“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah Menerangi Budaya Keterbukaan…
DR. NAJAT
Dr. Najat dilahirkan, dibesarkan, dan mendapatkan pendidikan
di India. Ia datang ke Windsor, Kanada untuk melanjutkan
studinya ke tingkat Pasca-Sarjana. Saya tidak menuliskan
nama aslinya karena begitu panjang dan sulit diucapkan. Dari
nama aslinya itu saya bisa mengetahui bahwa ia berasal dari
keluarga Hindu yang taat yang menamakannya dengan nama khas
Hindu. Ia memperoleh pendidikan agama yang sangat ketat,
dan ia terapkan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sejauh
kesanggupannya selama ia menetap di India.
Di Universitas Windsor ia berhadapan dengan interaksi
berbagai gagasan dan aneka budaya yang berjalan begitu
sehat. Sebagaimana
para mahasiswa yang lain, ia pun berpikiran terbuka. Ia
ingin menjadikan hidupnya penuh makna bagi dirinya
sendiri. Akibatnya,
ia tidak merasa nyaman dengan gagasan dan penerapan ajaran
Hindu yang dianutnya. Maka mulailah ia mempelajari kitab
Injil Kristiani. Ia pun merasa ajaran ini lebih memuaskan
akalnya daripada agama yang sejak semula diyakininya. Maka
iapun menerima ajaran kristiani sebagai keyakinan barunya,
ia jalani dengan tulus-hati hingga setahun lebih. Namun
kemudian ia merasa tidak memperoleh puncak pemuasan
ruhaniah atas
pencarian dalam dirinya. Mulailah ia melirik Islam dan
menggali Ideologi Islam. Perang batiniah religius
pun berlangsung
dalam dirinya, bersamaan dengan berjalannya kegiatan studi
doktoralnya di bidang Rekayasa Teknologi.
Kampus-kampus
perguruan tinggi di Kanada menyuguhkan suasana unik dalam
kebebasan memilih dan menjalani pilihan masing-masing
individu. Adakalanya, perdebatan yang membangun sikap
saling pengertian pun diselenggarakan antara para ulama/sarjana
Yahudi, Kristen (Nasrani), dan Muslim, dalam suasana
yang
amat sehat. Maka terbukalah pintu pengetahuan bagi banyak
orang yang selama ini terkungkung oleh pendapat pribadinya.
Dan, Najat pun mempelajari lebih banyak lagi perihal
Islam dari berbagai sumber. Ini membawa cakrawala kesadarannya
untuk cenderung memilih Tuhan Yang Esa ketimbang beribadah
kepada bermacam-macam ‘tuhan’. Didalam Islam,
ia menemukan keajegan/konsistensi dan kesinambungan logis
daripada semua ajaran yang lain. Maka ia pun memeluk
Islam dan memilih nama Najat sebagai nama islaminya.
Semoga Allah
SWT memelihara keIslamannya, mengingat bahwa masuk Islam
itu sangatlah mudah sementara tumbuh-kembangnya pemahaman
ajaran Islam didalam diri seringkali berlangsung begitu
lambat.
Najat menyadari bahwa untuk menerapkan Islam secara tulus-ikhlas
adalah dengan jalan ia menikah sesegera mungkin. Keinginannya
ini dengan cepat terkabul. Ia menikah dengan seorang gadis
Muslimah terpelajar yang berasal dari keluarga terhormat
di Windsor. Upacara pernikahan mereka berlangsung di Masjid
Windsor. Najat bukan hanya telah lulus dalam kehidupan
berumah-tangga, karena pada waktu itu ia pun telah lulus
dari Universitas
Windsor dengan meraih gelar doktoralnya. Selanjut DR. Najat
pun berusaha mendapatkan pekerjaan. Ia mendapat tawaran
istimewa dari Ford Company di Detroit. Iapun menerima tawaran
itu
dan bersama keluarganya ia berpindah ke Farmington Hills,
sebuah kawasan permukiman di pinggiran Detroit.
Sebuah
masjid baru dibangun di wilayah ini, namanya Tawheed Center
of (Pusat Tauhid) Farmington Hills,
Michigan.
Di masjid inilah beberapa kali saya bertemu dengannya.
Suatu
hari,
saya bertanya kepadanya perihal kemampuannya membaca
Al-Qur’an
dalam tulisan aslinya, yakni huruf Arab. Betapa terkejutnya
saya mendapati kenyataan bahwa seorang Najat yang begitu
berbakat belum bisa membaca Al-Qur’an dalam bahasa
Arab.
Alasannya
sudah jelas, banyak umat Muslim yang tidak sanggup meluangkan
waktu untuk membimbing orang lain mempelajari
Islam dengan pola orang per orang. Jika terus menerus
demikian, banyak orang yang berkemauan belajar menjadi
telantar ataupun
kecewa. Tanpa pengorbanan waktu pribadi akan sangat
sulit mencapai kemajuan dalam hal apapun. Ungkapan keprihatin
sebatas
kata takkan bermanfaat. Saya pun terang-terangan
bertanya kepada Ny. Najat, “Mengapa anda belum mengajarkan abjad
Arab kepada suami anda, sedangkan anda berdua telah beberapa
tahun menikah ?” Namun ia tidak bisa memberikan jawaban
yang memuaskan. Maka saya katakan kepada DR. Najat, “ Mari
kita buat kesepakatan. Luangkan waktu anda empat akhir pekan
bersama saya, maka saya jamin anda akan mampu membaca Al-Qur’an.
Insya Allah (dengan perkenan Allah SWT)!” Kami pun
sepakat untuk bertemu di Tawheed Center selama beberapa jam
seusai shalat Subuh. Sebuah kejutan yang menggembirakan terjadi,
setelah berlangsung empat akhir pekan, DR. Najat telah bisa
membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Hal ini membangkitkan
semangat para pembelajar potensial yang lain. Banyak saudara-saudara
Muslim yang mulai menerima murid baru dengan pola orang per
orang (satu murid satu pembimbing). Kami pun dikagetkan oleh
seorang Doktor Medik (bergelar ‘MD’)
kelahiran Amerika pun bergabung dalam kelompok bimbingan
sebagai
murid baru. Kegiatan pagi hari ini seringkali dilanjutkan
dengan
sarapan bersama di Masjid.
DR.
Najat telah bisa membaca berbagai surah dari Juz terakhir
Al-Qur’an. Namun ia masih memerlukan guru yang lebih
baik daripada saya. Seorang akhi (saudara muslim lelaki)
asal Syria yang berusia lebih tua dari saya; Syeikh Al-Atasy;
bersedia mengajar DR. Najat secara privat. Ia pun mulai bisa
menikmati pembacaan Al-Qur’an setelah belajar cara
pengucapan yang benar dari seorang guru berpengalaman yang
mampu berbahasa Arab. Baik Syeikh Al-Atasy maupun Najat,
amat menyukai kegiatan mereka ini dan menambahkan waktu belajarnya
menjadi setiap hari sesudah shalat Subuh selama sekitar satu
setengah jam. Seusai belajar, Najat langsung berangkat dari
masjid menuju tempat kerjanya. Sepulang bekerja ia membawa
serta keluarganya mengikuti jama’ah shalat Isya’ di
Masjid.
Syeikh
Al-Atasy dan Akhi Najat sangat mementingkan kelangsungan
pembelajaran Al-Qur’an yang mereka lakukan. Ketika
musim dingin tiba, Detroit mengalami musim dingin yang sangat
buruk. Mereka bersusah payah menembus salju dan hujan badai
demi tak terlewat seharipun untuk belajar. Syeikh Al-Atasy
begitu bangga dengan muridnya. Ia suka mengatakan kepada
saya, “Pengucapan bacaan Najat sudah lebih baik daripada
anda.” Najat tidak hanya bagus sekali dalam membaca
Al-Qur’an, iapun sanggup membaca Al-Qur’an dari
manapun anda membukakan untuknya Kitab Al-Qur’an. Ia
juga mulai membaca tafsir Al-Qur’an yang ditulis dalam
bahasa Inggris. Dengan demikian ia telah mulai mengapresiasi
ayat-ayat Al-Qur’an beserta maknanya secara keseluruhan.
Tidak berhenti sampai disini, ia pun mulai menghafal Al-Qur’an.
Terakhir kali kami berjumpa, ia telah menghafal setengah
dari Juz terakhir Al-Qur’an (Juz ‘amma).
Betapa sulit mendapat sukarelawan untuk kegiatan
lingkungan. Sebagian besar orang asyik melemparkan
kritik ataupun membesar-besarkan
hal kecil yang mereka telah lakukan. DR. Najat-lah
yang tanpa banyak bicara ataupun keinginan menonjolkan
diri
di depan
saya, telah menjadi relawan untuk menjalankan hubungan
kemasyarakatan Masjid. Seringkali ia membukakan
pintu Masjid untuk shalat
Subuh meskipun ia bertempat tinggal paling jauh
jaraknya dari masjid. Ia menyingkirkan salju dari
jalan setapak
dan lorong menuju pintu utama masjid, menaburi
permukaannya dengan
garam agar orang yang lewat tidak jatuh terpelanting
yang bisa berakibat patah tulang. Pelayanan yang
diberikan Najat
ini adalah hal pokok dan teramat penting bagi komunitas
kami. Sebab, setiap orang yang cidera akibat terjatuh
di area Masjid
dapat dengan mudah mengajukan tuntutan akibat menderita
kerusakan yang besar. Sebagai akibatnya, perusahaan
asuransi akan menolak
memberikan jaminan pertanggungan atas tempat umum
seperti ini.
DR.Najat juga membantu penyelenggaraan Sekolah
Islam Akhir-pekan di Masjid. Maka iapun bertugas
untuk membuka lagi masjid
sebelum waktu Dzuhur, dan menyingkirkan salju,
menaburkan garam, sebelum para guru dan murid berdatangan.
Menjadi
penarik dana pendidikan sekolah kepada para orangtua
murid bukanlah
pekerjaan yang menyenangkan, inipun dikerjakannya
tanpa mengusik siapapun. Ia juga suka berbelanja
makanan ringan
untuk dibagikan
kepada anak-anak. Ia bersihkan sendiri dapur masjid
dan dicairkannya pula bunga-es didalam kulkas secara
berkala.
Suatu
malam, saya menutup masjid seusai shalat Tarawih. Semua
jama’ah telah meninggalkan masjid. Saya padamkan lampu-lampu
diberbagai tempat satu demi satu. Sampai di tempat wudhu
jama’ah lelaki, betapa terkejutnya
saya melihat DR. Najat sedang membersihkan
kamar
kecil. Ada enam
kamar kecil
di tempat itu. Saya pun berterima kasih
kepadanya. Ia hanya tersipu dan tersenyum
kecil kemudian
berusaha mengalihkan
pembicaraan, ini menunjukkan bahwa menurutnya
bukanlah hal
yang luar biasa bahwa ia membersihkan
kamar kecil. Mungkin karena ia mengenal
dengan
baik pepatah
urdu berikut ini,
‘ Keikhlasan pengabdian kepada Allah SWT bukanlah urusan perdagangan.
Maka hendaklah jangan berharap untuk
mendapatkan penghargaan, karena yang demikian itu akan melunturkan semangat
keikhlasan.’
Akhi Najat tidak membatasi dirinya pada kegiatan didalam
masjid saja, Lahan sekeliling masjid terbentang
lebih dari 2.5 acre (hampir 1.2 hektar). Dan Najat mengerjakan pemupukan
lahan yang berumput setiap tahun. Ia beli sendiri
pupuk dan pembasmi hama dengan uang pribadinya, sebagaimana juga
ia
membeli garam untuk ditaburkan dimusim salju. Ia
rendah hati dan masih muda usia. Menebang pepohonan yang telah
mati di
sekeliling masjid dikerjakannya juga.
Kami
sangat menghargai pelayanannya selama Bulan Ramadhan dimana
biasa
diselenggarakan
acara jamuan
makan (buka
puasa) bersama seminggu sekali. Ia
membantu masing-masing penyaji
dalam mempersiapkan jamuan makan
dan menyajikan kepada tamu lelaki dan perempuan.
Ia operasikan
sendiri
mesin penyedot
debu (vacuum cleaner) membersihkan
masjid hampir setiap usai jamuan
makan. Ia lebih
suka mengerjakan
sendiri
semua pekerjaan
yang perlu dikerjakan, daripada meminta
atau menghimbau orang lain. Ia bekerja-sama
dengan
para relawan
lainnya mengatur
dan menyajikan minuman lezat kepada
jama’ah
seusai melaksanakan shalat Ied. Ia
membina hubungan yang sangat
erat dengan para warga di lingkungan
kami. Biasanya, ia juga mengundang
banyak keluarga
ke rumahnya
untuk mencicipi makanan
ringan maupun jamuan makan setelah
penyelenggaraan shalat Ied. Dilakukannya
hal itu dari
tahun ke tahun, dan tanggapan
dari warga pun sangat menggembirakan.
Karena itulah, hal pertama yang saya
lakukan setelah
menyampaikan
khutbah Ied
adalah segera berkunjung ke rumah
akhi Najat untuk menghibur diri saya
dengan
makanan-makanan
yang serba
lezat. Semoga
Allah SWT melimpahkan ganjaran kepada
akhi Najat sekeluarga atas keajegan
dan ketulusannya
memberikan
pelayanan.
Suatu hari saya bertanya kepada akhi
Najat, “Pengetahuan
anda perihal Al-Qur’an dan Islam cukup memadai.
Bagaimanakah
sesungguhnya perasaan anda terhadap
ajaran Islam?” DR.
Najat menjawab, “Dari lubuk hati saya yang paling dalam,
saya katakan sejujurnya, saya sangat terpuaskan. Tidak pernah
saya sepuas ini ketika saya menganut Kristen maupun Hindu.
Saya mendapati Al-Qur’an memberikan
dampak yang sangat melegakan akal
dan kalbu saya.”
Kini
akhi Najat bahkan sesekali menjadi Imam shalat. Nyatalah
disini
tidak
terdapat hirarki
didalam
Islam. Siapapun yang
berpengetahuan baik dan bertaqwa
bisa menjadi pemimpin dalam pelaksanaan
bermacam pelayanan
Islam. Allah
SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“…
Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
adalah yang paling bertaqwa…” (Al
Hujuraat:13).
Dalam
Islam seorang yang taqwa boleh menjadi pemimpin
tanpa membedakan warna kulit,
kelompok, asal geografis maupun
kebangsaan.
|