“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah Terbit Kala Seorang Muslim Menyebut
Nama Yesus …
JOE PAUL ECHON
Banyak orang yang datang ke Saudi Arabia terutama karena
alasan mencari nafkah. Namun ada juga hal lain yang kemudian
muncul dalam diri mereka. Salah seorang yang mengalami hal
ini adalah Joe Paul Echon. Kisah dirinya penuh dengan perbenturan
kultural dan spiritual, serta langkah demi langkah ia mendapatkan
jalan keluarnya.
Kecerdasan,
kerja keras, dan ketulusan maksud, selalu membawa pada
keberhasilan yang membahagiakan. Jalan
menuju sukses sangatlah panjang. Semakin keras berusaha
menghasilkan keyakinan yang kokoh dan kesuksesan yang tahan
lama. Pencarian
yang sungguh-sungguh dan pengetahuan yang mantap memberikan
hasil yang mantap pula. Melakukan sesuatu dengan pengabaian
dan sekedar coba-coba menyebabkan rapuhnya landasan kerja.
Sebenarnya, menuntut ilmu dengan akal pikiran yang terbuka
berarti telah memenangkan setengah dari perjuangan hidup.
Setengahnya lagi dimenangkan melalui keberanian dan komitmen
yang jujur terhadap panggilan kesadaran nurani.
Joe adalah bagian dari keluarga yang amat taat beragama.
Ia giat dalam kegiatan-kegiatan gereja sejak masa kecil
dan selalu bangga dengan apa yang dilakukannya. Berikut
in ceritanya
perihal didikan dan latar belakang kristianinya.
Latar Belakang Kristiani
Saya terlahir dalam keluarga Katolik Roma yang sangat
rajin hadir ke gereja. Sewaktu duduk di bangku sekolah
dasar,
saya menjadi sukarelawan kanak-kanak yang bertugas membersihkan
kapel. Saya pun menjadi asisten pastor dalam komini.
Setelah saya duduk di sekolah menengah, saya bergabung
dalam kelompok
paduan suara gereja sebagai pemain gitar, kadang juga
bermain piano. Saya aktif di Legiun Maria, sebuah kelompok
diskusi
yang membahas bagaimana mencintai dan memuja Maria. Kami
memiliki bermacam-macam sosok Maria; diantaranya, Perawan
Maria, Maria Magdalena, Maria Immaculata, dll. Dalam
pertemuan ibadah, pastor membaca Kitab Bibel sementara
kami menyimak
yang dibacanya. Dalam hati, saya selalu bertanya-tanya
mengapa
kami tidak diperkenankan ikut serta membaca Kitab.
Perubahan Besar yang Pertama Dalam Hidup
Setelah menjadi mahasiswa, terjadi perubahan besar pada diri
saya dalam kehidupan beragama. Salah seorang teman kuliah
mengundang saya untuk datang ke kelompok non-sektarian
(tanpa sekte) untuk melihat kegiatan mereka. Sulit bagi
saya untuk mengerti apa yang mereka lakukan dan mereka
sampaikan. Di gereja saya, pastor memegang Kitab Bibel
dan membacakan isinya untuk kami. Di kelompok yang kemudian
saya ketahui sebagai aliran Protestan ini, masing-masing
orang memegang Bibel dan membacanya. Saya terheran-heran
bahwa didalam Bibel berulang-kali ditegaskan larangan memuja
patung atau lambang (idol). Ini merupakan pelajaran besar
untuk saya. Maka sayapun beralih dari pemeluk Katolik Roma
menjadi penganut Kristen Protestan demi menhindari pemujaan
terhadap patung atau lambang apapun. Jadilah saya seorang
yang pertama beragama Kristen Protestan dalam keluarga
saya. Keluarga saya pun mulai mengkaji ajaran Protestan
dan akhirnya mereka juga menjadi pengikut ajaran ini. Kami
sangat giat ke gereja. Saya juga memulai pelatihan formal
sebagai penyampai Bibel. Dengan demikian saya memperoleh
pengetahuan yang lengkap soal Bibel dan saya bagaikan seorang
pastor kecil atau pendeta.
Gambaran Muslim di Filipina
Saya sedikitpun tidak memiliki pengetahuan soal Islam.
Sewaktu masa sekolah saya tidak mengenali adanya
anak-anak Muslim,
mungkin saja karena mereka tidak mempraktekkan Islam
meskipun beragama Islam, sehingga tidak dapat dibedakan
dengan yang
lain. Saya memiliki beberapa guru Muslim sewaktu kuliah,
tetapi begitulah, mereka hanya Islam sekedar nama. Saya
tidak peduli dengan keberadaan Muslim sebab gambaran
yang saya
peroleh dari media adalah gambaran buruk tentang mereka.
Misalnya, ‘mereka itu teroris’. Jika seorang
Muslim kedapatan terlibat kejahatan, media massa biasanya
menyalahkan seluruh umat Muslim. Kami dipesan agar jangan
melintas didepan sekelompok Muslim karena bisa-bisa kami
akan dibunuh. Kami juga disarankan untuk tidak berhubungan
dengan orang-orang Muslim karena mereka adalah orang-orang
jahat. Harus saya tambahkan disini, bahwa para pendeta
dan para pastor yang kami kenal, tidak pernah mengatakan
apapun
tentang Muslim sebab mereka selalu disibukkan dengan
melontarkan kritikan sekte-sekte Kristiani yang lain.
Pengalaman Kerja Saya
Setelah saya menyelesaikan pendidikan Stata-1 dibidang
Rekayasa Komputer (Computer Engineering), saya bekerja
pada perusahaan
komputer ‘Intel’’ di Filipina. Kami
memproduksi mikro-prosesor untuk perangkat keras komputer.
Setelah sebulan
bekerja, saya pindah ke perusahaan komputer yang lain
dimana sebagian besar teman kuliah saya bekerja. Hal
ini memberi
peluang saya dalam perkembangan profesional dan pengalaman
yang berharga. Setelah lima tahun bekerja, saya memutuskan
berwira-usaha dengan mendirikan perusahaan di bidang
komputer bekerjasama dengan beberapa orang. Sayangnya,
perusahaan
ini gagal akibat ketidak-efisienan pengelolaan. Saya
adalah orang yang pertama mengundurkan diri dari usaha
ini.
Mencari Pekerjaan Baru
Seorang kawan mengajak saya mencoba mencari lowongan kerja
di Saudi Arabia demi untuk mendapat tambahan modal. Setelah
beberapa tahun bekerja disana, tentu kami sudah dapat menjalankan
usaha sendiri. Maka kami menghubungi agen penyalur tenaga
kerja. Agen ini memiliki lowongan kerja untuk beberapa sarjana
teknik komputer yang dibutuhkan oleh Bank Saudi Arabia, dan
manajer bank tersebut sedang berada di Manila untuk keperluan
perekrutan. Singkatnya, setelah itu kami diwawancarai. Kami
diterima, namun gaji yang ditawarkan kurang menggiurkan.
Saya pun mundur. Agen itu tetap menghubungi saya berulang-ulang.
Akhirnya teman saya mendesak agar saya menyertainya dalam
petualangan ini. Jadilah saya terima tawaran kerja ini demi
menunjukkan rasa hormat kepada teman, berangkatlah kami berdua
ke Saudi Arabia.
Kesan Pertama Saya Terhadap Saudi Arabia
Saya tidak mengenal bahasa dan huruf Arab dan saya tidak
menyukainya karena saya pikir tak ada manfaatnya untuk urusan
dunia. Lagi pula saya tidak ingin belajar bahasa Arab, toh
rekan-rekan kerja saya semuanya bisa berbahasa Inggris dengan
baik. Pekerjaan saya yang baru adalah pemeliharaan komputer
dan jaringan komunikasi untuk sebuah bank yang berlokasi
di Saudi Arabia Bagian Timur. Saya tinggal bersama kelompok
orang-orang Filipina di sebuah apartemen. Kehidupan di Saudi
Arabia amat sangat berbeda, banyak sekali hambatan-hambatan
sosial yang berlaku juga bagi kami walaupun kami Non-Muslim.
Jadilah saya merasa tertekan dan rindu kampung halaman.
Suatu
hari saya menyewa taksi di Dammam dan sepakat dengan harga
sewa limabelas Riyal. Pengemudi taksi
itu berpakaian
rapi dan berjenggot panjang. Dalam perjalanan,
ia berubah pikiran dan minta kami membayar sewa
lebih
besar. Di
akhir perjalanan, kembali lagi pengemudi itu
mendesak saya untuk
membayar lebih. Ini jelas mengusik perasaan saya.
Saya melompat keluar dari taksi dan bertanya
lantang kepadanya, “Tidakkah
kamu mengerjakan shalat lima waktu!?” Iapun segera
mengatakan, “Baiklah bayarlah limabelas
Riyal saja. Saya membayarnya dan iapun berlalu
tanpa
sepatah katapun.
Saya mulai merenungkan kejadian ini. Saya berkesimpulan,
pengemudi itu tentulah berhati baik. Ini adalah
pengalaman pertama saya yang positif. Mulailah
saya berpikir
bahwa pada dasarnya warga Saudi itu orang-orang
yang baik.
Seolah lapisan
perak yang tertutup awan kelam.
Hal positif lain pun saya alami. Kali ini berkenaan dengan
makanan. Saya tak pernah mencoba makanan khas Saudi. Sampailah
suatu kali kami berada di tempat yang jauh untuk menyelesaikan
sebuah proyek. Kami begitu lapar. Tak mungkin disitu kami
mendapatkan makanan khas Filipina. Saya pun menyantap kabsa
(nasi ayam khas Saudi) untuk pertama kalinya. Ternyata lezat
rasanya. Setelah itu saya selalu mencari tempat makan yang
menyajikan kabsa. Dari sini bertambahlah cita rasa saya terhadap
makanan Saudi yang lain.
Sebuah Dialog Kritis
Penyelia kami di bank seorang Saudi bernama Abdullah
Al-Amar. Ia berbahasa Inggris dengan baik karena
pernah
mendapatkan pelatihan di luar negeri. Ia juga seorang
yang sangat
senang bercakap-cakap. Ia memulai berkisah
kepada saya. Ketika ia
sedang bercerita, terucap kata Yesus (alaihi
salam) dari mulutnya. Saya berkata kepadanya, “Hentikan,
berhentilah sampai disitu. Yesus adalah Tuhan
saya. Bagaimana kamu
bisa mengenalnya?”
Itulah saat pertama saya mendengar kata Yesus dari seorang
Muslim. Ini mengejutkan saya. Dua tahun lamanya saya telah
tinggal di Saudi Arabia tak seorangpun pernah berbicara dengan
saya perihal Yesus (AS). Sejak masa kecil, saya beranggapan
bahwa matahari adalah tuhannya orang Muslim, sebab mereka
mengerjakan sembahyang ketika matahari terbenam dan ketika
matahari sedang tinggi.
Abdullah
berhenti sejenak. Selanjutnya ia dan saya bergantian menyebutkan
nama para
Nabi
yang lain;
termasuk Nuh, Ibrahim,
Musa, dll. Ia berkata, “Mereka pun Nabi-nabi kami.” Saya
mengenal nama-nama Nabi itu dari Bibel.
Setelah mendengarkan penuturan ini saya
sadari bahwa
Yahudi, Kristen,
dan Muslim tentulah memiliki keterkaitan
tertentu.
Menyelidiki Islam
Semenjak itu, saya mulai menyelidiki Islam, agamanya
Abdullah mitra kerja saya. Saya pergi ke toko buku
Jarir di Dammam untuk membeli beberapa buku tentang
Islam.
Saya telusuri
seluruh rak buku. Saya terperanjat melihat
begitu banyak buku yang bertajuk perbandingan agama,
termasuk
juga
disitu buku tentang ajaran Kristiani.
Sebuah
buku
memiliki
judul
yang sungguh mengagetkan saya. Judulnya
adalah ‘Jesus,
not God, son of Mary’ (Yesus, bukan Tuhan, anak Maryam).
Saya membeli lima judul buku tentang perbandingan agama dan
kembali ke rumah untuk mempelajari buku-buku itu. Buku-buku
ini banyak memuat kutipan ayat-ayat Bibel. Segera sesudah
itu, saya bertanya kepada Abdullah, “Adakah Pusat dakwah
Islam di kota ini?” Ia menyebutkan sebuah alamat yang
kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya.
Saya
pun mendatangi tempat itu untuk melihat-lihat dan mengamati.
Nampaknya,
tempat ini masih baru, maka saya
hanya singgah sebentar dan pulang kembali ke rumah. Banyak
warga Filipina yang bermukim
di kota Al-Khobar yang terletak di
Saudi Arabia Wilayah Timur. Sekali waktu saya pernah pergi
kesana untuk sekedar berjalan-jalan
dan saya mengetahui dari seorang
Filipina bahwa di Al-Khobar pun terdapat sebuah Pusat Islam
(Islamic Center). Tempat
ini dapat saya temukan dengan mudah
dan saya memutuskan untuk membeli lagi beberapa buku, karena
buku-buku yang terdahulu
telah selesai saya baca. Saya juga
mendapati banyak buku perihal perbandingan agama di Pusat
Dakwah Islam yang saya
inginkan. Para penerima tamu disana
menjelaskan bahwa buku-buku itu gratis untuk Non-Muslim
dan Mualaf. Ia berupaya memberikan
buku-buku itu sebagai hadiah untuk
saya, namun saya mendesak membayar harga buku-buku itu.
Mereka pun besedia menerima
uang pembayaran.
Saya
pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa buku-buku
baru. Saya bergegas
pulang ke rumah untuk
mencermati isi buku-buku itu. Saya
sangat ingin menemukan pemelintiran dan tipuan yang mereka
mainkan dalam mengutip
ayat-ayat Bibel didalam buku-buku
itu. Saya buka juga Kitab Bibel saya. Saya segera mencocokkan
kutipan yang pertama
saya jumpai di buku itu terhadap
Bibel. Sayapun terperanjat, kutipan itu benar sama sekali.
Sebelumnya
saya curiga bahwa kutipan itu adalah tipuan. Saya
pun melanjutkan membandingkan kutipan-kutipan berikutnya
satu
demi satu. Ternyata semuanya
sama persis dengan yang tertulis
didalam Bibel. Muncullah teka-teki di benak saya. Masih
saja saya belum yakin dengan
Islam. Namun, sekali lagi saya
pergi mengunjungi pusat dakwah itu. Seorang lelaki mengajak
saya
menyimak rekaman video
tentang Ahmad Deedat. Saya putuskan
untuk bersikap terbuka dalam menonton video itu. Saya
katakan kepada diri saya sendiri
agar tidak mereka-reka prasangka.
Video ini berisi rekaman diskusi antara seorang Ulama
Muslim dengan seorang agamawan
Kristen.Tergambar
dengan jelas dalam rekaman itu sang agamawan telah gagal
dalam mempertahankan
keyakinannya.
Seusai
menyimak rekaman itu, saya bertanya
pada diri
sendiri, “jika
seorang agamawan Kristen
yang ternama saja tak sanggup mempertahankan keyakinannya,
bagaimana pula dengan saya?” Saya
hanyalah seorang penganut
agama. Pada saat itu keyakinan sayapun
mulai
runtuh. Seolah saya baru
saja menelan kekalahan dalam pertempuran
besar dan
tidak tahu kemana
harus berlari
mencari bantuan
pertolongan. Tidak Ada Paksaan Dalam Agama
Suatu hari saya bermain Dart (paser-sasaran) dengan seorang
teman asal Filipina yang kebetulan juga seorang Muslim.
Ia bernama Radwan Abdus Salam, satu-satunya Muslim Filipina
yang saya kenal. Sambil beristirahat di sudut ruangan,
secara ringkas saya bertanya kepadanya tentang Islam sementara
teman-teman lain masih asyik bermain. Ia tidak menjawab
dengan penjelasan yang panjang lebar. Saya menemaninya
pulang ke rumahnya dan ia memberikan terjemahan Al-Qur’an
dalam bahasa Inggris kepada saya, juga beberapa brosur
perbandingan agama. Teman saya, Muslim Filipina itu, juga
tidak berusaha membujuk saya agar memeluk Islam.
Begitu
pula dengan orang-orang di Pusat Dakwah Islam, tak satupun
dari mereka yang pernah mencoba membujuk saya untuk menukar
keyakinan saya. Semua orang menyediakan informasi yang
saya butuhkan dan selanjutnya membiarkan saya memilih
sesuai hati nurani dan
akal pikiran saya sendiri.
Dengan cara
demikian inilah saya merasa nyaman berinteraksi dengan
orang-orang Muslim. Kalau saja mereka pernah memaksakan
pengajaran Islam kepada saya, tentu saya telah menjauhkan
diri dari mereka. Namun demikian, saya juga heran mengapa
pada dua tahun pertama saya berada di negeri Islam, Saudi
Arabia ini, tak seorangpun pernah membicarakan Islam
kepada saya.
Panggilan Kesadaran Hati
Nurani
Setelah melalui pembelajaran
dan penyelidikan secara
luas, menjadi jelaslah dalam akal pikiran saya mengenai
tiga hal;
(a) Yesus bukan Tuhan
(b) Bibel bukanlah kitab suci dalam format aslinya.
Telah terjadi pengubahan, oleh karena itu maka banyak
pertentangan
didalamnya. Sedangkan agama yang saya anut berdasarkan
atas keterangan didalam Bibel. Sayapun menjadi bimbang,
jika kitab
itu telah diubah-ubah, bagaimana saya dapat meyakini
bahwa ajaran agamanya benar? Jika saya berusaha memecahkan
pertentangan-pertentangan
yang ada, itupun akan menjadi lebih rumit lagi dan malah
membingungkan. Jadi, keyakinan Kristiani hanyalah sebuah
dogma; terima saja apa adanya tanpa berpikir ‘Jika/seandainya’ dan ‘Tetapi/Kalau
begitu’ perihal ajaran itu. Kerancuan ini mengakibatkan
sebuah tekanan dalam akal pikiran saya.
(c) Pernyataan “Tidak ada tuhan yang layak disembah
kecuali Tuhan Yang Esa” sangatlah sederhana, gamblang
dan sangat mudah dimengerti. Inilah yang menghilangkan tekanan
dalam benak saya dan membuat saya merasa sebagai orang yang
bebas merdeka. Rasa lapang dan nyaman ini membuat saya dapat
berulang kali ‘bercermin’ pada kalimat itu. Kalimat
itu bergema didalam diri saya ketika sedang di kamar maupun
pada waktu perjalanan jarak jauh didalam mobil saya. Biasanya
saya mendengarkan berbagai macam kaset yang saya beli di
Pusat Dakwah Islam sambil berkendaraan. Paham Keesaan Tuhan
kian waktu pun kian jelas bagi saya. Sebuah kekuatan dari
dalam diri saya berulang-kali membisikkan agar saya segera
mengambil keputusan menurut kesadaran hati nurani. Kebenaran
telah nampak begitu jelas dalam akal pikiran saya sehingga
saya tidak peduli lagi tentang apa yang bakal dilakukan oleh
teman-teman dan keluarga saya atas keputusan yang saya ambil.
Hal yang ingin saya ketahui hanyalah, bagaimana caranya menjadi
seorang Muslim. Maka, pergilah saya menuju Pusat Dakwah Islam
Aqrabiyah yang berada di Al-Khobar untuk menyatakan menerima
Islam.
Ketika
saya memasuki gedung itu,
kuliah Islam sedang berlangsung
di beberapa ruangan, masing-masing
dalam bahasa
pengantar yang berlainan. Saya bergabung di ruangan
kelompok Filipina. Kuliah
disampaikan oleh Akhi Fareed
Oquendo. Seusai
kuliah, saya bertanya kepadanya, “Bagaimana cara seseorang
untuk menjadi Muslim?” Ia balik bertanya, “Adakah
kamu ingin menjadi seorang Muslim?” Dengan mantap saya
jawab, “Ya, benar sekali!”
Ketika
itu, semua orang terperanjat
karena saat itu baru pertama
kali saya
mengikuti kuliah Islam di pusat dakwah ini. Fareed
pun bertanya, “Yakinkah
anda bahwa benar-benar anda ingin menerima Islam? Sudahkah
kamu cukup mempelajari perihal Islam?” Saya menjawab, “Ya,
saya telah mempelajarinya.” Lagi-lagi saya terheran-heran
bahwa tak seorangpun memaksa saya ataupun berupaya mengatakan
agar saya memeluk Islam.
Kemudian,
disini saya kebetulan berjumpa
dengan seorang akhi asli
Saudi. Ia katakan kepada
saya, “Wajah anda menampakkan bahwa anda seorang Muslim.” Maka
Akhi Fareed mengumpulkan semua peserta kuliahnya, kemudian
ia meminta saya, “Silahkan anda tirukan apa yang diucapkan
akhi Saudi kita ini dalam bahasa Arab.
Kalimat
itu nanti akan diulang
dalam bahasa Inggris yang
menyatakan bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah Yang Esa, dan bahwa Nabi
Muhammad SAW adalah utusan-Nya.
Pernyataan sederhana inilah
yang menjadikan
anda seorang Muslim.” Seusai upacara ringkas dan sederhana
ini semua peserta berbaris dan memeluk saya satu per satu
dan memberikan ucapan selamat dari lubuk hati mereka yang
terdalam. Mereka semua mengumandangkan takbir dengan lantang
dan berulang-ulang, Allahu Akbar… Allahu Akbar…!!!
Yang artinya, Allah Maha Besar… Allah Maha Besar.
Joe menguraikan saat-saat
terjadinya peristiwa
itu kepada saya dengan berlinang air-mata bahagia,
Ia
katakan, “Tak
pernah saya berharap peristiwa semacam itu terjadi terhadap
diri saya. Kenangan masa lalu yang manis dan penuh kedamaian
ini selalu menyentuh sanubari saya. Segala puji hanyalah
bagi Allah, karena Dia-lah maka syeitan telah tak sanggup
lagi menakut-takuti saya untuk mengucapkan ikrar menjadi
seorang Muslim, dengan kekhawatiran atas reaksi yang mungkin
timbul dari teman-teman dan keluarga saya.”
Memilih Nama Islami
Setelah ber-syahadat,
yaitu ikrar menerima
Islam, Akhi Fareed bertanya, “Sudah adakah nama Muslim yang anda pilih
untuk anda?” Saya berkata dalam hati kepada diri sendiri,
bahwa saya akan mengenakan nama seorang Muslim yang pertama
kali membicarakan Islam dengan saya pada waktu saya mengunjungi
pusat dakwah ini. Orang yang saya maksud ini berpembawaan
amat sopan, meyakinkan dan cakap dalam menjelaskan.
Ia telah memberi kesan
baik kepada saya
dengan sikapnya,
penyajian yang ringkas,
dan keterangan
yang tepat.
Sayang sekali saya tidak tahu namanya,
tetapi saya mengenali
orang yang dulu saya bersikukuh untuk membayar
beberapa buku
dan kaset yang saya pilih. Saya bertanya
kepadanya, “Siapakah
nama orang yang dulu sempat berbicara dengan saya setelah
saya membeli buku dari anda?” Ia berkata, “Oh…saya
ingat, beliau adalah Syeikh Saleh!” Maka saya katakan
kepada mereka bahwa mulai saat itu nama saya adalah Saleh.
Akhi Fareed kemudian menyuruh saya pulang, mandi dan berdo’a
ke hadirat Allah, menyampaikan rasa syukur saya kepada-Nya.
Shalat Pertama
Malam itu saya mandi
dan kemudian saya tidur
dengan nyenyak. Pagi
hari, saya pergi
ke
masjid untuk
melaksanakan shalat
Subuh. Saya malu untuk masuk kedalam
masjid karena tidak tahu
apa yang musti saya lakukan.
Seorang
akhi asal Sudan
melintas dekat saya dan menangkap keraguan
saya. Ia pun berkata kepada saya, “Ayolah masuk. Apa gerangan yang menghentikan
langkahmu?” Saya katakan kepadanya, “Baru semalam
saya menjadi seorang Muslim. Saya tidak tahu bagaimana cara
shalat.” Ia berkata, “Masuklah, akan saya tunjukkan
kepadamu.” Ia terangkan bagaimana cara membersihkan
diri di toilet, kemudian ia tunjukkan kepada saya cara berwudlu’.
Kemudian ia menambahkan, “Ikuti saja kami dalam shalat,
dan panjatkanlah do’a di akhir shalat.” Ketika
pertama kali saya pada posisi sujud, dimana kening menyentuh
lantai sambil berlutut; Saya merasa nikmat luar biasa, suatu
perasaan yang tak dapat saya ungkapkan lagi dalam kata-kata.
Saya selalu memohon kepada Allah agar memberikan lagi rasa
nikmat sujud saya yang pertama itu. Sejak hari itu, saya
telah mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari.
Pendidikan Islam
Saya pun mulai datang
ke Pusat Dakwah Islam
secara teratur setiap
malam. Saya
belajar
huruf Arab,
bagaimana menulis
dan membacanya. Tahap demi tahap, saya
pun mulai membaca Al-Qur’an. Sasaran utama dalam hidup saya kala itu
adalah belajar bagaimana saya dapat membaca Al-Qur’an
dengan benar dan lancar. Saya juga mempelajari Rukun Islam
dan Rukun Iman secara terperinci. Kuliah umum yang berlangsung
memberikan banyak inspirasi. Pengajar kami akhi Ahmad Ricalde.
Caranya menyampaikan kuliah menarik dan menyenangkan. Saya
tak ingin terputus dari kegiatan pendidikan ini. Maka, saya
pun menunda liburan saya untuk berkunjung ke orang-tua dan
tanah kelahiran saya. Diantara pengetahuan yang saya peroleh,
menjadi jelas bagi saya bahwa keterlibatan dalam segala bentuk
riba (tambahan/bunga pinjaman) tidak diperbolehkan; alias
haram; dalam Islam. Islam juga melarang makanan yang dibuat
dengan tujuan persembahan kepada selain Allah.
Saya
mencerna semua pengajaran
Islam dengan sungguh-sungguh
dan berusaha
sebaik mungkin untuk menaatinya.
Saya puas dan sangat bangga
dengan cara hidup saya yang Islami.
Namun, rekan-rekan dan
teman serumah belum mengetahui
perubahan besar yang telah
terjadi pada diri saya ini.
Sebuah Peristiwa Lucu
Suatu hari Penyelia kami,
Abdullah, menugaskan
kami bekerja di tempat
yang jauh. Rencananya,
kami akan
pulang dulu
ke rumah, makan siang, dan baru
menuju
ke tempat tugas. Saya
menyelinap memisahkan diri untuk
mengambil wudhu’ dan
mengerjakan shalat. Sesudah wudhu’ saya bergegas menjumpai
Abdullah. Ia melihat tangan dan wajah saya masih basah. Ia
pun bertanya, “Kenapa kamu (basah-basah) begini?” Saya
katakan padanya bahwa saya baru selesai wudhu dan akan mengerjakan
shalat. Ia pun bertanya, “Apakah kamu seorang Muslim?” saya
jawab, “Ya!” Ia begitu
gembira. Ia katakan agar saya tidak
pergi ke proyek dan menemuinya
sesudah shalat.
Abdullah menelepon keluarganya
menyampaikan berita yang mengejutkannya.
Ia mengajak saya ke rumahnya dan
disana ia merayakan keislaman saya
dengan seluruh keluarganya. Segera
saya merasa menjadi
bagian dari keluarga mereka.
Reaksi Teman-teman
Waktu itu saya tinggal bersama
dengan lima orang Filipina lainnya
di sebuah
rumah.
Setiap kamar
dihuni dua orang.
Saya berbagi kamar dengan teman
dekat yang sekaligus teman sekelas
di kampus. Kami semua memasak
untuk
makan siang dan makan malam bersama-sama.
Dua
kejadian kecil berlangsung
ketika
itu.
Teman-teman saya sedang
merayakan Tahun Baru
maka disiapkanlah
makan malam
yang mewah.
Saya pun diundang
untuk makan
malam bersama mereka. Namun,
saya memberi syarat untuk kehadiran
saya disana. Saya meminta mereka
tidak melakukan do’a
bersama sebelum mulai makan seperti
yang biasa dilakukan dalam keyakinan
Kristiani. Mereka melanggar janji
pada saatnya
tiba, maka saya meninggalkan
acara makan bersama itu.
Kejadian
kecil serupa terjadi lagi.
Seperti yang pernah saya
ceritakan
sebelumnya,
kami biasa
bersantap siang
bersama-sama. Tetapi saya
selalu
menyelinap dari kelompok
untuk mengerjakan shalat
Dzuhur terlebih
dahulu sehingga
agak terlambat bergabung
dengan mereka. Suatu
hari saya terlambat
lebih lama dari
biasanya. Mereka telah menyelesaikan
makan siang. Hanya teman
sekamar saya saja yang masih
tinggal. Ia bertanya kepada
saya sambil
bercanda, “Apa kamu juga shalat dulu?” Saya
katakan kepadanya,”Kamu sungguh membuat saya tersudut.
Ya,
saya baru saja shalat?” Ia kembali bertanya, “Kamu
hanya berolok-olok kan?” Saya menjawab sungguh-sungguh, “Saya
seorang Muslim.” Maka
diberitakanlah hal ini olehnya
kepada teman-teman
Filipina yang lain. Hal ini
mengakibatkan perubahan besar
dalam pertemanan
saya dengan teman-teman
serumah.
Mereka
Semua berkumpul di kamar
saya dan pertanyaan
yang terucap
dari
mereka adalah,
apakah saya
telah meninggalkan
agama saya. Selanjutnya,
mereka mengajukan pertanyaan
yang
lazim diajukan orang-orang
terhadap Mualaf.
Apakah Islam
itu? Bagaimana kamu mengenal
Islam? Apapun yang mereka
tanyakan, saya
membuka buku-buku
saya
dan saya bacakan
jawabnya kepada
mereka. Inilah pengalaman
pertama saya menerangkan
Islam kepada
orang lain.
Mereka pun berupaya
mengajak saya
kembali kepada agama
Kristen. Saya menjawab
pertanyaan-pertanyaan
mereka secara baik-baik
tanpa menyinggung perasaan
mereka sedikitpun.
Akhirnya,
seorang
diantara mereka menutup
kitab
Bibelnya dan berkata
kepada saya, “Apa sebenarnya yang
kamu coba buktikan?” Saya katakan kepada mereka, “Adalah
jelas disini bahwa Islam adalah agama yang benar. Dan Jelas
pula bahwa Yesus (alaihissalam) bukan Tuhan tetapi adalah
Utusan (Rasul) Allah.” Maka
akibatnya mereka pun
pergi meninggalkan saya
karena
kecewa.
Sejak
itu, Tak ada lagi
diskusi diantara
kami. Mereka selalu pergi
bersama-sama
melakukan kegiatan
mereka. Saya ditinggalkan
sendirian. Karena
itu, saya mulai mencari
teman
saya, Filipina Muslim,
Abdus
Salam.
Namun ia telah pindah
rumah. Dengan menghubungi
beberapa
kenalan, saya dapat
menemukan alamat rumahnya
yang
baru,
maka saya pun
mengunjunginya.
Abdus
Salam baru saja
kembali dari menunaikan
ibadah
Haji.
Saya ucapkan salam
kepadanya. Ia terperanjat.
Saya katakan kepadanya
bahwa saya telah
memeluk
Islam dan mengajaknya
berbagi
kamar agar kami
bisa menjalani kehidupan
Islami. Teman sekamarnya
waktu itu seorang
Non-Muslim, maka ia mencari
apartemen
baru
dan kamipun segera
pindah kesana. Kami bersahabat
dan menikmati
kehidupan kami
di
tempat
itu. Kami biasa
mengunjungi Pusat Dakwah
Islam
bersama-sama untuk
memperoleh pendidikan
Islam dan memperkaya
keIslaman
kami. Kami tolong-menolong
satu sama lain
sebagai saudara yang
sejati.
Impian Menjadi
Kenyataan
Waktu itu guru
kami untuk membaca
Al-Qur’an di pusat
dakwah bernama Bp. Muhammad. Seorang Akhi asal Mesir yang
sudah usia pertengahan. Pekerjaan ini ia lakukan dengan sukarela.
Pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai pesuruh kantor purna-waktu
disebuah perusahaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu
hari saya dan Abdus Salam membalas kunjungan keakraban ke
rumahnya. Ternyata beliau tinggal disebuah kamar yang sangat
sempit dan kumuh. Kami lihat berbagai kaset Al-Qur’an
terletak diberbagai rak memenuhi satu sisi dinding kamarnya.
Kami menyarankan agar beliau bersedia tinggal bersama kami,
tanpa harus ikut membayar apapun. Namun kami memintanya berjanji
mengajarkan Al-Qur’an kepada kami. Dengan penuh semangat
beliau menerima tawaran kami. Kami diajari membaca Al-Qur’an
setiap hari seusai shalat Subuh. Dengan demikian kami belajar
membaca Al-Qur’an dari seorang Qori’ (pembaca
Qur’an) Profesional. “Puji
syukur kepada-Mu ya Allah,
impian kami telah menjadi
kenyataan.”
Kesenangan Saya
Saya mempunyai
hobbi (kesenangan)
bermain
gitar sambil
bernyanyi sejak
masih
di sekolah dasar.
Saya pun
pernah belajar
memainkan piano
ketika di sekolah
lanjutan. Saya
membawa
gitar dan harmonika
milik saya
ke Saudi Arabia.
Saya juga
memiliki koleksi
rekaman musik
dalam bentuk
kaset-kaset
yang
bermutu
tinggi. Lebih
dari itu saya
juga seorang
perokok
berat.
Saya berhenti
merokok
tanpa paksaan
segera setelah
saya memeluk
Islam.
Suatu
hari saya
melihat seseorang
sedang
merokok di
tempat kerja
saya. Lidah
saya seketika
bergairah
tergoda untuk
mencicipi
sebatang rokok.
Namun saya
tak jadi
menyentuh
sebatangpun karena rasa
takut
saya kepada
Allah Yang Maha
Besar. Saya
pun menjual gitar
dan koleksi
kaset musik
yang saya miliki
dengan harga
murah karena
keinginan
yang begitu
kuat untuk
segera menyingkirkan
benda-benda
itu. Seseorang
menginginkan
harmonika
saya. Saya katakan
kepadanya
itu boleh
diambilnya
dengan cuma-cuma. Setelah
itu, saya
memiliki
lebih banyak
waktu untuk
saya curahkan
pada pertumbuhan
keIslaman
saya.
Kunjungan
Pertama
Ke Orangtua
Saya telah
merencanakan
untuk pulang
ke Filipina
selama
liburan.
Abdus-Salam
memberitahukan
bahwa istri
dan
anak-anak
perempuannya
telah memeluk
Islam,
maka ia
menyarankan
hendaklah
saya
mengunjungi
keluarganya
selama
berada
di Filipina
untuk andil
memberikan
pendidikan
Islam
kepada
keluarganya.
Sesampai
di Manila,
saya
disambut oleh
kedua
orangtua saya.
Dulu
pendeta kami mengajarkan,
agar
bila
anak
menjabat tangan
orangtuanya
meletakkan
tangan
mereka
ke dahi
kami
sebagai
penghormatan.
Sewaktu
saya
berjumpa dengan
kedua
orangtua saya
di bandara,
saya
tidak melakukan
hal itu
lagi.
Justru saya yang
mengecup
kening
mereka.
Mereka
pun
amat
terperanjat. Namun
kami
melanjutkan perjalanan
pulang
ke
rumah
dengan penuh semangat.
Ayah
saya
seorang
purnawirawan
militer,
tampang
serius
selalu
nampak
di
wajahnya. Namun
ia
seorang yang
dapat
menyimpan
sikap
kerasnya.
Ibu
saya
lulusan
perguruan
tinggi
dan
bekerja
sebagai
guru.
Biasanya
saya
merasa
lebih
mudah
membicarakan
sesuatu
dengan
Ibu.
Maka
saya
katakan
kepadanya, “Saya
telah menjadi seorang Muslim, saya tidak boleh makan daging
babi.” Hal
ini
merupakan
kejutan
besar
untuk
kedua
orangtua
saya.
Mereka
katakan
bahwa,
mereka
telah
persiapkan
iga
babi
khusus
untuk
menyambut
saya.
Itu
merupakan
menu
yang
sangat
spesial
di
Filipina.
Bukanlah
hal
tabu
jika
Joe
menceritakan
pengalamannya
soal
iga
babi,
Sewaktu
saya
menjadi
guru
matematika
di
Amerika,
para
siswa
saya
biasa
menanyakan
perbedaan
Islam
dan
Kristen,
saya
pernah
menjawab, “Salah satunya adalah, Muslim
tidak makan daging babi.” Salah seorang dari mereka
nyeletuk, “Tuan Ahmad, tidakkah anda tahu yang anda
lewatkan? Yaitu, iga babi panggang yang sangat lezat!” setelah
celotehnya itu, seisi kelas mengikuti dengan tawa riuh dan
sempat menyelipkan lagi kata-kata, “Pak
Ahmad
tidak
tahu
apa
yang
ia
lewatkan.”
Keimanan
Saleh alias
Joe begitu
kuat. Dengan
mudah ia
meninggalkan makan
daging
babi dan
produk-produk yang
mengandung
babi. Ia
juga mengatakan
kepada saya, “Orang
tua
saya
tak
ada
pilihan
lain
lagi
kecuali
menyajikan
makanan
yang
Halal
bagi
Muslim.”
Selama
berada di
Filipina, saya
coba untuk
mengenalkan ajaran
Islam kepada
kedua orangtua
dan sanak
saudara saya.
Saya terlalu
bersemangat dan
menginginkan mereka
dapat melihat
kebenaran dalam
waktu singkat.
Hal ini
menyebabkan banyak
perdebatan dan
suasana rumah
menjadi penuh
ketegangan selama
saya berada
di sana.
Saya
adalah
pendakwah tak
berpengalaman yang
ingin cepat
menuai hasil.
Kini saya
sadari bahwa
saya telah
melakukan pendekatan
yang salah.
Saya sangat
menyesali kejadian
itu sebab
saya telah
menempatkan mereka
pada keadaan
yang teramat
mengusik perasaan
akibat pendekatan
saya yang
salah. Terlebih
lagi, keberhasilan
mereka memperoleh
hidayah adalah
semata-mata atas
Kehendak Allah
dan bukanlah
atas kepiawaian
pendakwah. Jadi,
seorang pendakwah
hendaknya tidak
merasa kecewa.
Saya
lakukan juga
kunjungan kepada
keluarga Abdus
Salam dan
berbagi pengetahuan
Islam saya
yang masih
sedikit. Sekembali
saya ke
Saudi Arabia,
saya sarankan
kepada Abdus
Salam agar
memindahkan tempat
tinggal keluarganya
ke dekat
Pusat Dakwah
Islam di
Cavite City
didekat Manila.
Dengan demikian
keluarganya akan
lebih mudah
memperoleh pengajaran
Islam dan
lebih mudah
juga bagi
mereka untuk
menerapkan ajaran
Islam di
lingkungan yang
Islami. Abdus
Salam setuju
dengan gagasan
ini dan
memindahkan keluarganya
tinggal di
dekat pusat
dakwah itu.
Kunjungan
Ke-dua ke
Filipina
Tahun
berikutnya, saya
dan Abdus
Salam berkunjung
ke Filipina
dalam waktu
yang bersamaan.
Saya sangat
gembira melihat
keluarganya telah
mendapatkan banyak
pendidikan Islam.
Saya dapati
mereka, istri
dan anak-anak
perempuan Abdus
Salam, telah
mengenakan busana
Muslimah dan
menunjukkan kemajuan
yang sangat
besar dalam
menerapkan ajaran
Islam. Begitu
besarnya kemajuan
itu sehingga
Abdus Salam
meminta saya
menikahi seorang
putrinya. Saya
katakan bahwa
saya akan
segera memberi
jawaban. Sayang
sekali suasana
di rumah
saya masih
penuh ketegangan
sehingga saya
tidak dapat
kembali berkunjung
ke keluaraga
Abdus Salam
tepat waktu.
Ia telah
kembali ke
Saudi Arabia.
Maka saya
sampaikan kepada
istrinya bahwa
saya setuju
dengan permintaannya
untuk menikahi
putri mereka,
namun saya
minta waktu
setahun lagi
untuk pelaksanaannya.
Saya
menelepon
Abdus Salam
di Madinah
al-Munawarrah, Saudi
Arabia, dan
menerangkan kepadanya
alasan saya
tidak dapat
menemuinya sebelum
ia berangkat
meninggalkan Filipina.
Juga saya
katakan kepadanya
bahwa saya
menyetujui permintaannya
dan, Insya
Allah, pernikahan
dilangsungkan tahun
depan.
Berdialog
Dengan Pastor
Ibu
saya berusaha
sekuat tenaga
untuk mengembalikan
saya kepada
agama Kristen.
Ia mengundang
seorang pastor
ke rumah
kami dan
saya berdialog
panjang lebar
dengannya. Pastor
itu gagal
meyakinkan saya.
Tanpa
putus asa,
ibu mengundang
lagi pastor
yang lain,
beliau duduk
bersama kami
mendengarkan
kami
saling berargumentasi,
Ayah saya
sedang menyiram
tanaman didekat
kami berdialog
dan bersamaan
dengan itu
juga memasang
telinga mengikuti
percakapan kami.
Saya menjawab
sang pastor
dengan merujuk
pada buku-buku
perbandingan
agama
yang saya
miliki. Ia
tidak memiliki
sanggahan yang
kuat. Iapun
pergi sambil
berjanji akan
kembali lagi
dengan mengajak
pastor yang
lebih senior.
Saya katakan
kepadanya, “Saya dengan senang hati menantikan
kedatangan anda berdua.” Tetapi mereka tak kunjung
datang. Ayah menghampiri Ibu dan berkata, “Anakmu mempunyai
pengetahuan yang lebih banyak dari pastormu.” Dengan
rendah hati saya berkata kepada Ayah, “Mungkin mereka
perlu mengumpulkan dahulu fakta-kata dan data.” Saya
katakan hal
ini agar
Ibu tidak
terluka perasaannya
karena pastor
itu dari
gerejanya dan
pengajar agama
beliau.
Prioritas
Hidup
Prioritas
hidup saya
saat itu
bukanlah pernikahan.
Tujuan utama
saya adalah
meninggalkan pekerjaan
di bank.
Saya mencari
saran dan
masukan dari
para ulama.
Saya sangat menghargai
nasehat
mereka yang
sangat mengagumkan.
Mereka katakan, “Lakukan
dengan sungguh-sungguh dan tulus mencari pekerjaan yang lebih
cocok untukmu, tapi jangan dilepas dulu pekerjaan yang sudah
ada sekarang. Kalau kamu tinggalkan pekerjaan yang sekarang,
maka kamu harus pergi meninggalkan Saudi dan kami akan kehilangan
kamu. Carilah pekerjaan yang baru dan lakukanlah perubahan
sesegera mungkin.” Saya
mulai mencari
lowongan pekerjaan
di koran
lokal. Saya
temukan lowongan
kerja untuk
operator mesin
Fax. Saya
pun datang
untuk wawancara.
Pewawancara
bertanya
mengapa saya
tinggalkan pekerjaan
yang gajinya
lebih besar.
Saya katakan
bahwa alasan
saya sepenuhnya
bersifat pribadi.
Ia katakan
bahwa saya
melampaui kualifikasi
yang dibutuhkan,
karena itu
mereka tak
dapat mempekerjakan
saya.
Sebuah
perusahaan lain
sedang membutuhkan
beberapa teknisi
penunjang (support
engineer). Lagi-lagi
gaji yang
ditawarkan lebih
kecil dari
yang saya
terima saat
itu. Saya
hadir untuk
wawancara dan
saya katakan
kepada mereka
bahwa saya
tidak mempermasalahkan
gaji. Yang
saya butuhkan
adalah sebuah
perubahan pekerjaan
untuk alasan
yang bersifat
pribadi. Saya
diterima bekerja
dan pindahlah
saya ke
tempat kerja
yang baru.
Ini adalah
sebuah berkah
teramat besar
yang tersembunyi.
Sebab, ternyata
saya mulai
bekerja sebagai
teknisi pemeliharaan
pada salah
satu dari
dua tempat
yang teramat
suci di
muka bumi
ini, yakni
di Masjid
An-Nabawi, Madinah,
Saudi Arabia.
Pernikahan
Islami
Setahun
telah berlalu,
saya dan
Abdus Salam
berkunjung ke
Filipina bersama-sama,
dan pernikahan
saya
pun berlangsung.
Saya jelaskan
kepada kedua
orangtua saya
dan para
sanak-saudara
bahwa
pernikahan kami
dilaksanakan
secara
Islam. Mereka
bersedia ikut
ambil bagian
dalam acara
itu. Acara resmi
pernikahan
hanya memakan
waktu lima
menit. Setelah
usai acara
resmi itu, saya
katakan kepada
orangtua saya
bahwa upacara
pernikahan telah
selesai.
Nenek saya
berkomentar dengan
lantang, “Belum
pernah saya menyaksikan mempelai lelaki dan perempuan dipersandingkan
seperti dengan cara pernikahan Kristen.” Ibu
saya membisikkan
kepadanya
bahwa
ini pernikahan
secara Islam.
Kedua orangtua
saya menjadi
lebih pengertian
sesudah
itu.
Saya masih
tinggal
di
Filipina
sampai
beberapa
hari
di bulan
Ramadhan.
Ibu
memasakkan
makanan
buka puasa
untukku.
Seusai
liburan saya
kembali ke
Madinah, istri
saya pun
ikut serta.
Selanjutnya, Allah
telah mengaruniai
kami dengan
dua orang
putri, kami
namakan mereka
Safa dan
Marwa.
Kini,
saya telah
memiliki pekerjaan
purna-waktu, dan
saya juga
giat di
Pusat Dakwah
Islam di
Madinah sebagai
sukarelawan yang
membantu para
Mualaf (mereka
yang baru
memeluk Islam).
Semoga Allah
menerima amaliyah
yang saya
lakukan dengan
penuh kerendahan-hati
dan mengokohkan
iman saya,
dan menjadikan
istri dan
anak-anak saya
hamba-hambanya yang
taqwa.
Akhi
Saleh suka
berbagi pengalaman
dan berhubungan
dengan para
Mualaf ataupun
Non-Muslim. Ia
dapat dihubungi
di alamat
e-mail berikut:
saleh_echon@hotmail.com
|