netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“How Islam Touched Their Hearts”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


Pengantar Khusus

Bab ini merupakan pengantar khusus untuk bagian ke-dua dari buku ini.
Para agamawan Non-Muslim yang berfikiran terbuka bahkan mengakui terdapat banyak prasangka yang diciptakan dan dilestarikan untuk menghadapi pengajaran Agama Islam. Ini terjadi hingga pada tingkat yang mampu membuat mental seseorang tidak dapat berfikir secara obyektif atas pengajaran Islam. Namun dengan menyingkirkan segala prasangka yang ada dalam benaknya, seseorang yang berupaya menemukan kebenaran akan tetap sampai kepada tujuannya yang mulia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya:

“ Dan bagi orang-orang yang bersungguh-sunguh berjuang untuk (berjihad, mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta para muhsinin (orang-orang yang berbuat baik).” [Al Ankabut :69].

Sungguhpun demikian, orang-orang ini tidak menampakkan kesombongan ketika telah mencapai keberhasilan menemukan jalan-Nya. Mereka itu rendah hati (tawadlu’) sebagaimana juga disinggung dalam Al-Quran:

”… Mereka berkata, “Segala puji syukur bagi Allah, yang telah menunjukkan (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kami petunjuk. …” [Al A'araf : 43)


Hal kedua yang muncul dalam benak saya adalah bahwa, selalu saja ada kekuatan-kekuatan yang secara aktif mencoba membelokkan kebenaran. Hal ini telah berlangsung sejak lama sekali. Kekuatan itu muncul dengan metoda-metoda baru setiap masa. Namun demikian, Selalu saja Rencana Allah-lah yang lebih unggul, sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini:

“… Mereka memikirkan tipu-daya dan Allah menggagalkan tipu-daya mereka itu. Dan Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu-daya.” [Al Anfal :30]


Seorang sastrawan Urdu bertutur indah, “Allah telah meletakkan kelenturan dalam sifat Al-Islam. Semakin keras kamu berusaha merusaknya, semakin cepat Islam kembali kebentuk aslinya.”
Kebenaran tersebar luas melalui lompatan dan pantulan. Di setiap pelosok dunia, banyak individu dan keluarga yang kemudian memeluk Islam. Buku ini ini memuat beberapa contoh individu-individu tersebut. Dari kisah-kisah mereka nampak jelas sekali bahwa memaksakan orang lain untuk menerima Islam tidaklah diperkenankan. Melalui pengetahuan dan apresiasi adalah tiket untuk mencapai keberhasilan di dunia ini maupun di kehidupan mendatang (Akhirat).

Contoh-contoh dalam buku ini tidak hanya memperkuat bukti kebenaran, tetapi juga menjelaskan rintangan-rintangan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan. Kekuatan penghalang seperti, bisikan-bisikan Syeitan, keterikatan sosial budaya, dan kemarahan yang nampak di wajah teman-teman dan saudara-saudara membuat hidup terasa penuh derita. Namun, cita rasa manisnya kebenaran mengungguli kekuatan-kekuatan lain itu. Sang Mualaf telah mencapai kedamaian dan hidup harmonis, yang terpancar pada wajah, perbuatan, dan sikap dalam menghadapi kehidupan sehari-sehari.

Kisah-kisah selanjutnya adalah hasil dari wawancara pribadi saya dengan masing-masing individu mualaf itu di Madinah Al-Munawarrah beberapa tahun terakhir. Setelah perjumpaan saya dengan individu-individu ini, betapa saya sangat menghormati bulatnya keyakinan mereka terhadap Islam. Mereka adalah inspirasi yang amat besar bagi diri saya, dan tak dapat diragukan lagi, merekalah yang berperan sebagai cahaya hidayah bagi kemanusiaan.

Imtiaz Ahmad
Madinah Al-Munawarrah
Juni 2002