“How
Islam Touched Their Hearts”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil.
(London)
Translated by Ir.
Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)
Cahaya Hidayah Mengantarnya Sebagai Syuhada
RENDA TOSHNER
Terlahir di Amerika Serikat dalam keluarga Turki, ia bukanlah
seorang lelaki mualaf, namun demikian ia tidak mengenal sedikitpun
tentang Islam sehingga ia menginjak usia remaja. Kisah hidupnya
memberi banyak pelajaran bagi kita.
Sebelum mengisahkan dirinya, terlebih dahulu saya akan awali
dengan memberikan gambaran tentang komunitas Turki yang bermukim
di sekitar Detroit, Michigan. Orang-orang Turki mulai bermigrasi
ke Amerika di tahun 1970-an. Kini generasi ke-tiga dari mereka
berkembang ke seluruh Amerika. Mereka memiliki pekerjaan
dengan tingkat profesionalisme tinggi dan juga banyak sebagai
pengusaha sukses. Sebagian besar dari mereka bermukim di
lingkungan permukiman orang berada di Detroit. Mereka mapan
disegi keuangan dan memiliki hubungan sosial yang baik dengan
orang-orang pemerintahan. Waktu itu saya baru diperkenalkan
kepada mereka karena saya ikut membantu beberapa kali pengurusan
jenazah yang mereka selenggarakan di masjid Tawheed Centre
di Farmington Hills, Michigan. Saya menjadi lebih dekat dengan
mereka ketika saya mulai diundang berkunjung ke rumah-rumah
mereka dan juga diundang untuk menghadiri Turkish Social
Club (= Kerukunan Masyarakat Turki) yang mereka dirikan.
Ternyata sebagai Muslim mereka telah melebur begitu rupa
kedalam masyarakat Amerika. Kecenderungan ini bukanlah hanya
terjadi pada masyarakat keturunan Turki, karena berbagai
imigran Muslim datang ke Amerika dari berbagai negri juga
meleburkan diri kedalam masyarakat Amerika sehingga kehilangan
jati-diri keIslaman mereka. Di lain pihak banyak juga Imigran
Muslim yang menjadi semakin baik keIslamannya setiba di Amerika
dibanding ketika masih di tanah air mereka sendiri. Bahkan
anak-anak mereka melebihi ketaatan orangtua mereka dalam
menjalani keIslaman mereka dengan dukungan faham kebebasan
beragama di Amerika.
Kedua orangtua Renda adalah anggota terpandang pada komunitas Turki Amerika
ini. Keduanya berprofesi dokter dan berkelimpahan secara materi. Jadi, Renda
terlahir dalam keluarga sangat berkecukupan. Namun kedua orangtuanya tidak
membesarkannya dengan pendidikan Islami.
Setelah lulus SLA Renda melanjutkan ke Universitas. Ia
tidak mengenal Islam sama sekali sampai kemudian
ia mulai berbaur dalam pergaulan dengan para mahasiswa
Muslim dari negara lain yang belajar di kampusnya. Amerika; termasuk juga
universitasnya;
menawarkan kebebasan memilih seluas-luasnya bagi masyarakatnya dan tidak
pernah ikut-campur dalam hal pilihan pribadi orang
per orang. Renda pada dasarnya
berpembawaan halus, maka pengajaran dan pengamalan Islam menarik hatinya.
Ia terkejut menyadari bahwa dirinya yang sesungguhnya
terlahir dalam keluarga
Muslim mendapati kehidupan keseharian keluarganya menjauhkan dirinya dari
pengetahuan dan pengamalan Islam. Ia pun belajar
dan belajar perihal Islam dari hari ke
hari dan berusaha untuk mengamalkannya.
Dalam hal perkuliahan, Ia tergolong mahasiswa yang sangat cerdas. Ia menekuni
bidang studi Arsitektur dan mampu menyelesaikannya dengan mudah. Selanjutnya
ia bergabung dengan firma arsitektur dalam rangka mempersiapkan diri untuk
ujian lisensi Arsitek. Biasanya seorang Arsitek butuh waktu bertahun-tahun
dan berkali-kali menempuh ujian untuk memperoleh lisensi. Renda yang sangat
pandai ini mampu memperoleh lisensi dalam sekali tempuh.
Begitupun dalam bertumbuh-kembangnya pengetahuan dan pengamalan keIslamannya
berlangsung dengan begitu Istimewa. Ia memetik manfaat yang amat besar
dari aktifitasnya di Masjid Anarbor dan masyarakat Muslim disana. Bersamaan
dengan
itu, orangtuanya yang telah pensiun memutuskan untuk kembali ke Turki,
melewatkan hari tua menetap di negeri asal mereka. Renda memilih untuk
tetap tinggal di
Amerika karena ia menyukai kehidupan masyarakat Muslim Anarbor. Ia ingin
lebih meningkatkan keikut-sertaannya dalam kegiatan-kegiatan Islam disana.
Saya
biasa memberikan khutbah Jum’at sekali sebulan di Masjid Anarbor
yang terdapat di lingkungan Unversitas Negeri Michigan (Michigan State University).
Renda biasanya bertindak sebagai muazzin di masjid besar ini. Saya teringat,
suatu kali saya pernah membawakan kisah Nabi Yusuf AS dalam kesempatan khutbah
Jum’at. Dalam kisah ini saya menyebutkan pakaian Nabi Yusuf AS telah
dipergunakan oleh kakak-kakaknya sebagai bukti untuk meyakinkan bahwa Yusuf
telah dimakan oleh binatang buas. Berikutnya, ketika istri Aziz mengajak Yusuf
AS berselingkuh dan kemudian memfitnahnya, pakaian beliau menjadi bukti bahwa
istri Aziz-lah yang bersalah.
Belakangan
lagi, pakaian Nabi Yusuf AS menjadi sarana pemulihan kesehatan
mata Ayahandanya yang menjadi buta lantaran duka
yang mendalam kehilangan Yusuf. Selanjutnya saya katakan, “Jika sepatong
pakaian Nabi Yusuf bisa menjadi mukjizat, maka betapa yang mengenakannya pun
tentu sangatlah lain daripada yang lain.” Renda menyukai apa yang saya
simpulkan ini dan menelepon saya begitu saya tiba di rumah. Ia bertanya,”Adakah
khutbah tadi buah fikiranmu sendiri?” Saya katakan padanya,”Sama
sekali bukan. Semua yang saya sampaikan tadi berasal dari kitab Tafsir, yakni
keterangan dan penjelasan Al-Qur’an yang ditulis oleh Ulama. Saya bukanlah
seorang ulama, saya tidak berhak menjabarkan Al-Qur’an menurut
diri sendiri.”
Sebagai
Muslim, selain terus memperdalam pengetahuannya, ia juga
ingin dirinya nampak sebagai sosok Muslim. Ia kenakan busana
Islami khas
Turki sepanjang
waktu, bahkan ditempat kerjanya. Saya tanyakan kepadanya, “Apakah berpakaian
seperti itu tidak dilarang oleh tempat kerjamu, sementara kamu harus mewakili
perusahaan di berbagai tempat?” Ia tegas menjawab, “Jika mereka
membutuhkan saya maka mereka harus menerima saya apa adanya.” Saya bertanya
lagi, “Apakah kamu tidak menghadapi banyak prasangka di tempat kerja
karena berbusana muslim?” Dengan polosnya ia menjawab, “Adalah
masalah mereka jika gusar dengan pakaian saya.” Saya suka dengan
cara Renda mengenakan sorban. Saya memintanya menunjukkan caranya
mengikatkan sorban dengan begitu anggun.
Renda memberikan kontribusi yang sangat besar kepada berbagai komunitas
Muslim. Ia biasa memperkenalkan Islam kepada para narapidana di penjara-penjara
Amerika.
Hal sedemikian butuh pengorbanan yang besar baik dari segi waktu maupun
kesabaran. Berbagai pengalamannya dengan para narapidana membuahkan hal
positif pada dirinya.
Ia rasakan bahwa para mualaf itu membutuhkan bahan bacaan yang khas, yakni
singkat, ringkas, tetapi menyeluruh. Renda pun mengembangkan dan membiayai
sendiri pencetakan bacaan-bacaan dalam bentuk pamflet. Saya dipercaya untuk
mempelajari isi pamflet-pamfletnya. Saya berpendapat bahwa isinya sangat
penting untuk para mualaf. Semoga Allah SWT memberinya ganjaran atas usaha
yang telah
dilakukannya ini. Kontribusi Renda kepada Masjid Farmington Hills juga
lain dari yang lain. Ia membeli sebidang lahan seluas 1,16 hektar untuk
mendirikan
sebuah Masjid di Farmington Hills. Ia memiliki beberapa pilihan konstruksi
bangunan masjid dan tempat parkir untuk tapak itu. Penatatan arsitektural
masjid yang sekarang ini berdiri dirancang secara eksklusif oleh Renda.
Tahap perancangan
arsitektur ditenderkan kepada berbagai firma arsitektur. Perusahaan dimana
Renda bekerja mengajukan penawaran harga tinggi. Renda menyarankan agar
kami memilih tawaran harga terendah yang diajukan oleh perusahaan yang
lain. Walaupun
begitu Renda tetap membantu perusahaan yang terpilih. Detail-detail arsitektur
masjid digambarnya sendiri. Pernah beberapa kali kami berdua harus mengikuti
rapat yang begitu lama dan melelahkan, tetapi Renda tidak pernah mengeluhkan
hal ini. Rasanya, masjid ini tak kan kunjung terselesaikan pembangunannya
tanpa bantuan profesional yang Renda berikan.
Kehidupan pribadinya juga sangat unik. Ia berkunjung ke Turki untuk menikah.
Renda tidak meminta bantuan orangtuanya agar mencarikan calon istri dari
keluarga kaya, tetapi ia memilih sendiri seorang gadis dari keluarga biasa.
Renda mengetahui
bahwa si gadis yang dipinangnya itu tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun
tentang Islam, namun ia begitu yakin dan berketetapan hati untuk membimbing
dan mengajarkan Islam kepada gadis pilihannya itu. Ia berpendapat bahwa
Rasulullah Muhammad SAW dan juga para nabi yang lain telah disuruh oleh
Allah SWT untuk
terlebih dahulu menyerukan dan mengajarkan Islam kepada anggota keluarganya
yang terdekat dan terkasih. Dan Renda tidak hanya mengajarkan melainkan
juga tampil sebagai teladan yang baik bagi istrinya. Atas pertolongan Allah
SWT,
dengan cepat istri Renda menguasaipengetahuan tentang Islam. Berdua, mereka
mencinta jalan hidup Islami. Pernikahan mereka diberkahi Allah SWT dengan
dua orang anak perempuan.
Renda tak ingin langkah dakwah Islamnya berhenti sampai disitu saja. Ia
hendak lebih berperan serta dalam kegiatan-kegiatan Islam dengan dukungan
penuh dari
sang istri.
Kala
itu, peperangan di Bosnia sedang hebat-hebatnya. Banyak
kaum Muslim disiksa dan dibunuh setiap hari. Banyak pemuda
Muslim dari berbagai
negara yang datang ke Bosnia untuk menolong saudara-saudaranya
sesama Muslim. Renda tak bisa tinggal diam dan memutuskan
untuk berangkat juga ke sana.
Ia tinggalkan Istri dan anak-anaknya yang masih kecil di kota
Anarbor. Ia menunjuk
seorang wali bagi keluarganya, dari antara para Mahasiswa Muslim
asal Turki. Ia menelepon saya untuk mengucap Salam dan
memberitahukan perihal pengaturan
yang telah ia tetapkan untuk keluarganya. Renda bersifat berkepala
dingin, percaya diri, dan teguh pendirian atas sesuatu
yang sudah menjadi keputusannya.
Ia mempunyai tujuan khusus, yakni menolong anak-anak yatim
Bosnia. Beberapa waktu berselang setelah keberangkatannya,
kami mendapat berita bahwa Allah
menghendaki Renda menjadi Syuhada di Bosnia.
Masyarakat Muslim Anarbor sangat bangga pada Renda dan keluarganya.
Mereka segera membentuk badan amanat dan menggalang dana. Dana
ini ditujukan untuk
bekal pendidikan anak-anak Renda kelak ketika mereka melanjutkan
ke perguruan tinggi.
Istri
Renda pun begitu mulia. Ia berkembang semakin Islami sejalan
dengan pemahaman dan hafalan Al-Qur’an dan
Hadits yang kian hari bertambah banyak. Anak-anak Renda
tumbuh sebagai anak-anak
pintar sebagaimana
almarhum
Renda. Istri Renda
mendidik anak-anak mereka untuk tumbuh dengan dasar keIslaman
yang
sangat baik. Kami
juga diberitahu bahwa Ayahanda dan Ibunda Renda di Turki
pun bangga menjadi orang tua sorang Syuhada. Demikian
juga kaum Muslim jama’ah Masjid Tauhid Farmington Hills,
Michigan, bersyukur kepada Allah SWT bahwa masjid mereka
telah dirancang oleh seorang Syuhada.
Semoga
Allah membalasnya dengan tempat yang megah didalam
Surga Firdaus. Amiin.
|