netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“How Islam Touched Their Hearts”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


Cahaya Hidayah dalam Tilawah Al-Qur’an

Imam SIRAJ WAHAJ

The Muslim Student Association (MSA); yang berarti Perhimpunan Mahasiswa Muslim; dahulu merupakan sebuah organisasi payung yang menaungi para Muslim di Amerika dan Kanada. Siraj Wahaj dan saya sendiri, telah mendapatkan kesempatan terhormat sebagai anggota Majlis Syura (dewan penasehat) sekaligus anggota Dewan Pelaksana MSA. Bertahun-tahun sudah, mahasiswa Muslim menjadikan Negara Amerika Serikat sebagai rumah masa depan mereka, dan oleh karena itulah mereka menjadi warga negeri Paman Sam ini. Guna melayani kebutuhan para warga negara ini, maka dibentuklah organisasi payung yang baru, yang dinamakan ISNA; Islamic Society of North America, (Masyarakat Islam Amerika Utara). Didalam organisasi baru ini, kami berdua pun menjadi anggota Majlis Syura sekaligus anggota Dewan Pelaksana.


Kami harus sering mengikuti pertemuan di kantor pusat ISNA di Indiana. Biasanya, pertemuan berlangsung sangat lama dan begitu melelahkan. Jarang sekali kami mempunyai kesempatan untuk ngobrol bebas satu sama lain, karena agenda rapat yang begitu panjang. Hanya sebagian kecil anggota yang sempat mengemukakan pendapat terhadap pokok bahasan yang beraneka ragam. Dalam keadaan begini, saya rasakan kehampaan diantara para pimpinan kelompok-kelompok Muslim tingkat nasional itu.

Beruntung sekali, suatu hari saya sempat bersama Siraj Wahaj sewaktu rehat makan siang dalam acara pertemuan Dewan Pelaksana ISNA. Saya sangat ingin mengetahui awal mula ia bisa menerima Islam. Inilah penuturannya:
“ Dulu saya anggota kelompok pergerakan Black Moslem (Muslim Kulit Hitam) yang memiliki banyak perbedaan ajaran dan amalan dengan Muslim tradisional. Suatu kali, MSA mengadakan perkemahan musim panas dalam rangka pelatihan para relawan masyarakat. Saya adalah salah seorang peserta. Acara itu diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh seorang akhi berkebangsaan Sudan. Walaupun waktu itu saya tidak mengenal bahasa Arab, namun lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu merasuk jauh kedalam diri saya. Saya pun mulai terisak-isak berurai airmata. Semakin banyak ayat yang saya dengar, semakin deras airmata mengucur dari kedua mata saya ini, mengalir turun membasahi kedua pipi dan jatuh membasahi pakaian. Saya tidak mengenal bahasa Arab sepatah katapun. Saya pun berkata pada diri sendiri, “Apapun arti ayat ini, nampak begitu nyata.” Maka, setelah peristiwa itu saya menganut aliran ‘tradisional’ Muslim Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah).
Akhi Siraj begitu rajin belajar bahasa Arab dan menguasai pembacaan Kitab Suci Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW dalam waktu singkat. Segera setelah itu ia pun menjadi Imam Masjid At-Taqwa, New York. Khutbah Jum’atnya juga sangat berbobot. Melalui dakwah yang disampaikannya banyak lelaki dan perempuan menjadi pemeluk Islam.

Masyarakat Muslim di sekitar masjidnya tumbuh dan berkembang semakin besar, dan oleh karena itu ia diangkat sebagai pemimpin North American Muslims (Ummat Islam Amerika utara).
Saya juga sempat menanyakan pendapatnya ihwal kegiatan ISNA dan kelompok-kelompok Muslim yang lain. Dengan lantangnya ia menjawab, “Kalian semuanya lamban dan hasil dari kegiatan yang kalian kerjakan sedikit sekali. Tengoklah contoh sewaktu saya masih menjadi bagian dari Black Moslems Movement, saya harus berjualan koran banyak sekali. Berdiri berjam-jam bersusah-payah agar semua koran yang saya bawa habis terjual. Terkadang kedua belah kaki saya sampai gemetar kelelahan meskipun saya masih muda. Sebagian besar kalian banyak bicara sedikit sekali bekerja!” Usai ia melontarkan jawaban ini, tidak ada lagi waktu tersisa untuk bertanya lagi kepadanya walau satu pertanyaan saja.

Masjidnya terletak ditengah Kota New York, dimana perdagangan narkoba berlangsung siang-malam. Para gembong pengedar narkoba itu kaya raya dan amat sangat berbahaya. Untuk mengenyahkan peredaran narkoba dari wilayah ini sangatlah sulit dan beresiko tinggi. Pengedar dengan mudahnya membunuh setiap pengganggu kegiatan perdagangan mereka. Tak tanggung-tanggung, perdagangan merekapun berkembang pesat diseputaran Masjid At-Taqwa. Tentu saja Imam Siraj tidak menyukai keadaan ini. Iapun lantas mencari tahu perihal para pengedar ini dari beberapa mualaf yang masa lalu mereka adalah bagian dari perputaran roda perdagangan terlarang itu. Selanjutnya Imam Siraj mengumpulan beberapa ratus Muslim di lingkungannya, kemudian satu demi satu gembong narkoba di wilayah itu mereka datangi dan berpesan, “Enyahlah kalian dari wilayah ini mulai esok hari. Atau kami terpaksa harus mengusir kalian semua!” Beberapa dari mereka mengatakan, “Mangapa kalian hendak merampas penghidupan sehari-hari kami?” Siraj menjawab, “Tidak ada tempat untuk beredarnya narkoba di dalam wilayah masyarakat Muslim.” Begitulah ia dan para pengikutnya mengulangi kunjungan peringatan ini pada hari berikutnya. Maka para gembong pengedar itupun dengan terpaksa menyingkir, dan wilayah seputar Masjid At-Taqwa menjadi terbebas dari pengedar-pengedar narkoba hingga radius 5 mil (sekitar 7,5 km). Pemerintah Amerika Serikat pun terheran-heran dengan keberhasilan ini, sementara pemerintah sendiri selalu gagal menghentikan aksi para pengedar itu, walaupun telah mengeluarkan biaya besar, dengan berbagai siasat, dan para personil yang handal.

Keberhasilan yang mengagumkan ini, membawa akhi Siraj pada sebuah wawancara dengan stasiun televisi nasional Amerika Serikat. Pewawancara bertanya, “Bagaimana dan mengapa anda melakukan hal itu?” Siraj menjawab, “Islam dan pengedar narkoba tidak mungkin hidup berdampingan. Saya tidak mau melihat rakyat miskin dihancurkan tangan-tangan para pengedar narkoba itu. Murninya tujuan dan kuatnya niat mempermudah tercapainya tujuan mulia.”

Kini akhi Siraj erat bekerja-sama dengan komunitas-komunitas Muslim yang lain di Amerika dan Kanada. Ia sangat berhasil mengilhami para muda Muslim dan meningkatkan penggalangan dana untuk Masjid dan Sekolah Islam. Adalah hal yang wajar jika kita jumpai dia dengan kitab Hadits ataupun kitab suci Al-Qur’an terbuka ditangannya, meskipun sedang berada di bandara. Ia dihormati secara internasional. Dalam kunjungan terakhir saya ke Makkah dari Amerika Serikat saya berjumpa dengan beberapa Muslim Amerika. Saya tanyakan kepada mereka siapa lagi yang hadir di Makkah. Mereka mengatakan bahwa Imam Siraj pun hadir. Maka para imam lokal Masjidil-Haram pun mencari beliau agar dapat berperan-serta dalam upacara penggantian Kiswah (kain penutup) Ka’bah; Baitullah.

Terakhir kali saya menyimak khutbahnya, sewaktu Pertemuan Tahunan ISNA di Chicago. Waktu itu bertepatan dengan puncak masa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat dengan kandidat George Bush, Bill Clinton dan Ross Perot. Mereka saling melempar cemooh satu sama lain, karena yang demikian itu diperkenankan menurut hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Kaum Muslim yang bermukim di Negeri Paman Sam pun berharap memperoleh arahan dari pertemuan tersebut berkaitan partisipasi mereka dalam pemungutan suara untuk pemilihan presiden. Nasehat dari para pemimpin umat Muslim Amerika seperti Siraj Wahaj sangatlah berarti bagi mereka untuk menentukan pilihan. Maka, simaklah apa yang dikatakan Siraj Wahaj memulai khutbahnya, “Semalam saya sempatkan diri membaca Kitabullah Al-Qur’an. Betapa terperanjatnya saya bahwa saya membaca perihal George Bush didalamnya. Benar! Anda sekalian mendengar yang saya ucapkan bukan?! Semalam, saya membaca perihal George Bush didalam Al-Qur’an. Sungguh, sayapun membaca perihal Bill Clinton dan Ross Perot. Mereka semua disebut bersamaan dalam satu ayat didalam Surah ke-2 dari Al-Qur’an. Baiklah, saya bacakan saja secara tepat ayat yang saya maksud.” Selanjutnya Siraj mengumandangkan ayat yang dimaksud:

Mereka itu tuli, bisu, dan buta. Maka tiadalah mereka itu akan kembali (ke jalan yang benar). [Al-Baqarah:18]


Iapun menambahkan uraiannya, “Telinga mereka tidak sesuai untuk mendengarkan kebenaran, lidah mereka tidak siap untuk menyuarakan kebenaran dan juga mata mereka tidak sanggup melihat kebenaran. Lantas, bagaimana mungkin ada harapan agar mereka condong kepada kebenaran atau kembali kepada kebenaran?”


Siraj memiliki cara yang khas, yang asli dari dirinya sendiri. Kisah dirinya perlu ditulis dalam sebuah buku tersendiri. Saya sungguh berharap suatu hari nanti seseorang akan melakukannya.