|
“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
PENDAHULUAN
Dua puluh enam tahun bermukim di Amerika Serikat, telah
saya dapatkan keleluasaan sekaligus kesempatan yang berharga
untuk banyak bergaul dengan para warga Muslim Amerika, baik
secara perorangan maupun juga bersama-sama keluarganya. Pengalaman
ini begitu mengilhami dan semakin memperkuat iman didalam
dada saya. Saya akui, seperti juga para imigran Muslim lain
di sana, saya jalani kehidupan sebagai seorang Muslim dengan
lebih baik daripada ketika kami masih berada di negri sendiri.
Keadaan ini terdorong oleh para Mualaf (muslim baru) setempat
yang patut saya banggakan dan hargai. Sebagian besar mereka,
dibanding diri saya sendiri, sangat tinggi pengetahuannya
tentang Islam dan, begitu pula pengamalan ajaran Islam. Semoga
Allah SWT memberi saya kesempatan mengejar kertertinggalan
saya dari mereka.
Sebagian besar dari para insan Muslim yang kisahnya disajikan
disini merupakan anggota masyarakat Muslim biasa-biasa saja
di Amerika Utara. Namun apa yang telah mereka lakukan itu,
saya rasakan adanya pengaruh yang amat besar terhadap diri
mereka sendiri dan orang-orang disekeliling mereka. Kepahlawanan
itulah, walaupun bersifat lokal, perlu untuk kita kenali.
Ini merupakan perubahan positif ditataran akar-rumput masyarakat
Amerika, yang membuat heran bahkan mengagetkan para penganut
agama lain disana. Sebagai contoh, banyak dari para narapidana
yang sangat kejam telah berubah menjadi warga negara berperilaku
baik dan anggota masyarakat yang cinta damai, setelah mereka
menerima Islam dalam kehidupan mereka. Para mualaf Amerika
ini adalah cahaya hidayah bagi Muslim dan Non-Muslim. Diam-diam,
mereka telah menghiasi masyarakat Amerika dengan perilaku
mereka yang amat mengesankan.
Pada
waktu itu saya adalah guru matematika di sebuah Sekolah
Negeri di Maryland. Menjadi guru adalah pekerjaan yang
menguras tenaga dan pikiran. Banyak guru
yang menjadi sangat kelelahan karenanya. Biasanya para anggota Departemen
Matematika mengadakan acara makan siang bersama seluruh
anggota pada akhir semester. Kami
menamakan acara ini “Proses Pengenduran”. Kami selalu menghidangkan
masakan yang kami masak sendiri, yang dikenal dengan nama Sloopy Joe, daging
sapi giling yang dimasak dengan saus tomat dan cabai halus. Hidangan ini dimasak
di Departemen kami menggunakan pemasak yang diatur lambat pemanasannya. Rekan-rekan
kami sangat menyukai ‘sloopy joe’ ini. Suatu kali, saya mengumumkan
keras-keras bahwa sayalah yang akan menyediakan daging sapi giling untuk acara
mendatang. Semua rekan sangat setuju. Ketika waktunya telah tiba, saya terlibat
percakapan yang sangat berharga dengan seorang kolega; Namanya Cindy; ia beragama
Yahudi. Dalam pembicaraan itu saya mengatakan kepadanya, “Tidakkah kamu
merasa beruntung aku bawakan daging sapi giling untuk kita semua, yang halal
bagi kita berdua?” Diluar dugaan, ia menjawab, “Tuan Ahmad, saya
ini bukan Yahudi yang taat, bahkan saya pun memakan daging babi.” Maka
saya pun tidak melanjutkan membahas hal ini agar terhindar dari hal yang
peka.
Cindy
dan saya memiliki perhatian yang sama dalam hal perumahan
karena kami berdua juga sama-sama berprofesi sebagai Tenaga
Penjualan Perumahan
yang
terdaftar. Cindy bekerja pada kantor perantara penjualan real-estate
milik suaminya. Ia
mengatakan bahwa keadaan pasar real-estate cukup baik. Ia pun menceritakan
bahwa ia harus lebih sering mengurusi usaha suaminya itu, mengingat bahwa
suaminya adalah seorang Perwira berpangkat Kolonel yang berdinas di Pentagon;
Markas
Besar Militer Amerika Serikat. Saya katakan kepadanya, “Cindy, kenapa
kamu tidak pernah muncul bertugas dalam kegiatan sore di sekolah kita, seperti
acara pertandingan bola basket ataupun kegiatan olah raga yang lain?” Iapun
menjawab dengan nada berani, “Kepala Sekolah tidak bisa mewajibkan
saya mengerjakan tugas itu karena saya harus mengantarkan anak-anak saya
dan juga
anak-anak tetangga saya ke Sekolah Ibrani (sekolah agama Yahudi) tiga
kali seminggu di hari kerja. Ini merupakan kegiatan tambahan diluar kegiatan
rutin pelayanan keagamaan. Saya lakukan ini secara sukarela sejak beberapa
tahun
terakhir.”
Betapa Cindy telah mengejutkan saya. Diam-diam, Sayapun berbicara kepada diri
sendiri; perhatikanlah perempuan muda ini. Ia seorang guru purna-waktu yang
setiap hari kerja menyetir mobil sendiri menempuh perjalanan dari rumah ke
sekolah selama empat puluh lima menit sekali jalan. Selain itu ia masih bekerja
paruh-waktu sebagai agen penjualan real-estate. Diluar itu semua, ia adalah
seorang perempuan berkeluarga lazimnya, yang lengkap dengan kehidupan rumah-tangga
dan kegiatan sosial. Sungguhpun begitu ia masih sanggup meluangkan waktu dan
mengikatkan-diri (berkomitmen) dengan sukarela melayani kegiatan sekolah agamanya.
Walaupun begitu, ia masih menganggap dirinya sebagai pemeluk Yahudi yang buruk.
Sayapun mulai mempertanyakan, adakah komitmen pribadi saya, dan orang-orang
di sekitar saya yang merasa telah menjadi Muslim yang shalih. Semoga Allah
SWT mengokohkan Iman dan Amaliyah kami sebagai Muslim. Amiin.
Imtiaz
Ahmad, Madinah Al-Munawwarah, Juni 2002
|