|
“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah Menerangi Akal yang Terbuka
DONALD FLOOD
Masing-masing
budaya mengandung kekuatan dan kelemahannya sendiri. Sebagaimana
kita ketahui kehidupan orang Amerika
begitu banyak diwarnai kemerdekaan perorangan. Begitu banyaknya
kemerdekaan atau kebebasan itu sehingga para orangtua ‘memberikan
tali yang panjang’ bagi anak-anak mereka. Pada umumnya
mereka tidak mencampuri urusan keagamaan dan pencarian jati
diri anak-anak mereka. Dalam keadaan demikian itu, terjadi
kecenderungan saling menerima dan menghormati kegiatan pribadi
masing-masing antara orangtua dan anak. Don (begitu Donald
biasa dipanggil) adalah satu dari produk rumah-tangga liberal
semacam itu. Berikut ini kisah hidupnya yang diceritakan
kepada saya:
Latar Belakang Keagamaan
Saya (Don) berlatar-belakang beragama sebagaimana tipikal
orang-orang Amerika. Dahulu saya seorang Kristen dan sewaktu
saya sedang tumbuh dewasa, kadang kala saya mengikuti kebaktian
gereja bersama keluarga. Nampaknya hal terpenting dalam ajaran
Kristiani adalah moralitas. Sedikitnya pengetahuan Kristiani
yang saya miliki maupun saya jalani telah membantu akal pikiran
saya untuk selalu bersikap terbuka terhadap berbagai agama
dan budaya yang lain.
Pengalaman dengan Budaya Baru
Kehidupan orang Amerika begitu banyak berpindah. Ayah
saya pun berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain
sehubungan
dengan pekerjaan profesionalnya. Kebetulan, kami berkesempatan
untuk tinggal beberapa bulan di Amerika Latin, waktu
itu saya pelajar sekolah menengah. Disitulah saya berhadapan
dengan budaya dan bahasa baru. Saya menjadi paham sepenuhnya
bahwa ada banyak gaya hidup di dunia ini, bukan hanya
gaya
hidup Amerika saja. Pengalaman ini memperluas akal pikiran
dan cakrawala pandangan saya. Oleh karenanya, waktu itu
saya menjadi begitu penasaran untuk mengetahui lebih
banyak lagi
perihal berbagai budaya dan bahasa. Setelah itu saya
mengikuti keluarga kembali lagi ke Amerika dan saya menyelesaikan
sekolah
menengah di Indiana. Selanjutnya saya masuk Universitas
Texas di El Paso, yang terletak di perbatasan Texas dengan
Mexico.
Saya memilih jurusan Administrasi Bisnis.
Perjalanan Kemah Wisata
Setelah menempuh kuliah beberapa tahun, saya sadari bahwa
jurusan yang saya pilih tidak sesuai dengan diri saya.
Saya rasakan bahwa saya butuh sesuatu yang lebih menarik
dan behubungan
dengan kebudayaan. Pada waktu itulah saya diundang seorang
teman untuk ikut dengannya dalam acara perjalanan kemah
wisata selama tiga bulan ke seluruh Amerika Serikat dan
Canada bagian
Barat. Saya terima ajakannya dengan senang hati karena
saya tahu bahwa pengalaman di alam yang begitu memesona
akan menjadi
sebuah pengaturan yang sesuai untuk cerminan tujuan-tujuan
dan sasaran-sasaran pribadi. Sebagai hasil dari pengalaman
ini, saya tidak memperoleh keputusan apapun perihal perburuan
akademis yang saya jalani, namun saya sampai pada kesadaran
bahwa dunia ini tidak tercipta begitu saja secara kebetulan,
dan bahwa jelas nampak adanya tanda-tanda keajaiban alam
yang menunjuk kearah Sang Pencipta. Namun saya tidak
yakin bagaimana caranya menyembah atau menghargai Sang
Pencipta
kita itu.
Sampailah pada satu hari ketika saya sedang berjemur,
tiba-tiba saja terpikir bahwa saya dapat menggabungkan
ketertarikan
saya dalam bidang bisnis dan budaya dengan jalan mengambil
jurusan Studi Amerika Latin. Maka saya kembali ke universitas
di awal tahun akademis berikutnya dan berpindah ke jurusan
ini.
Aktivitas Sosial
Setelah kembali ke perkuliahan, teman saya yang Hindu
dan temannya yang berasal dari Saudi mengajak saya ke
acara ramah-tamah
yang diselenggarakan oleh sebuah gereja, karena didalamnya
terdapat juga kegiatan olah-raga dan hidangan makanan
rumahan. Sebagai mahasiswa hidangan makanan rumahan adalah
kesempatan
yang selalu tidak dilewatkan setiap kali diadakan. Hidangan
santap malam begitu mewah. Namun sesuatu yang tak kami
harapkan terjadi di penghujung malam. Pemimpin gereja
mulai menyanyikan
lagu yang tertulis di papan tulis dalam huruf Ibrani.
Ia pun meminta kami yang hadir untuk mengulang apa yang
dilantunkannya.
Kami melihat teman kami dari Saudi, Abu Hussein, segera
berdiri dan mengajak kami meninggalkan acara ramah-tamah
itu bersamanya.
Penerima tamu berusaha membujuk kami agar tetap tinggal,
tetapi kami bergegas pergi meninggalkan gereja. Ironisnya,
kejadian itu menumbuhkan persahabatan lebih dekat diantara
kami. Beberapa minggu kemudian Abu Hussein dan saya memutuskan
untuk menyewa rumah bersama, ikut juga dengan kami seorang
mahasiswa asal Kuwait dan seorang lagi dari Iran.
Tinggal
bersama teman-teman baru ini membuat saya lebih dekat berinteraksi
dengan budaya mereka.
Saya menyukai
makanan
mereka dan mencoba untuk menghidangkan beberapa
menu mereka. Saya perhatikan, teman-teman serumah
saya
itu seringkali
lebih suka makan dengan tangan kanan mereka tanpa
menggunakan perangkat makan ‘sendok-garpu’.
Mereka juga lebih suka duduk dilantai sewaktu
makan daripada
di meja
makan.
Yang saya heran dan tidak mengerti ketika itu
adalah, mengapa mereka selalu membawa air sekendi
ke kamar
mandi untuk
membasuh diri. Saya juga memperhatikan mereka
melayani tamu-tamu mereka
dengan keramah-tamahan yang tiada tara. Selain
kagum atas perilaku mereka, saya juga terkesan
dengan tingkat
percaya-diri
mereka yang begitu besar, yang nampaknya adalah
buah dari semacam kepastian yang begitu khas
atas pengetahuan
tentang
apa yang sedang mereka lakukan dan kemana arah
langkah yang mereka tuju dalam hidup ini. Belakang
baru saya
mengetahui bahwa tata-cara dan perilaku mereka
itu adalah hasil dari
pendidikan Islami yang mereka telah dapatkan
dan bukannya karena adat istiadat budaya kebangsaan
mereka.
Dengan mengalami sendiri sebagian budaya Amerika Latin
dan Arab, saya mengamati adanya banyak kesamaan yang
begitu nyata.
Lebih jauh lagi apa yang menjadi hasil pengamatan saya
ini mendapat pembenaran dari Studi Amerika Latin yang
saya tekuni.
Kesamaan-kesamaan yang saya temukan itu merupakan pengaruh
dari peradaban Islam selama 800-an tahun di Spanyol dan
Eropa Tengah. Jadi, melalui keterkaitan sejarah dengan
masyarakat
Arab lah beberapa praktek-praktek kehidupan islami berlanjut
sebagai bagian dari budaya Amerika Latin hingga kini.
Perjalanan Lintas Samudra
Setelah wisuda, teman-teman saya serumah kembali ke negara
mereka masing-masing. Saya tetap berhubungan
akrab dengan Abu Hussein. Setahun setelah kami diwisuda,
ia mengundang saya berkunjung ke Saudi Arabia selama
dua
minggu.
Saya
terima undangannya dan saya pun melakukan
perjalanan ke Saudi Arabia,
disini saya diterima dengan perlakuan laksana
seorang raja. Hampir seluruh waktu di Saudi saya nikmati
di
pedesaan yang berjarak tempuh beberapa jam ke
arah selatan kota
Riyadh.
Saya berhadapan dengan gaya hidup yang begitu
jauh
berbeda. Saya tidur di alam terbuka diatas karpet
merah yang besar
dan indah, dibawah naungan bintang-bintang
yang bertaburan. Abu Hussein menyembelih beberapa ekor
domba
dan mengundang
semua penduduk desa untuk menghadiri jamuan
makan. Belum pernah saya alami selama hidup saya mendapat
perhatian semacam ini, dimana diantara kami saling
menghargai/menghormati
satu
sama lain.
Di
satu petang seusai jamuan makan, kami
pergi
ke gurun untuk melihat-lihat ternak onta
milik mereka. Salah seorang anak lelaki memerah
susu onta
dan menawari
saya untuk
mencicipi susu onta segar itu. Setelah
minum beberapa teguk,
saya katakan bahwa susu onta segar ini
sangat lezat. Kemudian Ayah Abu Hussein berkata kepada
saya, “Jika kamu menjadi
seorang Muslim, saya hadiahkan kepadamu sepuluh ekor onta.” Dengan
sigap saya menanggapinya, “Jika kamu menjadi seorang
Kristen saya hadiahi kamu sepuluh ekor onta.” Setelah
mereguk pengalaman singkat hidup di gurun
Saudi Arabia, saya pun kembali pulang ke
Amerika.
Mendapat Karir Baru
Setelah bekerja selama dua tahun sebagai tenaga pemasaran
di sebuah perusahaan penerbitan di Amerika, saya mendapat
pekerjaan baru sebagai pengajar bahasa Inggris di Abu
Dhabi, Uni Emirat Arab. Saya sungguh-sungguh menikmati
pekerjaan
ini. Saya pun memutuskan bahwa mengajarkan bahasa Inggris
sebagai bahasa ke-dua menjadi karir saya untuk seterusnya.
Lebih dari itu, dua tahun pengalaman kerja saya telah
lebih membuka diri saya terhadap budaya Arab. Sebagaimana
dengan
teman-teman serumah yang Muslim semasa kuliah dulu, di
Abu Dhabi saya pun mendapati orang-orang di negeri ini
sangat
baik budi pekertinya, percaya diri, dan sangat sosial.
Namun entah mengapa, waktu itu saya dihinggapi kerinduan
pulang
ke kampung halaman di Amerika.
Pengalaman di Las Vegas
Tak lama setiba saya kembali ke Amerika, saya pergi ke
Las Vegas, Nevada dimana banyak imigran
asing yang hampir semuanya
bekerja di arena judi (casino). Saya
pasang iklan di surat-kabar menawarkan pengajaran
bahasa Inggris untuk
orang-orang asing.
Pucuk dicinta ulam tiba, Dengan cepat
saya mendapat beberapa orang murid. Saya memberi
pelajaran di ruang dapur menggunakan
papan tulis kecil yang saya gantungkan
ke dinding. Waktu itulah baru saya ketahui ternyata
Las Vegas tidak mempunyai
lembaga pengajaran bahasa Inggris. Maka,
saya beserta rekan-rekan pun mendirikan sebuah tempat
belajar di jantung
kota. Bisnis
kami pun berkembang baik. Namun di senggangnya
waktu, saya ikut-ikutan menjalani beberapa kegiatan
maksiat
Las Vegas.
Gaya
hidup sedemikian ini membuat saya muak terhadap diri sendiri.
Saya pun segera merasa
lelah dengan semua
keburukan
sosial di masyarakat Las Vegas. Hidup
nampak tanpa makna dan penuh kerancuan. Saya menginginkan
lagi adanya perubahan,
maka saya mengirimkan resume (daftar
pengalaman kerja) saya melalui fax kepada Abu hussein
agar ia dapat membantu
mencarikan
pekerjaan untuk saya di Saudi Arabia.
Betapa kagetnya saya, ketika kemudian saya memperoleh
tawaran pekerjaan
sebagai
pengajar bahasa Inggris untuk karyawan
di sebuah perusahaan petrokimia di Jubail. Sebulan
kemudian saya pun telah
berada disana.
Taubat
Saya berangkat ke Jubail berbekal buku
dari berbagai topik. Suatu hari,
saya sedang membaca sebuah buku filsafat.
Didalam
buku itu terdapat anjuran untuk melakukan
taubat yang setulusnya kepada Tuhan.
Saya belum pernah menyatakan
taubat sepanjang
hayat. Mulailah saya berproses, mengingat-ingat
orang-orang yang saya pernah bebuat
kesalahan kepada mereka dan juga
kesalahan-kesalahan yang pernah saya
lakukan terhadap diri saya sendiri.
Kemudian saya bertaubat dan memohon
yang terbaik.
Selang tidak beberapa lama, terbersit
dalam pikiran saya bahwa Tuhan telah
menerima taubat saya. Pertanda yang
jelas dari diterima-Nya taubat saya
itu
adalah bahwa Tuhan memberikan
orang-orang spesial dalam kehidupan
saya dan mengijinkan terjadinya keadaan
tertentu
yang menuntun saya kearah
jalan yang benar. Saya akan berbagi
beberapa keadaan yang saya
lalui itu dengan para pembaca.
Makna Kemerdekaan/Kebebasan
Waktu itu saya sedang bersama-sama
Abu Hussein. Ia juga sedang menerima
tamu
seorang teman. Saya
katakan kepada mereka bahwa
saya dahulu lebih banyak memiliki
kebebasan di Amerika dibandingkan
dengan yang saya dapatkan
di negara mereka. Sang tamu mengatakan, “Hal
itu tergantung pada pengertian anda
perihal kebebasan. Di dunia anda,
tak peduli seberapa
baiknya pengajaran
moral/akhlak telah diberikan oleh
para orang tua kepada anak-anak mereka
didalam rumah tangga, begitu anak-anak
keluar dari lingkup rumah-tangga, mereka menjumpai
hal-hal
di masyarakat bertolak
belakang dengan ajaran moral yang
mereka terima. Disisi lain,
di sebagian besar masyarakat Muslim,
ajaran moral yang diberikan kepada
anak-anak di setiap
rumah-tangga sangatlah
bersesuaian
dengan apa yang mereka jumpai di
tempat yang
jauh
dari rumah-tangga mereka. Nah, kalau demikian
siapakah yang
sesungguhnya merasakan
bebas-merdeka?”
Suka atau tidak, saya cenderung
menyetujui interpretasinya perihal
kebebasan/kemerdekaan
dalam hal dimana immoralitas
(ketiadaan/ rendahnya akhlak) cenderung
menjadi kelaziman dalam masyarakat
yang terlalu liberal (bebas). Dalam
hal ini, terlalu banyak kebebasan
bukannya berakibat positif,
bahkan seringkali berubah menjadi
aspek negatif. Dari analogi yang
ia kemukakan,
saya pun memahami bahwa pedoman
Islami
dan larangan-larangan yang memiliki
sanksi
dalam hal perilaku manusia di masyarakat
Muslim bukanlah dimaksudkan
untuk mempersempit
kebebasan manusia, malahan bertujuan
mempertegas makna dan martabat
kebebasan/ kemerdekaan manusia
itu sendiri.
Permainan Rolet
Peluang saya selanjutnya untuk
belajar perihal Islam muncul
ketika saya
diundang untuk duduk
bersama dalam jamuan makan
dengan sekelompok Muslim. Setelah
saya ceritakan kepada mereka
bahwa saya pernah bermukim
di Las Vegas, Nevada,
sebelum
datang ke Timur Tengah, seorang
Muslim asal
Amerika menasehati saya, “Anda harus meyakinkan diri anda untuk kelak
mati sebagai Muslim yang baik” Saya pun segera balik
bertanya apa maksud perkataannya itu. Iapun menjawab, “Jika
anda mati sebagai Non-Muslim, ibaratnya anda bermain rolet
anda pertaruhkan seluruh kepingan taruhan (seluruh hidup
anda, termasuk amal perbuatan dan keimanan anda yang tertentu
kepada Tuhan) hanya pada satu nomor, sambil berharap bahwa
atas pertolongan Tuhan anda akan masuk Surga ketika Hari
Pembalasan tiba.
Sebaliknya,
jika anda mati sebagai Muslim yang baik, ibarat anda pertaruhkan
kepingan taruhan anda
tersebar merata di seluruh
papan taruhan rolet sehingga anda bertaruh disetiap nomor.
Dengan cara demikian di nomor berapapun
bola rolet berhenti anda
selamat. Dengan kata lain hidup dan mati sebagai Muslim
yang baik adalah jaminan terbaik
agar anda tidak menuju neraka,
dan dalam waktu yang bersamaan, anda telah berinvestasi
untuk menuju surga.” Sebagai
mantan warga Las Vegas, saya
bisa langsung mengkaitkan perumpamaan
yang ia gambarkan
dengan permainan
rolet.
Sampai disini, saya menyadari bahwa
tugas seluruh manusia adalah untuk
menemukan
kebenaran dalam hidup ini dan
bukannya secara membuta (begitu
saja) menerima agama yang diikuti
oleh lingkungannya ataupun orangtuanya.
Saya juga berketetapan bahwa saya
tak akan sampai pada kebenaran
sebelum
saya membangun hubungan dengan
Tuhan. Atas
dasar pemikiran
ini, saya memutuskan
untuk memusatkan pikiran saya pada
agama-agama yang didasari wahyu
yang jelas yang dibawa
oleh para nabi dan rasul
tertentu. Maka saya memilih untuk
melanjutkan
pencarian saya terhadap
kebenaran didalam lingkup Yahudi-Kristiani
dan Islam.
Walaupun saya tumbuh sebagai seorang
Kristen, pikiran saya telah dipenuhi
tanda tanya/kerancuan perihal ajaran
Kristiani.
Saya telah merasa seperti berada
dalam agama yang penuh misteri
jauh dari
pemahaman akal. Saya yakin, karena
alasan inilah
maka secara nama saja saya Kristen
tetapi tidak dalam prakteknya.
Masih ada lagi,
saya pun sadar bahwa kerancuan
saya terhadap
keyakinan Kristen menyebabkan diri
saya dalam keadaan tak-beragama.
Walaupun demikian, sementara saya
sedang
mencari kebenaran,
saya juga berkesempatan untuk secara
tulus mengkaji ulang keyakinan
yang diturunkan
dari orangtua saya, namun ini
tidak pernah mengganggu proses
kajian dan evaluasi yang saya lakukan.
Bukan Piknik Sembarang Piknik
Beberapa Muslim di Jubail merancang
piknik khusus untuk Non-Muslim.
Setelah memainkan
beberapa
permainan, kami menyantap jamuan
makan yang lezat. Sebagai
acara penutup, kami menyimak kajian
singkat tentang Islam. Betapa
terkejutnya saya mengetahui
bahwa umat Muslim beriman kepada
semua nabi
dan seluruh
wahyu-wahyu
(kitab-kitab) Allah yang
masih orisinal. Terlebih
lagi saya menjadi mengerti
bahwa Al-Qur’an adalah wahyu (Kitab)
terakhir yang diturunkan demi kehidupan manusia dan Muhammad
SAW sebagai penerima wahyu terakhir (Al-Qur’an)
adalah Nabi sekaligus
Rasul yang terakhir.
Sebagai
Penutup para
Nabi dan Rasul, beliau
telah memberikan keteladanan
terbaik
bagi semua orang,
untuk dijadikan
sebagai panutan/ikutan.
Seusai piknik, mereka
memberikan beberapa buklet
perihal
komparasi agama-agama.
Satu dari buklet itu
berisi dialog antara seorang Muslim dengan seorang
Kristen. Kesimpulan-kesimpulan
berikut adalah jelas
sekali sebagai hasil
penelaahan dari buklet
ini.
a) Persaingan sejati dalam kehidupan
ini adalah berlomba-lomba satu
sama lain untuk berbuat kebajikan
dalam
rangka
menyenangkan
Sang Maha Pencipta, bukan persaingan
untuk berburu untuk menambah kekayaan
dan ketenaran diri.
b) Neraka itu dikelilingi oleh
gairah nafsu/syahwat. Sedang nafsu
itu tak
lain hanyalah menggiring anda kepada
gemuruh
api neraka yang berkobar-kobar.
Adapun sebaliknya, surga itu dikepung
oleh
tantangan-tantangan
yang mana jika
anda melihat jauh melampaui tantangan
itu maka anda akan mendapati
surga.
c) Saya temukan adanya
larangan didalam
kitab Bibel adanya
peringatan keras
yang melarang
penambahan ataupun
pengurangan ayat
dalam
pengajaran
agama, yang mana
hal ini jelas-jelas
terjadi
(Lihat
Jeremiah 8:8-9;
Wahyu
22:18-19). Hal
ini juga di firmankan
kembali oleh Tuhan
didalam Al-Qur’an:
“
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis
Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikatakan, “Ini
dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan
yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah
bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka
sendiri, dan keclakaan besarlah bagi mereka, akibat dari
apa yang mereka kerjakan.”(QS.2:79)
Sebagai
akibatnya, saya terkejut menemukan
adanya
ratusan
ayat dalam Bibel
yang nampak tidak
harmonis dengan
keyakinan Kristiani.
Menurut
kitab ini Tuhan
itu Esa sebelum masa
Yesus (Isa
AS). Demikian
juga halnya
Yesus menyeru
umatnya
kepada
tauhid (iman kepada
Tuhan yang Esa).
Namun demikian,
setelah masa
Yesus, kepercayaan
Kristiani menekankan
faham
Trinitas
dan bukannya ke-Esa-an
Tuhan. Disebutkan
juga, sebelum masa
Yesus
Tuhan itu Esa
dan tidak berputra
dan tidak
ada yang
menyamai-Nya. Sama
halnya juga Yesus
(Isa AS) menyatakan
bahwa
dirinya adalah
Utusan (Rasul)
Tuhan, sedangkan
masa sepeninggal
dirinya
Ajaran Kristiani
menegaskan bahwa
Yesus adalah
putra Tuhan ataupun
dialah Tuhan.
Selesai membaca
seluruh buklet,
saya menyimpulkan
bahwa persepsi
Kristiani
tentang Tuhan sungguh
sangat tidak masuk
akal:
Tuhan menjadi seorang
lelaki ciptaan-Nya
sendiri, selanjutnya
merelakan diri
menderita dan mati
di tangan-tangan
para
makhluk ciptaan-Nya
sendiri sebagai
pengorbanan untuk
mensucikan
dosa manusia yang
diwariskan dari
Adam (AS) dan anak-cucunya.
Menurut gereja,
keyakinan terhadap
konsep ini adalah
sebagai sumber
penyelamatan/pertolongan.
Mengunjungi Masjid
sebagai Non-Muslim
Sewaktu sedang
berbelanja dengan
Abu Hussein dan
seorang teman yang
lain,
tibalah waktu shalat.
Kami menuju ke
sebuah masjid,
disitu saya diminta
membasuh diri dengan
cara tertentu
dan kemudian mengikuti
mereka mengerjakan
shalat. Saya kerjakan
hal itu dengan
jalan mengikuti
gerakan shalat
sambil melirik
ke yang lain. Saya
duduk terdiam setelah
mengalami saat
yang penuh kedamaian
itu, bagaimanapun
juga saya merasa
canggung
karena tak tahu
lagi apa yang selanjutnya
harus saya kerjakan.
Namun saya
menjadi tahu bahwa
orang-orang non-Muslim
boleh
saja memasuki Masjid
dengan syarat-syarat
tertentu. Teman
saya meminta saya
menunggu diluar
ketika shalat berjamaah
mulai berlangsung
untuk menghindari
kesalah-pahaman
dengan Muslim yang
lain.
Dikesempatan
berikutnya,
saya sedang
bersama-sama
teman-teman
warga
Saudi untuk
suatu
keperluan,
lagi-lagi
tibalah waktu shalat.
Mereka
berkata kepada
saya, “Mengapa kamu tidak
shalat saja bersama kami? Mintalah ampunan Tuhan, mohonlah
ditunjukkan pada kebenaran, dan nyatakanlah rasa syukurmu
kepada-Nya.” Di
akhir shalat
saya merasakan
kelegaan
dan suka-cita
yang belum
pernah
saya rasakan
sebelumnya.
Mulai saat
itu saya
selalu menantikan
kesempatan
shalat bersama
mereka
walaupun
kala itu
saya belum
menjadi
Muslim dan
tidak melakukan
shalat
secara benar.
Menerjang Rintangan
Berbagai hambatan
dan rintangan menghalangiku
memeluk Islam.
Rasa
takut kehilangan
teman-teman lama
dan anggota keluarga
merupakan hal yang
sangat menghantui
pikiran saya. Terlebih
lagi, meninggalkan
semua yang tidak
baik dalam sekali
langkah bukanlah
hal mudah dilakukan,
sementara mengubah
keyakinan
membutuhkan perubahan
gaya hidup secara
menyeluruh. Saya
belum siap
secara
moral untuk menerjang
semua rintangan
itu, walaupun melaksanakan
hal-hal Islami
terasa melegakan
saya secara mental
maupun spiritual.
Kepada seorang
teman Muslim Amerika
di Jubail,
saya memberikan
pengakuan bahwa
waktu
saya telah sangat
dekat untuk memeluk
Islam, namun saya
butuh dorongan
untuk melaksanakannya.
Maka ia memberikan
sebuah
rekaman video agar
saya menyaksikannya.
Rekaman Video yang
Mengilhami
Sekali
lagi
saya
menerima
ajakan
berkumpul
di rumah
Abu Hussein.
Banyak
pemuda
Saudi
hadir
pada
waktu
itu.
Usai
jamuan
makan,
mereka
asyik
berbincang-bincang,
tetapi
saya
tidak
bisa
berbahasa
Arab.
Saya
perhatikan,
terdapat
pesawat TV
dan pemutar
Video
di ruang
kami
berada.
Sayapun teringat rekaman
video pemberian
teman
saya
Muslim
Amerika,
yang
tersimpan
di mobil
saya.
Tidak
lama
kemudian,
saya
mulai
menonton
rekaman
yang
mengajukan
pertanyaan
yang
sangat
penting: “Apakah Tujuan Hidup
Ini?”.
Saya,
sebagaimana
halnya
banyak
orang
lain
di dunia
ini,
tidak
yakin
mengetahui
jawaban
atas
pertanyaan
ini.
Singkat
cerita,
saya
memetik
beberapa
pokok
pikiran
penting
dari
rekaman
itu.
Pengajar dalam
rekaman itu mengomentari
secara persis apa
sesungguhnya tujuan
hidup. Ia katakan,
tujuan
hidup
adalah
Islam, artinya
penyerahan diri
secara total kepada
kehendak Allah
(SWT).
Betapa terkejutnya
saya mendapatkan
jawaban
begitu singkat,
sementara saya
sebelumnya berfikir
bahwa pertanyaan
itu begitu
rumit.
Perlu
saya
tambahkan,
bahwa
Islam,
tidak
seperti
agama
maupun
kepercayaan
yang
lain,
kata ‘ISLAM’ tidak berhubungan
dengan sosok ataupun tempat tertentu. Tuhan telah memberi
nama agama dalam ayat Al-Qur’an berikut ini, “Sesungguhnya,
agama disisi Allah adalah Islam …” (Ali
Imran:19).
Siapa
saja
yang
memeluk
Islam
disebut
Muslim,
apapun
ras,
jenis
kelamin,
ataupun
kewarga-negaraannya.
Inilah
salah
satu
alasan
bahwa
Islam
adalah
agama
universal.
Sebelum
saya
tergerak
untuk
mencari
kebenaran,
saya
tak
pernah
bersungguh-sungguh
memperhitungkan
Islam
sebagai
salah
satu
pilihan
karena
penggambaran
negatif
pribadi-pribadi
Muslim
di
media
massa
yang
berlangsung
terus-menerus.
Begitupun
didalam
rekaman
video
yang
saya
simak,
disitu
juga
diungkap
bahwa
walaupun
Islam
ditandai
dengan
standar
nilai
moral
yang
tinggi,
tidak
semua
Muslim
menjunjung
tinggi
nilai
moral
ini.
Saya
pun
telah
mempelajari
bahwa
hal
sedemikian
itu
bisa
saja
dikatakan
sebagai
dukungan
terhadap
agama-agama
yang
lain.
Pada
akhirnya
saya
dapat
memahami
bahwa
kita
hendaklah
tidak
menilik
suatu
agama
hanya
dari
perilaku
pemeluknya
saja
sebab
siapapun
yang
namanya
manusia
cenderung
berbuat
dosa.
Oleh
sebab
itu,
kita
hendaklah
tidak
menilai
Islam
dari
perilaku
para
pendukungnya,
melainkan
dengan
menilik
Wahyu
(Al-Qur’an),
dan
sabda
serta
perilaku
(Sunnah)
Nabi
Muhammad
(SAW).
Pada
akhirnya, pengajar
dalam rekaman
video itu
memandu penontonnya
dalam mengambil
keputusan dengan
cara memberikan
contoh sederhana,
seperti ini, “Jika
anda seorang
Kristen dan
berkeinginan menjadi
Muslim, ibaratnya
seorang yang
memiliki pakaian
mahal yang
sedikit kedodoran.
Tidak perlu
anda membuang
pakaian itu,
yang perlu
anda lakukan
adalah membuat
penyesuian yang
diperlukan agar
pas dengan
badan anda.
Dengan kata
lain, anda
tidak harus
mencampakkan semua
kepercayaan dan
praktek yang
telah anda
miliki semenjak
kanak-kanak. Anda
hanya perlu
membawa kebiasaan
baik anda
kedalam Islam
dan menerapkan
hal-hal itu
dengan perubahan
dan pemurnian
yang diperlukan
dalam kehidupan
anda sebagai
Muslim.”
Memetik Hikmah
Setelah
menyimak
video tersebut, hati sanubari
dan akal pikiran saya sepenuhnya
meyakini bahwa Islam itulah Kebenaran. Saya
rasakan beban-beban kekafiran dan dosa-dosa terbang lepas
dari dalam
diri
saya. Saya merasa begitu
ringan seolah melayang dipermukaan
bumi. Pengalaman ini bersama-sama
dengan perjalanan panjang olah
pikir dan rasa, telah memecahkan ‘teka-teki
tujuan hidup’. Inilah juga yang membuahkan pernyataan
bahwa Islam adalah Kebenaran, sehingga mengisi kembali ‘pandangan
spiritual’ saya
dengan keyakinan,
tujuan, arah,
dan perbuatan.
Dari pengalaman
ini, saya
memetik hikmah
bahwa manusia
bisa saja
mengabaikan petunjuk
Illahi dan
membuat standar
hidupnya sendiri.
Namun pada
puncaknya ia
akan menemukan
bahwa apa
yang ia
buat hanyalah
halusinasi yang
tak kunjung
tercapai olehnya.
Saya bersegera
Menerima Islam
Saya memanggil
Abu Hussein dan
mengajaknya berjalan
menyusuri koridor
menuju
ruangan lain agar
terpisah dari mereka
yang sedang berkumpul.
Saya
katakan
kepadanya bahwa
saya ingin menerima
Islam sekarang
juga. Ia
menyarankan
agar saya mempelajari
Islam lebih banyak
lagi sebelum memeluknya.
Saya berkeras
bahwa saya ingin
menerimanya sekarang
juga, tanpa ditunda-tunda.
Atas
desakan saya iapun
memimpin saya mengucapkan
syahadatain
yang merupakan
persaksian formal
atas keimanan seseorang
untuk menjadi
Muslim.
Selanjutnya Abu
Hussein mengumumkan
perubahan yang
telah saya jalani
kepada teman-teman
yang sedang berkumpul.
Mereka semua terkejut
dan sangat
bergembira.
Mereka satu per
satu memeluk saya.
Mereka
menganjurkan
saya agar mandi
dengan maksud mensucikan
diri dan setelah
itu
segera melakukan
shalat sebisa saya
dengan sebaik-baiknya.
Hari
berikutnya
saya
mulai secara teratur
melaksanakan shalat
di Masjid.
Sebagai
konsekuensi syahadah
(persaksian) yang
saya telah
ucapkan, sebagai
pernyataan resmi
menjadi seorang
Muslim, saya
diingatkan bahwa
itu berarti
seseorang yang
mengucapkannya beriman
kepada semua
Nabi Allah
sekaligus mengimani
wahyu-wahyu (Kitab-Kitab)
Allah dalam
format aslinya,
oleh karenanya
memperbaharui dan
menyempurnakan agama
seseorang sehingga
sampai pada
Nabi yang
terakhir; Muhammad
(SAW); dan
Kitabullah yang
terakhir; Al-Qur’an.
Sampai disini
menjadi terang-benderang
bagi saya:
Jika Yesus
(Isa AS)
merupakan Utusan
Tuhan yang
terakhir dan
Injil merupakan
Wahyu terakhir,
haruslah saya
ikuti Keyakinan
itu. Maka,
wajarlah saya
telah memilih
untuk menganut
Islam, yang
merupakan Wahyu
Sang Khaliq
yang final
dengan Nabi
Muhammad (SAW)
sebagai penutup
para Nabi,
Seorang teladan
terbaik bagi
manusia untuk
diikuti.
Memilih Nama Muslim
Dua
hari setelah
saya pergi ke Masjid untuk melaksanakan
ibadah shalat
Jum’at berjamaah, Abu Hussein menganjurkan
agar saya mengulangi bersyahadat dihadapan para jamaah agar
lebih memperkuat iman. Saya pun setuju. Kami berdua duduk
didalam Masjid, menunggu upacara syahadat berlangsung. Abu
Hussein bertanya, “Nama Muslim apa yang kamu inginkan
agar Imam dapat memperkenalkanmu kepada para jamaah dengan
Nama Muslim pilihanmu?” Saya jawab, “Saya tidak
tahu. Sebaiknya ia perkenalkan saya dengan nama Amerika saya
saja.” Abu Hussein tetap terus membaca Al-Qur’an
duduk di samping saya. Sampailah ia pada nama ‘Yahya’.
Ia menyenggol saya dengan sikunya dan berbisik kepada saya, “Bagaimana
pendapatmu dengan nama Yahya?” Saya balik bertanya, “Apa
artinya?” Ia katakan, “Johannes Pembaptis. Arti
yang lain adalah hidup. “ Saya jawab, “Saya setuju,
karena saya juga mengenal Johannes Pembaptis dalam Bibel.
Lebih dari itu, nama ini cocok maknanya dengan kehidupan
saya yang baru dalam Islam. Ini benar-benar nama Muslim yang
pas untuk saya.” Setelah selesai shalat berjamaah,
Imam memanggil saya untuk mengulang membaca syahadat di hadapan
para jamaah yang amat banyak jumlahnya. Sekitar tigaratus
orang, satu per satu mengucapkan selamat kepada saya dan
memeluk saya, masing-masing orang menanti gilirannya dengan
penuh hasrat. Banyak orang yang berkata, “Menerima
Islam adalah keputusan terbaik yang pernah kamu ambil dalam
hidupmu.” Saya
amat terkejut
bahwasanya semua
jamaah begitu
peduli untuk
memberi ucapan
selamat secara
pribadi. Hal
ini menumbuhkan
rasa percaya
diri dan
semangat saya
menjadi sangat
tinggi.
Ketika saya menoleh
ke belakang mengenang
kembali pengalaman
saya
menjadi seorang
Muslim ini, saya
meyakini ini terjadi
karena Kehendak
Allah yang telah
membuat saya memiliki
keingin-tahuan
yang begitu kuat
mempelajari budaya-budaya
lain, diikuti
dengan harapan
yang tulus untuk
menemukan kebenaran
dalam hidup ini.
Allah
sajalah yang Maha
Mengetahui yang
terbaik
dan segala puja-puji
hanyalah bagi-Nya
semata!!!
Tujuan Hidup
Saya telah dinasehati
agar belajar Islam
lebih banyak lagi
dan berusaha
mengamalkannya.
Saya pun diberitahu
bahwa bahwa
saya tidak dimintai
pertanggung-jawaban
atas apa yang tidak
saya ketahui sebelumnya.
Saya senang dengan
fleksibilitas Islam
yang demikian.
Dalam waktu
yang
singkat, saya memahami
bahwa Islam sama
sekali bertolak-belakang
dengan
faham
barat
yang ber-fokus
(pusat pandangan)
pada diri sendiri.
Islam mengajarkan
agar kita melihat
diluar
diri dan keinginan
yang tak terjangkau
oleh kita sendiri.
Islam membimbing
dan mendorong
kita untuk ber-fokus
kepada Allah. Dengan
mengamalkan yang
demikian
itu, kita mulai
memenuhi maksud
hidup kita, yakni
untuk beriman dan
mengabdi kepada
Tuhan Yang Maha
Besar dan dengan
demikian
tercapai kedamaian
dengan Pencipta
kita dan
dengan diri kita
sendiri. Jadi,
Islam berperan
sebagai tujuan
sekaligus maksud
kehidupan.
Pendidikan dan
Pertumbuhan Islami
Saya
begitu beruntung
berada di
negara Islam
dikala menerima
Islam,karena
dengan demikian
saya dapat bertemu
banyak
Muslim berilmu
agama memadai
dan juga
berlimpahnya bahan
rujukan perihal
Islam. Saya
bisa langsung
mengerti dan
berapresiasi apa
yang sedang
saya pelajari
karena ajaran
Islam itu
diterapkan di
masyarakat. Saya
mengikuti
pengajian mingguan
yang dihadiri
oleh orang-orang
yang
berasal dari berbagai
tempat.
Ini
berlangsung selama
empat tahun.
Kami belajar
membaca Qur’an dan
Tafsir, sekaligus menghafal Al-Qur’an.
Kami juga
mendapatkan pendidikan
Islam tingkat
dasar yang
luas dalam
berbagai aspek.
Pendidikan inilah
yang memberikan
pondasi yang
kuat pada
diri saya
sehingga dari
sinilah saya
memurnikan/membersihkan
diri
sendiri.
Pernikahan Islami
Pernikahan merupakan
hal yang sangat dianjurkan
oleh Islam. Saya pikir,
dengan menikahi seorang
Muslimah berbahasa Arab saya dapat membekali anak-anak
saya
dengan satu dari
hadiah-hadiah terbaik
yang dapat saya berikan, yaitu
bahasa Arab. Maka, saya menikah dengan perempuan
Syria, dan
atas Kasih-Sayang Allah SWT, anak-anak kami fasih
berbahasa
Arab
dan mempelajari
Al-Qur’an.
Ketika saya
berkunjung ke
Amerika, keluarga
saya meminta
penjelasan perihal
pernikahan menurut
Islam. Saya
terangkan kepada
mereka bahwa
hak dan
kewajiban suami-istri
telah ditetapkan
oleh Sang
Maha Pencipta,
bukannya aturan
buatan manusia._Oleh
sebab itulah
pedoman itu
sempurna dan
tak ada
kekhawatiran terhadap
pencurangan bilamana
kita dengan
tulus ikhlas
tunduk pada
aturan itu.
Reaksi Keluarga
Pada awalnya keluarga
saya kaget dan heran atas keputusan
saya memeluk
Islam.
Namun, pada akhirnya mereka mengatakan, “Jika
Islam membahagiakanmu, kami turut berbahagia untukmu.” Jadilah
kami saling
hormat-menghormati.
Ibuku Bersyahadat
Saya memperoleh
kabar dari saudara perempuan saya
di Amerika bahwa Ibunda kami sakit
keras. Saya bersama istri
pun bergegas dari Arab
Saudi menuju
Amerika. Selama
tinggal di Amerika, saya bertanya kepada ibu, “Adakah Bunda beriman kepada
Tuhan Yang Esa.” Ibu menjawab, “ Ya.” Selanjutnya
saya katakan, “Ucapkanlah La ilaha illallah.” Beliaupun
menirukan ucapan itu dalam bahasa Arab, dan juga menirukan
terjemahannya dalam bahasa Inggris. Beberapa hari setelah
itu saya bertanya lagi kepadanya, “Adakah Bunda iman
kepada semua Nabi, seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Yesus
(Isa), dan Muhammad?” Iapun menjawab, “Ya.” Saya
pun berkata, “Jika demikian tirukanlah apa yang saya
ucapkan ‘La ilaha illallah Muhammadur-rasulullah’.” Beliau
juga mengucapkan
terjemahan
dalam
bahasa Inggris.
Bunda pun
wafat meninggalkan
kami, lima
hari setelah
beliau memeluk
Islam. Saya
bersyukur
kepada
Allah atas
hidayah-Nya
kepada
ibu saya
ke jalan
yang lurus
pada lima
hari terakhir
hidupnya
di
dunia ini.
Ketika saya
mengenang
dan
merenungi
peristiwa
ini, saya
teringat
betapa
ibu saya
terbiasa
peduli
atas kebutuhan
orang lain
lebih dari
kepedulian
beliau
pada diri
sendiri.
Jelaslah
sudah, bahwa
Allah telah
amat menyayangi
ibu saya,
Sungguh,
Allah
Maha Mengetahui
yang terbaik!!!
Pengamatan Luar-biasa
Ibunda
Sungguh
hal yang
sangat
menakjubkan
apa yang
Ibu katakan
di hari-hari
terakhirnya.
Beliau
berkata,”Ada cahaya
keemasan memancar dari dahimu.” Saya katakan kepadanya
bahwa itu ada karena kita beriman dan bersujud (shalat) kepada
Allah. Pengamatan yang beliau alami itu diterangkan didalam
Kitab Suci Al-Qur’an:
"…
Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi (Muhammad SAW)
dan orang-orang beriman bersama dia; sedang cahaya mereka
memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami
cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu.” (At
Tahrim:8)
Demikiahlah kisah
Yahya, ia suka
melakukan dialog
yang bersifat
membangun untuk
berbagi pengalaman
dan temuan/pengamatannya.
Ia dapat dihubungi
melalui alamat
e-mail berikut:
dflood58_2000@yahoo.com
|