“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah didalam Hadiah Natal…
JIM
Irama
kehidupan di dunia Barat berjalan begitu cepat. Dalam hiruk
pikuk kehidupan sedemikian itu, banyak kaum Muslim
yang hidup di Barat masih bisa meluangkan waktu untuk berkiprah
secara sukarela di lingkungan masjid dan Sekeloh Islam. Contohnya,
suatu hari para jama’ah Masjid Tauhid Detroit sepakat
untuk bersilaturahim ke Masjid Tauhid Farmington Hills seusai
shalat Subuh. Kami hendak menebang pohon-pohon yang tumbuh
liar di halaman masjid menggunakan gergaji mesin kemudian
memotong batang pohon itu menjadi potongan-potongan kecil.
Potongan-potongan kecil itu kami satukan dalam ikatan-ikatan,
selanjutnya kami letakkan di tepi jalan agar diangkut oleh
dinas pelayanan kebersihan kota. Dengan begitu halaman masjid
menjadi bersih.
Maka berangkatlah kami dalam dua mobil untuk keperluan
ini setelah berjamaah shalat Subuh. Diantara kami
terdapat seorang
mualaf bernama Jim yang semobil dengan saya. Dalam perjalan
saya tanyakan kepadanya, bagaimana ia masuk Islam. Secara
rinci, ia ceritakan pengalaman hidupnya yang menarik itu.
Beginilah ceritanya:
“
Sebelumnya, sebagai penganut Kristen saya biasa ke gereja
bersama kedua orangtua saya. Untuk memperoleh pelayanan gereja,
orangtua saya harus menyisihkan sepuluh persen dari penghasilannya
untuk disumbangkan ke gereja ini. Merasa tidak cocok dengan
praktek keagamaan di gereja ini orangtua sayapun akhirnya
berpindah ke gereja lain. Di gereja berikutnya ini, kami
cukup menyisihkan delapan persen penghasilan perbulan untuk
memperoleh pelayanan gereja. Hal ini dapat dimaklumi oleh
orangtua saya, karena hampir semua gereja melakukan hal ini
untuk penyelenggaraan gereja. Tetapi saya tetap saja tidak
suka dengan praktek ‘membeli tempat duduk’ yang
dikemas dalam bentuk sumbangan wajib seperti itu. Saya putuskan
untuk tidak lagi ke gereja karena saya sungguh tidak setuju
dengan praktek-praktek yang dilakukan oleh gereja-gereja
itu.”
“
Lulus dari High School (SLA), saya pun melanjutkan ke perguruan
tinggi. Disini, saya bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim
dari berbagai Negara. Saya sempatkan bertanya kepada mereka:”Adakah
kalian wajib membayar tempat untuk beribadah?” Merekapun
menjawab:”Tidak Sama sekali. Sebenarnya setiap
orang memiliki hak yang sama untuk menggunakan tempat
ibadah untuk
mengerjakan shalat.”
Perlu
saya tambahkan disini, bahwa di lingkungan kampus perguruan
tinggi di dunia Barat, para mahasiswa dihadapkan
pada kebebasan
memilih yang tanpa batas. Sebagian kecil diantara mereka
memanfaatkan kebebasan itu secara keliru sehingga menghancurkan
masa depan mereka. Namun, sebagian besar mahasiswa memanfaatkan
dengan baik kebebasan ini, mereka berinteraksi secara
konstruktif satu sama lain. Interaksi inilah yang sebenarnya
sangat
menguntungkan. Mereka tidak pernah menjawab dengan singkat
pertanyaan orang
lain sehingga si penanya tetap dalam kebingungan. Tidak
juga menjawab terlalu ‘njelimet’ sehingga
si penanya tak berani lagi bertanya lebih lanjut. Lebih
dari itu, mereka
tidak memaksakan pandangannya terhadap orang lain sehingga
tidak terjadi perseteruan diantara mereka. Bentuk interaksi
yang menguntungkan semacam ini berlangsung sepanjang
waktu diantara semua mahasiswa, maka sebenarnya, ini
menjadi pedoman
bagi sebagian dari para pendakwah keagamaan kami.
Jim berpandangan bahwa sebenarnya tidak adanya pungutan
biaya tempat ibadah adalah praktek yang paling masuk akal.
Karena
itulah ia bertanya pada diri sendiri, mengapa tidak ditelaahnya
saja detail-detail selebihnya dari agama ini? Kemudian
ia lanjutkan berkisah kepada saya:
“ Dulu,
pacar saya tinggal se-apartemen sewaan dengan saya. Ia
beragama Budha. Ia letakkan patung-patung budhanya
di semua penjuru apartemen kami, walaupun ia sendiri tidak begitu
rajin beribadah. Saya pun tidak menjalankan ibadah
sebagai seorang Kristen. Dari pembicaraan saya sehari-hari ia
dapat menangkap pencarian saya atas suatu pegangan hidup. Kamipun
saling menerima apa adanya satu sama lain. Akhirnya,
tibalah Natal.”
Natal adalah saat-saat dimana setiap orang mendambakan
diberi hadiah oleh teman karibnya, tanpa memandang apapun
keyakinan
agamanya. Misalnya saja, orang-orang Yahudi yang sama sekali
tidak mengimani Yesus, justru merekalah yang terlebih dahulu
saling bertukar hadiah dan menghias tempat-tempat usaha
mereka dengan pohon natal yang begitu besar untuk memikat
pelanggan.
Jim melanjutkan lagi kisahnya:
“
Pacar saya juga tak ketinggalan bergegas ke tempat belanja,
untuk membelikan saya hadiah Natal. Ditempat itu perhatiannya
tertuju pada sebuah buku yang menurutnya nampak sangat filosofis.
Iapun berkata pada diri sendiri, “Jim tentu akan suka
dengan buku ini, karena ia selalu berkata-kata aneh bagaikan
ungkapan novel.” Maka sayapun mulai membaca buku ini
begitu saya terima sebagai hadiah darinya. Ternyata buku
ini adalah Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris.
Saya pun suka membacanya setiap hari, sehingga menimbulkan
banyak pertanyaan dalam pikiran saya. Para mahasiswa Muslim
di kampus memberikan jawaban yang masuk akal atas berbagai
pertanyaan saya. Ini membuat saya semakin tertarik kepada
Islam, dan pada akhirnya saya puas dengan jalan hidup Muslim.
Saya lantas menghubungi beberapa anggota Himpunan Mahasiswa
Muslim di kampus Universitas dimana saya belajar. Mereka
pun menjelaskan kepada saya ikrar yang harus diucapkan untuk
masuk Islam. Maka dengan penuh kesiapan hati dan bersemangat,
saya menyatakan memeluk Islam. Puji syukur kepada Tuhan – Alhamdulillah.”
“ Saya
telah sangat memahami bahwa Shalat adalah hal terpenting
didalam Rukun Islam. Biasanya saya mengerjakan
shalat di kampus dan di rumah. Karena itu saya minta kepada kekasih
saya untuk memindahkan patung-patung miliknya
dari ruang keluarga karena saya perlu ruangan itu untuk
mengerjakan
shalat. Ia tidak menyukai hal ini; memang tidaklah
mudah berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengusik keyakinan
seseorang; Namun akhirnya dengan perasaan enggan ia pun memindahkan
patung-patung itu demi menyenangkan hatiku.”
“
Begitu pendidikan dan keyakinan Islam saya semakin menguat,
saya mulai menampakkan kekurangan perhatian terhadapnya,
kamipun sempat beberapa kali bertengkar soal ini. Berkali-kali
ia berkata, “aku telah selalu berusaha sebaik-baiknya
untuk menyenangkanmu, karena kesetiaanku kepadamu tidak pernah
berkurang sedikitpun. Lalu, apa yang membuatmu mengabaikanku
sementara aku tetap dengan kesetiaanku padamu?” Saya
berikan jawaban serius kepadanya,”Semua hal yang kamu
katakan itu benar adanya, saya tidak mengingkari hal itu.
Tapi kini sebagai seorang Muslim saya tidak mungkin lagi
menjalin hubungan perkawinan dengan Non-Muslim” Ia
mengenal sepenuhnya sifat dasar saya yang lembut dan tenang
serta hubungan saya yang selalu baik dengan teman-teman karib
saya. Maka iapun tidak pernah berharap untuk meninggalkan
saya, walau sebesar apapun pengorbanan yang ia mesti berikan.
Ia kemudian bertanya, “Kalau begitu, apa yang harus
aku lakukan demi mempertahankan hubungan kita ini?” Saya
katakan, bahwa untuk itu ia harus memeluk Islam. Ia kembali
bertanya,”Apa itu Islam?” Saya
jelaskan kepadanya secara keseluruhan pokok-pokok
ajaran
Islam dalam waktu
singkat. Ia kurang bisa mencerna sepenuhnya
gagasan yang saya uraikan,
namun akhirnya iapun setuju memeluk Islam untuk
menenteramkan hati saya. Ia singkirkan sendiri
patung-patung miliknya
dari apartemen kami.”
“
Kami pun kemudian mengikatkan diri dalam pernikahan secara
Islam, setelah itu kami biasa beribadah di Masjid setempat.
Kehidupan kami berjalan sebagaimana mestinya. Ternyata, istri
saya tidak tertib dan teratur menjalankan Shalat 5 Waktu.
Maka, saya pun menegur-nya,”Bagaimana kamu ini, muslim
yang bagaimanakah yang tidak tertib shalat lima waktunya?” Ia
menjawab,”Saya sudah berusaha semampu saya!” Maka,
sekali lagi saya tegas-tegas mengingatkannya.
Iapun mulai menangis dan mengadukan perihal
perselisihan kami kepada
teman-teman muslimah di lingkungan kami.”
“
Sampailah persoalan kami terdengar oleh para pemuka umat
muslim setempat. Merekapun menugasi pasangan suami-istri
muslim terpelajar agar berusaha memperbaiki hubungan kami.
Saya dinasehati oleh mereka,”Istrimu seorang mualaf,
Islam meresap kedalam kalbu dan jiwa seseorang secara bertahap,
janganlah bersikap teramat keras terhadapnya.” Saya
dapat mencerna nasehat ini dan sayapun
memperlunak sikap kritis saya kepada istri
saya.”
“
Sebelum memeluk Islam, saya suka membuang-buang waktu yang
berharga dengan berkumpul bersama muda-mudi di lingkungan
kami. Jika kami sedang berkumpul banyak dari kami yang berbicara
semaunya secara bersamaan tanpa mempedulikan gagasan dan
harapan teman yang lain. Jadilah tempat kami seperti “Rumah
Gila” dimana setiap orang meneriaki satu sama lain.
Setelah masuk Islam, saya masih datang berkumpul beberapa
kali. Teman-teman begitu kaget melihat perubahan saya yang
lebih banyak diam. Saya berbicara hanya ketika yang lain
memperhatikan apa yang saya bicarakan. Mereka heran dengan
perubahan etika dan tingkah laku yang terjadi pada diri saya. “Apa
yang telah terjadi dengan Jim?” begitulah
diantara mereka saling bertanya. Saya
menjadi sebal mendengar
obrolan yang berlarut-larut tanpa manfaat.
Hasilnya, waktu terbuang
percuma. Saya berharap bisa meninggalkan
kehidupan sosial semacam ini.
“ Pemikiran keagamaan orang tua saya pun sama sekali berbeda
dengan saya. Ini membuat saya merasa
sulit sekali untuk tinggal di lingkungan yang menyebabkan saya merasa tertekan
sedemikian rupa. Saya berharap bisa pindah ke suatu
tempat dimana saya leluasa menjalani ajaran Islam yang begitu indah ini dengan
ketulusan dan penuh konsentrasi. Begitulah
selanjutnya,
saya tinggalkan kota kelahiran, orangtua, dan kawan-kawan. Dan
sampailah saya disini, di Detroit. Istri
saya
masih menetap di kota kelahiran kami untuk menyelesaikan kuliah kesarjanaannya.
Di Detroit, saya mengunjungi teman kuliah
saya, akhi Ahmad, Ketua organisasi Muslim Indonesia dan Malaysia di Amerika
Utara. Saya datang tanpa bekal apapun.
Adalah ia
yang menyediakan tempat tinggal, makan dan pakaian. Itulah sebabnya
anda melihat saya hari ini datang ke masjid bersamanya. Saya
temukan iklim spiritual yang nyaman di masjid ini. Saya sangat bahagia
disini.”
Banyak
hadiah dari saudara-saudara Muslim di masjid untuk Jim.
Ia pun
begitu cepat
menyesuaikan
diri
dengan lingkungan
kami. Ia mulai mencari kerja disekitar
Detroit. Dalam waktu singkat ia sudah
mendapat pekerjaan.
Namun,
kemudian pekerjaan
ini ia tinggalkan karena pemiliknya
melarang Jim mengambil jeda untuk
pergi Shalat
Jum’at. Masih banyak pengusaha
lain yang sangat membantu karyawan mereka yang Muslim dan
memperpanjang waktu istirahat makan siang mereka untuk keperluan
Shalat Jum’at.
Jim
telah mempelajari banyak bagian dari Al-Qur’an,
pengucapan (makhraj)-nya pun sangat bagus. Saya tanyakan
kepadanya,”Adakah ini karena tuan rumahmu yang dari
Indonesia membantumu dalam belajar membaca Al-Qur’an?” Jim
menjawab, “Tidak. Sebenarnya, dirumah terdapat sebuah
komputer dan CD-ROM Tilawatil-Qur’an. Saya putar saja
berulang-ulang untuk belajar sendiri ayat-ayat Al-Qur’an”.
Suatu
hari Jim bertanya kepadaku, apakah ia boleh membeli satu
dari
kitab Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa
Inggris yang ada di masjid. Saya katakan kepadanya, “Untuk
mualaf, itu diberikan secara cuma-cuma”. Ia katakan,
itu dimaksudkan untuk ibundanya dengan harapan sang ibu akan
memperoleh cahaya hidayah sebagaimana telah terjadi pada
dirinya. Ia pun berkeinginan memberikan beberapa untuk para
sahabat lamanya di kota kelahirannya. Kembali saya katakan
kepadanya, “Kamu boleh
ambil berapapun yang kamu mau
dengan
gratis.”
Sementara itu, Jim bertemu dengan sekelompok
orang yang disebut sebagai
Kelompok Dakwah, mereka ini menyeru orang-orang
kepada
Islam. Mereka manyambut hangat
para mualaf. Tidak sekedar
menyajikan keramah-tamahan
semata, mereka pun memberikan pengajaran sendi-sendi
agama Islam kepada para mualaf
itu.
Jim bergabung bersama para
ikhwan ini menempuh perjalanan
ke pelbagai negara bagian di
Amerika Serikat untuk mengajarkan, belajar,
dan berdakwah Islam. Biasanya
ia berkunjung ke
Detroit semalam atau dua malam
setelah perjalanan dakwahnya selama
berbulan-bulan. Maka kami hanya
sempat berjumpa dengannya dalam waktu yang
sangat singkat. Nampaknya ia
telah memutuskan
untuk mengabdikan hidup masa
mudanya untuk melayani Al-Islam.
Semoga
Allah SWT semakin memperkaya pengetahuan
dan pengamalan
Islam bagi Jim. Semoga Allah
SWT menerima pengabdian, komitmen, dan pelayanannya
kepada Al-Islam. Amiin
|