadanya.
Jadi, cukup umur saja bukanlah syarat yang cukup. Harus pula
terpenuhi syarat kemampuan untuk menangani urusannya sendiri.
Allah SWT juga berfirman didalam Surat An-Nisa Ayat 10:
Sesungguhnya, orang-orang yang memakan harta anak yatim secara
aniaya, mereka itu hanyalah memakan api kedalam perut mereka,
dan kelak mereka akan dibakar didalam Neraka.
Selanjutnya, Allah SWT juga memerintahkan kita untuk menyempurnakan
takaran dan timbangan dengan cara adil. Umat Nabi Syu'aib
AS dibinasakan oleh Allah SWT akibat melanggar perintah ini.
Kita dapati peringatan keras didalam Al-Qur’an terhadap
orang-orang yang berbuat curang ketika menimbang. Perhatikan
pula bahwa, tidak berlaku adil dalam suatu pekerjaan adalah
termasuk juga didalam pengertian tidak melakukan penimbangan
secara benar. Maka setiap orang harus melakukan upaya terbaik
untuk memenuhi perintah ini. Jika saja kemudian masih ada
hal yang diluar kewenangan/kemampuannya, maka itu bukanlah
kesalahannya. Suwaid bin Qais RA meriwayatkan bahwa, Rasulullah
SAW bersabda: Timbanglah dan imbuhkanlah sedikit lebihan” (Abu
Dawud dan Tirmidzi)
Jabir juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semoga Allah
SWT melimpahkan kasih-sayang-Nya bagi penjual yang baik hati memberi sedikit
lebihan dari takaran yang semestinya, dan bagi pembeli yang berbaik-budi merelakan
bila barang yang dibelinya sedikit saja kurang dari takaran yang semestinya.” (Bukhari)
Perintah Allah SWT berikutnya adalah, kita harus menyampaikan yang benar meskipun
terkait dengan masalah saudara dekat.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Memberikan kesaksian dusta adalah
serupa dengan mengadakan sekutu bagi Allah SWT.” Pernyataan demikian
beliau sampaikan dengan tiga kali pengulangan dan dilanjutkan dengan mengumandangkan
Firman Allah SWT (Surat Al-Hajj Ayat 30-31):
Maka jauhkanlah dirimu dari kotoran menyembah berhala dan jauhkanlah dirimu
dari perkataan dusta. Sembahlah hanya Allah dan janganlah menyekutukan-Nya.” (diriwayatkan
oleh Abu Dawud, Tirmizy, dan Ibnu Majah)
Burraidah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Terdapat
tiga macam hakim. Satu diantaranya akan masuk surga adapun dua lainnya menuju
ke Neraka. Yang satu itu adalah yang menyelidiki perkara yang ditanganinya
menurut aturan Islami dan berusaha sebaik-baiknya menemukan kebenaran demi
memberikan keputusan yang adil dan kesimpulan akhir yang benar, itulah yang
kelak akan masuk surga. Adapun hakim yang telah mendapatkan kesimpulan yang
benar berdasarkan pengetahuan dan penyelidikannya namun menetapkan keputusan
yang keliru, dia akan masuk neraka. Begitu pula hakim yang kurang pengetahuannya
atau kurang tekun melakuan penyelidikan yang masuk akal atas perkara yang ditanganinya
kemudian mengambil keputusan dengan mengabaikan/meremehkan tugasnya, iapun
akan ke neraka.” (Abu Dawud, At Tirmizy, dan Ibnu Majah)
Al-Qur’an memberikan pedoman yang begitu indah perihal bagaimana cara
bersaksi. Perhatikanlah Surat An-Nisaa’ Ayat 135.
Wahai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan dan bersaksilah karena
Allah, meskipun itu terhadap dirimu sendiri, atau terhadap ibu-bapakmu, atau
terhadap kaum kerabatmu. Adakah dia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya.
Diriwayatkan juga oleh Anas RA, Rasulullah SAW ditanya perihal dosa-dosa besar.
Beliau bersabda, “Adalah termasuk dosa besar, menyekutukan Allah, tidak
patuh kepada kedua orang tua, membunuh seseorang yang mana Allah melarang untuk
dibunuh, dan memberikan kesaksian dusta.” (Bukhari)
Islam memiliki acuan peradilan yang paling tinggi. Allah SWT berfirman di dalam
surat Al Maidah ayat 8:
Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum menghalangimu untuk berlaku adil
dalam memutus suatu perkara.
Demikian juga, kita dianjurkan untuk selalu berhati-hati bahkan didalam keseharian
bercakap-cakap diantara kita. Adalah hal terlarang bagi kita berkata-kata dusta,
menggunjing, ataupun mengatakan hal apapun yang dapat mencelakakan atau melukai
perasaan orang lain, ataupun berakibat kerugian materi pada orang lain.
Allah SWT memerintahkan kita menepati janji yang kita ucapkan. Ini terdapat
didalam firman-Nya Surat Al-Baqarah Ayat 177,
… , dan orang-orang yang menepati janjinya bila ia telah berjanji,
Menarik untuk di garis bawahi bahwa ayat diatas menyatakan bahwa, hendaklah
orang-orang mukmin membiasakan diri untuk menepati janji-janji yang mereka
ucapkan, sementara orang-orang kafir berbuat serampangan dalam mengucapkan
janji dan meremehkan perihal kelaziman menepati janji. Hal serupa difirmankan
Allah SWT didalam Surat Al-Ma’arij Ayat 32, bahwa salah satu dari ciri-ciri
orang beriman adalah:
Dan mereka yang memelihara amanah (yang dipikulnya) dan memenuhi janji.
Sebagai akhiran dalam perintah-perintah yang diturunkan, Allah SWT memberikan
penegasan “Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu
ikuti berbagai jalan yang lain, yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Suatu ketika Nabi Muhammad SAW
menarik garis lurus di tanah sambil bersabda, “Inilah Jalan Allah SWT.” Lalu
beliau menggambarkan lagi garis-garis lain disekeliling garis lurus tersebut
seraya bersabda, “Selainnya ini adalah Subul (jalan-jalan lain). Syeitan
berada didalam setiap garis yang lain ini dan senantiasa berupaya membelokkan
manusia dari Jalan Allah SWT.” Kemudian Rasulullah SAW mengumandangkan
Ayat 152 dan 153 dari Surat Al-An’am.” (Masnad Ahmad dan Ad Darami)
Marilah sekarang kita rangkumkan dan menyusun pemandangan umum atas tiga ayat
dari Surat Al-An’am:
Pada Ayat 151, terdapat lima perintah Allah SWT,
1. Jangan mengada-adakan sekutu bagi Allah SWT.
2. Patuhilah kedua orangtua
3. Jangan membunuh anak/keturunan (secara fisik maupun mental).
4. Memelihara diri dari perilaku-perilaku asusila/tak bermoral.
5. Jangan sembarangan membunuh seseorang.
Kemudian Allah SWT berfirman, “… supaya kamu berpikir.” Demikian
ini, karena sebelum terbitnya fajar Islam kelima perbuatan tersebut tidak dipandang
sebagai perbuatan buruk/jahat. Maka dari itu Allah SWT memperingatkan agar
kita meninggalkan pemahaman-pemahaman jahiliyah tersebut dan kembali kepada
nurani dan akal sehat kita.
Empat perintah berikutnya didalam Ayat 152 adalah:
1. Jangan memakan secara rakus/serakah harta anak yatim
2. Lakukanlah pengukuran/penakaran dan penimbangan dengan benar
3. Berikan pernyataan yang benar/jujur dan berpihaklah kepada pada kebenaran.
4. Penuhilah/tepatilah janji-janji.
Keempat hal diatas merupakan nilai-nilai dasar kebenaran yang setiap orang
dapat merasakan kebajikan yang terkandung didalamnya. Sungguhpun demikian sebagian
besar dari kita sangat ceroboh terhadap hal-hal tersebut. Obat dari kecerobohan
adalah dengan mengingatan. Maka, Allah SWT menutup ayat tersebut dengan, “Demikianlah
perintah Allah kepadamu supaya kamu menjadi ingat.”
Didalam Ayat 153 tersebut, kita diperintahkan untuk mengikuti jalan yang lurus
dan menghindari jalan-jalan selainnya. Perintah ini hanya bisa diikuti jika
kita selalu sadar atas keberadaan Allah SWT dan selalu berusaha menggapai peringkat
Taqwa. Tiga ayat Surat Al-An’am ini sangatlah penting. Ka’ab Ahbaar
RA sebelumnya adalah penganut Yahudi dan mengingat dengan baik ayat-ayat kitab
Taurat. Setelah memeluk Islam, ia berkata, “Kitab Taurat diawali dengan
sepuluh perintah yang didalam Al-Qur’an disebutkan lagi didalam ketiga
ayat tersebut. Perintah ini sama dengan Sepuluh Perintah Allah SWT kepada Nabi
Musa AS.”
Abdullah bin Abbas RA mengatakan bahwa ayat-ayat ini tergolong ayat muhkamat;
yaitu ayat yang sudah jelas maknanya; sebagaimana yang dimaksud dalam Surat
Ali ‘Imran. Lagipula, lebih jauh kita juga mengenali bahwa seluruh aturan
dasar perihal perbuatan manusia yang diemban sejak Nabi Adam AS sampai dengan
Rasulullah Muhammad SAW, memuat kesepuluh perintah tersebut dan tidak pernah
digugurkan dalam Syari’ah apapun juga.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kesanggupan untuk mengikuti setulusnya
wasiat Nabi Muhammad SAW. Amiin
|