netLibrary logo Home Search Tools Reading Room Help    
 
   
 
In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful
 
Welcome Islamic Books

BACK TO TABLE OF CONTENTS


“How Islam Touched Their Hearts”

Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


Cahaya Hidayah Bermula Dari Keprihatinan Suami…

SUSAN

Susan Menikah dengan Abdul Qadar, seorang Muslim berkebangsaan Burma yang bermukim di Maryland. Pada waktu itu Abdul Qadar bekerja pada perusahaan pembuat sepatu dan sering menghadiri shalat jum’at di Masjid Laurel. Suatu hari, ia menemui saya menyampaikan kesulitan yang sedang dihadapinya. Ia mengatakan, “Saya menikahi perempuan kristen. Kami telah dikaruniai anak perempuan kembar dan kini saya prihatin atas masa depan anak-anak. Saya telah berusaha semampu saya mengajak istri saya untuk datang ke Masjid ini, tetapi ia menolak mentah-mentah. Apalagikah yang mesti saya lakukan?” Maka, saya menyarankan agar ia mengajak Susan (istrinya) datang ke rumah saya untuk makan malam. Dengan demikian Susan bisa berkenalan dengan istri saya supaya merasa nyaman. Pendekatan ini berhasil. Susan mulai mau datang ke Masjid dan juga mengikuti kuliah tafsir AL-Qur’an. Beberapa minggu dilaluinya dengan sangat lancar, hingga pada suatu hari Jum’at dimana saya memberikan kuliah tafsir. Saya menerangkan beberapa ayat Al-Qur’an dan memberikan kesempatan bertanya kepada para peserta. Susan pun mengajukan sebuah pertanyaan. Sebelum saya sempat mengatakan sepatah kata pun, seorang lelaki diantara peserta telah menjawab lebih dahulu. Betapa terkejutnya saya melihat Susan menangis terisak-isak sambil tetap duduk ditempatnya. Semua yang hadir kebingungan. Abdul Qadar membimbing istrinya meninggalkan Masjid, langsung mengantarkannya pulang ke rumah.


Setelah itu, saya bertanya kepada Abdul Qadar, mengapa istrinya menangis pada waktu itu. Ia pun menjawab, “Susan tak mau lagi datang ke Masjid. Ia merasa bahwa pertanyaannya telah mengusik lelaki yang menjawab pertanyaannya dengan mimik wajah begitu serius. Sedangkan ia tidak suka mengusik siapapun juga.”

Sejauh yang saya ketahui dan menurut pemahaman saya, lelaki itu menjawab pertanyaan Susan bukan karena merasa terusik. Hanya saja, memang ia berwajah serius. Maka saya katakan kepada Abdul Qadar, “Jelaskanlah kepada istri anda dengan penuh kelembutan dan ketenangan fikiran, bahwa banyak orang-orang yang berasal dari India dan Pakistan berwajah serius. Hal seperti ini bisa anda lihat di setiap bandara maupun terminal bis, ataupun di pusat perbelanjaan. Inilah kelemahan budaya kami.” Lambat-laun Susan dapat memahami hal itu dan setelah beberapa bulan ia kembali mengunjungi Masjid. Setiap minggu semakin bertambah banyak hal mengenai Islam yang dipelajarinya. Ia rasakan bagian tanya-jawab sangat bermanfaat untuk mengenal nilai-nilai dan iman Islami. Ia pun membangun persahabatan dengan banyak perempuan muslimah jama’ah Masjid dan banyak memperoleh dukungan dan penghormatan dari mereka.

Susan menyukai jalan hidupnya yang baru dan mendambakan memeluk Islam. Adalah kehormatan bagi diri saya untuk mengajaknya membaca Syahadah, sumpah seseorang yang memeluk Islam. Maka susanpun mengucapkan, “Asyhadu an La ilaha illa_Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah; Saya bersaksi bahwa tiada tuhan (sesembahan) selain Allah, dan Mahammad adalah utusan (rasul) Allah.” Maka, ia telah menjadi seorang Muslimah, berarti ia adalah saudari kita didalam Islam. Pada hari itu juga, saya menikahkannya dengan suaminya secara Islam di Masjid. Dan, Susan pun menikmati kehidupannya yang baru dibawah naungan keberkahan Imannya kepada Islam.

Dalam kesempatan menyelenggarakan pernikahan secara Islam, saya menjelaskan kepada mereka bahwa suami diwajibkan menyerahkan Mahar (Mas Kawin/Bingkisan) kepada istrinya. Saya pun mengingatkan mereka bahwa mahar yang diberikan menjadi milik pribadi sang istri yang boleh dipergunakan sekehendak hatinya dan sang suami tidak diperkenankan membicarakan perihal pemberian itu sepanjang hayatnya. Seranta, Abdul Qahar pun sepakat segera membayarkan mahar. Susan pun terpana mengetahui betapa Islam menghormati kaum perempuan dan ia juga kagum atas cara Islam melindungi hak-hak perempuan. Hal ini semakin meneguhkan keImanannya didalam Islam. Untuk digaris-bawahi, pernikahan berlangsung di Negara Bagian Maryland, Amerika serikat.

Beralih sejenak dari kisah Susan, berikut ini akan saya ceritakan juga suasana pernikahan lainnya yang berlangsung di Negara Bagian Michigan, beberapa tahun kemudian. Sebagai Imam Masjid Tauhid, salah satu tugas saya adalah sebagai Penghulu dalam pernikahan Muslim di Negara bagian ini. Seorang pemuda Muslim menemui saya, ia minta saya memimpin upacara pernikahannya. Saya jelaskan kepadanya dan calon istrinya, hak-hak lelaki dan perempuan didalam Islam dan perihal mahar.

Selanjutnya mereka mengisi formulir isian data pernikahan dan formulir isian pembayaran Mahar. Kemudian, saya tanyakan kepada mereka apakah masih ada pertanyaan lainnya sebelum mereka mengikatkan diri didalam lembaga pernikahan. Calon mempelai perempuan menjawab, “Tidak ada pertanyaan lagi dari saya.” Calon mempelai Lelaki berkata, “ Saya ada pertanyaan penting perihal mahar, saya mengerti bahwa saya diwajibkan membayar mahar yang nantinya sepenuhnya menjadi hak istri saya. Tidakkah ia pun berkewajiban memberikan mahar untukku?” Maka, sebagaimana halnya Susan, sang calon istri ini pun terpana atas cara Islam mengangkat martabat dan kehormatan perempuan.

Kembali kepada Susan, kini ia telah memilih nama ‘Saeeda’, sesuai dengan sifat dirinya yang lembut dan selalu penuh kesantunan terhadap siapa saja. Ia memeluk Islam dengan pengetahuan yang jelas, ketulusan yang tiada tara, dan komitmen (rasa tanggung-jawab) penuh. Segera ia mengenakan busana Muslimah, tak ada sedikitpun rasa enggan ataupun takut atas bisik-bisik tetangga atau komentar masyarakat umum. Anak-anak perempuannya; si kembar; yang ketika itu duduk di sekolah dasar dimintanya untuk mengenakan jilbab dan tidak perlu menghiraukan olok-olok teman-teman sekolahnya. Malahan saya menasehatinya agar anak-anak seusia mereka tidak perlu menghadapi situasi pelik ini di sekolah. Namun ia menekankan pada perlunya pembelajaran dan pengamalan jalan kehidupan Islami sejak usia dini. Maka Saeeda dan kedua gadis kecilnya pun mengenakan busana Muslimah sehingga mudah dikenali dan nampak begitu anggun dimanapun mereka berada.

Itulah bukti tingkat keimanan dan komitmen dirinya. Suaminya jadi suka menertawakan dirinya sendiri, ia merasa bahwa kita yang terlahir Islam begitu meremehkan Islam sehingga komitmen kita pun rapuh. Begitulah, selanjutnya Abdul Qadar dan Saeeda memperoleh kehidupan rumah-tangga yang penuh kedamaian dan kebahagiaan yang didambakan setiap keluarga.