“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah di Perang Teluk…..
ABDULLAH
Ketika itu ia adalah seorang pemuda tamatan Sekolah Menengah.
Berdinas aktif di US Army (Angkatan Darat Amerika Serikat)
selama beberapa tahun, dimana ia memperoleh kesempatan belajar
beberapa kemampuan teknis. Kini ia menghidupi diri dan keluarganya
dengan menggeluti usaha jasa perbaikan mesin fotocopy dan
mesin fax.
Sungguh menarik menyimak kisah awal mula Abdullah memeluk
Islam. Namun jauh lebih menarik mengetahui bagaimana ia menyusuri
proses Islamisasi diri. Ketika pecah Perang Teluk yang melibatkan
Pasukan Amerika Serikat dengan Pasukan Irak, ia ditempatkan
di Saudi Arabia.
Suatu
hari ia sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar
Saudi. Di sebuah toko, ia memilih barang, tawar menawar
dengan penjaga toko, dan akhirnya sepakat atas harga yang
harus dibayar untuk barang tersebut. Namun berkumdanglah
Adzan panggilan shalat dari Masjid terdekat kala ia hendak
membayar belanjaannya itu. “Cukup sudah!” kata
penjaga toko itu kepadanya seraya menolak melakukan transaksi
dagang apapun hingga selesai melaksanakan shalat. Toko
pun ditutupnya dan ia bergegas pergi menuju Masjid.
Abdullah
begitu terperanjat dan tak habis pikir dengan kejadian
kecil ini. Mengapa si penjual tidak mau mengambil
uang yang
telah menjadi haknya dengan terjadinya kesepakatan harga
diantara mereka. Tak sekalipun dalam kehidupan Abdullah
menjumpai orang yang menolak uang. Pada umumnya, di dunia
bisnis, semua
orang memburu uang dengan berbagai cara. Orang macam
apakah si penjual itu? Agama apa pulakah yang begitu utama
di
matanya? Abdullah begitu penasaran dan ingin mengenal
lebih banyak
tentang agama itu. Dibacanya berbagai buku tentang Islam,
semakin hari semakin banyak buku yang dibacanya dan akhirnya
ketika kembali pulang ke Amerika ia memutuskan untuk
memeluk Islam. Di New York, ia mendapatkan banyak guru
yang baik
yang mengajarkan kepadanya dasar-dasar pendidikan Islam.
Iapun memperoleh pengajaran membaca Kitab Suci Al-Qur’an.
Ini menjadikan Abdullah seorang Muslim yang sangat ketat
menjalani keIslaman-nya.
Saya baru mengenal Abdullah manakala ia pindah ke Detroit.
Ia telah memutuskan untuk bermukim didekat Masjid Pusat Tauhid
Detroit dan melaksanakan hampir dari seluruh shalat lima
waktunya di Masjid ini. Pada waktu itu saya bekerja sukarela
menjalankan kegiatan humas Masjid. Menjalankan hubungan kemasyarakatan
sebuah organisasi Islam bisa menjadi tantangan tersendiri.
Banyak kejadian antara akhi Abdullah dengan saya, yang cukup
menimbulkan masalah sementara diantara kami berdua. Kami
sama-sama tulus dengan cara kami masing-masing. Permasalahan
diantara kamipun sirna tanpa bekas ditelan waktu. Bagaimanapun
juga kejadian ini merupakan ujian kesabaran dalam berbeda
pendapat dengan seseorang yang bisa saling berjumpa beberapa
kali dalam sehari berkenaan dengan kegiatan Masjid.
Suatu
hari, saya meminta akhi Abdullah mengumandangkan adzan.
Ia katakan bahwa itu akan dilakukannya diluar
Masjid di tepi
jalan raya. Saya katakan padanya bahwa kami telah
melalui prosedur pendaftaran ke Pemerintah Kota Detroit
dan
Dinas Pemadaman Kebakaran setempat diawal pendirian
Masjid.
Dewan Kota telah mengadakan pengumpulan pendapat
umum sebelum
akhirnya mereka mengijinkan kami membangun Masjid.
Namun ia tidak
merasa perlu mendengar nasehat saya. Maka sayapun
menegaskan dengan gamblang bahwa kalau itu tetap dilakukannya,
maka saya harus berhadapan dengan masyarakat umum,
Kejaksaan,
Komisi Tata Ruang, dan juga Departemen Perencanaan
Kota. Saya katakan dengan tegas kepadanya, “Anda hanya datang,
shalat dan pergi meninggalkan Masjid. Tak pernahkah terbayangkan
dalam pikiran anda bagaimana sulitnya pengalaman kami berhadapan
dengan mereka di Balai Kota. Berbuat bijaklah dan berhati-hati
dalam menjalankan keIslaman kita. Jangan sampai kita membuat
lingkungan tetangga kita Non-Muslim merasa terganggu dan
tergerak untuk mengajukan keberatan? Lagi pula, seyogyanya
kita pusatkan perhatian kita pada menghidupkan Iman saudara-saudara
Muslim kita daripada membuat masalah dengan para tetangga
Non-Muslim di lingkungan kita ini.” Tetap saja nasehat
saya ini tak dihiraukannya sama sekali. Ia tetap menolak
mengumandangkan adzan dari dalam Masjid. Maka saya pun; seraya
berdoa:”Wahai Allah maafkanlah hambamu ini”;
terpaksa meminta orang lain untuk mengumandangkan
Adzan.
Secara kebetulan saya mengetahui bahwa hanya ada satu Masjid
di Amerika Utara yang memiliki ijin meletakkan pengeras suara
diluar Masjid. Keputusan yang diambil oleh pengadilan Dearborn,
Michigan menguntungkan kaum Muslim karena hampir semua anggota
masyarakat di likungan itu beragama Islam.
Pernah juga akhi Abdullah meminta saya memberikan kunci Masjid
kepadanya. Saya jelaskan bahwa Masjid hanya dibuka pada waktu-waktu
shalat dan untuk keperluan asuransi telah dilakukan pembatasan
kebebasan masuk Masjid.
Beberapa
minggu kemudian, ia meminta ijin kepada saya agar tamunya
diperbolehkan tidur di Masjid
pada malam
hari.
Tetapi saya tidak meluluskan permintaannya. Saya
bertanya kepadanya, “Mengapa
anda tidak menyediakan tamu anda tempat bermalam di rumah
anda?” Iapun mejawab, “Karena saya telah beristri.” Saya
pun menawarkan kepadanya, “Kalau begitu, biarkan tamu
anda bermalam di rumah saya.” Iapun balik bertanya, “Bukankah
andapun beristri?” Saya katakan kepadanya, “Benar,
tetapi akan saya usahakan untuk mencarikan ruangan untuknya
di rumah saya, atau saya akan carikan hotel untuknya dan
saya yang akan membayar biayanya.” Akhi Abdullah pun
pergi begitu saja dengan membawa amarahnya. Ia hanya mau
melakukan sesuai dengan cara yang diinginkannya. Ia pun menyatakan
keberatannya atas perlakuan saya itu kepada saudara-saudara
Muslim yang lain. Walaupun ia begitu kecewa, ia tetap pada
komitmennya untuk shalat berjama’ah di
Masjid.
Akhi
Abdullah telah menghafal cukup banyak Surah dari Al-Qur’an,
pelafalannya pun sangat memesona dan tepat. Saya memintanya
menjadi Imam shalat Isya’ setiap hari. Semakin banyak
Surah yang ia hafal dari hari ke hari. Ia pun amat menyukai
Surah yang baru ia hafal dan cenderung untuk ia bacakan ketika
menjadi Imam Shalat. Namun selalu saja ada kekeliruan dalam
pembacaan surah yang baru dihafalnya. Tentu saja ini menimbulkan
perasaan kurang nyaman bagi saudara-saudara Muslim lainnya
yang menjadi ma’mum.
Saya keluhkan hal itu kepadanya, saya sarankan agar didalam
shalat ia hanya membaca surah-surah yang ia kuasai hafalannya
dan saya juga minta agar sehari sebelumnya ia bacakan dulu
di hadapan saya surah yang akan ia bacakan didalam shalat.
Akhi Abdullah suka dengan saran saya ini. Maka ia menjadi
lebih baik dan telah memahami sudut pandang saya. Kesalahan-kesalahan
bacaannya pun telah hilang seluruhnya dan kerjasama yang
didukung sikap untuk saling menolong ini telah menjadi jalan
untuk mempererat kembali persaudaraan diantara kami.
Pernah
juga kami (jama’ah masjid) ada masalah lain
dengan akhi Abdullah. Ia pernah terbiasa membacakan surah
yang panjang dan dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas didalam
setiap raka’at, sehingga shalat berlangsung lama. Kadangkala,
shalat isya yang ia pimpin bisa berlangsung sampai duapuluh
menit. Banyak peserta shalat berjama’ah yang tidak
siap menjalani dan memiliki kesabaran cukup dalam hal demikian
ini. Saya ungkapkan perasaan para jama’ah ini kepadanya.
Iapun menjawab bahwa ia menyukai cara yang ia lakukan itu,
sebagaimana yang pernah dilakukan oleh salah satu sahabat
Rasulullah SAW yang selalu menyambung pembacaan surah didalam
shalatnya dengan surah Al-Ikhlas setiap kali mengerjakan
shalat. Saya katakan kepada akhi Abdullah, “Sepanjang
pengetahuan saya, surah Al-Ikhlas hanya disambungkan dengan
pembacaan surat lain didalam raka’at ke-dua.” Kembali
ia menjawab, “ Saya baca sebuah hadits yang meriwayatkan
bahwa itu dilakukan di kedua raka’at.” Maka tak
seorangpun dapat mencegahnya membaca sebuah surah panjang
diikuti dengan pembacaan Surah Al-Ikhlas di setiap raka’at.
Suatu
hari saya melihatnya sedang membaringkan badannya disisi
kanan dan ditopangnya kepalanya
dengan lengan
kanannya menjelang
shalat Subuh berjama’ah. Saya pun menjadi khawatir
dan menghampirinya, saya tanyakan kepadanya adakah terjadi
sesuatu pada dirinya. Ia katakan bahwa ia baik-baik saja
dan ia menjelaskan bahwa ia melakukan apa yang biasa dilakukan
oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk beristirahat sejenak dengan
posisi tubuh sebagaimana ia sedang lakukan. Akhi Abdullah
selalu ingin mencoba melakukan apapun yang ia baca dari Al-Qur’an
dan Al-Hadits tanpa sedikitpun merasa canggung
ataupun malu.
Kehidupan
rumah-tangganya pun amat mengesankan. Istrinya dan banyak
saudara-saudaranya
yang masuk Islam melalui
usahanya yang gigih mendakwahkan Islam
kepada mereka. Ia dikarunia
Allah SWT banyak anak. Semua anaknya
sangat bagus dalam membaca al-Qur’an. Anak lelakinya yang tertua, waktu itu berumur
tujuh tahun, telah hafal sebagian Al-Qur’an atas bimbingan
sang Ayah. Bersama-sama sang Ayah pula si anak secara teratur
hadir untuk shalat bejama’ah di Masjid, bahkan juga
untuk shalat Subuh. Saya belum pernah tahu, adakah ayah-ayah
yang lain yang dengan senang hati membawa anak lelaki mereka
yang baru berusia tujuh tahun untuk berjama’ah shalat
subuh di Masjid, walaupun cuaca begitu dinginnya, lagi bersalju
ataupun sedang hujan. Seusai shalat Subuh, akhi Abdullah
biasanya mengajarkan Al-Qur’an kepada anak lelakinya
itu di Masjid. Maka, jadilah anak lelakinya itu istimewa
dalam hal pengetahuan dan pengamalan Islamnya, begitupun
perilakunya sungguh menawan. Pembacaan Al-Qur’annya
pun seindah sang Ayah. Adabnya bagaikan
seorang pria dewasa berusia tigapuluh
tahun. Semoga
kelak, ia
bisa menjadi
Imam Masjid yang baik.
Seiring
berjalannya waktu, akhi Abdullah tidak hanya memegang kunci
Masjid, iapun
bertanggung-jawab
atas
pelaksanaan shalat berjama’ah
di Masjid. Terpikirkan pula oleh saya,
bahwa ia pun telah siap untuk memberikan
khutbah Jum’at.
Meskipun awalnya sedikit enggan, iapun
bersedia untuk berkhutbah sekali saja.
Itupun telah dikerjakannya dengan amat
sangat
baik. Oleh karena itu iapun selanjutnya
ditugasi untuk setiap bulannya satu
khutbah Jum’at di Pusat Tauhid
Detroit dan satu Jum’at di Pusat
Tauhid Farmington Hills, Michigan.
Ia laksanakan
tugas sukarela
ini dengan begitu
baik.
Tanpa maksud membesar-besarkan, banyak
jama’ah yang
datang untuk memintanya menjadi Khatib Tetap di kedua Masjid
itu. Mereka juga suka mendengarkan pembacaan Al-Qur’an
olehnya. Jujur saja, kamipun bisa mengumpulkan infaq-shadaqah
lebih banyak di masing-masing masjid itu manakala akhi Abdullah
memimpin Shalat Jum’at.
Suatu hari diwaktu Subuh, manakala
shalat Subuh berjama’ah
telah usai dan semua jama’ah telah pulang ke rumah
masing-masing, akhi Abdullah datang ke Masjid Pusat Tauhid
Detroit bersama seorang akhi Muslim setempat. Saya sedang
membaca kitab suci Al-Qur’an
ketika mereka memasuki masjid. Mereka
pun menunaikan
shalat
Subuh. Setelahnya,
saya menyambut kehadiran mereka berdua
yang baru saja pulang dari
menunaikan ibadah Haji. Saya mendesak
mereka agar berkenan singgah ke rumah
saya untuk
sarapan pagi.
Akhi Abdullah
menolak ajakan saya, ia katakan bahwa
ia belum pulang ke rumah dan
langsung menuju masjid. Ini ia lakukan
mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW
yang selalu mendahulukan
singgah
di Masjid sepulang
beliau dari sebuah perjalanan, sebelum
pulang ke rumah untuk menjumpai keluarga
beliau.
Saya pun
bertanya-tanya dalam
hati, seberapa banyakkah orang-orang
yang terlahir dari keluarga Muslim
yang mengamalkan
sunnah
Rasulullah SAW
ini?
Kini, akhi Abdullah suka menertawakan
dirinya dimasa lalu yang begitu
kaku perilakunya. Ia sekarang
telah bisa
menerima
beraneka-ragam pengamalan ajaran
Islam. Iapun sudah mulai bersedia
mengumandangkan adzan dari dalam
Masjid.
Setelah akhi Abdullah berkesempatan
menyampaikan khutbah Jum’atnya yang pertama, seusai shalat saya memperkenalkannya
kepada para jama’ah, saya ceritakan bagaimana kisahnya
memeluk Islam dan betapa bangga putranya ikut sang Ayah melaksanakan
shalat Subuh di Masjid setiap hari. Begitu selesai perkenalan
itu saya sampaikan nampak betapa akhi Abdullah begitu ingin
mengetahui tangapan saya mengenai khubtbah yang dibawakannya.
Saya katakan kepadanya bahwa khutbahnya baik sekali, iapun
menyelesaikan dengan tepat waktu, sementara sering terjadi
banyak khatib yang sulit untuk mengakhiri khutbahnya. Ia
pun pergi tanpa berkomentar lagi. Setelah shalat Isya’ akhi
Hani ingin berbicara dengan saya. Ia berkata, “Akhi
Abdullah merasa tersinggung, ia menganggap bahwa memujinya
didepan umum sama halnya; sebagaimana yang diriwayatkan sebuah
hadits; memotong urat lehernya.” Saya menanggapinya, “Hendaknya
anda merujuk juga hadits yang lain, bahwa kitapun dianjurkan
untuk menghormati secara patut dan menyampaikan penghargaan
kepada siapapun yang pantas menerimanya.” Nabi Syuaib
AS juga menekankan agar umatnya tidak kikir memberikan penghargaan
yang patut diberikan. Hal ini juga tercantum dalam berbagai
ayat didalam Al-Qur’an. Banyak orang yang hanya dengan
memperhatikan sebuah hadits langsung menarik kesimpulan sendiri.
Alhamdulillah saya tidak melebih-lebihkan apapun dalam memperkenalkan
dirinya. Terlebih lagi, jama’ah
perlu mengenal segala sesuatu mengenai
Khatib
yang baru. Saya
sampaikan pendapat
saya ini kepada akhi Abdullah pada
keesokan harinya. Iapun merasa puas
dengan penjelasan
saya.
Sebulan setelah kejadian itu,
sekali lagi saya memperkenalkannya
kepada
para jama’ah setelah kedua-kalinya ia menyampaikan
khutbah Jum’at. Saya berkata, “Saya bukannya
memuji akhi Abdullah, tetapi saya rasa, saya perlu berlaku
adil dalam menyampaikan fakta dan mutu sebenarnya dari khatib
kita yang baru.” Setelah memperkenalkannya
, saya pun menambahkan bahwa tugas
dan tanggung-jawab dijalankan
bersama-sama.
Kini akhi Abdullah dan akhi
Hani memikul tanggung-jawab
atas Masjid
manakala saya berhalangan
hadir ke Masjid. Mereka
berdua menjalankan tugas
dan tanggung-jawab mereka
dengan
baik sekali.
Akhi Abdullah mengikuti kelas
bahasa Arab pada sebuah
perguruan lokal,
pengajarnya adalah
Dr. Syeikh Ali
Suleiman. Maka
kini iapun telah mampu
berbahasa Arab dengan
baik, memahami beberapa
tata-bahasanya. Ia pun
terus membaca dan menghafal surah-surah
Al-Qur’an. Iapun belajar Hadits, memimpin Shalat Jum’at,
dan juga membimbing banyak orang yang
belum beriman kepada cahaya Islam.
Seorang tamatan
sekolah
menengah dengan
ketulusan dan komitmennya telah berhasil
mengerjakan hal-hal besar
ini, juga memperkenalkan dan mendakwahkan
Al-Islam ditengah-tengah masyarakat
dari berbagai macam
keyakinan. Itulah Akhi
Abdullah, salah seorang produk sampingan
dari Perang Teluk. Masih
banyak lagi serdadu-serdadu lain yang
menjadi pemeluk Islam setelah
berkunjung ke Saudi Arabia.
|