“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah Hadir Dalam Tugas Pelayanan …
IBRAHIM SULIEMAN
Masing-masing agama pasti berusaha meyakinkan kepada setiap
individu perihal kebenaran dan keutamaannya. Kegiatan semacam
ini berlangsung dari waktu ke waktu di berbagai negeri. Adapun
berpindah dari satu agama ke agama yang lain adalah keputusan
yang besar bagi seseorang. Di banyak kelompok masyarakat,
keputusan yang diambil oleh kepala keluarga berpengaruh pada
generasi-generasi berikutnya. Banyak orang yang beragama
hanya lantaran menghormati para orang tua dan leluhur mereka
saja. Keterikatan sosial dan budaya yang sangat kuat menyebabkan
terbentuk pemahaman bahwa merusak atau melemahkan ikatan-ikatan
tersebut adalah perbuatan melanggar tata-krama dan tidak
beradab. Kekuatan sosial budaya yang begitu kuat itu bahkan
mengakibatkan orang-orang yang berpendidikan pun tidak memiliki
keberanian untuk menggali dan memperbandingkan ogama-agama
menggunakan akal-pikiran yang terbuka. Sejauh ini, mereka
berdalih bahwa karena dalam diri mereka tidak ada prasangka
tentang agama-agama yang lain.
Walaupun
sebenarnya prasangka itu bersarang dan meliputi akal pikiran
mereka. Menekan perasaan
semacam ini menempatkan mereka dalam kemudahan, meskipun
memendam prasangka itu bertentangan dengan kesadaran nurani
mereka. Namun Sang Maha Pencipta sesungguhnya menunjukkan
jalan kebenaran kepada mereka yang tanpa prasangka sedikitpun
ketika sedang dalam pencarian jalan-Nya itu. Segunung Ampunan
Tuhan Yang Maha Penyayang tercurahkan kepada orang-orang
yang demikian. Kisah Ibrahim berikut ini merupakan gambaran
yang tepat untuk hal ini.
Saya terlahir dan tumbuh di Nigeria. Kakek saya seorang
Muslim bernama Sulieman. Beliau mempunyai tiga orang
anak lelaki.
Seorang dari anaknya berubah menyadi seorang Kristen di
usia duabelas tahun lantaran adanya kegiatan misionaris
Kristen.
Setelah menginjak dewasa, si anak ini menikah dengan seorang
perempuan Muslimah yang kemudian juga mengubah keyakinannya
menjadi seorang Kristen. Mereka berdua bekerja di sekolah
menengah di Kano. Sang Suami bekerja di perpustakaan departemen
Sains (Iptek), sang Istri sebagai penyedia konsumsi di
sekolah itu. Saya adalah anak termuda keluarga ini.
Ibu telah wafat
sekitar seminggu setelah kelahiran saya. Kami tujuh bersaudara,
enam lelaki dan satu perempuan. Kami semua beragama Kristen
mengikuti agama orang tua kami. Namun, kakek kami memberi
nama kami dengan nama-nama Muslim. Saya dinamakannya Ibrahim,
nama yang sangat saya sukai. Setiap kali kakek mengunjungi
kami, ayah berlaku seolah ia seorang Muslim yang tidak
menjalankan agamanya. Kami juga mempunyai nama-nama
suku yang mana kami
lebih dikenal dengan nama-nama ini.
Atas pengaruh langsung dari ayah, kami sekeluarga menjalankan
ajaran Kristiani, meskipun kami tinggal di lingkungan
yang mayoritas Muslim. Kami ikuti pemikiran ayah
tanpa keberanian
melanggar yang telah ia gariskan. Sebagian besar kakak-kakak
saya menikahi pasangan mereka yang berasal dari keluarga
Kristen. Hal yang menarik adalah, salah satu kakak lelaki
saya tertarik untuk menikah dengan seorang perempuan
Muslim. Kemudian dikatakan kepadanya bahwa seorang
perempuan Muslim
dilarang menikah dengan Non-Muslim. Kemudian ia mengubah
agamanya, menjadi seorang Muslim yang tidak menjalankan
kewajibannya dan tidak pernah menyampaikan apapun kepada
kakak dan adiknya
perihal Islam.
Ketika saya bersekolah di sekolah menengah dimana kedua
orangtua saya bekerja, sebuah delegasi dari Saudi biasa
menghadiri
sebuah konferensi tahunan yang diselenggarakan di kota
kami. Ayah saya mendapatkan pekerjaan untuk saya di
tempat konferensi.
Ayah meminta saya melayani delegasi itu sebaik-baiknya
selama konferensi berlangsung, namun sayang, saya sama
sekali tidak
mengerti bahasa Arab. Saya tidak memahami apa yang
mereka bahas dalam konferensi. Sungguhpun demikian
saya bisa
rajin melayani mereka dengan bantuan instruksi dari
penerjemah. Mereka pun merasa puas dengan pelayanan
yang saya berikan.
Tahun berikutnya, delegasi ini kembali lagi ke Kano.
Sekali
lagi, ayah meminta saya ikut membantu dalam penyelenggaraan
konferensi tahunan ini. Dengan demikin terbangunlah
rasa saling menghargai diantara kami dengan peserta
konferensi.
Seorang dari penyelenggara yang bernama Sheikh Fahd,
bertanya kepada saya, “Apakah kamu seorang Muslim?” Saya
pun menjawab, “ Bukan, Saya Kristen.” Dijelaskannya
dasar-dasar ajaran Islam kepada saya selama ia berada di
Kano. Menjelang kepulangannya, ia bertanya, “Apakah
kamu percaya bahwa Islam adalah kebenaran?” Saya jawab, “Ya.” Iapun
ingin tahu lebih jauh, “Apakah kamu berkeinginan menjadi
Muslim?” Saya katakan kepadanya, “Saya harus
minta ijin kepada ayah terlebih dahulu.” Ayah saya
memiliki sifat lemah-lembut. Beliau tidak marah ataupun menanggapi
negatif ketika saya sampaikan hal ini kepadanya. Beliau berkata, “Kalau
kamu suka, lakukanlah.” Maka hari berikutnya saya pun
memeluk Islam dengan bimbingan Sheikh Fahd.
Maka hebohlah komunitas Kristen disana. Mereka mendesak
ayah saya untuk menarik saya kembali kepada ajaran
Kristiani. Berbagai pertanyaan mereka ajukan kepada
ayah. “Apakah
anakmu masuk Islam karena yang berdakwah berkulit putih?”; “Apakah
mereka memberinya uang?”; Apakah mereka ingin membawanya
ke Saudi Arabia?”; Dengan datar ayah saya menjawab
bahwa tidak satupun dari yang mereka sebutkan itu menjadi
alasan anaknya masuk Islam. Ditambahkannya pula, “Saya
tak dapat menghalanginya, sebab kakeknya pun seorang Muslim.”
Saya juga diberitahu bahwa saya bisa menjalankan
ajaran Islam dengan tulus hanya melalui pendidikan
dan latihan.
Maka,
saya pun mulai datang ke Pusat Islam terdekat untuk
belajar Islam dan bahasa Arab. Beruntung kami memiliki
tetangga
yang sangat baik. Namanya Ny. Karim. Ia bergelar
Doktor (Ph.D.)
di bidang Studi Agama Islam dan mengajar di sekolah
setempat. Seorang ulama biasa mengunjungi rumahnya
setiap hari
untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya. Saya diijinkannya
bergabung dengan kelompok belajar dirumahnya. Para delegasi
Saudi pun terperanjat melihat kemajuan saya dalam pendidikan
Islam, sewaktu mereka mengunjungi kami di tahun berikutnya.
Betapa Allah telah mencurahkan kasih-sayang-Nya yang
tak terhingga kepada saya. Delegasi Saudi itu merancang
pendaftaran
ke Universitas Islam di Madinah untuk saya. Kini
(ketika Ibrahim berkisah) saya telah tiga tahun
belajar di
Universitas Islam untuk mempelajari bahasa Arab.
Tahun depan, saya
akan masuk ke fakultas Syariah dan insyaAllah,
saya dapat diwisuda
setelah empat tahun mendatang saya menjalani pendidikan
yang lebih luas. Saya rasakan kekuatan Iman dalam
diri saya dan
saya pun mencintai jalan hidup Islami dengan segenap
hati dan jiwa saya.
Ayah menikah lagi setelah ibu saya meninggal. Dari
ibu tiri ini, ayah mendapatkan lima orang anak.
Mereka semua
beragama
Kristen. Ketika universitas sedang liburan musim
panas, saya pulang ke Nigeria untuk mengunjungi
keluarga saya.
Saya mencoba
menerangkan prinsip-prinsip Islam kepada saudara
kandung maupun saudara tiri saya, karena sebagai
Muslim kita
wajib menyampaikan Islam, pertama kepada sanak
saudara. Atas
Pertolongan Allah SWT, satu dari saudara kandungku
yang lelaki telah
bersungguh-sungguh memeluk Islam. Ia secara teratur
hadir di Pusat Islam setempat untuk memperoleh
pendidikan dan
pelatihan Islam lebih lanjut. Saya pun sangat
bersyukur kepada Allah
atas cahaya hidayah-Nya kepada saudara tiri saya
yang lelaki berusia sepuluh tahun. Mengikuti
jejak saya,
ia rajin datang
ke rumah Ny. Karim untuk memperoleh pendidikan
dasar-dasar Islam dan belajar Al-Qur’an. Semoga Allah melimpahkan
balasan atas kebajikan yang telah dilakukan oleh Ny. Karim
dengan berperan-serta dalam pendidikan Islam kepada remaja-remaja
di lingkungannya.
Setelah kelak saya menyelesaikan pendidikan di
Universitas Islam Madinah, saya sangat ingin
melanjutkan pendidikan
saya ke tingkatan yang lebih tinggi lagi agar
dapat mengabdikan diri sebagai Juru Dakwah
Islam yang
paripurna. Tak ada
kalimat
yang tepat untuk menggambarkan rasa syukur
saya kepada Allah yang telah menunjukkan saya kepada
Kebenaran.
Saya sangat
menikmati menyerukan Islam dengan cara yang
mengena,
kepada sanak saudara saya. Harapan saya, semoga
Allah akan menujukkan
kepada lebih banyak lagi orang, menuju Jalan-Nya
yang lurus melalui dakwah yang saya sampaikan.
Sesungguhnya, segala
puji hanyalah bagi Allah.
Kisah saya tidaklah lain dari yang lain. Kekuatan
Misionaris Kristen juga telah melakukan banyak
pengubahan keyakinan
di Nigeria dan beberapa negara lain di Afrika.
Mereka memiliki organisasi yang sangat kuat,
yang mendukung
pendanaan bagi
para juru dakwah mereka maupun bagi orang-orang
yang baru menjadi pengikut agama mereka.
Mereka juga memiliki
buku-buku
bacaan yang dicetak dalam bentuk yang sangat
menarik. Tenaga kerja mereka mendapatkan
kebanggaan dalam
menyebar-luaskan buku-buku bacaan dari pintu
ke pintu dari hampir seluruh
rumah tangga. Hasilnya pun nyata sekali.
Atas keberhasilan usaha misionaris ini, maka berkuranglah
sumber
daya dan tenaga kerja pendidikan Islam di
berbagai
negara
di Afrika.
Juru
dakwah yang berbobot dan menguasai bahasa
setempat sangatlah dibutuhkan di setiap masyarakat.
Malangnya, banyak masyarakat
yang tidak mampu memberikan dukungan pendanaan
kepada para
juru dakwah tersebut. Akibatnya sia-sia saja
keberadaan tenaga kerja yang mampu dan berbobot
itu. Buku-buku
bacaan Islami
dalam bahasa setempat pun sangat sedikit.
Apa
yang saya katakan ini bukanlah gagasan yang
baru saya
dapatkan. Semua fakta
itu telah diketahui secara umum. Saya sampaikan
ini untuk
mengingatkan siapa saja yang memiliki kemampuan
keuangan untuk mendukung pendidikan Islam
di negara-negara Afrika.
|