s |
“Speeches
For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja
and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
WASIAT RASULULLAH MUHAMMAD SAW
(Bagian-I)
Allah
SWT berfirman didalam Surat Al-An’am Ayat 151,
Katakanlah, “Kemarilah, kubacakan apa yang diharamkan
oleh Tuhanmu kepadamu: Janganlah kamu mengadakan sesuatu
apapun untuk disembah disamping Dia, dan berbuat baiklah
kepada ibu dan ayahmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu
karena takut pada kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki
kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati
perbuatan nista/keji baik yang terang-terangan maupun yang
sembunyi-sembunyi, dan janganlah kamu bunuh seseorang yang
telah diharamkan Allah bagimu untuk melakukannya kecuali
dengan sebab yang kamu dibenarkan melakukannya.” Inilah
perintah Tuhanmu kepadamu supaya kamu berpikir.
Ayat ini dan juga dua ayat berikutnya, menggunakan kata ‘washiyyat’ (diadaptasi
ke bahasa Indonesia menjadi wasiat) sebanyak tiga kali berturut-turut.
Ini berarti, dengan kata lain, Allah SWT sedang memberikan
perintah kepada kita, mengharuskan kita mematuhi perintah
ini.
Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Abdullah bin Mas’ud
RA berkata bahwa jika seseorang ingin melihat wasiat Nabi
Muhammad SAW yang ber-‘segel’ dari beliau, maka
hendaklah ia membaca 3 ayat ini (Surat Al-An’am Ayat
151, 152, 153) yang telah beliau wariskan kepada umatnya.
Al Hakim menulis bahwa ‘Ubadah bin Shamit RA meriwayatkan
bahwa, Nabi Muhammad SAW suatu kali berbicara dihadapan para
sahabat beliau dan bertanya siapakah diantara mereka yang
bersedia bersumpah-setia kepadanya untuk menta’ati
tiga ayat tersebut. Rasulullah SAW menambahkan bahwa, barang
siapa bersedia memenuhi janji ini maka ganjarannya adalah
jaminan Allah SWT.
Didalam ayat-ayat ini terkandung sepuluh macam hal yang digolongkan
sebagai perbuatan Haram. Pendekatan Al-Qur’an bersifat
mengundang karena didalamnya menggunakan kalimat perintah
dan bukan kalimat berunding (negosiasi). Dimulai dengan kata ‘Kemarilah’,
sebagaimana jika seseorang mengundang yang lain dari tempat
yang tinggi (seperti panggung atau menara) untuk menaikkan
tingkat perhatian pendengar agar semakin meningkat. Kalimat
pernyataan, “Kubacakan kepadamu apa saja yang Allah
haramkan bagimu.” memberikan penekananan bahwa kita
tidak diperbolehkan mengubah sendiri Halal menjadi Haram
dan Haram menjadi Halal. Setelah didahului dengan pernyataan
umum, setiap yang Haram di sebutkan secara jelas satu persatu.
Marilah sekarang kita uraikan satu demi satu:
Pertama-tama, Jangan mengadakan sesembahan selain Allah SWT.
Syirik berjumlah sangat banyak dan bermacam-macam bentuknya:
• Mengadakan sesembahan lainnya disisi Allah SWT sebagaimana
dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani.
•
Walaupun meyakini bahwa Allah SWT berbuat segala sesuatu,
namun dalam usaha mencapai keberhasilan masih mengandalkan
hubungan-hubungan dengan ‘kekuatan’ lain dengan
berbagai macam cara.
• Shalatnya untuk maksud dilihat orang lain.
• Membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT tetapi tujuan sebenarnya
supaya dikenal dermawan.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Tiada satupun dapat
memberikan manfaat padamu tanpa perkenan Allah SWT, dan tiada
satupun dapat mendatangkan mudharat (kesulitan/kesusahan)
tanpa perkenan Allah SWT.”
Kemusyrikan disebut di urutan pertama karena ini adalah perbuatan
jahat terburuk. Allah SWT sama sekali tidak mengampuni dosa
Syirik.
‘
Ubadah bin Shamit dan Abu Darda' meriwayatkan bahwa Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Janganlah mengada-adakan sesembahan
disamping Allah SWT walaupun kamu ditempatkan pada tiang
gantungan ataupun dibakar hidup-hidup.”
Selanjutnya, kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada
ibu dan ayah kita. Sungguh menarik kalimat yang digunakan
Allah SWT, bukan memerintah dengan kalimat “Jangan
kamu abaikan kedua ibu dan ayahmu.” tetapi pendekatan
Al-Qur’an amat mengagumkan. Allah SWT tidak hanya menyuruh
kita patuh, tetapi juga harus berbuat baik kepada mereka
sehingga mereka sepenuhnya ridha dengan perlakuan kita. Didalam
Surat Al Isra' Ayat 24, Allah berfirman,
Tetaplah merendahkan dirimu dihadapan mereka dengan penuh
kasih sayang...
Allah juga berfirman didalam Surat Al-Isra Ayat 23,
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan kepada ibu dan ayahmu hendaklah kamu berbuat
baik.
Dan didalam Surat Luqman Ayat 14 Allah membuat pernyataan,
Bersyukurlah kepada-Ku dan berterimakasihlah kepada ibu dan
ayahmu; dan kepada-Ku-lah kamu akan kembali.
Dengan kata lain, Allah SWT menyatakan bahwa jika kamu tidak
bersyukur kepada-Nya dan tidak berterima-kasih kepada ibumu
dan ayahmu, maka ketika kembali kepada Allah SWT kamu akan
menerima hukuman-Nya. Dalam semua ayat yang telah disebut
diatas dengan jelas kita mengetahui bahwa hak orang-tua disebutkan
langsung setelah hak Allah SWT. Tanda bahwa hak-hak orang-tua
memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam pandangan Allah
SWT.
Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan, “Aku bertanya
kepada Nabi Muhammad SAW, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau
menjawab, “Shalatlah di awal waktu.” ”Kemudian
apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbuat-baiklah
kepada ibu dan ayahmu.” Aku bertanya lagi, “Selanjutnya
apa lagi?” Beliau menjawab, “berjuang di jalan
Allah SWT (jihad fi sabilillah).” (Bukhari & Muslim)
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah
SAW sampai tiga kali mengucapkan, “Sungguh celaka dia!” Para
sahabatpun bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang
celaka itu?” Rasulullah menjawab, “Barangsiapa
yang berkesempatan mendapati salah satu atau kedua orang-tuanya
sampai berusia lanjut tetapi ia tidak masuk surga.” (Muslim)
Ini berarti, jika seseorang melayani orangtuanya dengan penuh
kerelaan dan menyenangkan pada usia lanjut mereka, surga
telah menanti kedatangan orang ini. Disini keadaan usia lanjut
dari ibu dan/atau ayah merupakan syarat untuk memperoleh
surga, karena pada waktu yang demikian itu mereka menjadi
lemah dan tidak mampu menolong diri sendiri.
Berikutnya, Allah SWT menguraikan hak anak-anak. Kita telah
mendapat perintah Allah SWT supaya tidak membunuh anak-anak
kita karena kekhawatiran terhadap kemiskinan. Allah SWT yang
akan menyediakan rizki untuk mereka sebagaimana Dia menyediakan
rizki untuk kita. Perhatikanlah bagian kalimat Surat Al-Isra’ Ayat
31.
... Kami yang memberi rizki untuk mereka dan juga untukmu.
...
Disini terdapat penegasan bahwa, anak-anak yang masih lemah
dan belum mampu menanggung diri mereka sendiri berhak atas
bagian rizki yang lebih utama daripada diri anda sendiri.
Jadi, rizki yang anda terima dari Allah SWT adalah demi untuk
menghidupi anak-anak anda, anak-anak anda adalah berkah-Nya
kepada anda dan bukanlah hambatan/rintangan.
Lihatlah sebuah tunas yang tumbuh menjadi pohon dan kemudian
berbuah banyak. Bukanlah para orang-tua yang menumbuhkan,
adalah Allah SWT yang menumbuhkan. Dengan cara demikian pulalah
Allah SWT akan menyediakan untuk anda semua rizki yang tak
terhingga dan tak terlihat. Jika kita tidak memberikan pendidikan
Islami dan tidak melatih anak-anak kita untuk berperi-kehidupan
Islami, itupun sama saja dengan melakukan proses pembunuhan
anak-anak kita.
Dikatakan demikian karena, Al-Qur’an
menyebut seseorang sama saja dengan orang mati bila ia tidak
mengenal Allah SWT dan ta’at kepada-Nya. Berarti, semua
orang yang mengabaikan pendidikan dan pelatihan ke-Islam-an
kepada anak-anak mereka, patutlah dipersalahkan atas pembunuhan
terhadap anak-anak mereka. Hal sedemikian ini disebut pembunuhan
spiritual, dimana berdampak jauh lebih buruk daripada pembunuhan
jasmani. Dosa yang dilakukan oleh anak-anak itu, sebagai
akibat ketiadaan bimbingan ruhaniah dari para orang-tua mereka,
akan merupakan daya penghancur bagi masa depan mereka.
Perintah Allah SWT berikutnya, janganlah kita menghampiri
perbuatan tak bermoral baik yang terang-terangan maupun secara
sembunyi-sembunyi atau terselubung. Termasuk dalam jenis
yang terang-terang bisa berarti yang menggunakan lidah (lisan),
tangan ataupun kaki, dan bagian badan yang lain. Adapun yang
tersembunyi bisa berupa kecemburuan, keinginan yang menggebu,
tidak bersyukur atas nikmat yang diperoleh, dan ketidak-sabaran.
Perbuatan terang-terangan bisa juga berarti gagasan berbau
birahi yang diwujudkan didepan umum, misalnya: lelaki melakukan
tatapan mata menggoda kepada perempuan lain, atau mencolek-colek,
atau berbicara mesum. Adapun bentuk tersembunyi dari perilaku
tak bermoral bisa juga berupa rencana terselubung yang mengarah
kepada semua atau sebagian dari perbuatan yang disebut diatas.
Nabi
Muhammad SAW memperingatkan kita agar tidak menghampiri ‘wilayah
abu-abu’ alias hal yang meragukan (syub’hat)
karena hal itu sangat dekat kepada perbuatan dosa. Beliau
bersabda:
“ Barangsiapa mendekat-dekati wilayah terlarang
(hal-hal yang haram), amat sangat besar kemungkinannya ia
akan memasuki/
melanggarnya.”
Selanjutnya, Allah SWT juga melarang kita membunuh seseorang
yang digolongkan oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang
dilarang dibunuh.
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad
SAW bersabda: “Kalian tidak diperkenankan membunuh
seorang Muslim kecuali dengan sebab-sebab berikut ini:
- Seseorang yang telah berkeluarga yang berbuat zina.
- Seseorang yang telah membunuh orang lain secara dzalim
(tanpa alasan yang dibenarkan Allah SWT).
- Seseorang yang menjadi kafir setelah memeluk Islam.”
(Bukhari dan Muslim)
Khalifah Utsman bin Affan RA pernah memperingatkan orang-orang
yang mencoba hendak membunuh beliau dengan membacakan Hadits
ini.
Begitupun dengan membunuh orang Non-Muslim tanpa keadilan, adalah perbuatan
terlarang didalam Islam.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang
muslim yang membunuh non-muslim didalam wilayah negeri Islam tanpa suatu keadilan
berarti melanggar perjanjian dengan Allah SWT. Barang siapa yang melanggar
perjanjian dengan Allah SWT tidak akan mencium bau surga, walaupun bau surga
itu bisa tercium dari jarak empat puluh tahun.” (Bukhari)
Saya berdo’a semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk
memahami perintah-perintah-Nya diatas, dan dapat mematuhi semuanya itu dengan
tulus-ikhlas. Amiin.
|