netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“How Islam Touched Their Hearts”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


Cahaya Hidayah Hadir Bersama Kelahiran Anak...

REHANA

Banyak berpindah-pindah merupakan kewajaran dalam pola kehidupan Amerika. Menurut perkiraan, rata-rata sebuah keluarga tidak pernah menetap di tempat yang sama lebih dari lima tahun. Menggunakan ukuran ini, keluarga saya pun termasuk dalam keluarga Amerika sejati. Kami berpindah dari Seattle ke daerah perumahan di pinggiran kota Los Angeles. California. Tetangga Muslim kami yang terdekat adalah akhi Abdul Wahab. Kami tidak hanya bertemu di Masjid setiap hari, lebih dari itu kami juga secara rutin berbagi secangkir teh. Suatu hari, Abdul Wahab bertutur panjang-lebar ihwal tantangan dan ujian yang dilaluinya menjelang ber-Islam-nya sang istri, Rehana. Berikut ini adalah kisah mereka:

“ Ketika menikahi Rehana, saya adalah seorang Muslim yang tidak menjalankan perintah agama, begitupun Rehana ia seorang Kristen yang tidak pernah menjalankan agamanya. Jarang sekali saya pergi ke masjid, begitupun ia tidak pernah pergi ke gereja. Saatnya pun tiba bagi kami dikaruniai keturunan oleh Allah SWT. Saya coba untuk membicarakan dengannya untuk pergi beribadah ke masjid. Terang-terangan ia menolak. Bahkan ia mengejutkan saya dengan mulai pergi ke gereja. Semakin sering saya mengajaknya ke masjid, semakin sering pula ia hadir ke gereja.”

“ Tak seorang lelaki pun yang bisa menang menghadapi perempuan.” Gumam Abdul Wahab, dan meneruskan cerita, “Maka sayapun menawarkan kompromi dengan penuh kelembutan dan kesantunan. Saya tawarkan, satu akhir pekan saya bersamanya hadir di gereja, dan akhir pekan berikutnya kami berdua hadir ke masjid. Ia menerima usul ini, walau dengan ogah-ogahan. Inilah cara yang bisa saya lakukan agar dapat memperkenalkan Islam kepadanya.”

“Saya sadari bahwa saya pun harus menjadi Muslim yang mempraktekkan ajaran Islam sebaik-baiknya. Berperilaku Islami di rumah maupun di lingkangan sekitar saya. Hanya itulah cara agar istri saya dapat menemukan dan menikmati nilai-nilai Islami. Maka saya perbaiki diri saya. Aspek menguntungkan dan merugikan dalam hubungan suami-istri tidak boleh dibiarkan terpendam dalam diri masing-masing, mengingat kami berinteraksi sangat dekat dalam keseharian, dari hari ke hari.”

“ Ini merupakan pola hidup yang baru sekaligus indah bagi diri saya. Harus berperan sebagai sosok yang menghasilkan nilai positif. Sedikit demi sedikit, lambat namun pasti, Rehana mulai memahami Islam melalui pengalaman positif di rumah dan di lingkungan masyarakat Muslim. Apresiasinya terhadap Islam, tumbuh dan berkembang dari hari ke hari. Dan, sampailah pada puncaknya, ia memeluk Islam. “Segala puji hanyalah bagi Allah!!... Alhamdulillah..!!”

Rehana yang sekarang lain dengan Rehana yang dahulu. Ia kini mengenakan kerudung penutup kepala merepresentasikan dirinya seorang Muslimah. Ia tak habis pikir mengapa banyak perempuan yang terlahir Muslimah tidak bersedia mengenakan pakaian penanda keIslamannya. Ia juga berkeinginan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan di Sekolah Islam yang berlangsung sehari penuh. Ia pun tetap melanjutkan menimba ilmu Islam bagi dirinya sendiri. Ia meminta suaminya membawakan salinan kuliah Fiqih (hukum) Islam yang diselenggarakan di Masjid oleh Dr. Muzammil Siddiqi, demi memperkaya kegiatan pendidikan dan pertumbuhan keIslamannya.


Pada tahap ini, masalah Abdul Wahab telah usai dan masalah Rehana baru saja dimulai. Rehana berjuang keras untuk belajar dan terus belajar tentang Islam. Apapun yang telah dipelajarinya, ia berusaha menerapkan karena ia rasakan kesesuaian ajaran Islam dengan hati nurani dan akal-pikirannya. Diserapnya nilai-nilai Islami dengan kepala-dingin. Setiap kami berkesempatan bercakap-cakap dengannya, kami dapati ia semakin baik sebagai Muslimah. Lebih baik dari mereka yang dilahirkan dalam keluarga Muslim. Kecintaannya terhadap penerapan ajaran Islam menjadi inspirasi bagi kami. Rehana sangat berterima-kasih kepada suaminya atas hadiah istimewa yakni membawa dirinya menjadi sosok muslimah yang penuh Iman dan nilai-nilai Islami

Orangtua Rehana tinggal di Chicago. Ber-Islamnya Rehana merupakan kejutan besar bagi mereka. Mereka bereaksi sangat menentang hal itu. Ayahnya bersikap kaku, kasar, dan terang-terangan tidak bisa menerimanya. Bahkan mereka berdua tidak lagi berkunjung ke rumah Rehana. Bagi Rehana, adalah kewajiban seorang anak untuk mengunjungi orangtuanya. Sambil berharap ia bisa mengajak orangtuanya ke Jalan Kebenaran. Biasanya ia kembali ke Los Angeles dalam keadaan begitu lelah setelah mengunjungi orangtuanya di Chicago. Anak-anaknya pun selalu dibawa serta bila ia berkunjung. Kakek-nenek mereka kaget dan kagum dengan begitu baiknya sikap dan perilaku cucu-cucu mereka, para Muslim belia itu. Jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam mereka mulai merasakan bahwa Islam tidaklah seburuk gambaran yang mereka dengar, sehingga mereka setuju untuk mengunjungi Rehana di Los Angeles.

Saya mengundang keluarga Abdul Wahab untuk makan malam, saya undang juga bapak-ibu Naseem. Ibu Naseem juga seorang mualaf berkebangsaan Amerika yang selalu mengenakan busana muslimah. Maksud saya mengundang juga mereka , agar kedua orangtua Rehana mengenal lebih banyak Muslim. Malam itu begitu menyenangkan sehingga kami berkumpul bersama hingga larut malam. Orangtua Rehana menjadi begitu ramah. Sekitar pukul satu dini hari, kami mengakhiri bincang-bincang kami. Kami berpisah satu sama lain dalam suasana hati yang nyaman.

Sampai disini kisah lain terjadi. Sementara Rehana dan keluarganya berjalan kaki menuju kediamannya, bapak-ibu Naseem harus mengemudikan mobil sejauh sekitar 20 Mil (setara 30 km) menuju tempat tinggal mereka di Riverside ditengah larutnya malam. Pada jam-jam seperti ini pengemudi mabuk adalah ancaman di jalanan. Mobil pasangan Naseem tertabrak mobil lain yang dikemudikan oleh orang mabuk, sedemikian kencangnya tabarakan itu sehingga pak Naseem dan istrinya terlempar keluar dari mobil mereka.

Pak Naseem tergeletak di tepi jalan tak sadarkan diri, sedangkan Bu Naseem menderita cedera tulang yang parah namun masih dalam keadaan sadar. Ia duduk disisi suaminya sambil terus menerus membaca Al-Qur’an yang dilantunkan dengan suara lantang. Pada saatnya, paramedispun tiba ditempat kejadian. Begitu mereka melihat bahwa korban kecelakaan dalam pakaian yang asing bagi mereka dan berbicara dalam bahasa yang asing bagi telinga mereka, pertanyaan pertama yang terucap dari paramedis itu adalah “Anda bisa berbahasa Inggris?” Maka Bu Naseem pun mengiyakan dan menjelaskan bahwa yang tadi diucakannya adalah ayat-ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Alhamdulillah, atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, setelah melalui perawatan berbulan-bulan di rumah sakit, mereka pulih seperti sediakala.

Orangtua Rehana ke Chicago setelah menginap beberapa hari. Rehana pun berharap suatu saat kelak kedua orangtuanya bisa menerima Islam. Suatu hari istri saya memberitakan bahwa Rehana sedang bersedih berurai air mata karena ibundanya sakit parah. Rehana khawatir ibu yang dicintainya wafat sebelum menerima Islam dan sebagai akibatnya akan menderita di Hari Kemudian. Malang tak dapat ditolak sang ibunda pun meninggal sebelum beriman.

Setelahnya, menjadi lebih sulit bagi dirinya untuk berbicara dengan sang ayah. Kami semua berusaha untuk membantu mengatasi keadaan ini. Abdul Wahab mengunjungi ayah mertuanya tanpa mengusik dengan pembicaraan serius. Ayah Rehana adalah teman saya juga, maka sayapun ingin ikut membantu.
Pada waktu itu saya telah pindah ke Detroit, Michigan. Saya menelepon ayah Rehana dan mengundangnya ke kediaman kami di Detroit yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya di Chicago. Namun sayang, kesan Detroit pada waktu itu dikotori oleh ulah bodoh sebagian oknum polisi kota itu. Karenanya meskipun senang dengan undangan saya, ayah Rehana mengatakan, “Imtiaz, tentu saja saya senang jika bisa bertemu denganmu, namun saya pun selalu berusaha sebaik-baiknya untuk tidak menyusuri jalanan Detroit seumur hidup saya.”
Semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi ayah Rehana kepada jalan yang lurus. Amiin.