netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“How Islam Touched Their Hearts”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


Surat dari Zulia Muhammed, Nigeria

Akhi Imtiaz Ahmad, Assalaamu’alaikum.


Betapa beruntungnya saya telah dapat melaksanakan Ibadah Haji pada tahun 2005. Dalam kesempatan itu saya mendapat sebuah buku karya anda; REMINDERS (Peringatan Kepada Ulul Albab – Pent.); sewaktu di Madinah. Jiwa saya tersentuh ketika membacanya dan saya pun membaca tulisan-tulisan anda yang lain melalui situs (website) anda di internet. Saya telusuri lembar demi lembar sampai saya selesai membaca seluruh isi buku anda, betapa senang perasaan saya dapat menyelesaikan membaca semuanya. Buku-buku itu sangat bermanfaat, memesona, dan mengagumkan. Berjuta-juta terima kasih untuk anda Akhi Ahmad, atas buku-buku yang istimewa dan juga kenikmatan yang telah saya peroleh, dan juga yang diperoleh saudara-saudara yang lain di negara saya dengan jalan membaca buku-buku anda itu.


Boleh jadi anda terkejut jika saya katakan bahwa saya baru delapan tahun yang lalu memeluk Islam, dan ini merupakan pengalaman hidup yang sangat istimewa sehingga saya selalu bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya tidak menjadi seorang Muslim sejak dulu.

Perjalanan saya menuju Islam adalah hal yang amat menarik. Saya terlahir tahun 1969 dalam keluarga yang seutuhnya Kristen di Nigeria. Kami delapan bersaudara, enam perempuan dan dua lelaki. Ayah kami meninggal dunia di usia muda, pada tahun 1972. Keluarga kami pun terpisah menjadi dua bagian, Ibunda kami dan beberapa dari kami berpindah tinggal bersama saudara kandung lelaki dari ayah di kampung yang jauh di pelosok, adapun dua orang kakak perempuan kami menetap di kota bersama seorang bibi asuh.

Di tepi jalan menuju sekolah dasar dimana saya belajar terdapat sebuah Masjid besar, saya sering memperhatikan kaum Muslim bersembahyang dengan tata-cara yang seragam. Cara mereka bersembahyang memperbesar ketertarikan saya terhadap agama ini. Kala itu saya biasa mengatakan kepada ibu saya perihal keinginan saya untuk berpindah agama, tentu saja beliau selalu menentang hal itu. Saya tidak menginginkan beliau dirundung masalah apapun. Maka saya pun tetap dalam agama Kristen namun didalam diri saya berketetapan hati bahwa suatu hari saya pasti akan mengubah keyakinan saya.

Dua orang kakak perempuan saya tinggal di lingkungan Muslim. Mereka begitu terkesan dengan kebersihan dan cara hidup kaum Muslim di sekitar mereka, maka mereka berdua pun memeluk Islam dan menikah dengan lelaki Muslim. Mereka pun memperoleh pendidikan Islam tingkat lanjutan dan membesarkan anak-anak mereka dengan pengetahuan Islam yang mantap.

Hal yang amat mengejutkan saya adalah, ibunda kami pun telah memeluk Islam, bahkan lebih awal daripada saya, beliau terkesan atas hak-hak perempuan didalam Islam dan juga perilaku Islami yang mengesankan dari kedua anak menantunya yang Muslim. Namun beliau tidak memaksa anak-anaknya untuk masuk Islam. Ibu sangat meyakini bahwa semua anak-anaknya akan memeluk Islam dengan jalan menemukan keindahan Islam.


Sayapun kemudian mulai membaca buku-buku ajaran Islam dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar Islam. Saya menjadi amat enggan untuk mengubah keyakinan lantaran membayangkan beraneka kewajiban dalam Islam yang nampak memberatkan diri saya, seperti: Shalat Lima waktu dalam sehari-semalam, membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab, kewajiban berbusana Muslimah, dan berpuasa di bulan Ramadhan. Bahkan lebih ringan bagi saya untuk membangunkan Ibu dari tidurnya ketika tiba waktu shalat, sementara sulit untuk mengajak diri saya sendiri melakukan hal serupa.


Jujur saja, pada waktu itu saya tidak menjalani ibadah agama apapun juga, saya adalah seorang insan yang tersesat. Akhirnya, pada bulan Ramadhan tahun 1997 Allah membukakan hati saya untuk menerima hidayah-Nya, dan saya pun memeluk Islam setelah melalui banyak perenungan diri. Saya temukan kenikmatan, kedamaian fikiran dan kebahagiaan karena saya rasakan telah terangkat beban berat yang selama ini berada didalam benak saya.


Tentu anda turut merasa bahagia bahwa lima orang perempuan dan seorang lelaki dari kami kakak-beradik, telah masuk Islam. Lebih jauh lagi, banyak diantara sanak-saudara kami pun telah masuk Islam, lantaran terkesan oleh perilaku Islami Ibunda kami maupun keluarga kami. Mereka menganggap Ibunda kami bagaikan “Ratunya Islam”. Saya memohon ke hadirat Allah semoga kami semua terpelihara di Jalan-Nya yang Lurus. Amiin.

Sebagai penulis buku, saya ingin mengingatkan kepada saudaraku yang secara tradisi terlahir beragama Islam bahwa, para mualaf ataupun mereka yang kembali kedalam Islam telah mengikatkan diri mereka dalam melaksanakan ajaran Islam dengan ketulusan dan kesungguhan tekad yang amat besar walaupun harus menghadapi kerumitan dan benturan dalam hubungan keluarga dan masyarakat. Saya berdo’a kepada Allah SWT semoga dianugerahi-Nya kita dengan ketulusan dan kesungguhan yang setara dengan mereka, saudara-saudara kita yang baru menemukan Islam.
Imtiaz Ahmad,Website: "http://www.imtiazahmad.com"